Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 63


__ADS_3

"Theo," sapa Lili dengan nada manis yang agak manja saat mereka berada di luar gerbang rumah Lili. Baru saja Theo menyerahkan Titi pada Ily dan Lili berpamitan dengan Ily. Yohan masih ada di kasurnya sehingga Lili tak diantar kali ini. "Theo, pengen berangkat bareng, dong. Boleh yak?"


Theo tak menjawab. Dengan wajah datar, dia naik ke atas motornya, memakai helmnya dan melaju tanpa peduli lagi pada Lili.


Ditinggal begitu saja, Lili dibuat melongo karenanya. Yohan sepertinya serius soal tak akan berangkat dan pulang bersama-sama lagi. Lili menginjakkan kakinya dengan kesal ke bumi.


Terpaksa, dia harus memakai jasa ojol lagi lagi ini.


Tenang, Lili. Masih ada waktu untuk bicara pada Theo nanti.


Lili harus positif. Ye ye o la la!


Tiba di kelas, tahu-tahu Theo sudah duduk di kursinya. Tak berselang lama setelah Lili turut duduk di kursinya, guru mata pelajaran sejarah sudah lebih dulu masuk dan menyita semua perhatian serta waktu anak-anak di kelas.


Termasuk Lili dan Theo.


Nggak apa-apa Li, waktu istirahat kan ada.


Hari ini guru mata pelajaran sejarah memberikan tugas dan materi yang lumayan menguras tenaga otak untuk bekerja. Belum lagi dilanjutkan dengan pelajaran seni budaya yang menugaskan setiap anak mempelajari materi seni tari. Hal itu membuat otak bekerja lagi.


Ketika bel berbunyi, Lili tak memikirkan tentang Theo lagi. Otaknya segera mengirim sinyal untuk Lili ke kantin dan mengisi perutnya.


Sampai pelajaran selanjutnya pun, Lili tak diberi kesempatan untuk menoleh pada Theo karena pelajaran Fisika yang membutuhkan banyak konsentrasi. Begitu pula dengan pelajaran Bahasa Indonesia selanjutnya dengan beragam rangkaian presentasi yang tak bisa seorangpun mengalihkan perhatiannya jika tak mau ketinggalan pelajaran.


Sampai akhirnya waktu pulang tiba.


Theo rupanya sudah menunggu di depan gerbang rumah Lili. Seperti biasa, laki-laki itu jelas menunggu Lili untuk membukakannya untuknya.


Lili baru sampai sekitar lima menit kemudian karena menunggu ojol lebih dulu sebelum akhirnya meluncur. Lili selalu ingat apa yang ingin ditanyakannya pada Theo, karena itu dia tidak langsung membuka gerbang rumahnya.


Lili menatap Theo lurus-lurus. "Mau lo cerita atau gue nanya?"


Theo mendengus tak suka.


"Gue tau lo ada cerita baru, Yo," balas Lili yakin.


"Lo minta cerita gue seakan-akan semuanya seru," tukas Theo tajam. "Gue udah bilang kalau gue nggak mau lagi cerita apapun ke lo."


"Sekali lagi aja, Yo," pinta Lili dengan wajah yang telah kebal dengan kata-kata tajam Theo. "Sekali lagi aja. Ini terakhir, deh."


Theo menatap Lili penuh perhitungan. "Serius lo?"


"Kapan gue nggak serius?"


"Lo selalu bohong soal riset atau tanya-tanya yang terakhir kali, karena setiap kali lo bilang ini terakhir kalinya, besoknya lo nanya-nanya lagi."

__ADS_1


Lili tertohok. Tenggorokannya tersekat hingga tak bisa berkata-kata lagi. Namun itu tak lama, sebab hatinya telah kebal. Lili bsia setiap saat menerima perkataan menyakitkan dari Theo dan dia akan baik-baik saja.


"Oke, gue janji kali ini bener-bener yang terakhir, Yo." Lili menarik napas panjang, terasa berat. Dia menatap Theo lurus-lurus. "Gue bisa jamin itu. Besok-besoknya gue nggak bakal ganggu lo lagi."


"Demi apa lo bilang gitu?"


"Demi seluruh alam dan segala isinya," balas Lili meyakinkan.


"Pret, gue nggak percaya."


Lili memejamkan matanya. Dia memutar otak. Kemudian membuka matanya kembali saat telah mendapatkan sebuah ide. Sebuah ide yang entah menguntungkannya dirinya, atau jutsru menjadi Boomerang tersendiri baginya.


"Gue siap, Yo," Lili menelan ludahnya susah payah. "Gue siap diculik lo kalau gue melanggar janji gue hari ini."


Senyum miring Theo tercipta dan itu sangat menakutkan untuk Lili lihat. "Yakin lo?"


Lili mengangguk satu kali, dengan sorot mata terpencar penuh keyakinan. "Iya, setriliunrius gue yakin."


"Oke."


"Bisa lo jelasin tentang seratus juta?" tanya Lili langsung.


Theo terdiam agak lama. Wajahnya menatap Lili dengan penuh selidik. "Lo tau dari mana tentang itu? Apa lo ikutin gue juga sampai ke arena balapan? Gue udah bilang berapa kali sih, gue itu bahaya? Lo ngotot juga, ya."


Tumben sekali Theo menceramahi Lili. Tumben sekali dia banyak berkata-kata dengan penuh emosi. Biasanya datar dan dingin seperti es batu.


"Apa?" Mata Theo membelalakkan.


"Ya, sepupu jauh gitu. Gue cuma ketemu dia satu kali doang." Lili mengangkat kedua bahunya, tak mempermasalahkan lebih lanjut. "Dan cerita lo Yang ngasih seratus juta buat Regan itu udah nyebar ke telinga Ayah gue. Gue tadi dari Ayah gue."


"Oh."


"Cuma 'oh'?"


Kedua alis Theo terangkat. "Terus gue harus gimana?"


"Ya, ceritain, dong," tuntut Lili cepat. "Gimana caranya lo bisa dapetin uang itu?"


Theo membuang napas kasar. "Itu uang Lucas."


"Hah?"


"Iya, itu uang Lucas. Bukan uang gue." Theo menjelaskan agak jengkel. "Dia kan artis, udah bintangin sejumlah film dan lo tau bayarannya itu nggak kecil."


Lili membulatkan mulutnya. "Oooh, gitu." Kemudian Lili menatap Theo dengan wajah khawatir, merasa bersalah. "Berarti gue salah paham dong. Ayah juga salah paham. Ah, Ibu juga salah paham."

__ADS_1


"Kalian ngomongin gue?" tanya Theo merasa tak nyaman.


Lili tertawa tanpa dosa. "Maaf, Yo. Biasa, lambe kan nggak bisa direm."


Theo berdecak meremehkan, namun tak mempermasalahkan lebih lanjut. "Gue mau jemput Titi sekarang. Buka gerbangnya."


"Sabar dong, bro."


***


"Ayah, ternyata uang seratus juta itu bukan punya Theo," jelas Lili ketika dia dan keluarganya tengah menonton televisi bersama.


Yohan menoleh saat Lili mengatakan itu. Keningnya berkerut samar.


"Itu yang Lucas, temennya," sambung Lili menjelaskan lagi.


"Terus temennya itu dapat dari mana?" tanya Yohan curiga. "Jangan-jangan hasil dari jualan barang--"


"Lucas artis, Yah. Udah punya banyak film juga, nggak mungkin dia dapat uang itu dari hasil selain aktingnya dia," balas Lili cepat. Ia menatap Yohan dengan memelas. "Theo itu nggak seburuk yang Ayah pikirkan, kok."


Yohan membuang napas panjang. "Ya, siapa yang tau ke depannya, Li."


"Tapi bukan berarti Ayah larang Lili buat temenan sama Theo," tukas Lili tegas.


Ily tersenyum menenangkan. Tangannya bergerak membelai lembut rambut Lili. "Kamu suka ya sama Theo?"


"Jangan."


"Nggak!"


Yohan dan Lili bersuara bersamaan. Membuat Ily tertawa karena reaksi mereka sampai sebegitunya. "Santai kali," kata Ily dengan senyum geli.


"Bukannya Lili suka, Bu," jelas Lili merasa harus. "Tapi Theo kan udah jadi objek riset buat cerita Lili, udah mau-maunya Lili repotin, masa Lili nggak bales gitu? Setidaknya sebelum ada uang hasilnya, Lili bisa jadi temen Theo. Begitu niatnya."


"Selain Theo juga banyak kan temen lain yang 'aman' buat kamu?" Yohan bertanya agak tajam.


Lili membuang napas kecewa. Memandang Yohan dengan raut wajah tak mengerti. "Ayah kenapa sih tiba-tiba jadi nggak suka banget kayaknya ke Theo?"


"Ayah ada pengalaman sama seseorang yang mirip Theo." Yohan menjelaskan dengan nada lembut. "Suka mabuk-mabukan, suka balap-balapan, pakai obat terlarang. Apapun alasannya, hal-hal itu tak benar untuk dilakukan anak seumur kamu. Ujungnya nggak menyenangkan. Lebih baik kamu menjauhinya dari sekarang, daripada menyesal nantinya."


Wajah Lili terlihat amat sedih. Dia merasa Theo tak seburuk itu. Justru Theo itu terlihat seperti anak baik-baik yang melakukannya hanya untuk menyenangkan hati, bukan untuk menjadi orang buruk.


Yohan menepuk kecil pipi Lili. Membawa dagunya untuk membalas tatapan dalamnya. Senyum Yohan berkembang, menenangkan dan terasa nyaman. "Ikutin apa kata Ayah, ya? Ayah tau apa yang baik dan nggak baik buat Lili. Paham?"


Semua orang juga tahu kalau berbakti pada orang tuanya akan mendapatkan pahala, sementara jika membangkang atas perintah baiknya akan mendapatkan dosa.

__ADS_1


Jelas, Lili akan memilih opsi pertama.


***


__ADS_2