Dari Korea

Dari Korea
LSF - 25


__ADS_3

"Take one! And ... action!"


Seruan Lingga menjadi awal untuk sebuah pertandingan futsal di lapangan sekolah di suatu sore yang sepi berjalan. Orang-orang yang bermain futsal itu segera siap-siap dan bergerak untuk mendapatkan bola untuk mencetak angka di gawang milik lawan.


Pertandingan futsal itu diikuti oleh kelas XI IPA 1 dan XI IPA 2—kelas Luhan, Lingga, Langit dan Lethan.


"Jadi kawan-kawan semua, kita lagi main futsal nih. Tanding antara kubu A dan kubu B. Tapi, ya, seperti yang bisa anda semua liat, tanding futsalnya nggak biasa." Lingga menjelaskan seraya merekam pertandingan futsal itu dengan berbagai angel. "Yup, pertandingan futsal memakai daster emak kesayangan!"


Lingga perlu menahan tawa karena beberapa kali para pemain di lapas terjatuh karena daster yang mereka pakai. Lucu sekali. Bahkan beberapa kali saling menarik daster hingga yang satunya terjatuh secara mengenaskan.


Pada akhirnya, permainan selesai. Tim yang dipimpin Luhan menang. Kedua tim bermain secara sportif sehingga tidak ada cek-cok yang tak perlu di akhir permainan.


Luhan, Langit dan Lethan yang bermain langsung tepar di sisi lapangan dan Lingga tak melewatkan kesempatan untuk merekam mereka.


"Waduh, capek!" keluh Luhan seraya memejamkan matanya sambil rebahan. Enak sekali, ada angin sepoi-sepoi.


"Ya badan lo gerak-gerak gitu mana ada nggak capek." Langit membalas, seperti biasa, sarkas dan pedas.


"Masalahnya gue jatoh mulu. ****. Dasternya kepanjangan!" Luhan membalas tak mau kalah.


"Bwa ha ha ha ha ha!" Lingga tak tahan untuk ketawa karena dia teringat bagaimana Luhan jatuh tadi. Jadi, anak itu berlari dan tak sengaja menginjak ujung daster yang dipakainya. Tubuh Luhan langsung menggulung ke depan dengan dramatis seperti trenggiling.


"Ketawa lo." Luhan menukas tak suka pada tawa Lingga.


"Ya gimana. Lucu banget, masa gue nggak ketawa, ha ha ha ha ha."


Lethan justru khawatir akan sesuatu yang lain, laki-laki menatap dasternya yang sudah kotor dan bolong-bolong di beberapa bagiannya. "Dimarahin nyokap nih pasti. Aduh."


"Nggak apa-apa, yang penting kita menang. Besok ditraktir bakso. Mantap jiwa!" seru Lingga ringan.

__ADS_1


Inginnya sih Lethan menerkam Lingga karena anak itu paling enak sekarang ini, tapi tenaganya tak memadai.


***


Lalilule mulai fokus pada konten-kontennya YouTube mereka. Dari setiap pulang sekolah atau jam pelajaran yang kosong, mereka selalu sibuk berpikir. Untuk membuat konten menarik, berguna dan menghibur.


Waktu yang digunakan tidak terasa. Detik demi detik. Menit demi menit. Jam demi jam. Hari demi hari. Minggu demi Minggu. Bulan demi bulan.


Kira-kira sudah ada tiga puluh video yang diupload oleh akun YouTube bernama Lalilule yang rata-rata memiliki views lumayan yang selalu bertambah tiap harinya. Views yang lumayan menurut Lingga sang pemilik akun itu berjumlah dua ratus ribu.


Kalau menurut Luhan, itu sudah luar biasa banyak. Menurut Lethan juga, laki-laki ini sampai tercengang dan keselek bakso waktu Lingga mengatakannya. Beda lagi dengan Langit yang tampaknya kurang puas. Sebab Langit inginnya ya minimal lima ratus ribu, lah.


"Ya, namanya juga masih pemula, Breh." Lethan menyuarakan pendapatnya pada Langit yang cemberut saat melihat halaman profil channel YouTube mereka. "Baru tiga bulan kita launching. Lumayan lah kalau segini."


"Bukan lumayan lagi lah, Bro. Ini tuh udah fantastis." Luhan langsung menukas berapi-api. "Buat apa orang-orang masih belajar persamaan kuadrat di kelas dua SMA? Ngakak sih gue."


"Ya itu menurut lo. Menurut orang lain kan beda." Lethan membalas dengan bijak. Seperti yang diharapkan. "Bisa aja yang nonton itu anak SMP. Ya, kan?"


"Bukan itu sih yang mencengangkan." Lingga turut membalas seraya menggelengkan kepalanya.


"Apa yang mencengangkan emangnya?" tanya Lethan.


Lingga tersenyum penuh perhitungan. "Lo pikir aja nih. Cara Luhan ngejelasin itu sok banget. Apa mau kita take ulang?"


"Sumprit!" Luhan berseru agak emosi. "Kagak mau! Malu gue harus jadi guru lagi. Ntar diketawain, ****."


"Ya lo sok-sok-an pake kaca mata, sih. Jadi keliatan cupu banget." Lingga membalas cepat, malah menyalakan Luhan.


"Gue pake kaca mata supaya keliatan pinternya, Ege!"

__ADS_1


"Pinter dari manenye? Kayak Nobita iya."


"**** you, Man." Sebagai senjata terakhir, Luhan mengacungkan jari tengahnya pada Lingga.


"**** you too." Lingga membalas tanpa takut


"Udah, udah. Hentikan bacotan nggak berfaedah kalian." Langit menengahi kali ini. Dia jadi bertekad untuk sesuatu, untuk mencapai targetnya. "Mulai sekarang kita harus siap-siap buat kini konten di Borobudur. Januari kan kita cus aw?"


Lingga mengganguk. "Yoi."


"Ah, nggak sabar gue ketemu bule di sana." Luhan tersenyum penuh dengan pengandaian yang indah dalam benaknya. "Langsung mancing dah gue."


"Oh ya, udah lama lo nggak mancing. Kehabisan ikan atau kehabisan pelet dukun?" tanya Langit cepat-cepat."Ya, pastinya opsi kedua lebih masuk akal. Mana ada kejadian kehabisan ikan di dunia ini. Dunia ini kan terdiri dari 1/3 daratan, sisanya lautan."


"Muter-muter lo ngomongnya. Keliatan banget begonya." Lingga langsung meledek.


"Lo gibloque kalau nggak ngerti." Dan Langit selalu punya kata-kata untuk membalas dengan pedas dan telak.


"Ck." Lingga hanya bisa memutar bola matanya dengan jengah.


"Gimana, Han? Nggak ada ikan atau nggak ada pelet?" tanya Lethan jadi penasaran juga akhirnya


"Ya jelas nggak keduanya." Luhan menjawab cepat. "Baru-baru ini kan gue sibuk mencari nafkah buat nambah **** emas baru. Kalau udah kekumpul ya gue langsung cus aja mancing lagi. Pe pe pew!" Luhan membentuk tangannya seperti pistol dan menggerak-gerakannya seperti sedang menembak.


"Dasar buaya." Lethan sontak mencibir.


"He he he he he he he."


***

__ADS_1


__ADS_2