
"Lo mau ke mana?"
Luhan yang mau berdiri tiba-tiba ditahan pundaknya oleh Sari. Luhan otomatis duduk lagi dan ketiga temannya yang mau melangkah keluar kelas itu jadi diam, menunggu Luhan dulu menyelesaikan urusannya dengan Sari.
Luhan berbalik dan menatap Sari dengan pasangan lembut penuh kasih sayang seperti biasa.
"Kantin, dong." Luhan menjawab ringan dan ceria. Keningnya mengerut samar. "Kenapa? Mau gabung? Ayok, dengan senang hati Rama akan mengantarkan Adinda."
Saru menatap Luhan dengan kesal. "Ck. Emangnya tadi istirahat pertama nggak kenyang?"
"Lapar lagi lah, perut gue kan bukan tempat menyimpan cadangan makanan." Luhan menjawab asal-asalan.
Melihat situasi yang sepertinya akan tambah rumit, Lingga berdecak tak sabaran. Masalahnya waktu istirahat kedua itu tidak panjang seperti istirahat pertama.
"Han, masih lama nggak?" tanya Lingga kemudian. "Laper nih. Cacing-cacing di perut curi semua nutrisi."
"Bentar." Luhan menjawab sambil buru-buru bangkit untuk ke kantin "Gue—"
Sari langsung menahan lengan Luhan agar tak bangkit dari duduknya dan menatapnya dengan penuh keseriusan.
"Nggak ada istirahat lagi. Kita kekurangan orang hari ini. Semuanya pada sibuk. Cuma gue sama lo yang senggang sepulang sekolah ini." Saru menjelaskan dengan cepat sambil membuka bukunya. "Kita harus atur rencana dulu supaya penjaringan bibit-bibit unggul berjalan lancar."
Luhan membuang napasnya dengan frustasi. Kadang, Luhan benci pada orang-orang seambisius Sari yang tak memerhatikan keadaan orang-orang di sekitarnya hanya untuk mencapai tujuan dengan caranya sendiri yang lebih sering memaksakan.
Sayangnya, sekarang Luhan lagi suka sama Sari, jadi dia tak mau menyakiti hati Sari dengan mengungkapkan ketidaksetujuannya pada Sari dalam kata-kata kasar.
Luhan mencoba untuk melembutkan sifat keras kepala Sari saat ini. "Gue mau bakso dulu bentar ya, Sayang."
"Nggak. Bisa." Sari tetap pada pendiriannya. Matanya menatap tajam dan serius. "Harus. Sekarang."
"Es jeruk deh satu. Gue minumnya di sini." Luhan masih memelas dengan wajah yang disedih-sedihkan, setidaknya agak membuat Sari prihatin dan kasian melihatnya. "Haus bener gue. Tanpa es jeruk, gue bisa sakau, Ri."
Benar saja, melihat wajah tegas Sari mulai kendur dan jinak, Luhan langsung melebarkan kembali senyumannya.
"Ck." Sari menatap Luhan dengan ragu-ragu, kemudian mengalihkan pandangannya dengan tak suka pada kertas-kertas di mejanya untuk dipakai menyusun rencana. "Lima menit."
Luhan langsung berdiri. "Oke, Baby. Wait!"
"Huuuuuuuft." Selepas Luhan pergi, entah kenapa Sari merasa harus bernapas banyak-banyak agar tenang. Luhan adalah spesies manusia yang harus ditangani dengan khusus memang. "Oke, Sari. Kita mukai biji rencana aja sekarang. Pertama masuk ke kelas X IPA sampai selesai. Besok IPS. Besoknya lagi Bahasa. Udah gitu, hari-hari berikutnya secara berurutan kelas XI. Setiap istirahat harus ada setidaknya satu kelas yang disaring bibit-bibitnya."
Sari tersenyum lebar, memuji otaknya sendiri yang encer bahkan tanpa bantuan orang lain. Sari bangga sekali.
"Oke rencana yang sempurna."
Tak lama setelah itu, Luhan datang dengan satu kantong jus jeruk di tangannya. Luhan duduk di depan Sari dengan keringan sedikit menghiasi pelipisnya. Waktu Sari melihat jam tangannya, ternyata baru tiga menit berlalu sejak Luhan keluar.
Luhan benar-benar menepati apa yang dikatakannya dan Sari menyesal karena telah mendesak Luhan dan memiliki prasangka yang buruk sebelum pada Luhan.
"Haduh, capek banget." Luhan membuang napas panjang. "Surp. Aaah, segarnya."
__ADS_1
Sari memandangi Luhan yang sepertinya sangat-sangat menikmati saat meminum jus jeruk itu. Merasa diperhatikan secara berlebihan, satu alis Luhan terangkat.
"Hm?" Luhan menatap Sari dengan bingung. "Eh, lo mau?"
Sari berubah, jadi menatap Luhan dengan aneh. Luhan langsung sadar sesuatu dari tatapan Sari.
"Oh, gue susutin dulu bekas bibir gue." Luhan mengelap ujung sedotannya dengan jari telunjuknya dan jari tengahnya dengan polosnya. Kemudian menyodorkan jus jeruk kesukaannya itu pada Sari yang tinggi satu per empatnya. "Sebenarnya gue nggak pernah rela ngasihin jus jeruk gue ke orang lain, tapi kasusnya beda kalau buat lo. Jadi ... nih, minum aja. Udah higienis kalau misalnya lo takut kita jadi ciuman secara tak langsung kalau minum di sedotan yang sama."
Kening Sari mengerut, bukannya dia tersanjung atas perlakuan Luhan. Malah, sebaliknya. "Lo memang selalu berpikir sekonyol ini, ya?"
"Eh?" Mata Luhan mengerjap polos.
"Abisin minumannya." Sari menukas tegas kemudian. "Kita ke kelas X IPA sekarang."
"Waduh, bentar-bentar. Gue harus rapi-rapi dulu." Luhan berkata begitu setelah cepat-cepat menghabiskan jus jeruknya dan mulai merapikan rambut serta pakaiannya. Luhan merasa tidak rapi saja karena tadi dia berlarian dari kelas ke kantin dan balik lagi dari kantin ke kelas.
Waktu Sari menatapnya begitu tajam saat Luhan sibuk merapikan rambutnya, Luhan sadar sesuatu. Dia segera menghentikan gerakan tangannya dan menatap Sari dengan rasa bersalah.
Luhan meringis sambil menggerak-gerakkan tangannya bahwa dia menjelaskan tentang sesuatu yang perlu dibenahi. "Aduh. Sori-sori. Maaf-maaf. Gue nggak bermaksud buat modus ke yang lain. Cuma kan nggak enak aja diliat banyak orang kalau rambut lagi berantakan. He he he he he."
Sari memutar bola matanya dengan jengah. "Serah."
Kemudian, Sari bangkit dari duduknya untuk berjalan keluar kelas. Luhan segera mengikutinya dengan frustasi. Sepanjang perjalanan, Luhan merutukki diri karena kesalahannya.
Sari jadi lebih diam dari biasanya. Sepertinya benar-benar mata atau cemburu.
Sari masih terdiam.
"Dimaafin nggak sih gue?" Luhan bertanya dengan nada penuh tuntutan. "Ri, jawab dong. Gue jadi bingung kalau lo diem—"
"Iya. Gue maafin." Sari akhirnya menjawab saat dirinya berhenti melangkah karena kini mereka telah sampai di depan pintu kelas X IPA. Sari menatap Luhan dengan lelah. "Puas lo?"
"Sangat puas." Luhan menyunggingkan senyum amat lebar. Amat puas. "Mue he he he he he he."
"Ck."
Kemudian, Sari mengetuk pintu kelas di depannya itu.
Tok, tok, tok.
Setelahnya, Sari membuka pintu kelas tersebut dan berkata sambil berjalan masuk dengan langkah berwibawa dan wajah tegas serta nada suara yang tenang. "Izin masuk. Kami perwakilan dari sekbid 6. Dikarenakan sebentar lagi ada O2SN, maka sekolah akan melakukan seleksi pada beberapa anak yang memiliki keahlian sesuai mata lomba."
Luhan turut mengikuti, namun dia hanya diam saja. Sari bersyukur karena Luhan tak berbuat ulah. Kemudian, Sari melanjutkan setelah melihat beberapa anak yang kelihatan sudah mengerti tentang maksud kedatangannya saat ini.
"Di sini kami akan mendatanya. Ada yang pernah punya kejuaraan atau punya potensi? Angkat tangan kalian dan sebutkan nama serta tanggal lahir saat saya minta."
Kemudian, beberapa anak mengacungkan tangannya dan Sari mulai menanyakan nama, bidang keahlian dan tanggal lahir.
Bagaimana perempuan itu bicara, bagaimana matanya menatap tegas dan tanpa takut, bagaimana tak gugupnya ia saat berhadapan dengan segenap orang-orang, Luhan dibuat takjub oleh Sari.
__ADS_1
Sari keren banget.
Tak perlu waktu lama untuk Sari dan Luhan mendata satu kelas. Keduanya berlanjut ke kelas berikutnya dengan metode yang sama. Sampai akhirnya berada di kelas terakhir, Luhan inisiatif untuk menjadi seseorang yang bicara, bukan yang hanya menemani saja.
Semuanya berjalan lancar karena orang-orang bekerjasama dengan baik.
Akhirnya, pendataan kelas X IPA telah berhasil dan Sari serta Luhan melakukan perjalanan untuk kembali ke kelas. Setelah sampai di kelas, keduanya duduk di kursi masing-masing.
Tiga teman Luhan juga sudah kembali ke tempat duduk masing-masing.
Luhan berbalik ke belakang untuk melihat Sari.
"Nah, akhirnya selesai." Sari berkata begitu pada Luhan, menatapnya lurus-lurus serius seperti biasa. "Buat hari ini, sepulang sekolah, kita nggak perlu data lagi. Ternyata lebih cepat dari dugaan gue. Terimakasih atas partisipasi lo hari ini."
"Sama-sama." Luhan tersenyum segaris hingga membuat dekik di pipinya muncul. "Kalau lo butuh bantuan, bisa minta tolong kapan aja. Jangan sungkan-sungkan. Oke?"
Sari mengangguk kecil. "Oke."
Jika pada hari-hari dan kasus-kasus biasa, Luhan kan langsung berbalik dan bercakap-cakap seru dengan Lethan, tetapi kali ini jelas sudah berbeda. Luhan ada perasaan pada Sari dan tak mungkin ia berlagak tak tahu apa-apa, apalagi sampai menghapusnya karena Sari bahkan tak tampak balas tertarik padanya.
Sebelum janur kuning melengkung, Luhan akan terus berjuang.
"Pulang sekolah ... lo dianterin ojol lagi?" tanya Luhan setelah berpikir panjang.
"Iya." Sari menjawabnya cepat, berbanding terbalik dengan lamanya Luhan bertanya.
"Mau nggak dianterin sama gue aja?" tanya Luhan dengan nada semangat dan ceria. Berharap Sari akan luluh karenanya. "Gratis, kok. Gue nggak minta ongkos, soalnya rumah gue ngelewatin jalan rumah lo."
"Gue udah sering liat cewek-cewek lain pulang bareng sama lo." Sari tersenyum miring dengan tatapan mata meneduh. "Gue nggak mau jadi salah satu cewek itu."
"Kenapa?" tanya Luhan, merasa hatinya tertusuk ribuan duri tajam.
"Lo pikir gue nggak tau tipu muslihat lo?" Sari balas bertanya dengan jengkel.
"Tipu muslihat apa yang kamu maksud, Babe?" tanya Luhan pura-pura tak mengerti. Dia ingin membuka lembaran baru dengan Sari. Serius.
"Ck. Sebel gue ngomong sama lo." Sari segera bangkit berdiri dan keluar entah ke mana.
"Lah?" Kening Luhan mengerut tak percaya.
Yang pasti, Luhan tak ada niatan untuk mengejarnya karena kemungkinan besar Dari pergi ke ruang guru untuk menjemput guru berikutnya yang harus masuk karena baru saja bel masuk berbunyi.
"Maksudnya dia sebel itu apaan, ya?"
"Dia alergi ngomong sama orang begi." Lethan di sebelahnya membantu menjawab pertanyaan yang membuat Luhan heran sendiri.
"Kampret!" Luhan langsung menyikut lengan Lethan dengan kesal.
***
__ADS_1