Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 36


__ADS_3

"Gue boleh tanya, nggak?"


Lili bersuara begitu saat Theo menyodorkan helm pada Lili. Lagi-lagi, mereka pulang bersama. Ah, sebenarnya tadi juga mereka berangkat bersama. Ily dan Yohan kerap kali menggoda mereka dan Yohan jadi senang karena tidak perlu mengantarkan Lili lagi.


Theo pun tampaknya tidak keberatan untuk berangkat dan pulang bersama Lili karena dia punya keperluan.


Entahlah, kebersamaan ini terjadi begitu saja dan Lili menikmatinya.


Setidaknya, dengan begini, dia punya banyak waktu dengan Theo.


Wajah Theo menampilkan ekspresi tak suka.


"Gue kan udah obatin lo," kata Lili mencoba membujuk saat tahu Theo akan menolaknya mentah-mentah. "Sebagai gantinya, bolehin gue ngasih satu pertanyaan, dong."


Theo menipiskan bibirnya. Mengembuskan napas kecil, Theo menatap Lili dengan pasrah. "Lo mau nanya apa?"


Senyum Lili langsung terbit. "Hubungan lo sama Sherin itu gimana?"


"Gue sama Sherin cuma temen." Wajah Theo mengeras, tak suka saat tahu-tahu Lili melihatnya dengan Sherin. "Lo ngikutin gue."


"Gue penasaran, itu hal yang nggak bisa gue kendalikan, Yo."


"Gue pernah bilang kalau ngikutin gue itu bahaya."


Lili berdecak, merasa sakit hati. Kelihatannya, Theo masih saja menjaga jarak dengannya. "Gue kira kita udah deket, Yo."


Theo hanya menatap Lili. Kebiasaan yang membuat Lili seperti bisa terluka hanya dengan tatapan itu.


"Gue udah bilang, gue butuh lo buat cerita gue, Yo, buat sumber oksigen dari jantung gue," lanjut Lili kemudian. "Nggak bisa ya lo kerja sama? Sekali aja, Yo."


"Posisi gue." Nada dan raut wajah Theo mulai berubah.


Kening Lili mengerut dalam. "Apa?"


"Coba lo ada di posisi gue," jelas Theo dingin. "Coba lo jadi orang yang dimanfaatkan kisah hidupnya sama penulis egois yang cuma bisa halu dan banyak bacot tanpa mikirin apa tindakan dia itu bikin seseorang tertekan atau nggak."


Lili membeku. Hatinya seperti ditusuk besi panas dan matanya tak bisa ditahan untuk tak berkaca-kaca.


"Dikasih tau satu kali lo nggak dengerin," lanjut Theo kesal, matanya memerah karena marah. "Lo tau apa tentang kehidupan gue?"

__ADS_1


"Gue nggak tau apapun," balas Lili dengan air mata yang mulai jatuh satu per satu. "Iya, gue egois. Iya, gue banyak bacot. Iya, gue tukang halu. Tapi ... gue bisa buktiin kalau gue bisa jadi penulis hebat, Theo. Semuanya butuh proses dan proses itu nggak gampang."


Kini, Theo yang tak bisa berkata-kata.


Lili menghapus air matanya. "Oke, sekarang kayaknya lo lagi emosi atau tertekan. Maaf, gue egois. Gue nggak mikirin perasaan lo."


Theo menerima saja saat Lili menyerahkan kembali helm yang ada di tangannya. "Lo harus kasih tau ke gue kalau lo udah siap cerita. Mulai sekarang, gue nggak akan maksa lagi. Gue nggak akan egois, Yo."


Hati Theo benar-benar sakit saat Lili membuka kaca matanya hanya untuk menghapus dengan benar-benar jejak air matanya.


"Maaf, Yo. Kita pulangnya pisah aja. Gue nggak kuat liat muka tertekan lo."


Niatnya Theo ingin bercerita nanti saja ketika masalahnya telah benar-benar selesai, justru membuat Lili menganggapnya lain.


Theo mengacak rambutnya dengan frustasi saat Lili akhirnya berbalik pergi dengan langkah kaki yang tampak hampa.


Kata Lili, menulis adalah jantungnya dan cerita Theo adalah oksigennya.


Sementara baru saja, Theo membuat proses pernapasan Lili terhambat.


***


Lili selalu merasa sangat lega setelah selesai menulis. Lili selalu merasa lebih hidup setelah menulis. Lili selalu merasa lebih bahagia setelah menulis.


Bagaimana bisa orang-orang sejahat itu? Lili sudah meluangkan waktunya, mencurahkan segala ide dengan menguras isi kepalanya dan membuang pegal jari-jarinya untuk menulis semalaman dan hasilnya justru diinjak-injak begitu temennya.


Ya, kadang ada orang-orang jahat.


Lili mendapatkan komentar buruk di Wetfed saat dia mempublish awal dari ceritanya yang berisi kehidupan Theo.


Lili berkata bahwa ceritanya akan berbeda dari yang lainnya. Justru, itu dinilai buruk oleh pada oknum jahat.


Sok banget


Udah terbitin buku emang mbak-nya?


Bisa EYD aja songong


Pengen gue pites otaknya biar bagus lagi

__ADS_1


Kalau ada bukunya dia, mau gue buang ke closet penuh pool aja hahaha


Lili sakit hati. Dia langsung menghapus postingan yang berisi curhatannya yang sebagian besar mencaci karya-karya yang telah populer namun isinya tidak sesuai selera Lili.


Baiklah, Lili akan langsung saja posting ceritanya nanti. Tidak perlu ada curhatan-curhatan dulu.


Lili jadi takut.


Belum lagi dia memulai ceritanya, sudah dihujat sedemikian rupa.


Namun, Lili tak mau menyerah sekarang. Pada Theo saja Lili tidak menyerah, apalagi pada akun anonim yang mengomentari postingannya.


Lili meninggalkan aplikasi Wetfed, beralih membuka Instagram dan postingan pertama yang dilihatnya seketika membuat bahu Lili lemas.


Imel berfoto dengan tiga buku cetaknya dengan senyum lebar yang memperlihatkan deretan gigi putih rapinya. Membaca caption-nya, Lili semakin dibuat iri.


Iseng ke toko buku, liat stok buku cuma tinggal satu-satu lagi. Pihak penerbit langsung calling, mau cetak ulang katanya. Seneng bangetttttt love u all 😙😘


Karena penasaran akut, Lili mengklik profil Imel dan ada tiga posting baru yang belum Lili lihat sebelumnya.


Foto pertama Selfi Imel dengan seorang laki-laki. Ada caption di bawahnya yang menjelaskan siapa yang bersama Imel di foto itu dan artinya dari foto itu sendiri.


Pertama lihat kayak sangar-sangar gitu Bang Afif ini, eh taunya perlakukan wkwkwkw. Daripada saling sapa, waktu ketemu pasti langsung debat naskah, gokil emang Sutradara satu ini, luv u bang :*******


Lili menahan hatinya yang sudah menjerit iri. Dia membuka foto kedua. Kini, Imel mengambil foto dirinya di sebuah bangunan.


Hari kelima dikarantina buat susun plot dan adegan. I'm so excited omg, tnx u all. Gue nggak bisa sampai sini tanpa kalian :*


Di foto terakhir, Imel ber-selfie lagi dengan seseorang. Kali ini perempuan. Usianya sudah menginjak umur empat puluh tiga tahun dan Lili kenal siapa dia.


Vela Novela.


Iya, idola Lili. Motivasinya dalam menulis. Panutannya dalam merangkai kata-kata sampai jadi satu bagian cerita.


Membaca caption di bawah foto itu, Lili menahan hati yang sudah menangis, menjerit, menggeram dan meledak-ledak. Namun, semuanya tertahan di dalam.


OMG OMG ini penulis favorit gue. Kita bareng-bareng susun skenario filmnya, seneng bangetttttt!!!!! >•<


Lili menipiskan bibirnya.

__ADS_1


Buru-buru dia matikan ponselnya untuk berbaring di tempat tidurnya. Lebih baik Lili segera tidur dan mimpi indah saja dari pada menghadapi kenyataan yang kian hari kian pahit.


***


__ADS_2