Dari Korea

Dari Korea
Dari Korea 2 57


__ADS_3

Ily sampai di samping bangsal tempat Elvan berbaring saat Elvan sedang minum air. Melihat kedatangan sepupunya, Elvan meletakkan gelas bekas minumnya di meja kecil sebelahnya untuk mengulas senyum, menyambut kedatangan Ily.


Eza berada di sampingnya dengan wajah yang masih sedih seperti kala pertama ia melihat keadaan Elvan. Wajah Ily tak jauh beda dari Eza, parahnya, Ily menangis saat sudah berada di depannya. Air matanya bahkan sampai menetes ke tangan Elvan saking derasnya tangisnya.


"Lo kenapa, Van? Hm?" Ily bertanya susah payah disela-sela tangisnya. "Lo kenapa bisa begini? Lo dari kapan ada di sini? Kenapa nggak hubungin gue langsung, sih?"


"Hush, hush, hush," balas Elvan seraya membantu Ily menghapus air matanya yang terus mengalir. "Jangan nangis dulu napa. Gue mau jelasin."


Ily memaksa agar tangisannya berhenti, namun agak susah karena ia melihat Elvan dengan bibir pucatnya dan alat-alat medis yang membantunya. Ily takut, Ily takut sesuatu buruk menimpa Elvan.


"Lo udah kasih tau ayah sama ibu lo?" tanya Ily khawatir. Membayangkan bagaimana Elvan di rumah sakit ini sendirian membuat air matanya luruh lagi sebab wajahnya itu tampaknya sangat sedih; sebab tak ada orang tua yang menemaninya di kala sakit.


Tak lama, Elvan menggeleng. Benar-benar membuat Ily hampir jatuh dari duduknya, Ily mengeratkan kepalannya, menahan emosi supaya tak tampak berlebihan.


"Gimana bisa lo nggak kasih atau mereka, sih? Gimana kalau lo ... ergh," kesal Ily tak tahan. Ia segera menyalakan ponsel, mencari-cari nama orang tua Elvan, sampai tiba-tiba gerakannya terhenti karena tangan Elvan.


"Jangan, Ly," pinta Elvan dengan tatapan memohon. "Gue nggak mau bikin mereka khawatir."

__ADS_1


"Van. Nggak tau keadaan lo yang lagi begini justru lebih membuat mereka sakit hati. Lebih baik mereka khawatir atau kalut saat melihat lo, karena itu artinya mereka masih sayang sama lo; masih peduli sama lo." Ily menjelaskan dengan nada pelan yang hampir terdengar seperti bisikan hampa, sebab air mata terus luruh di wajahnya. "Lo harus kasih tau mereka."


Elvan menggeleng kuat, tetap pada pendiriannya. "Nggak, Ly."


"Van!"


"Please, Ly," mohon Elvan sungguh-sungguh. "Gue sekarang udah baikkan. Asal lo tau ya, gue berbohong ke ibu kalau gue kerja kayak begini. Ibu gue taunya gue jadi pengawal Juna; kerja bersih; kerja bener. Nggak pernah lukai orang, nggak pernah lakukan perbuatan ilegal dan nggak pernah bunuh orang. Ibu gue taunya gue baik dan kalau ibu gue tau gue sekarang begini, nggak ada jaminan gue masih dianggap anak sama ibu."


Ily menarik napas susah-susah. "Ibu lo pasti maafin lo, Van. Lo sendirian di sini sebelum gue dan Eza datang. Lo sakit, Van. Lo nggak bisa kesepian. Lo benci sepi."


Helaan dan buangan napas Elvan terdengar jelas saat tak ada suara isak tangis Ily yang awalnya mendominasi. "Kalau waktunya udah tiba, gue pasti kasih tau ibu. Gue juga akan kasih tau ayah. Sekarang, permasalahannya udah hampir selesai. Dan gue minta bantuan lo."


Ily menaikkan alisnya dengan bingung. Menatap Elvan dengan mata berair yang sedih. "Minta bantuan apa?"


"Jangan bilang siapa-siapa sampai gue kasih tanda, sampai gue menyelesaikan semuanya." Elvan mengangguk, meyakinkan Ily bahwa keputusannya ini benar. "Gue yakin, sebentar lagi masalah gue akan selesai. Masalah Yohan juga."


Tangan Ily bergerak, menyentuh sisi perut Elvan yang luka, bekas operasi. Hanya pelan Ily dorong, namun Elvan mengaduh sangat keras.

__ADS_1


"Ily! Obat biusnya udah habis dari kemarin, lo nggak boleh sembarangan mencet!" seru Elvan susah payah.


"Ya, terus ini gara-gara siapa? Mau gue pites anaknya nanti!" seru Ily menggebu-gebu. "Gara-gara Yohan, kan?"


"Lah, kok bisa nuduh-nuduh Yohan? Bukannya lo cinta mati sama dia?" Elvan balas bertanya dengan heran.


Ily mendelik, kemudian berdecak sebal. Tak suka perasaannya diumbar-umbar begitu. Ily melirik Eza yang duduk di sofa, namun laki-laki itu masih fokus pada ponselnya, entah sedang apa, meski Ily Hakim bahwa telinga laki-laki itu tetap mendengarkan suaranya dan Elvan. Artinya, Eza sudah tahu penyebab Elvan bisa terluka.


"Tadi Yohan bilang gitu. Dia yang bikin lo luka."


Elvan menatap Ily khawatir.


"Jadi, bener, ya?" Ily langsung mengartikan arti tatapan Elvan padanya.


Elvan tersenyum. Senyum yang sempat membuat Ily frustasi dan marah. "Nggak. Sebenarnya gue terluka karena gue sendiri."


Wajah Ily berubah pada detik selanjutnya. Sangat bingung, hingga rasanya ingin tidur dan terbangun dari mimpi buruk ini.

__ADS_1


__ADS_2