Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 82


__ADS_3

"Li."


"Lili."


"Liliana Kim."


Suara seorang laki-laki membuat mata Lili perlahan terbuka. Semuanya terlihat buram sampai Lili memakai kacamata bulatnya. Dia melihat kelas. Kepala Lili masih terasa pusing.


"Hah? Eh?" Lili mengerjapkan tak percaya pada kelas yang telah kosong dan tampak telah dibersihkan. Kemudian dia menoleh ke samping, pada sosok seseorang yang berdiri. "Hm ... hm? Hm? The ... o?"


"Udah sore. Buruan pulang." Theo memakai tasnya dan hendak pergi.


"Hah?" Lili segera bangkit dan menahan pergelangan tangan Theo. Theo berbalik lagi, menatapnya dengan datar. "Eh? Gue kok nggak dibangunin? Gema mana?"


"Lo udah dibangunin tadi. Tapi nggak bangun-bangun." Theo menjawab agak malas. "Gema bilang dia harus buru-buru pulang karena ada urusan sama Ibunya."


Lili meringis. Melepas tangannya dari pergelangan tangan Theo untuk menekan-nekan pelipisnya. "Aduh, masih pusing gue."


"Nyenyak banget tidurnya. Di rumah lo nggak suka tidur apa?" tanya Theo jadi khawatir. "Perasaan lo bukan tipe orang yang suka keluyuran malem."


"Ck." Lili menatap Theo dengan sorot tak suka. "Gue ada kerjaan, tau."


"Kerjaan apa, coba?"


"Nulis novel. Tau novelnya tentang apa? Tentang hidup lo yang masih jadi misteri buat gue." Lili membalas kesal.


"Misteri dari mananya? Gue udah kasih tau semuanya ke lo." Theo menatap Lili dengan pandangan tak mengerti.


Lili tak lebih dulu menjawab, dia justru melangkah. Mendekat pada Theo. Matanya terus menatap lurus pada Theo, seperti bisa menusuk saja. Theo jadi agak kikuk, dia mengerjap-ngerjap dan mundur dengan mata berlarian melihat ke sana ke mari.


"Lo ngapain?" tanya Theo risi.


"Bohong." Lili menukas tegas, membuat Theo melotot bingung. Setelahnya itu, Lili mundur kembali dan menatap Theo dengan tatapan biasa. "Mata lo nggak bakal ke mana-mana kalau lo jujur."

__ADS_1


Theo berdecak tak suka, kelihatan agak marah. Seperti biasa, laki-laki itu langsung berbalik dan berjalan menjauh dari Lili.


Lili membulatkan matanya.


"Heh, malah kabur! Theo! Hei!"


Lili cepat-cepat mengambil tasnya dan menyusul langkah panjang Theo.


Sekolah sudah sepi saat Lili melewati koridor kelas-kelas. Hampir tak ada siswa yang berkeliaran lagi. Sore pun tampaknya hendak habis. Cahayanya mulai meredup.


Hadiah yang Gema dapatkan tadi adalah satu pack buku dan satu kotak balpen. Sementara yang Mila dapatkan adalah satu paket alat make-up yang jelas saja dia bagi rata dengan Lili dan Theo.


Namun, Lili menolaknya karena Mila serta asistennya lebih berhak mendapatkan hadiah itu. Lili hanya memakai baju dan memakai riasan yang dihasilkan tangan Mila. Sementara lomba ini kan menyangkut keterampilan tangannya.


Theo menolaknya karena dia laki-laki.


Jadi, Mila senang sekali dan mentraktir Lili hingga kekenyangan dan tanpa sadar tidur di pelajaran terakhir yang lagi-lagi kosong. Lili tak menyangka jika dia akan tidur selarut ini.


Ah, dia malu sekali karena sepertinya Lili susah dibangunkan.


Omong-omong soal lomba memperingati hari Kartini, Lili sama sekali tak merasa mendapatkan kemenangan. Lili merasa hampa.


Mengapa hidupnya selalu dipenuhi kekalahan dan penolakan?


Apa Lili melakukan kesalahan di kehidupan sebelumnya?


Memikirkan itu, Lili segera bersuara pada Theo setelah langkah mereka seirama.


"Tau nggak, Yo?" tanya Lili. Tanpa memastikan apakah Theo merespon atau tidak, Lili melanjutkan perkataannya. "Gue sedih banget hari ini. Pengen bilang aja rasanya. Makin hari gue merasa makin nggak berguna aja. Nggak menang terus tiap berkompetisi. Tapi, mirisnya, orang-orang di dekat gue seolah selalu sukses dan mulus-mulus aja dengan jalan yang mereka pilih."


Theo memang tak memberi balasan seperti yang Lili harapkan, namun laki-laki itu mendengarkan.


"Yo." Lili menegur.

__ADS_1


"Hm?"


"Bilang sesuatu, dong."


"Sesuatu."


"Ish, gemes." Lili menoleh pada Theo dengan mata nyalangnya seperti mau mencakar. "Maksudnya, bilang apa gitu buat gue yang lagi sedih ini biar gue semangat lagi. Biasanya kan temen begitu."


"Gema kan ada." Theo enggan menuruti keinginan Lili.


"Mana?"


"Di rumahnya."


"Ye, malah bercanda." Lili tersenyum sedih. "Serius gue, Yo. Ini hati sedih banget. Pengen tiduran aja selamanya gue. Errrgh!"


"Yaudah, tinggal tidur aja."


"Ih, Theo."


"Apa?"


"Jahat banget lo." Lili menatap Theo dengan penuh tuntutan.


Theo hanya menatapnya dengan bingung.


"Kemarin lo ngapain sama Sherin?" Lili tiba-tiba mengalihkan topik. Membuat Theo makin bingung. "Boncengan berdua sampe Sherin peluk-peluk."


"Gue nggak ngapa-ngapain." Theo membalas cepat. "Cuma nganterin pulang."


"Oh."


"Iya."

__ADS_1


Mereka tiba di parkiran. Saat Theo hendak berjalan ke arah motornya, Lili berhenti berjalan dan menatap punggung Theo dengan penuh arti.


"Kata Ten lo suka sama gue."


__ADS_2