Dari Korea

Dari Korea
Dari Korea 2 23


__ADS_3

Hari Senin menyapa.


Kali ini, Ily tak perlu lagi bersiap-siap. Bangun pagi-pagi, mandi buru-buru, sarapan dengan paksaan dan waktu tertentu, memakai sepatu yang sama setiap hari dan melakukan perjalanan ke sekolah dengan ojol andalannya.


Rutinitas itu sudah berakhir sejak kemarin, dirinya lulus dan mendapatkan predikat alumni. Ily jelas senang. Kini, dirinya bisa lebih bebas dan tak tertekan.


Tak perlu lagi bangun pagi-pagi atau terpaksa menyentuh air bahkan sebelum matahari menyapa. Tak perlu lagi.


Ily tersenyum seraya bangun dari tidurnya, memejamkan matanya untuk menikmati kamarnya yang masih tertutup gorden saat sinar matahari sudah ingin masuk. Ily mengambil napas sesaat, kemudian bangkit perlahan dan membuka gorden jendelanya untuk terpapar sinar hangat mentari pagi.


Mata Ily terpejam lagi, menikmati aroma pagi hari. Bunga rambat di depan depan sama menambah nilai estetika pagi ini. Membuat Ily merasa senang bukan kepalang.


Lulus sekolah adalah sebentuk kebebasan dari rutinitas yang lumayan membosankan. Mungkin ini karena Ily kurang bersyukur ataupun faktor lain. Namun, sekarang dia merasa lebih bahagia dari sebelumnya.


Ketika berbalik, wajah Ily berubah drastis.


Tidak sekolah bukan berarti bebas, sebenarnya.


Masih ada kamar yang berantakan, tumpukan buku soal yang harus dikerjakan, buku pelajaran yang harus dipelajari untuk masuk perguruan tinggi, serta baju-baju yang perlu dibenahi bekas kemarin. Ily jelas harus berubah, dari malas menjadi rajin.


Lulus sekolah bukanlah sebuah akhir perjalanan, justru sebuah permulaan menuju perjalanan sesungguhnya. Ily mengela napas panjang, menegakkan kepala dan rasanya ingin mengeluh panjang karena malas.


"Semangat, Ily! Kamu pasti bisa!" Namun, Ily justru berseru untuk menyemangati diri. Ily berhasil mengalahkan egonya.


Ini permulaan bagus.


Kemudian, ritual bersih-bersih kamar kembali dimulai. Ily bergerak ke sana kemari, menyapu debu-debu, mengelap kotoran-kotoran, serta merapikan segala yang acak-acakan.


***


"Ibu, ibu, ibu tau nggak?" Ily bertanya seperti itu ketika dirinya keluar dari kamarnya dan menemukan ibu yang sedang menata piring-piring di dapur.


Mendengar pertanyaan itu, sontak tangan ibu yang sedang bergerak itu berhenti dan menatap anaknya dengan pandangan bertanya.


"Tahu apa?"


"Elvan."


"Elvan kenapa?"


"Lah, ibu nggak tau?" Ily justru balik bertanya dengan wajah terkejut.


"Emang Elvan kenapa, sih?" Kening ibu berkerut dalam. "Kalau soal Alina sama Fajar yang mau pisah, ibu tau."


Mata Ily membulat. "Oh? Ibu udah tau rupanya."


"Cuma itu doang yang mau kamu kasih tau?" tanya ibu meremehkan. "Sori, sori aja, ya. Ibu udah tau."


"Terus ibu diem aja?"


Ibu terdiam sesaat mendengar pertanyaan Ily yang terasa amat menusuk. "Alina sama Fajar yang punya kehidupan. Mereka yang menjalaninya. Kita hanya perlu ikut campur saat memang mereka ingin kita turut dalam masalahnya. Selain itu, yang kita lakukan hanya mendengarkan, mendukung dan menyemangati. Paham kamu, Ly?"


Ily mengela napas panjang. Perkataan ibu memang ada benarnya. Jika Ily menjadi Alina atau Fajar, sudah pasti ia akan melakukan hal yang sama. Apalagi soal memutus hubungan. Tentu hal itu tak mau jadi bahan gosip karena sebuah pemublikasian, tak semua orang menyukainya.


"Tapi, bu, kita keluarganya. Harusnya jangan biarin mereka pisah, dong, Bu," balas Ily tak terima. Wajahnya terlihat amat sedih dan putus asa, bahkan matanya berkaca-kaca seolah ingin menumpahkan air mata. "Mereka punya Elvan. Habis ini dia gimana? Kuliahnya gimana? Masa depannya gimana?"

__ADS_1


"Elvan baik-baik."


"Ibu nggak lihat kemarin." Ily membalas cepat. "Tangannya lebam-lebam, luka-luka. Elvan nggak baik-baik, Bu."


"Lah kok bisa Elvan terluka gitu?" tanya ibu heran. "Kemarin ibu liat baik-baik aja."


Ily hampir saja memutar kedua bola matanya ketika tak ingat ia sedang berhadapan dengan siapa. Rasanya kesal sekali karena ibu yang sangat dekat dengan Elvan tak tahu menahu mengenai apa yang terjadi pada ponakannya itu.


"Ya kemarin ketutup baju, Bu. Elvan bisa aja keliatan baik-baik aja, tapi kemarin dia tiba-tiba pergi tanpa bilang apa-apa," jelas Ily setengah khawatir. "Ditelepon berkali-kali pun, nggak menjawab dia. Sekarang Elvan nggak tau ada di mana?"


"Udah telepon Alina atau Fajar?"


"Belum."


"Oalah," tukas ibu lebih tenang, kemudian mengambil ponselnya yang terletak di atas kulkas. "Kemarin katanya mereka mau pindah rumah."


"Pindah rumah?"


"Iya."


"Ke mana?"


"Nggak tau. Sekarang ibu mau telepon, mau tanya mereka mau pindah ke mana."


"Kenapa?"


Ibu terdiam sesaat. Tampak sangat ragu untuk menjawab. Namun, akhirnya menoleh pada Ily dengan wajah yang sangat disayangkan.


"Kamu ibu kasih tau kalau Alina sama Fajar udah mengijinkan. Atau kamu bisa tanya Elvan buat cerita sendiri." Ibu mengela napas berat, kemudian menempelkan ponselnya ke telinga untuk menunggu sambungan teleponnya terangkat. "Soalnya ini cerita yang sensitif."


"Ya, sabar. Semuanya butuh waktu. Butuh proses. Nggak ada yang instan dari kenyataan pahit."


"Iya, Ily ngerti." Ily menunduk. "Tapi sedih aja. Setidaknya Elvan bilang-bilang dulu waktu mau pergi. Bukan hilang begini tanpa kabar. Bikin khawatir aja."


Ibu turut merasakan apa yang tengah Ily rasakan. Khawatir pada sepupu yang dilanda kesedihan memang sangat menjengkelkan, namun tentu itu hal yang wajar. Dengan begitu, ibu mendekat dan mengelus-elus rambut Ily supaya anak tersebut bisa merasakan ketenangan lagi.


"Oh, Lin?" Ibu menyahut pada telepon, saat Alina sudah bertanya ada apa, mengapa dirinya ditelepon pagi-pagi begini. "Kamu itu sudah pindah, ya?"


"Iya, udah. Dari kemarin. Kan aku udah bilang deh."


Ibu mengaktifkan loudspeaker supaya Ily bisa mendengar. Jawaban dari Alina membuat Ily lebih tenang dari sebelumnya. Setidaknya, Elvan punya alasan logis untuk menghilang dan Ily punya kesempatan untuk menemukannya hari ini. 


"Iya, iya. Aku ngerti. Gimana pindahannya? Lancar-lancar aja, kan?"


"Iya, lancar, kok."


Ibu dan Ily refleks tersenyum lega mendengarnya.


"Kalau boleh tau, pindah ke mana ya kamu?" Ibu sengaja bertanya hati-hati, sebab tak mau menyinggung perasaan Alina atau terkesan sangat buru-buru ingin tau mengenai keadaannya yang paling terbaru.


"Ke Bandung, Sa. Ke rumah Ibu." Alina tertawa, namun jelas itu buka jenis tawa yang menyenangkan untuk didengar. Tawa itu lebih seperti ratapan putus asa yang menyayat hati bagi siapapun yang mendengarnya.


"Oalah, jauh toh," balas ibu agak sedih. Tampaknya Ily merasakan hal yang sama karena sesaat kemudian, wajah penuh harap Ily pupus oleh asa yang pudar seketika.


"Iya, gimana lagi. Fajar juga udah balik sama keluarganya di Batam."

__ADS_1


"Lah, kamu nggak sama Fajar?"


"Ya, gimana mau sama Fajar. Orang aku udah pegat sama dia."


"Oalah...."


"...iya Sa. Gitu deh."


"Bibi Alin, ini Ily," kata Ily tiba-tiba ingin bersuara.


"Oh? Ily! Ah, hai," sapa Alina ceria di seberang sana. "Maaf ya Bibi belum ketemu kamu lagi. Banyak urusan soalnya."


Ily tersenyum pahit. Pasti sulit bagi Alina untuk tampak terdengar baik-baik saja saat ini. "Nggak apa-apa, Bi. Maaf juga Ily jarang mampir karena sibuk buat persiapan masuk UI juga."


"Wah? Mau masuk UI, ya? Semangat, deh. Kalau keterima, jangan lupa traktir Elvan, ya."


"Mau traktir gimana, Bi? Elvan Aja kemarin pergi gitu aja tanpa pamit."


Alina berdecak di sana. "Aduh, itu anak emang rada kurang ajar. Elvan! Heh, sini kamu! Sini minta maaf sama Ily!"


"Lah, Elvan sama bibi?!" Ily tak kuasa menahan teriakan semangatnya saat mendengar suara keluhan Elvan di seberang sana.


"Namanya juga anak bibi, toh. Ya sekarang dia ada sama bibi, dong."


Ily tersenyum lebar, terlihat jelas amat bahagia. Ibu yang melihatnya hanya tersenyum, ikut bahagia dan mengacak rambut anaknya dengan gemas.


"Bi, Ily pengen ngomong dong sama Elvan." Ily meminta dengan sopan.


"Oh, boleh." Jeda sebentar. Sebelum akhirnya ada suara deham disusul suara berat yang entah bagaimana bisa Ily rindukan. "Ly."


"Heh, Elvan! Lo ke mana aja sih?! Kok nggak bilang-bilang kalau mau pindah?! Kalau gini caranya, kita bisa putus hubungan tau nggak?!"


"Ya, sori, Ly. Urgent soalnya. Ibu gue mau cepat-cepat pindah kemarin sore."


"Gue ngambek, ah! Ditelepon juga nggak diangkat-angkat kemarin."


"Hp gue dijual, dong. Kayaknya mulai saat ini gue bakal jarang hubungan sama lo atau Eza. Sori, ya. Gue juga nggak tau kapan bisa balik."


"Lah..."


"Ntar malem gue ceritain semua yang belum gue ceritain. Jangan lupa kasih tau Eza juga. Tapi jangan sampe bocor ke Lambe Turah. Ntar berabe urusan."


Ily mengentak-hentakkan kakinya dengan kesal. "Elvan, ish!"


"Jangan kangen. Bye."


Ponsel ibu senyap. Sambungan telepon itu terputus. Suara Elvan tak lagi terdengar. Ily semakin sedih dibuatnya.


"Bu, kenapa semua ini tiba-tiba sih? Ily nggak mau kehilangan Elvan."


Ibu meraih tangan Ily untuk menggenggamnya, menguatkannya. "Elvan kan bilang nanti malem mau cerita ke kamu semuanya. Kamu pasti ngerti nanti. Kalau memang takdir, Elvan pasti balik lagi, kok."


Meski ditenangkan oleh ibu, Ily masih merasa tak tenang. Di dunia ini, teman dekatnya yang benar-benar sedekat itu, hanya ada dua. Yang menemaninya suka suka, hanya ada dua.


Jika salah satunya hilang, maka semuanya tak akan lagi terasa sama.

__ADS_1


__ADS_2