Dari Korea

Dari Korea
Dari Korea 2 04


__ADS_3

Ily sudah mencoba lima model kebaya yang paling ia suka dan kini tersisa dua model yang membuatnya dilema untuk memilih. Jika bukan karena desainnya yang bagus dan cocok dengan selera Ily, pasti empat jam tak akan berlalu secepat ini.


Kini, dirinya berada di lantai atas dengan kaca transparan yang menampilkan pemandangan kota indah sebagai pelengkap dari berbagai baju yang ditata. Butik ini besar, tak seperti yang Ily duga sebelumnya.


Ibu sudah pulang duluan sejak dua jam yang lalu karena ada urusan di rumah. Ily tak apa ditinggal dan selama itu, Bu Rima banyak bercerita tentang pembangunan butiknya ini. Bu Rima juga cerita tentang perkembangan butiknya ini, bahkan mengajak Ily untuk ikut berkontribusi jika berminat.


Ily sangat nyaman berada di sini, entah mengapa atmosfer di sini terasa tak asing.


Melihat Ily masih sibuk bercermin, Bu Rima tertawa, menepuk pundak Ily dan ikut melihat pantulan diri Ily yang memakai salah satu kebayanya. "Gimana? Suka juga yang ini?"


"Suka banget, tante," jawab Ily dengan tawa senang. "Semuanya bagus. Ily jadi bingung mau pilih yang mana."


"Khusus buat kamu, aku kasih waktu lagi buat mikir-mikir. Sampe malem juga aku ijinin deh," kata Bu Rima ramah. Mengelus rambut Ily dengan sayang. "Pikirin baik-baik, ya. Soalnya, biasanya pelanggan aku cuma maksimal boleh ada di sini satu jam aja."


Ily tertawa canggung, merasa tak enak dan merepotkan. "Eh, iya, tante. Makasih. Aku bingung banget soalnya. Semuanya bagus."

__ADS_1


Bu Rima tersenyum. "Yaudah, aku mau urusin pelanggan di bawa dulu, ya."


"Iya, tante," balas Ily sopan, mengangguk sopan.


"Eits." Bu Rima kembali berbalik dengan telunjuk yang diagungkan seperti memeringati sesuatu.


Alis Ily terangkat. "Iya, tante? Ada yang ketinggalan?"


"Panggil ibu aja, ya. Kita kan udah kenalan, biar lebih akrab," balas Bu Rima dengan tawa yang cepat sekali menyebar ke Ily.


Bu Rima mengacungkan jempolnya dengan senyuman lebar. Setelahnya, perempuan berumur kepala empat itu pergi ke lantai bawah untuk mengurus urusannya.


Ditinggal, Ily kembali memandang pantulan dirinya di cermin. Baju yang sedang dipakainya ini punya motif yang membuatnya tak bosan berdecak kagum. Seperti dirancang oleh desainer handal.


Ily mengela napas, mengambil baju yang satunya lagi dan dibandingkan dengan yang sedang ia pakai. Yang ia pakai berwarna biru terang sekali; hampir putih, sementara yang ia pakai berwarna langit yang sangat ia inginkan. Namun, motif dan model pada baju yang dikenakannya sangat cocok dengan seleranya.

__ADS_1


Kini, Ily bingung harus memilih yang mana sebab ia ingin keduanya.


"Duh, yang mana, ya," keluh Ily frustasi. "Bingung, bingung, bingung. Dua-duanya bagus."


Ily hanya fokus pada diri, baju dan dilemanya sehingga tak sadar bahwa sedari tadi ada sosok laki-laki yang memerhatikannya dengan senyum tertahan. 


Sejak ia datang ke butik ibunya setelah menyelesaikan dua puluh putaran dengan sepedanya, ia diberi amanah oleh ibu untuk menemani seseorang yang sedang membeli baju kebaya di lantai atas.


Awalnya, ia ingin langsung menyapa saja dengan hangat, namun ketika mengenalinya dari jauh sebagai seseorang yang ia kenal, ia menghapus niatannya.


Laki-laki berbaju serba hitam itu justru memilih diam, memerhatikan dan menikmati rindu yang menipis kala melihat punggung Ily.


***


what's your opinion? drop some comments!

__ADS_1


__ADS_2