
Lee Joehee dan Yoona baru saja masuk ke dalam kedai bakso saat laki-laki dewasa yang dikagumi Joehee itu turun dari motornya, yang pastinya hendak masuk ke mari. Joehee tak kuasa untuk menahan lompatan kegirangannya saat ini.
Sekolah mereka tidak fullday, karenanya mereka sekolah hari Sabtu. Kebetulan sekali kakak-kakak yang ditaksir Joehee datang juga hari Sabtu. Kelihatannya dia selesai mengerjakan tugas atau belajar kelompok karena ada tas di punggungnya.
"Yoona! Yoona! Liat itu kakak-kakak yang aku taksir datengnya barengan, yey!"
"Hush, jangan dulu ribut. Baru masuk, nih, aduh."
"Ish, aku seneng banget sekarang!"
"Yaudah, kita duduk dulu. Baru mengagumi kakak-kakak yang kamu taksir itu."
Joehee cemberut, namun tetap memeluk lengan Yoona untuk berjalan bersamaan menuju kursi yang kosong untuk diduduki. Joehee jadi semangat setiap kali menemani Yoona yang sudah baksoholic tingkat dewa ini.
Mereka berdua sama-sama orang Korea. Namun, punya ibu yang sama-sama orang Indonesia sehingga bahasa Indonesia mereka lumayan lancar. Yoona sudah berada di Indonesia dari umur lima tahun sampai kini, namun Joehee baru satu bulan di sini.
Beruntung sekali Joehee satu sekolah dan satu kelas dengan Yoona yang mengerti akan dirinya. Keduanya jadi amat lengket bahkan hanya dengan waktu satu minggu.
Yoona pikir Joehee anaknya lugu dan lucu, namun setelah kenal lebih dekat, ternyata Joehee sangat berisik dan heboh. Terlihat dari wajahnya yang selalu kagum setiap kali melihat ciptaan Tuhan yang luar biasa.
Setiap kali kakak kelas main basket di lapangan, Joehee selalu berteriak. Bahkan membelikan mereka minuman begitu saja. Joehee memang sudah seperti tak punya urat malu, namun sangat malu-malu saat berhadapan dengan kakak-kakak yang ditaksirnya di kedai Bakso Pak Somad ini.
Ketika Yoona bertanya kenapa Joehee malu-malu, Joehee menjawabnya dengan cepat, "kan aku sama kakak-kakak itu nggak satu sekolah, jadinya malu banget. Hehehehe."
Yoona langsung mencibir waktu itu. "Malu-malu tapi langsung ngasih cokelat tanpa dipikir dulu."
"Heh, itu hasil aku mikir panjang lebar, lho. Aku akan ngasih gugup banget. Ugh, main kerasa deh sampai sekarang gugupnya."
Yoona hanya tertawa menanggapinya, kemudian menutup sambungan telepon dengan sepihak.
"Mau pesen nggak?" tanya Yoona langsung, ketika keduanya duduk dengan nyaman.
Joehee yang sedari tadi memandangi pintu masuk sontak terkejut sedikit karenanya. "Eh, persen apa?"
"Ya, pesen bakso, dong!" seru Yoona agak dongkol. Sebab meski cantik dan menggemaskan, Joehee itu kadang lemotnya nggak ketulungan.
"Oh, bakso, ya," paham Joehee dengan senyum tipis. "Boleh satu porsi berdua nggak? Lemaknya banyak banget soalnya, takut gendut sama tumbuh jerawat di wajah."
"Nggak mau," balas Yoona cepat. "Kalau nggak mau, yaudah jangan beli."
"Tapi pengen nyobain lagi. Enak soalnya." Joehee menggerutu dengan bibir yang cemberut lucu.
"Yaudah satu suap aja, ya," kata Yoona menawarkan.
"Oke sip," balas Joehee puas, mengacungkan jempolnya dan kembali pada aktifitas awalnya. Memandangi pintu masuk, tepatnya menunggu kakak pujaan hatinya masuk.
Rupanya, setelah Joehee teliti lebih lanjut, kakak pujaan hatinya itu sudah duduk di dekat pintu masuk. Wajahnya lelah seperti biasa, kemudian mengeluarkan buku dan mencatat sesuatu di atasnya setelah memesan.
Joehee memerhatikannya, kemudian tumbuh keinginan untuk menghampirinya.
"Yoona...."
Yoona yang menyibukkan diri dengan ponsel segera menoleh. "Apa?"
"Samperin jangan kakaknya?" tanya Joehee meminta persetujuan. "Pengen ngobrol soalnya."
"Berani banget sih kamu," kata Yoona tak habis pikir. "Kak Elang yang udah punya pacar aja kamu ajakin ngobrol. Kak Reza juga yang jelas-jelas digebet sama Kak Putri dikasih minum. Kak Banu juga digombalin. Maunya apa, sih?"
Joehee terkekeh kecil. "Nggak tau. Aku emang gini dari lahir."
Yoona memutar bola matanya dengan jengah. "Yaudah samperin ya samperin aja. Biasanya juga langsung beraksi, nggak pake acara tanya saran kayak gini."
"Eh, dibilangin kakak ini beda. Kan dia nggak satu sekolah alias satu lingkungan sama aku, jadi harus diperlukan berbeda!" seru Joehee memberikan penjelasan yang sebenarnya tak begitu didengarkan Yoona karena sudah terlalu bosan dengan tatapan tingkah aneh Joehee.
"Yaudah, aku ke sana ya, Na. Doain," pamit Joehee akhirnya.
Yoona hanya bergumam, dalam hati ia berdoa supaya Joehee tidak menimbulkan rasa malu untuk dirinya sebagai teman.
***
"Sekolah kamu gimana?"
Ayahnya bertanya ketika Joehee sedang melepas jepitan rambutnya sambil bercermin. Ayahnya muncul dari ambang pintu dengan pakaian kerja yang masih melekat di tubuhnya. Wajahnya lelah, namun senyumnya tetap tercipta di sana.
"Baik-baik aja, yah. Ada Yoona."
"Baguslah."
"Iya, yah. Bagus. Aku beruntung sekali."
"Maaf ya, ayah belum menemukan ibumu. Ternyata rumahnya pindah, tidak di tempat yang sama seperti dua puluh satu tahun yang lalu." Ayah lagi-lagi mengatakan hal yang setiap malam tak pernah absen untuk disuarakan.
Dan, sepertinya Joehee mulai bisa untuk mengela napas kecil seraya berbalik dan menjawab, "tak apa ayah. Hari ini, begini saja, aku sudah bahagia. Aku sudah terbiasa sekarang. Mungkin aku hanya harus bersabar sedikit lagi."
"Anak yang pintar." Ayah mendekat dan merentangkan tangannya lebar-lebar. "Sini, ayah peluk!"
Joehee mengulas senyum lebar, ikut merentangkan tangannya dan memeluk ayah dengan erat. "Sayang ayah, deh!"
"Ayah sayang Joehee juga!"
"Yah, yah," kata Joehee seperti ingin menceritakan sesuatu yang menarik. Ia segera menarik pelukannya dan menatap ayah dengan penuh harap. "Joehee boleh punya banyak temen laki-laki, kan, yah?"
"Hah?" Ayah membulatkan matanya dengan wajah terkejut.
"Nggak boleh, ya?" Joehee cemberut, menggantikan senyum cerahnya yang di awal.
"Eh, nggak, Joehee," jelas ayah agak salah tingkah. "Maksudnya, kenapa tiba-tiba tanya begitu?"
"Ya, pengen aja, yah," balas Joehee ringan.
__ADS_1
Ayah berpikir keras. Menatap Joehee khawatir, namun jelas, kebahagiaan Joehee adalah seluruh kebahagiaannya kini. "Boleh, kok."
"YEY! YES, YES!" Joehee sudah lebih dulu berteriak riang dan melompat-lompat di lantai kamarnya yang dingin. "Makasih ayah! Yuhu!"
Melihat anaknya sebahagia itu, tentu ayah tersenyum bangga. Keputusan yang dihasilkan dirinya dapat membantu Joehee senang, tentu ayah bangga.
"Eits, tapi ada syaratnya," tambah ayah sebelum Joehee terus melompat-lompat hingga menjadi titisan kodok.
"Apa, yah?" Tetap saja, sorot semangat dalam mata Joehee tak padam.
"Kalau anaknya nakal, langsung dijauhin," jawab ayah tegas. "Kalau sampai kamu kenapa-kenapa gara-gara temenan sama dia, ayah bakal lapor polisi."
Joehee tersenyum segaris, kemudian melakukan hormat seperti tentara yang sedang latihan militer dengan seniornya. "Siap, bosku!"
Ayah tertawa seraya mengacak rambut Joehee gemas. "Bagus, anak pintar."
"Ih, ayah jadi acak-acakan!" seru Joehee seraya melangkah menjauhi ayah dan membernarkan tatanan rambutnya.
"Omong-omong, kamu udah ada temen laki-laki?"
"Ada."
"Woah."
"Banyak malah."
"WOAH."
"Tapi ada satu yang spesial."
"Woah, siapa tuh?"
"Tapi dia nggak satu sekolah sama Joehee. Anak kuliahan malah."
"Kok bisa gitu?!"
"Joehee kan anaknya super supel, yah, kalau kata Yoona. Nggak jaim dan malu-malu. Jadi cepet dapet temen baru." Joehee tersenyum bangga. "Termasuk si kakak kuliahan itu."
Ayah bertepuk seraya menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. "Hebat, nak! Hebat!"
Joehee tertawa malu-malu.
"Namanya siapa?"
"Namanya siapa yang mana nih, yah? Kalau dihitung-hitung, temen laki-laki Joehee sekarang ada lima, yah."
"Buset." Ayah mengerjap matanya, lagi-lagi masih tak menyangka jika anak perempuan kecilnya itu kini sudah amat dewasa. "Itu deh. Nama temen kamu yang spesial itu."
Joehee tersenyum lebar. "Namanya Kak Raihan, yah. Baru aja kenalan tadi sore."
Alis ayah terangkat. "Baru kenalan? Tapi udah dianggap teman? Kamu harus hati-hati, lho. Ayah nggak akan terima kalau kamu kenapa-kenapa gara-gara salah pergaulan. Ingat, ya."
***
Jam 11 malam urusan Raihan telah selesai, dia ada job untuk mengedit sebuah vlog temannya untuk konten YouTube. Sejak kelas 12, Raihan memang sudah tertarik untuk masuk dunia pengeditan. Beberapa kali ikut lomba dan meski tak menang, ada orang-orang yang mau membayar jasanya untuk mempercantik video mentah.
Hari ini rencananya dia mau mengajak Ily keluar. Namun, tuntutan tugas dan pikirannya yang bergelut tentang Shasi membuat Raihan cukup lelah untuk bertemu Ily.
Padahal, ia sudah meminta bantuan ibu untuk mengirimkan kode pada Ily untuk luangkan waktu hari Sabtu ini. Pada kenyataannya, Raihan yang tak bisa luangkan waktu.
Gantinya, dia bertemu Joehee sore ini. Entah bagaimana bisa ditakdirkan bertemu, Raihan dan Joehee mengobrol panjang sore itu. Semuanya berkat Joehee yang nyatanya bisa sesupel itu dan tugas kuliah Raihan yang selesai.
Tahu-tahu, anak itu menghampiri meja Raihan.
Begini ceritanya. Flashback dulu.
"Hai, kak. Sore," sapa Joehee sambil tersenyum lebar. "Aku Lee Joehee, anak yang kemarin ngasih cokelat. Salam kenal."
Joehee memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya. Namun, bukannya membalas dengan menjabat tangan Joehee, Raihan justru mengernyit. "Siapa?"
"Lee Joehee." Joehee membalas dengan menyuarakan namanya dengan lantang. "Panggil aja Joehee. Kakak namanya siapa?"
Awalnya, Raihan juga heran, ada juga ya anak seaneh Joehee yang tiba-tiba ngajak kenalan padahal mereka sempat bersinggungan saja tidak. Namun, daripada membuat satu hati tersakiti, Raihan meladeninya. Dia juga tak ada urusan mendesak setelah makan bakso di sini.
Jadilah, Raihan menjabat tangan Joehee yang terasa semungil dan selembut itu dengan senyum tipis. "Gue Raihan."
Jabatan tangan itu langsung terlepas karena kecanggungan yang hakiki. Sebenarnya kini Joehee merasa amat gugup, tapi berusaha meyakinkan diri supaya terlihat percaya diri.
Buat apa canggung, toh, Raihan juga manusia. Sama-sama makan nasi dan daging ayam.
"Oh, berapa tahun?" Joehee membulatkan matanya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, berniat mengoreksi pertanyaannya yang terkesan tak sopan. "Bukan, maksud aku bukan buat niat jahat. Tapi, biar aku nyaman harus manggil apa gitu. Kan kalau aku nggak tau umurnya... nggak nyaman gitu...."
"Delapan belas."
"Oh, berarti aku manggil kakak," sahut Joehee lega. Raihan tak seterganggu itu atas pertanyaan mengenai umurnya.
"Emang lo kelas berapa?" Raihan kini giliran bertanya. "Masih SMA, ya?"
"Baru naik kelas sebelas, kak. Baru enam belas tahun," balas Joehee dengan senyum lebar. Senyumnya memang manis, giginya bersih dengan bibir tipis merah muda tanpa lipstik.
"Oh..." Raihan kemudian meneliti wajah Joehee. "Lo orang luar, ya?"
"Woah, hebat kakak bisa tau."
"Oyajelas itu kulit lo kinclong putih gitu masa gue nggak bisa bedain mana lokal mana asing. Lo asalnya dari mana?"
"Pulau Jeju. Yah, kakak pasti nggak tau, ya? Itu dai Korea Selatan. Aku baru aja ke sini satu bulan yang lalu."
"Oh."
__ADS_1
"Oh aja?"
"Terus apa?"
Joehee cemberut. Raihan sepertinya tak begitu tertarik dengan dirinya. Jadilah, keheningan menyelimuti keduanya beberapa saat sampai akhirnya Raihan bersuara saat tersadar sesuatu.
"Btw."
"Iya?"
"Makasih ya buat cokelatnya."
"Sama-sama, kak," balas Joehee langsung berubah riang, diselingi tawa manis yang menyegarkan. "Kalau kakak mau lagi, aku bisa bawain besok."
"Eh, nggak usah. Gue nggak mau ngerepotin."
"Yah, padahal aku nggak merasa dibuat repot, lho."
Raihan menatap Joehee tak enak. "Lagian gue juga nggak sesuka itu sama cokelat."
"Eh, serius?"
"Iya. Biasanya kan cewek yang suka. Jadi kemarin gue kasih cokelatnya ke cewek," balas Raihan, tanpa sadar membuat raut wajah Joehee menjadi lebih redup.
"Dikasih ke pacar, ya, kak?"
Raihan melihat perubahan yang lumayan signifikan dari wajah Joehee, juga suaranya. Membuatnya merasa amat bersalah karena secara tak langsung membuat cokelatĀ pemberian Joehee tak dihargai.
"Eh, maaf, ya," sesal Raihan canggung, menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Gue emang kurang--"
"Nggak apa-apa. Tapi, pacar yang kakak kasih cokelat itu seneng, kan?"
"Seneng, sih."
"Yaudah, aku juga ikutan seneng."
"Eh?"
"Kenapa, kak?"
Riahan meringis, ingin sekali bilang bahwa Joehee itu sangat aneh. Maksudnya, kenapa bisa raut wajah dan suasana hatinya bisa berubah sedrastis itu. Setidaknya, perlu satu jam atau sepuluh menit untuk perubahan suasana hati dan wajah.
Ini Joehee hanya perlu lima detik buat berubah.
Namun, jelas, Raihan tak bisa mengatakannya begitu saja. Nanti yang ada Joehee menangis karena sakit hati dibilang aneh.
"Nggak, sih," balas Raihan lagi-lagi merasa sulit untuk bertingkah. "Tapi... tapi... oh, orang yang gue kasih cokelat itu bukan pacar."
"Lah, kakak nggak punya pacar?"
"Em... punya, sih--"
"Kok dikasih ke cewek yang bukan pacar kakak?" Joehee bertanya tak terima. "Kasihan pacar kakak, dong!"
"Tapi udah putus kemarin." Raihan menyambung kalimatnya yang sebelumnya belum selesai.
J
oehee memasang wajah terkejut. "Kok bisa?!"
"Wes, selow, dong." Raihan ngeri pada bagaimana Joehee bereaksi. "Gue putus baik-baik, kok. Kita sama-sama nggak cocok aja. Eh, kok gue jadi curhat gitu aja ke lo, sih? Hahahaha, aneh."
"Nggak apa-apa, dong, kak. Sesama manusia harus saling berbagi cerita."
"Tapi berbagi cerita nggak bisa ke sembarang manusia. Bisa bahaya."
"Ya, kakak bisa anggap aku temen aja."
Raihan hanya tersenyum, kemudian menyantap bakso pesanannya yang sudah datang, sementara Joehee kembali pada mejanya setelah mengucapkan selamat tinggal pada Raihan.
Raihan menatap punggung Joehee selama makan. Kemudian senyuman lebar tercipta di wajahnya.
Anak itu lucu sekali. Raihan jadi ingat masa-masa SMA-nya yang belum lama ini berakhir.
Raihan jadi rindu.
Kembali lagi ke masa kini, Raihan jadi ingat Ily. Besok hari Minggu dan jadwalnya kosong karena sudah tak ada lagi chat dari Shasi yang mengharuskannya menghabiskan waktu bersama di suatu tempat sebagai dua insan yang memiliki kaitan.
Shasi juga kelihatannya tidak begitu depresi saat Raihan putuskan, perempuan itu supel, hampir sama seperti Joehee dan mudah dicintai. Karena Raihan juga begitu pada Shasi.
Oleh karena itu, Raihan berani taruhan kalau Shasi akan menggandeng yang baru, sesingkatnya satu minggu dari hari dia putus dengan Raihan.
Raihan tak menengok jam dulu sewaktu dia memanggil nomor ponselnya Ily. Raihan juga lupa bahwa yang sedang diteleponnya ini adalah Ily, bukan Shasi.
Jelas, Ily tak akan mengangkatnya karena tengah malam sudah menjemput.
Raihan berani sumpah, Ily sudah tidur bahkan saat jam belum merembet ke angka sembilan. Ily kelihatannya perempuan baik-baik yang jarang bergadang hanya untuk menjadi bucin dengan pacarnya sampai habiskan kuota dan baterai ponsel sampai malam untuk video call unfaedah, atau memposting quotes galau yang tampak bijak.
Raihan rasanya semakin suka Ily.
Karena panggilan teleponnya tak dijawab, Raihan mengirim Ily beberapa SMS untuk dibaca Ily sewaktu bangun tidur nanti
Raihan: besok gue ke rumah lo jam satu siang, ya hehehe, siap-siap ya, Ly!
Raihan: ya.... kalau waktu lo luang itu juga
***
ditunggu minimalnya, setidaknya lima deh seperti biasa^^
__ADS_1