Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 66


__ADS_3

Kalau begini caranya, Lili akan gagal untuk tidak mendekati Theo.


Lomba fashion dengan baju yang terbuat dari barang bekas jelas bukan suatu kegiatan yang dilakukan tanpa tatap muka. Lili dan Theo harus turut hadir dalam pembuatan bajunya supaya nanti pas dipakai.


Tim kreatif yang terdiri atas lima orang sudah berunding tadi sore. Mereka kemudian mengatakan kepada Lili dan Theo untuk siap pulang sore besoknya. Lili tidak keberatan, begitupula dengan Theo yang hanya diam.


"Baguslah. See you tomorrow then," pamit Mila yang merupakan pencetus utama.


Lili tersenyum. Balas melambaikan tangannya. Di sisi lain, Theo langsung pergi meninggalkan kelas. Melihat itu, Lili tersenyum tipis. Gemas yang ada di sebelahnya segera menyenggol lengan Lili.


"Cie, cie," goda Gema dengan tawa riang. "Makin nempel dong kalau gitu."


"Ish, Gema, gue tuh suka sama Kak Jae seorang tau!" seru Lili tak suka.


"Tapi kayaknya Theo naksir tuh, lo sendiri balas suka nggak?" tanya Gema dengan senyum penuh arti.


"Nggak, ish! Gema lo kalau ngomong ngaco gitu, sih," gerutu Lili jadi kesal.


"Di mulut ngomong nggak, awas dalam hati itu iya-iya sambil jingkrak-jingkrak seneng!" seru Gema semakin membuat Lili tersudut.


Lili mencubit pipi Gema dengan gemas.


"Aw, aw, aw, aw, sakit, Li! Awww, lepasin!" seru Gema tersiksa.


Mata Lili melotot, tak langsung melepas tangannya dari pipi Gema. "Matanya kalau mulut itu disaring dulu napa, hhhhh!"


"Iya-iya, ampun!" seru Gema menyesal.


Akhirnya, Lili melepas tangannya dari pipi Gema. Berkat itu, berkat rasa pedih yang masih menjalar di pipi, Gema tak mau lagi bicara sepanjang perjalanan mereka pulang.


***


"Kenapa baru protes sekarang, dodol? Formulirnya udah gue serahin ke OSIS dan nggak bisa diganti-ganti karena mereka juga nggak mau ribet lagi. Udah didata, Yo, nggak bisa diubah-ubah lagi."


Penjelasan dari Fahmi masih terngiang-ngiang saat Theo bilang ia tidak jadi ikutan lomba fashion show. Theo juga bingung kenapa dirinya tak menolak dari awal jika tak ingin waktu belajarnya terganggu. Theo kan mau jadi guru. Kalau waktunya dihabiskan untuk persiapan lomba, waktu belajarnya akan terpotong.

__ADS_1


Belum lagi lomba ini dilakukan bersama Lili, pasti akan sangat menggangu konsentrasi Theo.


Theo tak tahu lagi bagaimana harus melampiaskan frustasinya saat tiba-tiba jari-jarinya tanpa bisa ditahan memanggil nomor Lili. Ketika Theo sadar, matanya membulat panik dan segera mematikan panggilan itu saat Lili baru saja menjawabnya dengan mengucapkan hallo.


Theo berdecak. Menjambak rambutnya sendiri dengan frustasi.


"Begou lo, Yo."


Suara getaran di ponselnya terdengar. Lili meneleponnya kembali. Theo mendesis frustasi. Entah mengapa jadi sepanik ini.


Daripada menjawab panggilan itu, Theo memilih membuka buku pelajarannya. Di atas meja, Theo berusaha untuk mengabaikan getaran ponselnya itu dan terus membaca deretan kata yang sebatas ia baca saja.


Theo hanya ingin mengalihkan fokusnya.


Namun, berkali-kali getaran itu terdengar, Theo tak bisa mengabaikannya lagi. Dia mengambil ponselnya dengan senyuman penuh tekad. Pada situasi normal, Theo bisa saja mematikan ponselnya dan membuat Lili tak bisa mengganggunya lagu dengan terus membuat ponsel Theo bergetar karena panggilannya.


Namun, saat ini Theo tidak normal.


Maka dari itu, tersambung lah ponselnya dengan ponsel Lili.


"Halo, Yo? Kenapa?"


"Oh ...."


"Iya."


Theo menipiskan bibirnya. Dia menunggu Lili memutuskan panggilannya, namun perempuan itu tak kunjung melakukannya juga padahal tiga puluh detik sudah berlalu. Theo menjauhkan ponselnya dari telinga, berniat memutusnya, sampai tiba-tiba Lili bersuara.


"Lo mau ngomong sesuatu ya, Yo?"


Theo terdiam agak lama. Bagaimana bisa Lili sepeka ini orangnya? Theo berdeham lagi. "Nggak."


"Terus kenapa nggak dimatiin juga?"


"Gue kira lo yang bakal matiin."

__ADS_1


"Gue kan yang telpon, harusnya lo Yang mutusin." Lili tertawa di sana. "Ya udah, gue jadi dua-duanya aja. Dadah!"


Tut, Tut, Tut.


Sambungan telepon berakhir. Harusnya Theo lega, namun bukan itu yang dia rasakan. Yang Theo rasakan justru kekecewaan dan rasa menyesal mulai menyerangnya.


Theo gelisah.


Tanpa berpikir panjang lagi, dia menghubungi nomor Lili kembali. Tak lama kemudian, Lili menerimanya.


Ada tawa kecil sebelum Lili bersuara. "Kayaknya lo beneran ada yang mau diomongin, ya?"


"Guru."


"Hah?"


Theo berdeham keras sebelum kembali menegaskan. "Cita-cita gue jadi guru."


Ada jeda lama yang Lili berikan sebagai balasan. Theo berdecak gemas. "Tambahin itu ke cerita gue yang lo buat."


"Oooooooooooooohhhhhhhhhhhhh."


Theo membuang napas jengah. "Udah. Gue tut--"


"Eits, bentar," tahan Lili cepat. "Atas dasar apa gerangan memberitahu hamba bahwa cita-cita gerangan itu guru dan mau dimasukin ke cerita yang lagi gue bikin setelah sebelumnya nggak mau lagi ada urusan sama gue. Hayolooooooo."


Theo berdecak. "Banyak bacot juga ya lo. Harusnya bersyukur gue udah baik-baik ngasih tau lo."


Lili tertawa hambar di sana. "Masalahnya lo aneh. Plin-plan. Jadi gue bacotin. Hahahaha."


Dengan kesal, Theo langsung memutus sambungan telepon itu. Dia mematikan ponselnya segera. Sumpah, Theo menyesal telah memberi tahu Lili tentang itu hanya untuk membuat hatinya lega sekaligus kesal.


Meski begitu, tetap saja, rasa lega yang dirasakan Theo lebih mendominasi dan tak bisa ia lupakan dengan cepat.


Sementara itu, jauh dari tempat Theo. Di rumahnya seorang perempuan berkacamata bulat.

__ADS_1


"Halo, Yo?" Lili bertanya heran karena Theo tak kunjung bersuara. "Yo? Theo? Masih hidup kan ini anak ... oh, dimatiin, Li. Oh, oke. Ha ha."


***


__ADS_2