Dari Korea

Dari Korea
LSF - 22


__ADS_3

"Waduuh, parah sih itu cewek." Luhan berdecak saat sudah ke-5272538 kalinya ia bercermin milik Safira—salah satu anak kelasnya yang hobi berdandan. Luhan merasa ada yang aneh di bagian kanan depan rambutnya. "Rambut gue hampir botak, nih."


Lethan yang melihat teman satu mejanya sangat frustasi hanya karena rambut itu berdecak gemas. "Botak dari mana ege? Itu masih ada sebagian."


"Ck." Luhan tak bisa menerima.


"Udahlah, lupain aja." Lingga berkata kesak karena berkat sifat dramatis Luhan, video rekamannya jadi tertunda sampai sepuluh menit.


"Wes nggak bisa dilupain gitu aja, dong!" seru Luhan tak setuju. Matanya menatap Lingga dengan tatapan berapi-api. "Rambut adalah mahkota, you know? It is very important to me. Got it?"


"Hiya-hiya." Lingga tak bisa berkomentar banyak lagi. Ntar ujungnya berabe kayak kemarin.


Luhan membuang napas kasar. Mengingat kejadian itu, Luhan jadi emosi lagi. "Dasar perempuan jahanam."


Hari ini kelas Luhan kebagian olahraga.


Futsal.


Adu gender. Antara cewek-cewek dan cowok-cowok. Antara tim Luhan yang beranggotakan Langit, Lingga dan Lethan tentunya, sementara satu lagi menjadi kiper dengan tim Sari yang beranggotakan lima orang dengan Sari sendiri.


Tentunya, Luhan dan Sari menjadi kapten di tim masing-masing.


"Kita main sportif, oke?" Luhan berkata songong, sengaja. Gimana ya, Luhan senang kalau Sari sudah kesel kuadrat. Wajahnya itu jadi lucu.


"Gue tau aturan," balas Sari kalem. "Tenang aja."


"Suka main emangnya?"


"Kadang."


"Sama siapa?"


"Kok lo banyak bac*tnya?" tanya Sari tak suka.


Luhan bergedik. Dia tak saku pada cewek yang pandai berkata-kata kasar seperti Sari. Kemudian, Luhan memilih untuk berbalik dan berunding strategi dengan teman satu timnya.


Kemudian, pertandingan dimulai.


Awalnya permainan futsal ini berjalan biasa-biasa saja.

__ADS_1


"Woi, oper!" seru Ayla semangat. Anak itu memang yang paling energik dari yang lainnya.


"Tidak semudah itu, Cantik," balas Luhan seraya mengambil alih bola yang awalnya ditendang Sari untuk Ayla.


Ayla jadi emosi. "Shit lo bangs4t!" Perempuan itu langsung berlari ke arah Luhan. Dan tanpa tanggung-tanggung menarik lengan Luhan seraya menggerak-gerakkan kakinya untuk merebut bola yang sedang dikocok Luhan.


"A-a-aw!" Luhan mulai oleng. "Wasit, wasit, dia mau tengkas kaki saya!" serunya pada wasit di sisi lapangan.


Dengan turut, wasit itu—Dean, si laki-laki agak cupu—langsung meniup peluit yang mengaku-ngaku di lehernya dan mengangkatnya telapak tangannya. "Kartu kuning!"


Sontak, Ayla langsung melepaskan dari dari Luhan. Kemudian, pertandingan dimulai normal kembali.


"Hu, dasar cewek bar-bar." Luhan meledek sebelum akhirnya menggiring bola dengan semangat dan akhirnya mencetak gol dengan mudahnya. Oh ya jelas, kawan, Luhan kan Bendahara ekskul futsal sekolah ini.


Tim Sari pada membuang napas lelah dan kecewa.


"Yo, semangat semuanya! Jangan malu-maluin Kartini!" seru Sari menyemangati teman-teman satu tim-nya.


Kini, bola dibawa Langit. Fisik Langit memang yang paling kecil dari yang lainnya, jadi tanpa harus repot-repot sebagaimana Ayla menyerang Luhan, bola yang awalnya dikuasai oleh Langit, kini berada di bawah kuasa Ayla setelah perempuan itu menyikut rusuknya hingga Langit kesakitan dan terpaksa kehilangan kuasa terhadap bola tersebut.


"Ye, anjuir." Langit menggerutu saat Ayla menggiring bola itu dengan tawa keras yang terdengar sangat puas. "Jangan pake bodi dong, ah. Curang banget, pengen gue pites jadinya!"


Namun, kesenangan Ayla tak bertahan lama karena tak lama kemudian Luhan mengambil alih bola dari Ayla semudah itu. Sari yang melihatnya jelas geram, tetapi dirinya tak bisa berbuat apa-apa saat Luhan telah berhasil ....


"Ye! Luhan emang nggak bisa diremehin lagi. Nggak salah dia jadi bendahara ekskul futsal di sekolah ini. Wuuuuuhuuuuuyy!" seru Lingga lagi. Anak yang paling pecicilan satu kelas ya emang begitu.


"Yahooooooooo!" balas Langit keras, sengaja melihat pada Ayla karena selanjutnya, laki-laki itu menyindir, "main futsal kok pake bodi, emangnya gulat? Hahahahhahaha! Lawak banget dah, hahahaha!"


"Ha? Main bodi?" Luhan ikut-ikutan untuk mengolok-olok cara bermain kebanyakan cewek. "Jaman emangnya?"


Yang cewek-cewek hanya bisa menahan emosi dengan menarik napas dan mengembuskannya perlahan. Luhan tersenyum lebar dan menggiring bola lagi saat suara peluit telah mengudara.


Luhan bermain-main sambil mendekati Sari selaku kapten dari pemain bar-bar yang telah mencurangi permainan kali ini. Luhan menggoda Sari terus-menerus saat Sari berusaha mengambil bola di kaki Luhan.


"Kalau main futsal itu kuncinya, ...." Luhan menasehati dengan gaya yang membuat Sari kesal setengah mati. "... No talking-talking, just action-action. Got it, baby?"


"Asem lo." Sari menukas kesal sambil menahan emosi.


"Gimana kalau yang kalah traktir?" tanya Luhan mengajak untuk bermain sebuah tantangan.

__ADS_1


Sari tersenyum miring. Wajahnya semakin keruh. "Nggak. Makasih."


"Takut kalah pasti." Luhan mengelakkan bola di kakinya saat Sari hendak mengambil bila itu. Luhan menyeringai puas. "Eits. Tidak semudah itu, Nutrisari Sayangku. Wahahahah—Aw! A-a-aw! Adudududududuh, ssshhhh, woi!"


Luhan tak habis pikir Sari langsung menjambak rambutnya dengan ganas. Wajah Sari yang super kesal itu menjadi sangat puas saat melihat Luhan kesakitan dan membungkuk meminta Sari untuk melepaskan tangannya dari rambutnya.


"MY HAIR, MY HAIR! PLEASE, SOMEONE HELP ME FROM THIS DEVIL, ARRRGGGGHHHH!" Luhan berteriak. Saat ia merasakan ada langkah kaki milik teman-teman satu tim-nya mendekat, Sari segera melepas jambakan rambut pada Luhan dan pergi berlalu begitu saja.


"Nggak pake minta maaf lagi itu anak." Luhan mendengus keras dengan emosi tingkat dewa saat melihat Sari sudah hilang di belokan koridor jauh di sana. "Malah kabur, anjuir."


Kembali ke saat ini, Luhan masih merasa kesal. Bahkan sampai pulang sekolah, Sari tak biang apa-apa soal insiden jambak rambut bar-bar itu.


"Kesel banget lo." Lingga mencibir, mengingat betapa dramatisnya Luhan saat di lapangan tadi sampai menghitung helai rambutnya yang jatuh dari akarnya yang tergeletak di lapangan. "Cuma sepuluh helai rambut doang yang kecabut."


"Doang lo bilang? Sepuluh helai rambut doang lo kata?" tanya Luhan dongkol. Dia langsung berdiri dan menatap Langit dengan tatapan berapi-api. "Sini, sini, gue Jambak rambut lo Sampai rontok sepuluh helai, anj1ng!"


"E, e, e, e!" Lingga langsung kabur ketika Luhan mulai bergerak mendekat ke arahnya dan menjadikan Langit selaku orang yang berada di tempat terdekat dengannya sebagai tamengnya. "Lang, Lang, Lang, tolongin gue, Lang! Ada orang gila mau jambak rambut gue!"


"SINI LO JANGAN CUPU, LINGGA BANGS4T!" seru Luhan dengan mata membulat penuh kekesalan.


"Wei, Wei, Wei, udah, udah! Jangan malu-maluin bangsa, dong." Langit menengahi. Rambut yang semula telah dia benahi jadi acak-acakan karena Lingga dan Luhan. "Gue mau rekaman dulu, nih. Kalian keep silent, ya. Gue mau cepet-cepet pulang soalnya."


"Tumben pengen cepet-cepet pulang. Udah punya ikan, lo?" tanya Lingga heran, sejenak lupa dengan masalahnya bersama Luhan. Luhan juga sama lupanya karena udah sore, jadi nggak konsen.


Ikan yang dimaksud Lingga tentu bukan ikan dalam arti yang sebenarnya. Kalau kalian bacanya teliti, pasti mengerti lah ya ikan itu apaan dalam bahasa Lingga.


"Mana ada gue punya ikan. Mancing ajak kagak bisa." Langit membalas ketus.


"Harusnya lo berguru noh ke pakarnya." Lingga menuding Luhan dengan senyuman geli.


"Nggak ah, gue nggak minat cari ikan." Langit melepas diri dari Lingga dan berjalan ke arah kamera yang sudah stand by sejak tadi. "Mending cari uang."


"Ini udah siap, Bos?" tanya Langit pada Luhan kemudian, memastikan.


"Yoi. Langsung take aja." Lingga mengangguk-angguk. "Pemandangannya udah oke. Normal-normal dan nggak berisik. Nggak kayak rumah seseorang."


"Jangan pernah ke rumah gue lagi kalau gitu, Nyed." Luhan membalas ketus, kesal dan emosi.


"Nge-gas mulu lo Lutung Kasarung." Lethan angkat suara setelah dari tadi diam. Tebak alasannya karena apa? Iya, apa lagi kalau bukan chat-an sama bebeb Dara.

__ADS_1


"Mau dipepes lo?" tanya Luhan semakin terbakar


"Guys. Bisa berhenti talking-talking no sense-nya?" Lingga bertanya dengan nada sarkas dan kesal. Kemudian dia berpaling pada Langit. "Lang, langsung take lah."


__ADS_2