
"Ily! Gimana sih?"
Harusnya Ily langsung kabur saja dan menyusul Yohan yang sedang menunggu di parkiran untuk pulang bersama. Tadi ia menyuruh Yohan untuk duluan karena dia ada keperluan untuk memberitahu sesuatu pada Elvan. Kemudian, dalam perjalanannya menuju perkiraan, dia bertemu Tiffany di depan perpustakaan.
Dengan wajah geram dan tangan berkacak pinggang.
Ily memutar bolanya, kesal. "Kenapa?"
Tiffany ikut memutar bola matanya, menatap Ily dengan kening berkerut agak marah. "Lo bilang apa aja sama Yohan?"
"Gue bilangin, lo suka sama dia."
"Lah, terus kenapa Yohan nolak gue?" tanya Tiffany tak mengerti.
"Ya mana gue tahu, itu kan hak dia juga buat nolak lo," balas Ily mengeluarkan isi pikirannya.
"Lo jelek-jelekin gue, ya?" Tiffany langsung curiga. Pasalnya ia tak mengerti di mana letak jeleknya dirinya sampai-sampai Yohan menolaknya saat pertama kali mereka bertemu. Yohan seperti sudah diakal-akali oleh seseorang untuk menjauhinya.
Ily tertawa hambar, menatap Tiffany dengan seringai miring. "Kurang kerjaan apa gue sampe jelek-jelekin lo di depan Yohan? Faedahnya apa sih?"
"Kalau begitu, lo bujuk Yohan sampai dia mau sama gue," kata Tiffany akhirnya memutuskan tanpa berpikir lama. "Nanti gue kasih flashdisk adek gue yang isinya film-film kesukaan lo."
Ily yang awalnya malas-malasan menanggapi kemauan Tiffany, kini matanya menjadi berbinar dan bersemangat. "Serius?!"
"Iya, aslian. So?"
"Oke! Gue bakal bujuk Yohan!"
"Gue tunggu hasilnya."
Saat itu Ily belum sadar bahwa sesuatu yang diputuskan tanpa memikirkan yang lain akan berdampak sangat besar pada kehidupannya. Ily terlalu egois dan bodoh.
Yang ia pikirkan hanya kesenangannya, kegembiraannya dan kebutuhannya tanpa mengenal bahwa bahagia bukan ketika saat kita hanya bisa menikmatinya sendiri.
***
"Untukmu," kata Yohan ketika Ily turun dari motornya. Mereka telah sampai di depan rumah Ily dan Yoga langsung memberikan sekantung plastik berisi susu instan peninggi badan favorit Ily.
Dengan pipi memanas, Ily menerimanya. "Makasih," katanya pelan. Dia terkejut, terharu dan malu sekaligus sehingga tak mampu untuk menatap mata Yohan secara langsung. Ily hanya mampu menunduk. "Apa aku nggak ngerepotin?"
"Tidak. Sewaktu menunggumu, aku terpikir untuk memberimu itu," balas Yohan santai. "Yasudah, sana masuk."
Ily mengacungkan jempolnya dan segera berlari kecil menuju rumahnya diikuti tatapan Yohan dengan senyum kecil diwajahnya. Ily masih menunduk, tersenyum malu dan masih merasa terkejut Yohan membelikannya Hi-Ly ini ketika pada akhirnya harus lebih terkejut saat Elvan tiba-tiba muncul sesaat dia membuka pintu rumah.
"Elvan!" seru Ily sambil memegang dadanya yang langsung berdebar-debar. "Ngapain sih, hah?!"
"Dih, gitu aja ngambek," ledek Elvan sambil mengikuti Ily yang kini melipat tangannya di depan dada dengan wajah kesal, bedanya Elvan justru memasang wajah tengil untuk menggoda sepupunya itu. "Dianterin sama siapa lo? Gue kok denger suara motor? Pasti bukan cowok. Secara, lo ini takdirnya jomblo dari lahir."
Ily mendelik. Langsung menabok dada Elvan dan mendorong cowok itu, kemudian berjalan meninggalkannya yang masih penasaran.
"Chilli, woi!" seru Elvan tak terima.
"Kenapa sih? Kok rusuh?" tanya Ibu Ily ketika melihat anaknya masuk kamar dan membanting pintunya, disusul Elvan yang segera menggedor-gedor pintu tersebut.
Elvan cengengesan. Menyerah menggoda Ily, ia memilih menghampiri Ibu yang sedang mengupas melon. "Nggak tau, anaknya cepet ngambek. Nggak seru."
Ketika tangan Elvan hendak mengambil salah satu potongan melon tersebut, Ibu langsung menepuknya dengan keras dan membuat Elvan meringis perih.
"Elvan salah apa, Bu?" tanya Elvan sambil cemberut sedih.
"Jangan gangguin Ily mulu, dong. Waktu kita tiga jam lagi menuju ulang tahun ayahnya. Nggak boleh main-main." Ibu melotot dengan wajah serius. "Ibu ngajak kamu ke sini buat bantu-bantu, bukan buat main Tom and Jerry sama Ily. Ngerti?"
__ADS_1
Elvan menipiskan bibirnya. "Iya deh iya."
"Bagus. Nih, boleh dimakan," kata Ibu berubah ramah sambil menyodorkan sepiring melon yang telah dipotong-potong untuk dinikmati.
Elvan merasa berhak menerimanya. Ia rela meninggalkan tugasnya untuk berlatih bersama adik kelas yang sebentar lagi bertanding untuk membantu perayaan ulang tahun ayah Ily. Pertandingannya besok, namun Elvan meninggalkannya agar terlihat seperti sepupu yang baik. Belum pernah ia absen membantu keluarga Ily, karenanya ketika Elvan butuh bantuan, tangan keluarga Ily pasti terbuka lebar.
Apa yang kamu tanam, itu yang kamu panen.
Karenanya, ia memakan potongan melon itu dengan lahap tanpa ragu. "Ayah berapa tahun, Bu? Kemarin 43, sekarang pasti 44, ya?"
Ibu yang sedang memeriksa apakah kue yang sedang dipanggang sudah matang atau tidak hanya mendengus kecil mendengar pertanyaan konyol Elvan. "Alina ngidam apa sih, sampai anaknya jadi begini?"
Ibu Ily adalah kakak dari Ibu Elvan. Mereka sangat dekat, namun rumah mereka harus terpisah beberapa meter karena suami Alina ingin tinggal di dekat tempatnya bekerja. Namun hubungan mereka selalu dijaga seperti mengadakan acara seperti ini.
Di ulang tahun ayah, akan datang kerabat-kerabat yang lain. Keluarga Elvan, keluarga kakak Ibu Ily dan mungkin beberapa tetangga di sini akan turut merasakan kebahagiaan ini.
"Jangan salahin Ibu aku dong, Bu," kata Elvan membalas dengan nada santai. "Aku turunan Ayah kalau soal kegantengan."
"Ibu nggak bicarain kegantengan perasaan," balas Ibu menjadi heran sendiri. "Aneh kamu."
Elvan hanya tertawa kecil, menganggap semuanya hanya candaan untuk mengisi kekosongan sampai akhirnya Ily datang dengan sweater cream dan celana training andalannya. Elvan sampai-sampai memutar bola matanya saking bosan dengan penampilan itu.
"Lo nggak punya baju yang lain, ya?" tanya Elvan langsung. "Delapan belas tahun ini, lo nggak berubah, ya. Bajunya itu-itu aja."
"Beliin dong," balas Ily santai dengan wajah datar sambil mengambil potongan melon dan memakannya. Tak peduli banyak dengan kata-kata Elvan yang sebenarnya menyayat hatinya.
"Kalau ada duitnya, udah gue beli satu butik buat lo, Ly," tukas Elvan semangat. "Lo itu sebenarnya cantik kalau pinter rawat diri. Coba deh gaul dikit kayak Tiffany."
Mendengar nama itu membuat Ily refleks memutar bola matanya dengan jengah. "Dia sama gue itu beda kasta. Udahlah, keong nggak bisa jadi kupu-kupu."
"Lo yang bilang, ya," kata Elvan merasa harus berbicara seperti itu. Ily hanya mengangkat kedua bahunya, tak terlalu peduli juga.
Ily menipiskan bibirnya. "Aku juga mau fokus belajar dulu, mewujudkan cita-cita."
"Cita-cita?" Elvan bertanya penasaran. "Cita-cita lo apa?"
"Guru Bahasa Indonesia, komikus, sutradara, penulis, dan pemilik salon ternama." Ily tersenyum bangga saat mengatakannya, berbeda dengan Elvan yang menahan tawanya dengan usaha luar biasa.
"Nah, lagipula masih kecil juga. Ily kan bertahan dalam memperbaiki diri. Nggak apa-apa dia belum bisa ngurus diri, masih sekolah juga kan. Nanti juga terbiasa. Semuanya ada prosesnya," kata Ibu memberi masukan.
Ily mengangguk-angguk. Dia sangat beruntung memiliki Ibu yang sangat mengerti akan dirinya, dia tersenyum lebar. "Mantap, Bu."
Berbeda dengan wajah Elvan yang sejak tadi datar. Namun, baik Ily maupun Ibu, tidak ada yang menyadarinya.
"Ah, ya, kalian mau beli balon nggak? Atau apa gitu? Ini masih ada uang bekas beli makanan-makanannya." Ibu menghampiri mereka berdua yang duduk di meja makan dan memberikan satu lembar uang biru.
"Daripada beli balon mending dibeliin eskrim aja, Bu," balas Ily semangat.
"Boleh," kata Ibu mempersilahkan. "Berdua aja sama Elvan."
"Kok sama dia juga?" protes Ily tak suka. "Big no!"
Elvan langsung mengambil uang itu dan menyeringai lebar. "Uangnya ada di gue. Lo harus nurut kalau mau," katanya dengan gaya sombong.
"Ibu, liat!" adu Ily pada Ibunya, berharap mendapatkan pembelaan.
Ibu tersenyum melihatnya. "Kalian bagi dua aja. Yang damai, ya."
Ily cemberut, makin jengkel lagi saat Ibunya telah sibuk pada hidangan-hidangan untuk dinikmati nanti di dapur sementara ia dan Elvan ditinggal di meja makan. Ily menatap Elvan dengan mata tajam.
"Bagi dua."
__ADS_1
"No."
"Gue cincang lo," ancam Ily tegas.
"Silahkan. Lo dipenjara, gue bahagia di surga."
"Asing!" umpat Ily sudah tak tahan, memplesetkan kata kasarnya.
Senyum Elvan kian lebar. "Ikut gue, kalau mau eskrim."
Dengan bangga Elvan menuntun jalan, di belakangnya Ily mengikuti dengan wajah super kesal. Mereka akhirnya keluar rumah, menelusuri jalanan menuju minimarket terdekat sambil sesekali saling mengatai.
Sampai di minimarket, Elvan membeli eskrim cokelat sementara Ily rasa vanilla. Sisanya dibelikan dua keripik kentang kemasan besar, satu botol minuman bersoda dan beberapa kemasan yupi dibelikan dari sisa semuanya.
"Ly, lo inget nggak sih dulu lo suka nangis siap liat ulat bulu?" tanya Elvan tiba-tiba, ketika mereka dalam perjalanan pulang.
Ily yang sedang membuka kemasan es krimnya lantas mendengus langsung dibuat kesal lagi. "Nggak usah diungkit."
"Lucu sih, gimana bisa seseorang setakut itu pada ulat bulu," kata Elvan tertawa sendiri. Membayangkan kejadian yang dulu terjadi.
Sewaktu mereka masih sekolah dasar, Elvan ikut dulu ke rumah Ily sebelum ia pulang dan menemukan seekor ulat bulu yang sedang bertengger di tanaman pot keluarga Ily. Elvan yang dulu tak takut apapun lantas mengambilnya dan begitu Ily melihatnya, gadis berusia tujuh tahun itu langsung menjerit ketakutan.
Sungguh, bagi Ily tak ada yang lebih menakutkan selain binatang kenyal berbulu yang membuat tubuh gatal jika terkena helai bulunya.
Jiwa nakal yang sudah melekat sejak ia kecil lantas membuat Elvan segera menakut-nakuti Ily sampai Ily menangis tersedu-sedu di teras rumahnya. Ayah dan Ibu Ily jelas panik, namun tak menyalahkan Elvan karena kenakalan itu bukan hal yang luar bisa di usia dini.
Berkat itu, Ily mendapatkan pelajaran bahwa seorang perempuan tak boleh menangis untuk memperlihatkan ketakutannya, justru itu akan menjadi umpan untuk seseorang semakin menakutinya.
"Lo jail sih asli," kata Ily yang tiba-tiba teringat dirinya yang amat lemah pada masa lampau. "Dan gue cengeng banget."
Elvan langsung menoleh. "Sekarang lo masih nangis?"
"Nggaklah, berkat lo gue jadi sosok tegar, thanks," balas Ily dengan senyum kecil. Ia menepuk punggung Elvan sambil tertawa kecil. "Lo ada gunanya juga ternyata."
"Jangan sungkan, Ly," kata Elvan serius. "Kalau ada yang ganggu lo bilang aja. Biar gue sikat."
Ily mengerutkan keningnya sambil berpikir geli. "Kalau gue bilang ada yang ganggu gue, lo bakal apa?"
"Gue bakal kasih dia pelajaran. Apalagi sampai lo nangis," jawab Elvan dengan sorot liar biasa tajam. Sangat berbeda dari biasanya. Semakin membuat Ily berusaha kuat menahan tawanya sua
paya tak pecah dan merusak suasana serius ini.
"Kalau gue bilang itu elo, gimana?"
Elvan terdiam lama. Seperti berpikir, merenung dan rapat dengan dirinya sendiri. Ily berpikir Elvan itu jarang berpikir jernih sampai-sampai menjawab hal-hal candaan saja lamanya tak main-main, saking susahnya membedakan mana bercanda dan mana serius. Ini karma, karena Elvan terlalu sering bercanda pada segala hal.
Ily menertawakan pikirannya tentang Elvan itu dalam hati. Melihat wajah serius Elvan yang jarang seperti ini menggelitik baginya. Ily jelas bercanda, namun Elvan mengiranya serius.
"Gue udah tobat, Ly. Nggak mau lagi jadi orang yang bikin orang lain nangis." suara berat Elvan akhirnya terdengar lagi, ia terdengar sangat serius. "Kalau gue lakukan itu, gue nggak yakin bisa memaafkan diri sendiri lagi."
Tawa Ily pecah. Jelas membuat Elvan langsung mengernyit bingung.
"Lo nggak pantes gini-ginian, jangan terlalu serius napa, gue cuma bercanda," kata Ily menjelaskan mengapa ia tertawa.
"Tapi gue serius, Ly. Ini bukan candaan!" seru Elvan terlihat kesal. Ia bahkan memegang kedua bahu Ily dan menatapnya dengan tajam. "Gue nggak bercanda!"
Tawa Ily perlahan lenyap. Wajahnya berubah terkejut melihat Elvan kini. Ia mengerjap, sadar bahwa ada kalanya seseorang yang senang bercanda, tertawa dan santai seperti Elvan punya sesuatu yang tak ia ketahui.
Ada sesuatu yang membuat Elvan bisa bersikap seperti ini. Dan Ily, seseorang yang selalu berada di sampingnya delapan belas tahun ini tak tahu apapun.
***
__ADS_1