
"Luhan," tegur Lili ketika dia sedang merasa bosan. Dia mengambil badan Luhan ke pangkuannya yang sontak saja membuat Luhan merengek karena terpisahkan dengan Luvi. "Ih, Kakak mau curhat, jangan berisi dulu."
"Nggak mau! Mau Luvi! Luvi! Luviiiiiiiiii!"
"Li, itu Luhan-nya lepasin. Jangan dipaksa-paksa," kata Ily memberi saran. Dirinya tengah menyiapkan menu makan malam di dapur yang tak jauh dengan keberadaan Luhan serta Lili. "Jangan bikin nangis, ah, udah malem."
Lili cemberut. Akhirnya melepaskan Luhan dan membiarkannya bermain dengan Luvi lagi. Melihat betapa tersiksanya Luhan saat dipeluknya olehnya dan bertapa senangnya saat kembali bermain dengan Luvi, Lili merasa sakit hati.
Bukan hanya penerbit dan objek risetnya.
Bahkan adiknya sekalipun menolaknya.
Lili beralih ke kursi meja makan, memerhatikan Ily yang sedang memasak dengan wajah bete.
"Daripada liatin doang, mending bantuin kupas bawang," kata Ily.
Lili tak membantah, menuruti perkataan Ily dan mulai memotong bawang setelah mengupasnya karena Ily akan membuat sup jamur putih.
"Kenapa, Li? Kok murung gitu?"
"Nggak, Bu." Lili menjawab lemah. "Capek aja hari ini. Cuma nemenin Imel, terus ditolak sama objek riset. Capek, berasa gagal mulu buat jadi penulis."
"Ya ampun, Li," tukas Ily dengan teriakan napas panjang. "Kamu harus tau, Li. Nggak ada mimpi yang mudah buat direalisasikan. Semua proses itu sulit, kalau mudah, artinya kamu sewa dukun, tuh."
Lili cemberut, meski begitu, kata-kata Ily membuatnya bersemangat lagi. "Bu, aku boleh minta sesuatu nggak?"
"Apa?"
"Boleh dulu nggak?"
"Tergantung."
"Lili pengen sewa dukun, dong."
"Heh, kalau itu ya pastinya Ibu larang keras!"
***
__ADS_1
Malam dingin ini tak membuat tubuh penuh tekad Theo menggigil.
Beda dengan Lucas yang tak tahan dingin dan beberapa kali meminta kopi panas untuk memanaskan suhu tubuh, dengan crop tank-nya putihnya, Theo duduk dengan wajah datar.
Ten yang baru saja datang dan mengeratkan jaketnya dengan segera karena angin malam yang tidak bisa dibilang hangat berhembus sontak saja menatap Theo dengan takjub. Tangannya langsung memeluk pundak tanpa kain Theo.
"Woi, dah, nggak takut masuk angin?"
"Tenang, gue udah minum Tolak Angin," balas Theo serius.
Tapi Lucas malah ngakak. Dikira Lucas, Theo bercanda.
"Lah? Emangnya langsung ampuh? Dinginnya jadi nggak kerasa?" tanya Ten kebingungan sendiri.
"Gue udah biasa." Theo menggedikkan bahunya tak acuh. "Kok lawannya belum dateng, sih? Udah jam dua belas, ****."
"Dek Titi belum tidur?" Ten jadi khawatir.
"Udah, sih. Tapi tetep aja kalau gue telat pulang, takutnya dia kenapa-kenapa," balas Theo jadi kesal, menatap Ten penuh tuntutan. "Janjiannya bener jam sebelas, kan?"
Ten menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Iya, jam sebelas, Yo. Sekarang baru lebih dua puluh menit, kok. Paling bentar lagi nyampe."
"Dingin juga, Pak?" Ten bersuara untuk mengisi keheningan. Masalahnya, balapan kali ini adalah balapan pengenalan antara Theo dan anak baru yang sok nantangin itu. Jadi, tak banyak orang yang ada di lintasan balapan ini.
"Iya," balas Theo jujur.
Lucas tiba-tiba berdeham, membuat Theo dan Ten menoleh padanya seketika. Lucas menunjuk ke arah belakang Theo dengan dagunya.
"Orangnya udah datang."
Ten langsung berdiri, Lucas turut bangkit dan menghampiri seseorang yang berjalan ke dekatnya dan Theo berbalik untuk berhadapan dengan seorang laki-laki berwajah serius yang punya tato di lehernya.
Laki-laki itu punya dua anting di pangkal telinganya dan rambutnya sangat pendek hingga Theo bisa melihat jelas di keningnya terdapat jahitan pendek, rahangnya agak lebam dan bawah telinganya ada tindik hitam.
Theo tersenyum tipis. "Telat."
"Sorry." Laki-laki tertawa renyah, beda sekali dengan wajah sangarnya. "Tadi ada tikus kecil. Jadi, lo yang namanya Theo?"
__ADS_1
Theo mengangguk kecil. "Dari Australia?"
"Regan." Laki-laki menyebut namanya sendiri seraya mengulurkan tangannya pada Theo. "Semoga kita jadi temen balapan."
"Kalau lo jelek, gue nggak mau temenan." Theo menukas dingin, menjabat tangan Regan dengan tegas, kemudian melepasnya pada satu detik yang telah berlalu.
"Tenang, gue lima tahun jadi pembalap." Rehan membalas santai, tersenyum penuh percaya diri.
"Jadi, seriusan lo pembalap?" Ten langsung terkejut. Dia tertawa kecil saat Rehan menatapnya. "Gue kira cuma omong kosong."
"Cuma cowok cupu yang bicara omong kosong," tukas Regan yang sontak saja membuat Lucas berseru memuji.
"Woooo, keren banget ini anak baru kenal." Lucas tertawa senang. "Gue Lucas. Temennya Theo."
Rehan hanya mengangguk pada Lucas.
"Gue Ten," kata Ten ikut-ikutan memperkenalkan diri. Dia melihat ke belakang Regan. "Sendirian?"
Kedua alis Regan terangkat bersamaan. "Kenapa harus bawa prajurit? Gue udah biasa sendiri."
Theo tertawa sarkas, merasa barusan Regan menyindirnya secara halus. "Kenapa kita nggak langsung mulai aja?"
"Itu mobilnya udah siap," lapor Ten. "Punya Lucas dua-duanya, masih baru dan fresh."
"Mumpung masih promo, dua ratus ajalah," balas Lucas dengan tawa kecil.
Rehan dan Theo langsung berjalan ke lintasan balapan. Menuju dua mobil balap yang telah terparkir. Ketika Theo akan masuk, Regan bersuara.
"Gue denger lo nggak pernah kalah?"
"Itu fakta."
Rehan tertawa, merasa semakin tertarik. "Awalnya gue ke sini cuma buat liburan doang, tapi waktu denger ada orang yang suka balapan dan nggak pernah kalah, gue jadi tertarik. Sehebat apa sih dia?"
"Kita buktiin sekarang," tukas Theo dingin. Kemudian, masuk ke dalam mobil dan bersiap-siap.
Malam ini adalah salah satu malam yang bisa membuat hidup Theo lebih berwarna, lebih menyenangkan dan lebih berarti.
__ADS_1
***