
"Ibu, ayah," panggil Ily saat keluarganya sedang menonton film keluarga di televisi dalam channel langganan.
"Eh, iya, Ly?" Ibu yang pertama merespon. Segera menarik tangan Ily untuk duduk di antara dirinya dan ayah. Seperti biasanya. Tipikal anak kesayangan keluarga.
"Kenapa? Ada cerita menarik kali ini? Waktu makan malam ditanya, dijawabnya nggak ada. Sekarang jadinya ada, hm?" Ayah ikut bertanya dengan senyum geli. Membuat Ily tampak malu-malu dengan memainkan ujung bajunya yang kebesaran. "Lucu banget anak ayah, unch."
"Tadi agak ragu soalnya buat cerita," jawab Ily jujur. "Tadi di kamar Ily curhat dulu sama Eza. Terus, sekarang ada deh di sini buat cerita."
"Yaudah, cerita apa. Ayo, bilang aja langsung," kata ibu, ramah seperti biasa.
"Itu, ibunya Raihan, Bu Rima," cerita Ily pelan-pelan. "Katanya ngajakin Ily buat kerja di butiknya. Selama Ily nganggur aja katanya. Ily bingung, nih. Soalnya kan Ily nggak pernah kepikiran buat berkecimpung di dunia fashion gitu."
"Woah," kagum ibu senang. "Kamu nggak usah banyak mikirin yang lain, deh, Ly. Langsung sikat aja. Soalnya kesempatan nggak datang dua kali. Ibu sama Rima udah sahabatan dekat dan ibu yakin Rima punya niat baik buat kamu."
"Gitu, Bu?" Ily masih merasa ragu.
__ADS_1
"Iya!"
Ily mengangguk kecil, kemudian berpaling pada ayahnya dengan menata menuntut pendapatnya. "Kalau menurut ayah?"
Ayah langsung berpikir. Matanya melirik ke atas dulu untuk setelahnya menjawab. "Kalau menurut ayah, ngga ada salahnya buat coba, sih. Bu Rima juga kan kata ibu sahabatnya dia, otomatis pasti terjamin dan kamu akan aman di sana. Ayah akan dukung kamu, Ly. Tapi, balik lagi ke pilihan kamu. Ily maunya apa. Apapun itu, asal positif, ayah pasti dukung."
Senyum Ily terkembang. Rasanya bahagia sekali mendapatkan dukungan penuh dari kudua orang tua tersayangnya.
"Makasih, ayah! Makasih, ibu!"
"Selalu, nak," timpal ayah, melakukan hal yang sama dengan ibu, memeluk Ily seolah Ily akan hilang jika ia melepaskan pelukannya. "Hati-hati saat tumbuh besar, Ly. Ayah sayang kamu. Dan doa ayah akan selalu menyertai kamu."
"Iya, yah."
"Jangan main sama orang asing, Ly. Jangan pernah menerima ajakan orang asing. Harus hati-hati, harus pilih-pilih," pesan ibu, benar-benar seperti Ily akan pergi jauh saja.
__ADS_1
Karenanya, Ily tertawa. Memegang kedua tangan orang tuanya dengan erat. "Ily akan hati-hati. Terimakasih telah khawatir. Ily sayang kalian. Sangat sayang."
"Iya, Ly, iya."
"Lagi pula Ily hanya akan pergi ke butiknya Bu Rima. Bukan ke luar negeri, apalagi ke Korea," balas Ily seraya tertawa. "Jadi, jangan terlalu khawatir begini, nanti ayah sama ibu bisa stress dan rambutnya jadi rontok kayak Ily."
"Hah? Kamu pernah stress?" Ibu langsung melepaskan pelukannya dan bertanya khawatir.
"Eh?" Ily gegalapan, kemudian berpaling pada ayah dan menemukan wajah yang serupa dengan ibunya. "Ah, nggak, kok. Maksudnya itu, Ily stress gara-gara memori Ily keformat. Semua film koleksi Ily susah-susah pada hilang di laptop. Kesel, terus stress. Ibu sama ayah bayangin aja, Ily rela bangun pagi-pagi buat download karena adanya kuota besar waktu tengah malem sampai jam enam."
Ayah dan ibu saling melempar pandangan aneh.
"Kesel pokoknya, ergh," kesal Ily jadi terbawa suasana dan meremas ujung baju tidurnya.
"Ha, hahaha."
__ADS_1
Ayah dan ibunya hanya dapat tertawa hambar menyaksikan perilaku anaknya yang entah diturunkan oleh siapa. Sebab dari keduanya, tak ada yang maniak film seperti Ily.