
"Ini Theo."
Semua Ibu jelas senang jika bertemu anaknya. Maka Laura segera menarik tangan Theo untuk masuk ke dalam rumahnya. Tangannya terasa hangat, sampai mampu menghangatkan hati Theo yang telah mati rasa sebelumnya.
"Kenapa, Theo?" tanya Laura saat mengarahkan Theo untuk duduk di meja makan rumahnya. Laura berniat memasak sarapan soalnya. Kemudian, Laura duduk di depan Theo. "Kamu butuh uang lebih? Kenapa nggak tunggu aja di rumah? Aduh, belum beres-beres. Berantakan banget, ya?"
"Nggak apa-apa, Bu." Theo tak apa melihat rumah Laura yang sedikit lebih berantakan dari rumahnya atau rumah Tamrin. Theo tersenyum pada Laura.
"Kamu udah makan belum?" tanya Laura khawatir.
Theo menggeleng lemah. "Ada yang mau aku omongin dulu."
"Bentar ya, Ibu bikin sup dulu."
Bukannya marah karena Laura tak mendengarkan keinginannya baik-baik dan menurutinya, Theo justru tersenyum. Laura selalu punya mata indah yang penuh pengertian saat melihatnya.
Jelas sekali Laura tau Theo sedang lapar sekarang ini. Karena itu, kini perempuan hebat itu sedang bertempur di dapur.
Hati Theo meleleh.
Ketika Laura datang ke rumah itu, Laura kerap kali memasak. Nggak, waktunya sangat terbatas karena sudah ada perjanjian dengan Tamrin soal batasan untuk menemui anak-anak.
Rumah Laura tak jauh beda dengan rumah yang ditinggali Theo dan Titi serta rumah Tamrin. Theo hanya melihat-lihat sekilas. Tak ada dekorasi khusus atau foto-foto berarti di dindingnya. Hanya foto Laura dan sederet piala prestasinya sebagai aktris di lemari.
Theo tersenyum saat tahu-tahu semangkuk sup ayam yang mengepul disodorkan Laura kepadanya. Laura mengambil mangkuk-mangkuk lagi. Kini Laura memberi Theo semangkuk nasi dan untuknya sendiri.
"Ayo, sarapan dulu," ajak Laura.
Bersamaan, Theo dan Laura menyeruput supnya. Kemudian saling bertatapan dengan senyum penuh arti.
"Enak?" tanya Laura.
"Enak, Bu."
"Syukurlah. Udah lama Ibu nggak masak buat kamu." Laura membuang napas lega. "Titi gimana?"
Theo menghentikan gerakan makannya. Hal itu turut membuat Laura serius melihatnya. Ibu itu turut menghentikan makannya untuk meneliti wajah Theo.
"Justru aku ke sini karena Titi." Theo memasang wajah khawatir. Membuat Laura was-was. "Titi diculik Ayah."
"Aduh, maksud kamu apa, nih?" tanya Laura tak mengerti. "Masa Titi diculik Ayahnya sendiri?"
"Titi ditahan Ayah sebagai ancaman biar aku nurutin apa mau Ayah." Wajah Theo berubah memelas seperti waktu dia berada di kantor polisi. "Bu, tolongin aku. Sekarang aku udah punya cita-cita. Aku nggak mau jadi budaknya Ayah lagi. Aku nggak mau ditekan-tekan Ayah lagi."
Laura mendengarkan dengan wajah tercengang. Tangannya bergerak untuk menutupi mulutnya yang terbuka karena terkejut.
"Aku mau lepas, Bu." Tahu-tahu, suara Theo melemah karena air matanya tiba-tiba turun deras. "Aku mau bebas. Aku nggak akan mengecewakan atau bertingkah kayak Bang Leo. Aku janji, Bu. Tolong bawa Titi kembali. Aku nggak mau jadi kacungnya Ayah."
"Sshhh, sshh." Laura segera menghapus air mata Theo dengan lengannya. Theo merasa lega tas perlakuan Laura yang selalu perhatian.
"Aku rasa Ayah udah berubah, Bu." Theo melanjutkan. "Aku bahkan nggak kenal lagi siapa Ayah."
"Baiklah," cetus Laura akhirnya. "Ibu bakal bantu kamu."
Theo tersenyum lebar. Tak pernah terlihat selebar ini sebelumnya. Laura turut senang. Meski kini perasaannya campur aduk.
"Sekarang kamu tidur aja." Laura merapikan rambut-rambut Theo dengan sayang. Kemudian tanpa sengaja merasakan suhu kening Theo yang membuatnya sedikit tersentak. "Istirahat. Badan agak kamu panas. Kayaknya demam."
Jika bisa setenang ini melihat dan mengurus anak, Laura memutuskan akan lebih cepat mengambil alih Theo dan Titi ke rumahnya.
__ADS_1
***
Theo tidak sekolah.
Istirahat pertama baru saja dimulai. Gema dan Lili sudah makan bekalnya masing-masing dan di kelas ini ada terdapat tiga orang sekarang.
Gema yang sibuk dengan ponselnya, Adit yang sibuk membaca komik di depan sana dan Lili yang memikirkan satu-satunya orang yang masuk sekolah di kelasnya hari ini.
"Aduh, itu anak apa sakit hati, ya?" tanya Lili tiba-tiba. Membuat Gema langsung menoleh ke arahnya dengan pandangan tanya karena Gema pikir Lili tengah berniat mengajaknya berbicara.
"Ha? Kenapa?"
"Gue mau jelasin tapi lo jangan ketawa."
"Nih, disegel mulut gue. Nggak bakal ketawa."
"Oke." Lili mengangguk percaya. "Lo tau Ten nggak?"
"Tendric Alfareska? Tau dong, juara olimpiade Matematika tingkat Nasional kemarin, kan?"
"Iya. Temennya Theo juga."
"Iya, tau. Sama Lucas." Gema menukas santai, kemudian matanya langsung berbinar penuh semangat saat melanjutkan, "Eh, ngomong-ngomong soal Lucas. Dia ternyata main film bareng sama Imel, lho."
"Hah? Serius? Kok gue nggak tau?"
"Nih, poster film-nya baru dipost satu menit yang lalu." Gema menunjukkan ponselnya yang mengandung poster film yang dibintangi Imel dan Lucas pada Lili. "Kaget gue juga, Li."
"WHAT?!"
"Heh, berisik!" seru Adit tiba-tiba.
"Ini semua mimpi." Gema menurut dengan santainya.
"Huft. Oke, gue anggap semua itu mimpi. Yang tadi itu mimpi. Imel sama Lucas main bareng di film itu mimpi. Oke. Locked."
"Good." Gema menatap Lili dengan aneh. "Lo nggak waras."
Lili menarik napas dalam-dalam. Tak peduli dengan ucapan Gema. "Lanjut. Gue mau bilang kalau kata Ten, Theo itu naksir sama gue."
"WHAT?" Kini, giliran Gema yang bertanya kencang karena terkejut luar bisa.
"Heh, berisik!" Lagi-lagi Adit berseru menegur karena terganggu.
"Ow, Adit. Kayaknya damai banget nggak ada Theo. Wajahnya berseri-seri dan makin ganteng." Lili jadi memuji Adit.
"Bisa aja lo." Adit tertawa kecil. "Emang Theo ke mana?"
"Kok nanya gue?"
"Kan barusan lo bilang Theo naksir sama lo."
"Kok lo nguping?"
"Kan gue punya kuping. Lagian di kelas ini cuma ada gue, lo sama Gema. Ya, kali gue nggak denger?"
Lili menggaruk-garuk kepalanya. "Kok gue jadi ngobrol sama lo?"
"Gem," tegur Lili karena saat dia mengobrol dengan Adit, Gema sibuk lagi dengan ponselnya.
__ADS_1
"Yes?" Gema segera mematikan ponselnya. Kemudian mengingat-ingat sebentar, lalu matanya berbinar semangat, "Oh, iya! Gue juga berpendapat sama sih. Theo tuh keliatan suka sama lo. Tapi, jangan dulu ge-er, ya. Cuma 'keliatan', artinya belum tentu beneran."
Lili cemberut kecil. "Tapi nih ya, Gem. Theo pernah bilang ke gue, lebih tepatnya nanya ke gue, 'kalau gue beneran suka emang kenapa?', gitu, Gem."
"Ya, bege. Itu namanya Theo beneran naksir!" seru Gema, tak percaya bahwa teman semejanya ini benar-benar sedodol ini.
"Tapi Gem, gue menolak percaya." Lili menukas penuh tekad. "Gue yakin itu anak cuma bercanda."
"Ck. Lili lo bege banget."
"Gue nggak mau ge-er duluan!" seru Lili membela diri. "Lagian Kak Jae tetap nomor satu di hati. Dan kemarin, gue bilang bahwa gue suka sama Kak Jae ke Theo."
"Apa?!" Gemas tak habis pikir. Dia menatap Lili dengan penuh hujatan dengan mata membulatnya.
"Keren, nggak?"
"Itu namanya pembodohan hati, Leeleeeeeee!"
***
Tamrin tak pernah seterkejut ini sebelumnya sampai ada satu hari di mana paginya dia ditemui mantan istrinya tanpa sebuah komunikasi lebih dulu. Tamrin sedang meminum susu saat Laura dan Theo masuk dengan wajah tak bersahabat.
"Di mana Titi?"
Tamrin tertawa geli. "Ini pertama kali kita bertemu dan kamu bertanya tentang anak tak berdaya itu?"
"Ayah! Mana Titi?!" Theo ambil suara.
"Kamu lagi. Udah Ayah bilang kamu harus pindah ke sini hari ini, bawa barang-barang kamu. Sekarang kamu lagi ngapain?" tanya Tamrin lelah, mengapa Theo dengan tak habis pikir.
"Aku mau ambil Titi kembali."
"Kenapa? Buat apa?"
"Dia adikku, Yah. Kalau Titi ada di tangan Ayah, yang ada Titi menderita!" seru Theo tanpa ragu-ragu lagi.
"Berani kamu?!" Tamrin paling tak suka jika kata-kata buruk disematkan dalam perkataan yang ditujukan untuknya. Matanya mulai melotot tanda emosi.
"Theo, kamu diam dulu." Laura mencoba menenangkan Theo. Sorot matanya tegas, namun tetap hangat. Itulah mengapa Theo tak pernah bisa membenci Ibunya. "Biar Ibu yang tangani."
"Jangan sok menjadi Ibu kamu." Tamrin yang melihat sikap Laura itu tertawa meremehkan. "Kabur karena ingin menjadi populer sudah menjadi hobi kamu. Kenapa nggak dilanjutkan?"
"Berisik." Laura menatap Tamrin tajam. "Anak-anak biar aku yang tangani. Kamu boleh hidup sesukanya asal tidak mengganggu anak-anak."
Tamrin tersenyum miring. "Sayangnya aku butuh dia."
"Tidak." Laura menggeleng dengan sorot mata tak terbantahkan. "Theo sudah punya tujuan. Dia juga punya hidup. Dia berhak untuk menjalani kehidupan sesuai jalan yang dia pilih. Jangan menghalangi-halangi dan membuatnya kesulitan."
"Aku yang akan mengantarnya menuju jalan penuh bunga-bunga."
"Sayangnya, jalan penuh bunga-bunga menurutmu sangat berkebalikan dengan jalan penuh bunga-bunga menurut Theo."
"Kamu tau apa?!"
"Aku tau Theo sangat ingin menjadi guru olahraga!" seru Laura berapi-api. Matanya memerah dan mulai menitikkan air. Suaranya melemah saat melanjutkan. "Tidakkah kamu ingin membantunya untuk mewujudkannya?"
"Berisik." Tamrin tak setuju dengan cita-cita Theo itu. "Aku tau apa yang paling pantas untuk anakku."
"Kamu membunuh Leo."
__ADS_1