Dari Korea

Dari Korea
Dari Korea 2 01


__ADS_3

"Yohan, jangan lupakan aku," kata Ily dengan senyum tipis ketika memberikan sekantung kresek berisi beberapa buah pisang sebelum Yohan benar-benar berangkat ke bandara untuk pulang ke Korea.


Yohan menerima bingkisan kecil itu dengan tawa kecil, menatap Ily dengan wajah meneliti. "Kalau kamu mau ikut, bilang aja. Aku bisa ajak."


Ily langsung mendelik. "Siapa yang mau ikut?"


"Ya udah kalau nggak. Nggak usah ngegas juga kali," balas Yohan dengan nada yang sudah hampir sama dengan anak gaul Jakarta. Tiga bulan pasti menjadi waktu panjang baginya menyesuaikan diri. Sedikit, Ily merasa bangga. "Aku nggak maksa juga, kan."


"Iya, iya, iyain aja," tukas Ily setengah kesal. "Soalnya umur nggak ada yang tau."


Mata Yohan membelalakkan terkejut. "Kamu kok berani sih bilang gitu ke aku?"


"Emangnya aku nggak boleh berani?" Ily justru melipat kedua tangannya di depan dada dengan wajah mendongak berani. Matanya menatap Yohan bingung. "Kenapa?"


Kini, Yohan memutar bola matanya. "Maksudku, kamu nggak harus sampai bawa-bawa umur, kan? Kalau aku besok beneran udah nggak ada, bagaimana? Kamu nggak sedih?"


Ily langsung memukul dada Yohan dengan gemas. "Daripada ngomong nggak jelas mending langsung ke bandara aja. Nanti ketinggian pesawat baru tahu rasa."


Yohan tersenyum segaris. Ia mengangkat tangannya, mengacak-acak rambut Ily dengan perlahan. "Jangan rindu, ya."


"Harusnya aku yang bilang gitu," tukas Ily seraya tertawa kecil. Ada bahagia dan sedih saat Yohan mengacak rambutnya. Ily menatap Yohan dengan pandangan yang sulit diartikan.


Waktu tak terasa berlalu. Sudah tiga bulan sejak Yohan datang dan banyak sekali yang terjadi. Setidaknya, tahun akhir sekolahnya menjadi sedikit seru berkat Yohan. Kemudian, saat ini, sudah waktunya Yohan untuk kembali ke tempat asalnya.

__ADS_1


Ily jelas tak begitu senang dengan keputusan Yohan, namun mau bagaimana lagi. Elvan dan Eza sudah berbincang sedikit tadi siang, ayah dan ibu Ily pun sudah diberi bingkisan selamat tinggal oleh ibu Yohan, tinggal Ily yang belum benar-benar melepas Yohan pergi.


Sekarang sudah sore, langit semakin jingga dan udara semakin dingin karena sudah musimnya. Yohan sudah siap dengan mobilnya, hanya menunggu ibu yang sedang mengecek rumah, apakah ada yang tertinggal atau tidak.


Laki-laki itu tampak baik-baik saja, tampak biasa saja, sementara Ily harus menahan rasa tak rela akan kepergiannya. Ily tak tahu apa yang Yohan rasakan kini, tapi saat melihat senyumnya, Ily rasa Yohan tak merasa sesedih dirinya saat akan berpisah kini.


"Iya, iya, iyain aja deh," kata Yohan, meniru apa yang Ily katakan sebelumnya. Ia tertawa dengan jenaka. "Soalnya umur nggak ada yang tau."


"Ish," geram Ily, hendak memukul dada Yohan lagi ketika Yohan segera menggenggam pergelangan tangannya itu dan membawa tubuhnya dalam sebuah dekap erat.


"YOHAN! AYO BERANGKAT!" ibu Yohan terdengar berteriak memanggilnya untuk segera keluar dari pekarangan rumah Ily.


Ily menahan tubuh Yohan yang hendak bergerak melepasnya dengan membalas pelukan dengan erat. Seolah ingin Yohan tak pergi. Seolah dirinya akan sangat rindu. Seolah ini adalah terakhirnya ia melihat Yohan. Seolah ini adalah simbol perpisahan. Dan seolah tanda dirinya sedia melepas Yohan untuk waktu yang lama.


"Jaga dirimu baik-baik, ya, Ly," kata Yohan lembut. "Aku akan telepon kalau aku udah sampai."


Ily mengendus aroma Yohan sekali lagi, dengan berat hati. Kemudian, merenggangkan jaraknya dari Yohan dengan senyuman lebar yang terkesan dipaksakan.


"Hati-hati, Yohan," balas Ily seraya melambai tangan kanannya. "Aku akan tunggu kamu."


Yohan mengangguk, dengan senyum tipis yang mengandung banyak emosi tertahan. Tak ingin berpisah, ingin terus bersama, ingin menangis, ingin merengek dan ingin-ingin lainnya yang tak bisa ia ciptakan.


"Sejauh ini, kamu teman terbaikku, Ly," ungkap Yohan tulus. "Jangan pernah berubah, ya."

__ADS_1


Sungguh, Ily ingin menangis sekarang juga. Namun, anehnya ia tak ingin memperlihatkannya pada Yohan. Entah kenapa. "Kamu juga jangan berubah jika tak ingin aku berubah."


"Aku janji, tak akan berubah." Yohan berkata serius. "Kamu juga harus berjanji. Jika ingkar, mungkin kita tak akan pernah bersahabat lagi."


Ily mengangguk cepat. "Iya, iya, aku juga janji."


"YOHAAAAN!"


"Aduh, ibuku cerewet sekali," keluh Yohan seraya menggaruk tengkuknya dengan canggung. Ia tertawa pada Ily. "Yaudah, aku pergi, ya. Dah!"


Ily hanya mampu menatap sosok yang berbalik, kemudian berlari dan hilang dari pandangannya itu dengan mata kosong. Untuk beberapa saat kemudian, Ily berjongkok, menangis tanpa suara dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Kehilangan seorang teman akan sesedih ini, Ily tak pernah membayangkannya.


Yang tersisa kini hanya telepon dan janji itu.


***


**bagaimana sejauh ini? Dari Korea 2 akan dipost setiap tiga hari sekali, ya.


tinggalkan kesan kalian di komentar^^


kalau ada yang mau tau lebih lanjut tentang aku, follow aja Instagramku: @dinixxv_

__ADS_1


terimakasih**


__ADS_2