
Karena dihadiahi apa yang sangat diinginkan, Lili jadi sayang Elvan lebih dari siapapun. Bahkan ayahnya saja hanya sebulan sekali membelikannya buku.
Elvan langsung delapan, dong.
Posisi Ayla sebagai orang dewasa favoritnya seketika terganti. Hari-hari Lili selalu diisi Ayla saat Yohan dan Ily sibuk bekerja.
Ketika pagi-pagi Elvan ikut sarapan, Lili terlihat lebih senang dari biasanya. Anak perempuan lima tahun itu terus tersenyum padanya.
Elvan jadi heran. "Ly, anak lo kenapa deh liatin gue sampai begitunya?"
"Tanya dong," balas Ily dengan tawa kecil. "Lili, kata Om Elvan, kamu kenapa liatin Om Elvan kayak begitu?"
Elvan melotot. Ily benar-benar.
"Suka aja, Bu," balas Lili senang. "Om Elvan mau pulang lagi ke Australia?"
"Iya nih, Li. Jam dua siang berangkat."
Bibir Lili langsung mengerucut. "Tinggal di sini aja dong, Om. Lili bakal urusin om sepenuh hati, kok."
"Kamu mandi aja suka males," kata Yohan mengejek.
"Ih, ayah diem dulu!" Dibentak anak sendiri, Yohan mematung. Lili kembali fokus pada Elvan. "Om, jangan ke Australia aja. Di sini, ya, ya, ya, ya, ya?"
Percuma saja.
Elvan serta keluarganya harus pergi. Hari itu, mengantar kepergian Elvan, Lili menangis sejadinya. Ily bertanya mengapa Lili begitu sedih, Lili menjawab karena dia sayang Elvan yang telah membelikannya banyak buku baru.
Berkat itu, Ayla dan Eza berlomba-lomba membelikan buku untuk Lili agar tidak sedih lagi. Yohan pun tak mau kalah.
__ADS_1
Mereka menyayangi Lili dan ingin membuat anak itu senang.
Hingga akhirnya kamar Lili seperti perpustakaan saja. Banyak buku-buku. Sudah ada tiga rak yang benar-benar penuh, namun juga ada buku yang berserakan. Entah dia tas kasur, di kolong kasur sampai di kamar mandi.
Lili adalah kutu buku. Dia mencintai buku sebagai dia mencintai dirinya sendiri. Semuanya bermula ketika Yohan memberinya buku cerita bergambar ketika dia berusia empat tahun, Lili jadi suka sekali membaca cerita-cerita dalam buku.
Banyak sekali buku yang telah ia baca. Di ruangan sempit, di ruangan luas, dalam penerangan, dalam kegelapan, dalam tidur maupun dalam berdirinya, bukulah yang selalu menemani mata Lili.
Bahkan Lili mendapatkan min di kedua matanya pada umurnya yang ke lima belas, tepat saat adik laki-lakinya lahir. Lili ke mana-mana harus pakai kaca mata bulat.
***
Dua tahun kemudian.
"Lili, tolong mandiin Luhan, nak! Dia ngompol, ibu lagi masak takut gosong nih!" Ily berseru kencang di suatu siang yang panas.
Untuk itu, Lili membenarkan letak kaca mata bulat yang terpaksa harus dia pakai setiap saat di matanya, mengencangkan cepolan asal rambut panjangnya dan menghadapi Luhan yang sudah berusia dua tahun.
"Lili! Lili! Basah!" rengek Luhan merasa tak nyaman.
Luhan baru saja ngompol dan Lili diperintahkan untuk membersihkan masalah itu.
Sudah sering sebenarnya bagi Lili untuk mengurus Luhan karena kesibukan Ily mengurus rumah dan Yohan yang tak bisa turut mengurus Luhan karena harus bekerja. Lili mengangkat tubuh Luhan dengan satu gerakan, membawanya cepat ke kamu mandi dan mendudukkannya di bathtub.
"Lili," gumam Luhan disela mengentak-hentakkan kakinya ke air.
"Hush, Luhan diem dulu," kata Lili menenangkan. "Lili mau mandiin Luhan. Diem dulu ya."
"Ye, ye, ye!" Luhan berseru senang. Lili mulai melepas popok dan baju Luhan yang telah kotor. Setelahnya, Lili mengambil shower dan mengguyur Luhan dengan lembut.
__ADS_1
Luhan tertawa-tawa. Dia selalu senang saat terkena air. Setelah memandikan Luhan dengan sabun dan membasuh rambut hitam yang masih tipis sekenanya, Lili membawa Luhan untuk dipakaikan pakaian.
"Cepet gede ya, Luhan. Biar Lili nggak perlu mandiin Luhan lagi," kata Lili ketika memberi pipi Luhan bedak bayi.
Luhan tak bicara banyak meski ia mengerti apa yang dikatakan Lili. Dia hanya bergumam dan bergerak-gerak seperti melompat karena senang dirinya sudah wangi kembali.
Lili menyisir rambut tipis Luhan, kemudian tersenyum saat bercermin bersama. "Nah, udah ganteng adeknya Lili."
Luhan bergumam senang. "Ma'asih, Lili!"
"Sama-sama." Lili tertawa kecil, kemudian menggendong Luhan dengan riang. "Ayo kita makan siang!"
"Yeeeee!"
Sebenarnya kehadiran Luhan itu sangat tidak terduga. Namun, dengan kehadirannya, keluarga Lili terasa lengkap dan ramai. Dia senang punya adik laki-laki seperti Luhan, namun kurang menyukai bagian di mana Lili harus memandikannya.
"Makasih, Li." Ily berkata ketika dia sedang mencuci piring. Melihat Luhan sudah bersih kembali membuka Ily ikut merasa segar.
Lili mengangguk seraya menatap piring-piring untuk Luhan yang duduk di kursi khusus, kursi bekas dirinya waktu kecil saat makan. "Sama-sama, Bu. Lagian Lili juga nggak ada kerjaan, sih."
"Besok sekolah ya, Li?" tanya Ily memastikan.
"Iya, nih. Masih merasa kurang liburannya," balas Lili dengan tawa kecil.
"Harus semangat dong, ketemu temen-temen lagi, kan."
"Iya deh siap, Bu."
***
__ADS_1