Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 107


__ADS_3

"Ibu ... aku mau temuin Ayahnya Lili." Theo berkata begitu saat setidaknya satu jam telah berlalu dan Lili belum kembali melewati kamar rawatnya.


"Kamu yakin?" tanya Laura jadi meragu. "Maksud Ibu, sepertinya kamu masih terguncang dan Ibu nggak mau kamu memaksakan diri."


"Aku nggak apa-apa, Bu." Theo memaksakan diri untuk bangkit. Kemudian tersenyum pada Laura dengan lebar. "Aku udah baikkan."


Laura turut tersenyum senang. "Yaudah."


Kemudian, Theo dibantu Laura untuk menaikki kursi rodanya. Sakit hatinya melihat Theo seperti ini. Meski begitu, Laura tetap mempertahankan senyumannya seraya mendorong kursi roda Theo untuk sampai di depan pintu kamar rawat Lili.


Theo menoleh pada Laura sebelum benar-benar masuk. "Ibu tunggu aja di luar. Kalau ada apa-apa baru masuk, ya."


"Serius kamu nggak apa-apa sendiri?" tanya Laura khawatir.


"Aku udah besar, Bu." Theo tertawa kecil. "Aku bisa selesaikan masalah aku sendiri."


"Yaudah." Laura mengangguk kecil. "Ibu tunggu di sini, ya. Kalau butuh bantuan Ibu pasti ada."


"Iya, Bu."


Usai itu, Theo mengetuk pintu kamar rawat Lili dua kali dan membukanya. Pas sekali, hanya ada Yohan di sana. Theo pikir Ily akan memaafkannya, namun Yohan mungkin akan agak sulit.


Maka dari itu, butuh usaha extra untuk mendapatkan maaf dari Yohan.


"Om ...." Theo berusaha keras mendekati Yohan saat Yohan menoleh padanya dengan wajah dingin sesaat setelah mendengar pintu terbuka.


"Mau apa?" tanya Yohan tak suka. "Lili nggak akan saya izinin lagi buat ketemu kamu lagi. Jangan harap."


"Saya juga nggak berharap, kok, Om." Hati Theo retak saat mengatakannya. "Saya memang sepatutnya dijauhi."


"Kalau paham, kenapa masih berani masuk ke sini?" tanya Yohan tajam. "Untungnya Lili lagi jalan-jalan keluar. Kamu tau susahnya kami menenangkan Lili?"


Theo hanya bisa menunduk. Dia tak tahu harus membalas dengan kata apa. Theo tak pandai dengan kata-katanya, apalagi untuk membuat suasana mendingin.

__ADS_1


"Lili itu cita-citanya jadi penulis. Dia bertekad banget buat mencapai cita-cita itu. Setiap malam dia selalu cerita, tentang orang-orang yang jadi idolanya, tentang orang-orang yang menjadi inspirasinya, tentang pencapaiannya, tentang kemajuan dan tentang segalanya yang terkait dengan dunia kepenulisan yang sebenarnya asing bagi saya."


Perkataan panjang yang serius dari mulut Yohan membuat Theo termenung. Berkat itu, dia benar-benar sadar bahwa dirinya adalah perusak di kehidupan Lili.


"Saya pikir bagus bagi Lili punya keinginan sekuat itu." Yohan menatap Theo tajam. Penuh kebencian dan kemarahan. "Tapi kalau begini ujungnya, dari awal saya tak akan pernah mengizinkan Lili jadi penulis. Yang ujungnya bertemu kamu dan terluka seperti ini. Hati saya sakit."


Yohan berdeham. Menahan kesedihan diantara kemarahannya pada Theo. Suaranya jadi serak. "Tapi hati Lili pasti lebih sakit."


"Saya tau, Om. Saya juga mengerti kalau Lili juga nggak bakal mau ketemu saya lagi." Theo membalas dengan suara bergetar. "Tapi, saya ingin Om nggak menutup jalan Lili untuk menjadi penulis. Menulis itu sudah seperti jantungnya."


"Tau apa kamu tentang anak saya?" tanya Yohan menusuk.


"Saya tau ...." Theo menunduk sekilas, kemudian menatap Yohan penuh keyakinan. Theo mengangguk sekali, "Saya tau cukup banyak, Om."


"Kamu hanya objek riset Lili." Yohan tertawa meremehkan. "Bagaimana bisa kamu tahu cukup banyak?"


"Jauh sebelum Lili meminta saya untuk jadi objek risetnya, saya sudah mengenal Lili." Theo berdeham kecil setelah memutuskan untuk mengakui segalanya.


Yohan membulatkan matanya, terkejut. Tak menyangka dan menolak untuk percaya.


"Sejak saat itu, saya jatuh cinta padanya." Theo tersenyum pada Yohan. Ingin meluluhkan hatinya.


Namun, waktu wajah keras Yohan tak berubah sedikit pun, Theo menunduk putus asa. "Maaf, Om."


"Kenapa ...? Jika kamu memang jatuh cinta pada Lili ...." Yohan sulit untuk berkata-kata. "Lalu kenapa kamu membuat Lili celaka saat kamu sendiri mencintainya?"


Theo mendongak pada Yohan, namun tak mampu membalas pertanyaannya.


"Melihat kamu sekarang ... sungguh saya nggak bisa menahan diri lagi untuk nggak menghajar kamu." Rahang Yohan mengeras. "Lebih baik kamu pergi dari sini sekarang. Saya capek."


"Sebelum Om benar-benar menghajar saya ...." Theo meneguk ludahnya susah pahat. Bersiap untuk menyelam dalam lautan luka lagi. "Saya mau menjelaskan kenapa Lili bisa terluka."


Wajah Yohan tampak tak tertarik. Meski begitu dia tak menolak, sebab sampai kini, dia belum tahu cerita apapun tentang mengapa Lili bisa celaka.

__ADS_1


Lalu, meluncurlah cerita dari mulut Theo.


Cerita tentang mengapa bisa dia ditimpa kemalangan ini bersama Lili.


Hari itu, sore itu, sebuah motor yang dikemudikan oleh Theo dan ditumpangi Lili di jok belakang, melaju melewati jalanan yang lumayan ramai.


Theo pikir perjalanannya akan baik-baik saja. Dia tak menjelaskan apapun pada Lili tentang tujuan mereka. Theo fokus berkendaraan. Melewati bangunan-bangunan, melewati pohon-pohon, melewati trotoar-trotoar yang dihiasi orang-orang berjalan santai di sore hari.


Sore itu menjadi sore paling indah dan paling panjang bagi Theo. Dia bersama orang yang dia sukai, diam dalam perjalanan dan menikmati angin yang menyapa wajah.


Theo terlalu dibutakan oleh angin dan keberadaan Lili di belakangnya hingga berkendara sangat pelan. Dia tak kau cepat-cepat sampai dan akhirnya berpisah secara menyedihkan.


Sebab Theo punya firasat bahwa pengakuannya nanti akan berujung penolakan oleh Lili.


Tanpa mengetahui bahwa selanjutnya, ada sebuah truk oleng yang membuat Theo kehilangan keseimbangan dan terjatuh secara tragis. Sepertinya pengemudinya mabuk.


Kejadian itu bagaikan mimpi bagi Theo. Theo terlempar bersama motornya dengan kaki dan tangan tertindih badan motor dan tergerus aspal hingga akhirnya benar-benar berhenti.


Kaki dan tangannya perih, mengeluarkan banyak darah dan membuat kepalanya pusing.


Ketika dia sadar, Lili tak ada di jok belakangnya. Theo mengedarkan pandangannya dengan panik. Berusaha keras, meski amat sakit rasanya menggerakkan tubuhnya, Theo mencari-cari Lili.


Air mata Theo mengalir deras saat pada akhirnya dia melihat Lili di bawah sana tak sadarkan diri. Jika Theo menebak-nebak, mungkin saja Lili terpental dari motor dan jatuh ke bawah, melewati tangga menuju tempat bermain anak-anak dan pingsan.


Melihat bertapa tinggi dan panjangnya tangga, membuat tubuh Theo lemas. Dia khawatir, dia takut, hingga tanpa bisa melakukan apa-apa lagi, kegelapan melahap habis kesadarannya.


"Saya benar-benar minta maaf. Jika saja, jika saya tidak mengajak Lili, pasti Lili akan selamat. Tapi, siapa yang mengetahui jalan hidup yang Tuhan berikan pada kita?" tanya Theo takut-takut setelah sebelumnya meminta maaf dengan nada suara penuh penyesalan.


"... Saya pikir ini semua adalah takdir, Om." Theo berani melanjutkannya karena rupanya Yohan diam saja mendengarkannya. "Nggak ada yang salah, nggak ada pula yang benar."


"Ck. Saya nggak butuh penjelasan dan kata-kata sok bijak kamu." Yohan berdecak marah. "Keluar saja dengan damai. Nggak bisa?"


"Baik, Om." Theo mengangguk. Kemudian membungkuk sopan. "Terimakasih atas waktunya, Om."

__ADS_1


__ADS_2