
"Habis ngapain di rumah Ily?"
Ibunya bertanya saat Yohan sedang mengupas apel untuk ia makan di dapur. Laki-laki berumur delapan belas tahun itu berdeham dan tertawa kecil untuk menutupi salah tingkahnya.
"Bisa dibilang bertemu ayah mertua," balas Yohan santai, membuat ibu terkejut dan langsung menghampirinya untuk menatap wajahnya yang sudah memerah sekarang.
"Kalau ayah tau, dia bakal marah, lho," kata ibu menakut-nakuti. "Dia nggak bakal suka kalau anaknya di sini malah cari pacar, bukannya belajar dan lulus dengan nilai terbaik."
Yohan menipiskan bibir. "Setidaknya aku mungkin akan mendapatkan nilai sepuluh besar satu sekolah."
"Mungkin saja," balas ibu dengan senyum tipis, mengambil potongan apel yang dikupas Yohan dan memakannya begitu saja. "tapi ayah tak akan senang dengan kabar bahwa kamu menyukai anak tetangga dan tergila-gila padanya hingga menyebut ayahnya dengan ayah mertua."
"Ah, maksudku calon." Yohan mengoreksi perkataannya yang lalu dengan senyum canggung. "Calon ayah mertua."
Ibu tertawa. "Kamu sudah besar, Yohan."
"Ibu senang?" tanya Yohan dengan senyum lebar.
Ibu mengangguk tulus, tersenyum menenangkan hati seperti biasanya. "Ibu bangga padamu, nak. Jangan kecewakan siapapun dan jadilah penyebab semua orang bahagia."
"Iya, aku akan." Yohan mengangguk percaya diri. "Tadi aku ditanya apakah akan serius dengan Ily atau tidak. Rupanya calon ayah mertua sudah tau aku menyukai putrinya. Aku malu sekali, tapi kujawab dengan wajah serius bahwa aku menyukai Ily dan akan menikahinya."
Mata Ibu membulat sempurna, kemudian tersedak ludahnya sendiri sebab amat terkejut dengan apa yang dilontarkan mulut putranya itu.
"Ka-kamu mau apa, Yohan?"
"Aku? Aku mau apa?" Yohan malah bertanya balik. "Maksud ibu apa?"
"Kamu sama Ily ... kamu mau apa sama Ily?" Ibu menatap Yohan khawatir dengan mata yang bergetar, takut telinganya salah dengar.
Yohan menarik senyum kecil. "Lima tahun lagi ... aku akan menikahinya."
Ibu tak tahu sekarang dia harus menjerit atau memeluk Yohan atas hasil setelah dua bulan tinggal di sini. Kenyataan ini terlalu mengejutkan bagi ibu.
***
Kelas Ily bekerja sama dengan baik. Hampir tak ada masalah dan kini tersisa beberapa jam menuju pembukaan Festival Ulang Tahun sekolah. Ily sudah memakai kostum kuntilanak bersama tiga orang lainnya, sementara Yohan termasuk orang yang harus berjaga di depan, menyambut tamu, karenanya laki-laki Korea itu kini menatapnya dengan senyum geli.
Yohan memakai dandanan biasa, kemeja hitam dengan jeans santai yang robek-robek. Ia memakai kalung rantai bermanik tengkorak dan tindik di telinganya, namun tampilannya bukan membuat Yohan terlihat menyeramkan atau sangar. Laki-laki itu justru terlihat semakin tampan dan mempesona.
Ily saja gugup dibuatnya karena terus ditatap tanpa suara dalam balutan kuntilanak hasil sendiri. Ily tak tahu bagaimana tampilannya, namun ia rasa bedak super tebal dengan merah yang melingkari matanya sudah cukup membuatnya terlihat menyeramkan.
"Di, pinjem kipasnya dong, aduh, gue gerah pake wig," kata Ily meminta pada Diana yang sedang mengipasi wajahnya. Diana berperan menjadi sunder bolong dan dandanannya bukan main, amat menyeramkan.
"Nih," balas Diana sambil menyerahkan kipas anginnya dan berlalu ke dalam kelas yang telah dibuat seperti labirin dengan kain hitam menutupi seluruh jendela.
Ily duduk di salah satu kursi untuk penjaga tamu, di sebelah Yohan dan mulai memejamkan matanya untuk menikmati angin.
"Kamu seram, Ly." Suara berat Yohan terdengar di telinga Ily, namun itu tak membuat Ily membuka matanya. "Dibuat sendiri, ya?"
"Iya," balas Ily seadanya.
"Aku jadi ingin," kata Yohan sambil tertawa kecil, membuat Ily membuka matanya langsung dan membelalak, "tapi bohong," lanjut Yohan yang membuat Ily ingin mencakar mulut itu andai Bima tak menginterupsi.
"Ly, lo masuk dong, siap-siap di posisi. Bentar lagi dimulai," kata Bima tegas. "Ayo, lima menit lagi, nih. SEMUA SIAP-SIAP, YA!"
"YA!"
Ily mengela napas kecil, kemudian masuk ke dalam labirin jadi-jadian setelah menatap Yohan yang memberi senyum tipis dengan tangan mengepal ke atas, menyemangatinya.
Sebenarnya ini pengalaman baru bagi Ily, menakut-nakuti orang sampai menjerit-jerit tak karuan. Ily tak sabar mendengarnya.
***
"Maju aja, Kak! Setannya nggak gigit, kok!" seru Bima pada rombongan ke lima yang baru saja masuk dan bukannya berjalan, rombongan itu justru bergerombol teriak-teriak tak jelas tanpa mau melangkah maju.
Kalau begini caranya, bisa-bisa mereka tak bisa mendapatkan tamu banyak-banyak.
"Ih, kok gelap?!"
"Takut!"
__ADS_1
"Heh, jangan dorong-dorongan, dong!"
"Ih, sakit, ada kursi!"
"Eh, baju gue jangan ditarik-tarik!"
"Heh, siapa yang narik rambut gue?!"
"Ih, pengen pipis!"
"Heh, jangan nyekik juga, anjir!"
"Ayo dong jalan, woi!" teriak Bima sekali lagi. "Di sana nggak ada setan! Cepet!"
"Heh, gue takut, lo yang di depan deh!"
"Hilih, gue juga nggak mau di depan!"
"Gue di belakang aja!"
"Gue juga!"
Bima menepuk keningnya dengan frustasi. Harusnya rombongan kelas x itu telah sampai di pertengahan, namun sampai di tempat setan pertama saja mereka belum menempuhnya. Suara angin dengan backsound menyeramkan sudah berlalu dua menit dan tersisa tujuh menit untuk mereka selesai.
"Woi, maju aja, setannya nggak serem!" seru Bima mencoba menghasut rombongan itu untuk segera berjalan. "Kalau waktunya habis, gue nggak tanggung jawab, ya!"
"Eh, ayo jalan aja!"
"Lo aja anjir yang di depan!"
"Yaudah anjir, lo pada ikutin gue, ya!"
"Oke-oke!"
"Ayo jalan!"
Ily berdecak kecil ketika akhirnya mendengar suara derap kaki. Mereka masih berisik dengan saling berpegangan ekstrim saat Ily memasang wig-nya sampai menghalangi wajahnya dan merentangkan tangannya ke depan.
"AAAA GUE TAKUT!"
"MAMAAAAAAAAA!"
"IBUUUUUU!"
"AAAAAAAA!"
Yang paling ekstrim adalah yang menarik-narik tubuh Ily hingga membuat Ily kesal.
"HUAAAAAAA!" teriak Ily sambil menyingkap wig yang menutupi wajahnya dan menunjukkan wajah riasan kuntilanak yang menyeramkan.
"AMPUN!"
"HIIIIHHH!"
"AAAAAAAA!"
"WAAAAAA!"
"GUE TAKUT, GUE TAKUT, GUE TAKUT!"
"IBU, AKU MAU PIPIS, AAAAAAAA!"
Setelah rombongan itu meninggalkannya dengan saling dorong-dorongan hingga membuat tubuh Ily terbentur meja, Ily menghela napas panjang dan menahan marahnya. Jika menjadi kuntilanak akan semenderita ini, Ily jelas akan menolak tawaran awalnya.
Menakut-nakuti orang tak seseru itu. Dari rombongan awal sampai yang kini, Ily selalu didorong, ditarik-tarik, ditarik wig-nya dan paling parah sampai ada yang menampar pipi Ily sebab ketakutan yang luar biasa.
Tubuh Ily rasanya mati rasa sekarang, ia tak kuat.
"IBUUUUUU!"
"AAAAAAAA!"
__ADS_1
"AYAHHHHH!"
"HHHHH HHHH HHHH!"
Mendengar teriakan-teriakan yang membahana itu membuat Ily meringis sendiri. Di sana masih banyak teman-teman. Mulai dari suster ngesot, sunder bolong, pocong, kuyang, sampai siluman-siluman aneh yang dibuat Purna dengan teman-temannya.
Menurut Ily, dirinya adalah yang paling tak menakutkan dan tak begitu tersiksa.
Rumah Hantu milik kelasnya buka sampai mendapatkan lima belas rombongan. Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore dan Festival sudah hampir sepi. Kelas-kelas lain pun kebanyakan sudah menutup usaha mereka.
Tubuh Ily rasanya hampir remuk kala Bima mengarahkan semua setan untuk keluar dan membersihkan diri karena Rumah Hantu mereka akan ditutup saja.
Dugaan Ily benar, Purna dan yang lainnya sampai memar-memar. Mereka mendapat perlakuan tak menyenangkan dan membuatnya tampak sangat lesu.
Bima juga prihatin, namun sesuatu yang telah terjadi tak bisa dicegah. Kelas memutuskan untuk memberi uang lebih untuk para setan yang telah berjasa. Sebenarnya tadi Bima dan yang lainnya sudah menawarkan para setan untuk beristirahat, barang kali ingin mengunjungi kelas lain dan bersenang-senang, namun para setan yang berjasa itu justru menolak sebab terlalu lelah untuk berkunjung ke sana ke mari.
Lebih baik di dalam saja.
Ily setuju, memilih diam aja di dalam dan mengipasi tubuhnya daripada berjalan di luar untuk sekedar menjadi tontonan karena kostum kuntilanaknya.
"Gila sih, kita dapet lima belas rombongan. Tiap rombongan ada sepuluh sampai lima belas orang. Bayangin dah, lima belas kali lima belas. Sekitar 25% penduduk di sekolah ini, mengunjungi kelas kita. Yakin dah, kita menang," kata Bima dengan senyum lebar.
Benar kata Bima, setiap kelas memang dilihat dan ditentukan siapa yang paling banyak pengunjungnya sebagai pemenang. Hadiahnya adalah tiket liburan ke Dufan. Jelas semua orang menginginkannya, tak ada yang mau usahanya sia-sia.
Dan Ily sangat-sangat berharap kelasnya menang. Dari kelas sepuluh dan sebelas, kelasnya tak pernah mendapat juara dari 57 kelas.
Anak-anak di kelasnya merapikan kembali kelasnya. Membuka kembali jendela-jendela yang ditutupi kain hitam dan menyusun meja sebagaimana biasanya. Sebenarnya konsep Rumah Hantu ini cukup simpel dan tak memakan banyak biaya, namun raga cukup tersiksa saat proses pelayanan jasanya.
"Yaudah, sekarang kita pulang aja. Besok baru kita makan-makan," putus Bima dengan tegas. Jam sudah menunjukkan pukul lima sore dan semua orang sepakat untuk bubar. Entah akan main dulu atau langsung pulang.
Semua anak di kelas berpamitan sekilas. Sementara Ily masih merapikan baju putih bekas kostum kuntilanaknya. Wajahnya telah dibersihkan dan hanya tersisa lelah hingga membuat Ily ingin segera berada di atas ranjangnya, terlelap dan bermimpi indah.
"Seru, ya," kata Yohan tiba-tiba, ketika sedari tadi hanya diam memerhatikan Ily yang merapikan isi tasnya. "Di sekolahku dulu tidak ada yang seperti ini. Kurasa acara ini bisa membuat kita akrab dengan banyak orang, bersenang-senang dan mempererat hubungan. Andai aja aku datang lebih awal, pasti seru."
Ily tersenyum tipis. "Iya. Ya sudahlah, ayo pulang."
Yohan beranjak, memimpin langkah. Mereka berjalan beriringan kemudian. Melewati koridor depan kelas-kelas yang sudah setengahnya bersih kembali.
"Sayang sekali kamu tak bisa mengunjungi kelas lain," kata Yohan sambil berdecak kecil. "Ada taman bermain, ada bioskop, ada perpustakaan, ada Wonderland, ada pesta ulang tahun dan ada pameran. Aku mengunjungi semuanya dan itu seru sekali."
Ily menoleh pada Yohan, menatapnya dengan senyum senang. "Baguslah kamu menikmatinya. Itu acara terakhir kita, setelahnya kita akan berpisah."
"Ah, aku sedih," cetus Yohan begitu saja. "Kenapa aku baru menyadari bahwa banyak teman itu sangat-sangat menyenangkan?"
Ily tertawa atas penuturan Yohan yang amat tabu di pikirannya. "Makanya, dari awal aku menyarankanmu untuk mencari teman lain. Sekarang kamu baru sadar dan waktu tak bisa diulang."
"Aku awalnya tak mau berteman di sini. Mereka menyusahkan dan membuatku kadang mengikuti jalannya yang salah," balas Yohan sambil menunduk. "Aku pikir itu akan selamanya berlaku, namun segalanya berubah saat aku bertemu kamu, Ly."
"Hah? Kok bisa?"
"Iya, awalnya aku tak ingin punya satu teman sama sekali di sini. Tujuanku hanya untuk lulus dan menyenangkan ayahku yang sudah sangat kecewa, namun nyatanya aku tertarik dan ingin selalu bersamamu." Yohan berdeham. "Kamu... aku tak tahu mengapa, tapi wajahmu itu sangat polos seperti anak kecil hingga membuatku sepenuhnya percaya padamu. Kamu ingin berteman denganku selamanya dan itu menjadi awal aku bergantung padamu."
Ily hanya mengangguk-angguk sambil terus berjalan, tanpa tahu bahwa Yohan sudah payah untuk terdengar biasa saja ketika menyuarakan apa yang ada di kepalanya.
Tak terasa mereka sampai di parkiran dan saling berhadapan untuk menyambung percakapan. Ily mendongak kecil menatap Yohan.
"Dari kecil, aku tak suka sendirian, maka setidaknya aku punya teman untuk bermain meski itu tak dekat. Kupikir aku bisa mengajakmu menjadi teman bermain, namun nyatanya kamu lebih dari itu, Ly," lanjut Yohan dengan senyum tipis, sebenarnya ia menahan tawa melihat wajah Ily yang langsung tersipu. "Kamu terlalu menarikku hingga aku lupa arah."
Ily tertawa kecil, pada akhirnya. Mengibaskan tangannya dengan wajah meremehkan. "Mengubah arah gimana sih maksudmu?"
"Dari teman, menjadi ... deman?" Yohan tampak bingung saat menyuarakan jawabannya.
Berkat itu, Ily tertawa lagi. Air matanya sampai keluar saking puasnya ia tertawa. "Maksudmu, demen?"
Mata Yohan berbinar. "Iya! Itu maksudku. Artinya suka, kan?"
"Ah..." Ily tiba-tiba berdeham dan mengalihkan pandangannya. "Kamu banyak bergaul sama Eza kayaknya. Udah, mending kita pulang, aku capek banget nih."
"Ya sudah, oke."
Ily tak tahu, di perjalanan menuju rumah, Yohan tak henti-hentinya menguasai diri untuk tak gugup atau salah tingkah setelah mengakui perasaannya.
__ADS_1