
Kemudian Lili tersenyum penuh arti. "Gue boleh nanya, nggak?"
"Kalau gue larang, pasti lo maksa kan?" Theo membalas jengah.
"Nggak, tuh," jawab Lili dengan senyum percaya diri. "Gue nggak bakalan jadi orang pemaksa dan egois lagi."
"Ha ha." Theo tertawa, namun wajahnya datar.
"Idih, ketawa. Nggak lucu juga."
"Gue sarkas barusan."
"Ha ha. Lu cu."
Theo menatap Lili seperti singa yang akan membunuh seekor tikus.
"Oke, maaf." Lili langsung ciut. Kedua tangannya terangkat sebagai tameng bahwa ia tak mau diserang Theo lagi. "Gue diem, gue diem."
"Bagus."
"Tapi, seriusan, Yo," rengek Lili tak langsung menyerah. "Gue pengen nanya."
"Beliin minum dulu, dong."
"Ya ampun, itu apa di sana?" tanya Lili seraya menunjuk stand di ujung sana, di belakang Theo. "Tinggal ambil, Yo."
"Ambilin. Gue capek."
"Ya ampun ...." Lili memutarkan bola matanya dengan jengah. Kemudian membuang napasnya panjang-panjang. "Hhh, oke! Oke, gue ambilin!"
Theo menyunggingkan senyuman puas ketika Lili berjalan melewatinya dengan langkah kesal ke arah stand yang menyediakan minuman dan buah-buahan.
Lili kembali dengan satu botol air mineral dan satu genggam stroberi. Ketika Theo mengambil botol yang dibawa Lili dan Lili memakan stroberi di tangannya, Theo menatapnya tajam.
Lili yang sadar ditatap sedemikian rupa balas menatap Theo. Namun, wajahnya datar dan mulutnya tetap bergerak untuk memakan stroberi.
Theo membuang napas tak percaya, kemudian meminum air dalam botol di tangannya tanpa peduli lagi.
"Ngapain sih liat-liat kayak tadi?" tanya Lili tiba-tiba, membuat Theo kembali menatapnya setelah selesai minum.
"Lo santai banget makan buahnya," kata Theo jujur. "Itu kan punya Lucas."
"Kan ada lo." Lili tertawa polos.
"Kenapa kalau ada gue?"
"Kan lo temennya, jadi lo tinggal bilang aja kalau gue itu temen lo jadi boleh santai aja di sini."
"Ha ha."
"Hobi banget ketawa sarkas."
"Soalnya gue nggak bisa ketawa biasa lagi."
"Aneh." Lili menyipitkan matanya dengan penuh perhitungan. Tanpa aba-aba, dia langsung menyergap Theo dan menggerak-gerakkan tangannya di pinggang Theo, menggelitikkinya. "Coba deh gue kelitikin!"
Theo tak bisa menahan diri untuk tak tertawa geli. "Woi! Hahahaha, stop!"
Mendengar tawa yang meledak dari Theo membuat Lili mengerutkan keningnya.
"Lah? Itu bisa ketawa. Bohong banget, dah, katanya nggak bisa ketawa biasa lagi. Huuuu, bohong." Lili menyoraki Theo dengan puas.
"Mau diculik lo?" tanya Theo geram.
__ADS_1
"Mau dong diculik." Lili membalas dengan nada menyebalkan.
Membuat Theo langsung agresif mendekatkan diri pada Lili. Mata Lili langsung membulat panik dan kedua tangannya menahan kedua bahu Theo yang makin lama justru bertambah berat dan wajahnya jadi super dengan dengan wajah Lili.
Lili tak tahan dengan tatapan tajam laki-laki itu.
"Oke! Maaf, Theo, maaf!" seru Lili ketakutan. "Gue bercanda, gue bercanda, oke? Gue nggak mau diculik jadi, stop buat deket-deket kayak gitu lagi!"
Theo akhirnya menuruti seruan Lili. Dia kembali menjauh, kemudian jadi diam. Lili membuang napas kecil.
"Oh, ya, gue mau tanya. Gue mau tau siapa yang mendorong lo buat main malam." Lili berdeham agak canggung. "Kan balapan kuda ini Lucas yang ngajakin, ya. Terus balap mobil juga temen SMP lo yang ngajakin, kalau bisa ceritain siapa temen SMP lo itu? Apa dia deket sama lo sampai sekarang? Terus, kalau clubbing siapa yang ngajakin?"
Theo membuang napas kecil, menyandar tubuhnya dengan tangan menahan kepala yang memandang Lili dengan pandangan datar. "Gue suka clubbing sendiri. Waktu Ayah gue paksa gue buat belajar dan akhirnya menghukum gue, gue ketemu Till See Sun dan kebetulan Lucas juga mau masuk waktu itu. Akhirnya, tiap butuh-butuh banget, gue minum."
Lili mengerjapkan matanya berkali-kali, merasa sangat diperhatikan oleh Theo. Tatapannya itu, lho.
"Lo dengerin nggak?"
"Ha ... ah--"
"Lo nggak dengerin." Theo mengalihkan pandangannya, membenarkan posisi duduknya menjadi berbaring dengan kepala yang hampir menyentuh paha Lili. Beberapa helai rambutnya terasa menyentuh paha Lili yang terbalut celana training abu-abunya. Di sana, Theo memejamkan matanya dengan kedua telapak tangan menjadi bantalan kepalanya.
Karena posisinya, jantung Lili mendadak bekerja cepat. Wajah Theo tak pernah terasa seperti ini untuk Lili, tak pernah terlihat tampan dan begitu hangat.
"Bangun gue kalau Lucas udah manggil,"
"Eh, emangnya lo istirahat berapa menit?" Lili jadi gugup sendiri.
"Nggak menentu, kadang sampai satu jam. Lucas juga mau latihan serius."
"Emangnya Lucas ada apaan sampai harus latihan balap kuda serius?"
"Kepo banget."
"Ish."
"Ooh." Lili membulat mulutnya tanda paham. Kemudian, dia menatap wajah Theo yang masih terpejam matanya. "Lo nyadar nggak?"
"Apa?"
"Lo belum jawab pertanyaan gue yang satu." Lili tersenyum tipis, damai sekali melihat wajah tertidur Theo. Tak ada tatapan setajam elang atau singa lagi yang membuatnya takut. "Dari siapa tepatnya lo mengenal balapan mobil liar?"
"Dika." Theo menjawab singkat.
"Siapa, tuh?"
"Temen SMP."
"Deket?" tanya Lili penasaran.
"Dulu iya." Theo berdeham tak enak. "Sekarang nggak."
Kening Lili mengerut samar ."Kenapa?"
"Ada satu masalah."
"Masalah apa?"
Theo terdiam sebentar, membuat Lili sesaat mengiranya tidur betulan sampai Theo bersuara juga, "Dia ngira gue rebut pacarnya."
"Kok bisa?"
"Gue juga nggak tau."
__ADS_1
"Aduh, bingung gue." Lili berdecak, berpikir keras hingga akhirnya tertawa kecil. "Kayaknya gara-gara muka lo kegantengan, deh. Jadi cewek temen lo Itu nyangkut juga tanpa bisa ditahan."
"Tapi dia bilang nggak suka sama gue."
"Tapi lo-nya suka sama dia?"
Theo justru tak kunjung menjawabnya bahkan setelah Lili rasa satu menit telah berlalu.
"Yo?"
"Buat apa suka sama pacar temen sendiri? Bukannya itu namanya TMT?"
"Ngerti juga lo kayak begituan." Lili menyunggingkan senyum tertarik. "Gue kira hidup lo tuh suram terus gitu. Nggak ada love-lovenya, gitu."
"Emang nggak ada." Theo menukas cepat. "Gue nggak suka juga sama Sherin."
"Oh? Oh?" Lili bereaksi sama ketika Lucas menjelaskan bahwa dia kabur dari club' kemarin malam. Reaksi yang membuat Theo menahan tawanya kuat-kuat karena Lili kedengaran seperti komedian gagap. "Oh, oh, oh, oooooh jadi cewek yang disebutin itu bentuknya Sherin? Makanya tempo hari lo ngomong sama Sherin! Hahaha, gue ngerti sekarang."
Theo berdecak. Dia baru sadar bahwa dirinya keceplosan. Theo tak senang jika harus mengingat masalahnya dengan Dika lagi.
"Terus si Dika-Dika itu sekolah di mana?"
"Swasta." Namun, Theo justru menjawab pertanyaannya dengan cepat. "Milik ayahnya."
"YO!" Lucas berteriak tiba-tiba.
"Eh, Theo, Lucas manggil tuh." Lili memberitahu.
Theo langsung bangun dari tidurannya dan menatap Lili tajam. Bukannya takut, rambutnya yang sedikit acak-acakan membuat Lili terkesima. "Ck. Gara-gara lo ngajak ngobrol terus gue jadi nggak tidur-tidur."
"Peace." Lili segera tersenyum tanpa dosa dengan dua jari membentuk huruf V. "Maaf."
Theo tak membalas lagi, justru langsung berbalik dan sedikit berlari menghampiri Lucas kembali di lapangan.
Lili tersenyum lebar menatapnya. Entah kenapa, Lili merasa lebih dekat dan dekat lagi dengan Theo. Tampaknya, Theo tak sekaku dan setertutup dulu.
Drrt. Drrt.
Tiba-tiba, ponselnya terasa bergetar di dalam tas selempangnya. Awalnya Lili kira itu dari orang iseng karena nomornya asing bagi Lili.
Sampai Lili membaca isi pesan yang dikirim nomor itu.
Lili, ini Jae. Sekarang lo ada di mana?
Tangan Lili terangkat menutup mulutnya dengan sontak terbuka karena terkejut sekaligus senang. Penantiannya yang terasa sangat lama akhirnya terbalaskan juga karena kini, kenyatannya, Jae mengirimnya sebuah pesan.
Buru-buru, Lili membalasnya.
Di komplek perumahan Bunga Aster, Kak
Tak lama dari itu, Jae kembali membalasnya.
Oh, nggak terlalu jauh. Bagus kalau gitu. Lo bisa ke kawasan taman asri nggak? Kita butuh cameo
Kaki Lili bergerak-gerak senang. Dengan senyum lebar, ia mengetik balasan.
Bisa, Kak
Oke, ditunggu
Tanpa membiarkan waktu menghalangi Lili untuk bertemu Jae, Lili segera berdiri dan berlari keluar kawasan kediaman Lucas. Terlalu semangat dan bahagia, Lili sampai lupa untuk pamit dulu pada Theo.
Ya, lagipula siapa yang mau menyia-nyiakan kesempatan untuk bertemu sang pujaan hati?
__ADS_1
Kalau ada, berarti dia tidak tulus.
***