Dari Korea

Dari Korea
Dari Korea 2 27


__ADS_3

"Jangan lupa bawa pensil, jangan lupa bawa balpen, jangan lupa penghapusnya juga."


"Gue selalu bawa itu di tas."


"Oh, bagus kalau gitu, awas, ya, jangan sampai lo pinjem punya orang."


"Gue nggak seberani itu buat pinjem ke orang yang belum gue kenal."


"Oh, bagus kalau gitu. Soalnya kalau pinjem punya orang, khawatir ada pelet atau dukunnya gitu. Kan marak banget orang-orang biar lulus paket sihir ala-ala."


"Aduh, imajinasi lo itu kurang-kurangin, deh. Mana ada dukun-dukunan di dunia UTBK."


"Hehehe. Orang yang suka berimajinasi adalah orang yang pintar. Gue cuma khawatir aja napa jangan dibawa serius."


Masalahnya bercanda lo itu nggak lucu. Garing banget. Ngalahin kerupuk yang udah dijemur seabad."


"Ye...."


"Ape?"


"Yaudah. Gue ingetin lagi  yang lainnya. Bawa roti atau susu buat siangnya, bawa tas buat bungkusin semua alat-alat tulis yang lo bawa, sama--"


"Eza, gue tuh UTBK, *****. Pake komputer. Jadi, nggak usah bawa ATK. Gimana, sih?"


"Ye, gue kan khawatir. Lo besok tesnya, dudul!"


"Gue yang tes, kok lo yang ribet?"


Eza memang sudah menelponnya sejak sore, menanyakan apakah Ily sudah siap-siap atau belum untuk besoknya melakukan prosesi UTBK. Ily menjawab ala kadarnya, kemudian menutup sambungan telepon dengan alasan akan belajar lagi.


Namun, belum dua jam setelah itu, Eza kembali menelepon dan mengingatkan Ily untuk bawa ini itu. Ily jelas ingin mengatakan bahwa Eza sangat menggangu, namun jelas itu akan merobek hatinya.


Dengan sabar, Ily meladeni Eza pada akhirnya.


"Ya, kan gue temen lo, Ly. Udah wajar dong buat nyemangatin. Gue tanya deh, ada nggak sih yang semangatin lo buat besok selain gue?"


"Ada." Tanpa ragu Ily langsung menjawab.


"Hah? Siapa?"


"Raihan."


"Ye, kan dia juga besok mau tes. Itung-itung biar sama-sama semangat itu."


"Ya, sama aja, Za."


"Beda, dong, aduh."


"Yaudah lah, Za. Terserah lo."


"Dibilangin malah ngeyel. Jadi, ada nggak yang semangatin selain gue?"


Ily menarik napas panjang, memang perlu kesabaran ekstra untuk mengahadapi manusia sejenis Eza yang panjang omongannya.


"Nggak ada. Puas, lo?"


Di seberang sana, Eza langsung tertawa. Jenis tawa puas dan keras sekaligus menjengkelkan. Rasanya, tidak adanya Elvan membuat Eza berkali-kali lipat menyebalkan dari biasanya.


"Udahlah. Gue mau belajar. Bye. Makasih buat ucapan semangatnya."


Tanpa menunggu jawaban yang mungkin hanya akan membuat Ily semakin kesal, Ily mematikan ponselnya. Kemudian menaruhnya di atas meja belajar untuk setelahnya berbaring dan menyelimuti diri di atas ranjang tidurnya.

__ADS_1


Jika Eza saja sampai sepeduli itu, maka Ily lebih-lebih merasa. Sejak tadi, jantungnya berdebar tak karuan dan sudah merasa gugup duluan.


Hingga dirinya tak yakin akan bisa tidur nyenyak malam ini.


Pasalnya, pertempuran sebenarnya akan berlangsung besok. Untuk membuktikan bahwa perjuangan Ily satu bulan ke belakang itu menghasilkan akhir yang memuaskan atau tidak.


Paginya, Ily disambut senyum lebar ayah dan ibunya yang sangat menyejukkan hati. Mereka berdua tahu bahwa hari ini Ily akan menempuh tes yang akan menentukan masa depannya. Sarapan sudah tersedia waktu Ily duduk di depan kedua  orang tuanya.


"Makannya hati-hati," pesan ayah dengan lembut, saat Ily mulai menyuapkan nasinya ke mulutnya. "Kunyahnya hati-hati. Yang bener."


Ily tersenyum geli pada perhatian ayah yang tak seperti biasanya. Jika dahulu Ily hanya dibilang supaya jangan lupa sarapan, sekarang justru diperhatikan supaya sarapan itu dimakan dengan baik. Jelas, karenanya Ily merasa tak nyaman alias canggung.


"Nggak kelupaan sesuatu, kan?" tanya ibu perhatian.


"Nggak, Bu. Udah Ily siapin dari malem, kok," balas Ily seadanya.


Menu sarapan kali ini terasa lebih enak dari biasanya. Mungkin karena ada udang dan ikan yang ditumis sebagai lauknya. Ketika biasanya nasi goreng dan daging ayam, atau telur maupun sayuran.


"Pokoknya kamu berusaha aja. Di sini ayah sama ibu cuma bisa doa," kata ayah menenangkan.


"Iya, yah."


"Seneng banget duh, gimana ya kalau kamu diterima di sana? Wah, kayaknya tiga perempat dari harapan ayah terkabul, deh. Dari semenjak kamu keluar dari perut ibu, ayah udah berandai-andai. Lihat kamu sukses, berjuang untuk kamu dan mendampingi kamu kalau mau nikah dengan karir gemilang."


Mata ibu langsung berbinar. "Bener, yah! Seneng banget punya anak kayak Ily, nggak kayak tetangga yang... em... agak gitu deh."


"Kalau misalnya Ily ke terima, jangan disombong-sombongin ke tetangga, tapi. Malu." Ily meminta dengan sopan. Sebenarnya agak malu mengatakannya, karena dirinya jadi terkesan sangat optimis. "Cukup kita aja yang tau."


"Ya nggak bakalan, sih." Ayah membalas santai. "Paling cuma dibilangin aja kayak anak ayah itu salah satu mahasiswa di UI."


Mata Ily memutar jengah. "Sama aja itu, yah!"


"Iya!"


"Kirain beda."


"Udahlah, yang penting hari ini kamu jangan mikir apa-apa kecuali buat tes itu. Oke?" Ibu menatap Ily dengan pandangan super serius.


"Siap, Bu!"


***


Intinya, kini tak ada yang mampu masuk ke dalam pikiran Ily selain cemas. Perempuan itu terus mencengkram ujung pakaiannya sejak hasil tes mulai ditunjukkan. Perhitungan terus bertambah, posisi-posisi terus berubah karena tes dilaksanakan dalam tiga sesi.


Ily kebagian sesi pertama, sementara Raihan sesi terakhir. Meski kebagian jam dua, Raihan sudah datang sejak jam tujuh di mana Ily memulai tesnya. Mereka saling mengingatkan, menyemangati dan beberapa kali berbagi makanan untuk menghilangkan rasa gugup.


Sebenarnya, Raihan tak terlihat segugup Ily. Hanya Ily yang mungkin tampak berlebihan.


Hingga akhirnya, kini jam sudah menunjukkan jam dua lebih tiga puluh menit. Di mana hasil sesi pertama dan kedua sudah keluar, kemudian hasil dari sesi ketiga berangsur-angsur ikut campur dalam deretan nilai akhir.


Layar itu bergerak-gerak, membuat Ily semakin cemas karena namanya semakin turun seiring waktu berjalan.


Ily takut... takut untuk mengahadapi kenyataan bahwa dirinya gagal. 


Saat tes, Ily memang merasa ada beberapa soal yang membingungkan dan membuatnya keliru. Namun, ia tak menyangka jika kesalahan yang menurutnya kecil itu bisa berdampak besar pada hasilnya.


Satu lagi... satu lagi angka yang Ily butuhkan untuk menjadi salah satu deretan orang-orang yang lulus seleksi tahap satu. Daerah Jakarta.


Namun, sayang sekali, nama Ily benar-benar tak masuk di sana. Air matanya hampir keluar, namun itu tertahankan saat melihat Raihan keluar dari ruangan tempat tes berlangsung.


Ily menatap layar, mencari nama Raihan.

__ADS_1


Ketika rupanya nama Raihan berada di angka sepuluh teratas, ada dua rasa yang menyergap Ily. Pertama, tentu dia bangga dan turut senang atas pencapaian laki-laki itu. Hanya tinggal tunggu tiga hari dan Raihan resmi menjadi mahasiswa baru di UI. Rasa yang kedua, tentu saja dia iri dan malu saat mengahadapi Raihan kini.


Inginnya, sekarang Ily hilang saja dari dunia ini.


"Ly!" panggil Raihan dengan senyum itu. Senyum yang entah sejak kapan jadi favorit Ily. Raihan belum tahu hasilnya, justru sibuk membereskan tasnya seraya berjalan menuju Ily.


Ily ikut tersenyum. Meski pahit dan sulit, Ily mengulurkan tangannya. "Selamat, ya, lo lolos tahap satu, Han."


Mata Raihan membulat. Laki-laki itu tak lebih dulu menyambut tangan Ily, justru buru-buru melihat layar yang menampilkan list nama yang sudah mengikuti tes beserta hasilnya. Ketika melihat namanya berada di atas, Raihan jelas lega.


Namun, melihat nama Ily berada di antara list bawah, senyumnya luntur seketika. Apalagi saat menyadari sesuatu di sana. "Lo satu lagi lolos, Ly. Kenapa hari ini?"


Ily menggigit bibirnya, menahan tangis dan kesal yang berkecamuk di hatinya dan ingin meledak sana. "Gue juga... gue juga nggak tau, Han..."


"Hush ... jangan nangis gitu, nggak lucu."


Tangan Raihan segera mengambil tisu dalam tasnya, yang selalu dia bawa-bawa berkat pesan ibunya yang selalu mendengung di telinga setiap kali dia malu berpergian. Kemudian, dengan tisu itu, ia mengelap air mata Ily yang mengalir di pipinya.


"Ini bukan akhir, Ly." Kata-kata klise itu tak mampu membuat air mata Ily berhenti mengalir dan membuat Ily berubah menjadi optimis lagi.


Semuanya seperti runtuh saja. Tak ada jalan selain menangis untuk membuatnya terasa baik-baik saja.


Ily jadi sesegukan. Mengambilnya tisu dari Raihan tanpa kata, kemudian berbalik pergi dalam langkah yang cepat. Ily tak peduli dengan Raihan yang langsung terkejut dan sepertinya bingung untuk bertindak.


"Ily, heh, mau ke mana?"


Jika harus dihujat lebay, Ily bisa menerimanya dengan lapang dada. Dunianya seperti hancur saja saat ini. Satu bulan ia siapkan dengan sungguh-sungguh, bergadang beberapa kali untuk sampai pada targetnya serta membuat orang-orang tersayangnya kerepotan atas kebiasaannya berisik di dapur saat tengah malam.


Ily benar-benar merasa tak enak kepada kedua orang tuanya.


Dahulu, dia malas-malasan dan bingung sendiri dengan tujuan hidupnya. Meski tak begitu yakin, dia memiliki satu tujuan hidupnya. Kemudian berusaha keras untuk mewujudkannya. Bahkan sempat menyombongkan diri sebelum benar-benar bertarung.


Mau bilang apa dia nanti di rumah?


Maaf karena menghancurkan harapan serta mimpi kedua orang tuanya? Oh, itu terdengar sangat menyedihkan. Ily bisa menerima kalau nanti dirinya langsung dibuang dari anggota keluarga.


Ily terus berjalan, hingga sampai di sebuah taman yang memang tak jauh dari sana, dia duduk di salah satu kursinya. Menunduk dengan tangan menutupi mata yang basah dan terus berair.


Tak akan, Ily merasakan Raihan duduk di sebelahnya. Laki-laki itu menghela napas panjang, kentara sekali dia bingung harus apa pada Ily sekarang.


"Ly..."


Hari belum sore, namun Ily sudah merasa kedinginan. Angin bertiup kencang dan karenanya Ily berharap akan hujan deras hingga setidaknya dia bisa menahan keras tanpa perlu khawatir akan jadi perhatian orang-orang sekitar.


Jika menangis di bawah hujan untuk menyamarkan suara adalah suatu kejadian lebay dan alay, Ily tak akan beranggapan begitu.


Orang-orang tak tahu bagaimana malunya menangis dengan suara yang didengar orang lain. Seperti saat ini, Ily jelas-jelas menahan suaranya agar tak terdengar Raihan karena dia terlalu malu... terlalu memalukan dan mengecewakan.


"Lo tau... nggak semua harapan kita bisa terkabul," kata Raihan mulai menenangkan Ily. Perlahan, tangannya menepuk-nepuk pundak Ily agar setidaknya perempuan itu tak merasa kesedihan dan kedinginan karena ia tak sendiri.


Ada Raihan di sini.


"Ada mimpi yang tak selalu terealisasikan, ada keinginan kita yang semestinya jadi keinginan orang lain, ada juga kebutuhan kita yang datang dengan sendirinya," tambah Raihan dengan suara rendah yang jujur saja, membuat Ily berada di awan-awan lembut yang membuatnya damai. "Kata kuncinya adalah waktu. Dengan begitu, kita akan paham apa yang sebenarnya kita butuhkan, apa yang sebenarnya jadi tujuan kita dan apa yang sebenarnya membuat kita bahagia."


Ily menarik napas. "Gue paham, Han. Gue paham. Tapi, coba bayangin apa yang akan lo lakuin kalau lo ada di posisi gue?"


Raihan sempat berpikir. Namun, itu tak lama, karena selanjutnya ia menjawab dengan tegas.


"Gue akan berusaha untuk masuk tahun depan."


Jawaban itu seperti pintu tertutup yang menunggu untuk Ily ketuk untuk setelahnya disambut oleh segunung emas yang berkilauan dan menyilaukan mata.

__ADS_1


__ADS_2