
Hari kedua Lili di rumah sakit, akhirnya mata itu terbuka setelah sekian lama orang-orang yang menyayanginya menanti.
Waktu Lili membuka matanya dan seseorang memberi matanya kaca mata hingga semuanya tampak jelas setelah buram sesaat, tahu-tahu banyak orang yang mengerubunginya dengan raut wajah bahagia. Napas Lili satu-satu saat itu. Keringat dingin mengucuri seluruh tubuhnya dan tahu-tahu ketika menggerakkan tangannya, Lili kesakitan.
"Terimakasih, terimakasih," kata Ily dengan haru membuncah. Ily memegang tangan kiri Lili dengan erat dan menciumnya dengan sayang. "Kamu sudah bangun, Li. Terimakasih."
Lili melihat ke arah tangan kanannya.
Waktu melihat tangannya memakai gips dan perban yang disampirkan ke bahu, dunia Lili berguling. Lili menggigit bibirnya kuat-kuat, menahan suara saat air matanya terjun bebas. Membasahi pipi, membasahi bantal dan turut menyiram kesedihan pada orang-orang yang melihatnya.
"Tangan Lili kenapaaaaaaaaaa?" tangis Lili pecah.
Pada Ayahnya, pada Ibunya, pada Luhan, pada Om Eza, para Tante Ayla, pada Yalya, pada Tante Shasi, pada Rasha dan pada Theo yang sekilas Lili lihat di jendela kecil pintu kamar rawatnya.
Lili ingat sekali terakhir kali dia bersama Theo, kemudian berguling karena benturan keras dan semuanya gelap.
Lili menangis sejadinya. Dia tak bisa menerima dengan lapang dada.
"Ibu ... tangan Lili kenapa??????" tanya Lili frustasi. "Lili nggak mau begini! Lili mau bisa nulis lagi! Kalau kayak gini, gimana Lili bisa hidup! Ayah, Ibu, tangan Lili kenapa?"
"Tangan kamu cuma retak, Li." Ily menenangkan dengan nada lembut. "Nanti juga sembuh."
Air mata Lili terus mengalir. Suaranya amat serak dan ketakutan saat bertanya dengan frustasi, "Berapa lama itu, Bu?"
"Paling lama ...." Ily menggigit bibirnya, menahan kesedihan. "Tiga bulan, Li."
Mendengar itu, Lili tak bisa tenang. Dunianya seperti hancur. "Lili nggak mau tiduran di sini. Lili mau ketemu teman-teman. Lili mau sekolah. Lili mau nulis, lagiiiiiiiii!"
***
"Makan, Theo." Laura menyodorkan semangkuk bubur pada Theo. Matanya menatap lembut. "Biar cepet sembuh."
"Kamar Lili rame banget. Banyak orang." Theo tersenyum penuh arti pada Laura. "Tapi Theo seneng karena itu artinya dia nggak bakal sedih sendirian."
Laura menunduk. Hatinya berkedut sakit saat Theo berkata begitu. "Maafin Ibu, Theo."
"Kenapa harus Ibu yang minta maaf?" Theo menyusut air mata Laura yang lagi-lagi menetes di pipinya. Theo menekan ludahnya kasar. "Harusnya Theo ... harusnya aku yang minta maaf, Bu."
__ADS_1
"Nggak apa-apa, nak." Laura menggeleng. Menggenggam tangan Theo yang sehat dengan erat. "Nggak apa-apa. Semuanya takdir. Nggak ada yang salah. Nggak ada juga yang benar."
Tiba-tiba Theo berkata, "Besok."
"Kenapa?" tanya Laura tak mengerti.
"Ibu temenin Theo buat minta maaf secara resmi, ya." Theo menipiskan bibir. "Hati aku nggak tenang kalau belum mendengar Ayah, Ibu sama Lili-nya maafin Theo."
"Boleh, nak." Laura segera mengangguk. "Akan Ibu temani."
"Makasih, Bu."
Laura tersenyum lebar. Kemudian mengangguk pelan dengan hati yang sakit. Theo turut tersenyum melihatnya, kemudian memalingkan wajahnya untuk memejamkan matanya.
Untuk Ibu yang selalu ada untuknya, Theo ingin menyerahkan seluruh hidupnya jika diperlukan.
***
Setelahnya ditenangkan berkali-kali dengan semua orang yang menjenguknya, Lili akhirnya bisa tenang lagi. Butuh setidaknya tiga jam untuk membuat Lili tak menangis lagi.
Teman-teman Yohan dan Ily beserta anak-anaknya sudah pulang duluan karena Lili bilang mau tidur saja.
Tak ada yang mengerti betapa hancurnya Lili sekarang. Tak ada.
Ah, hanya bangsal sepi, makam dingin, angin lembut dan jendela rumah sakit saja yang menjadi saksi bisu keputusasaan Lili.
Memang jika begini, jika jantungnya sakit, bagaimana Lili bisa hidup lagi?
***
Awalnya, hidup Lili terasa hancur. Terasa tak ada harapan lagi. Terasa gelap dan penuh jalan buntu ke mana pun arah pikiran Lili berlalu.
Lili ingin bangkit dan melupakan semuanya. Tapi, apa bisa semudah itu? Tentu tidak. Lili selalu terbayang-bayang kejadian itu. Ketika dia naik di motor Theo, melaju entah ke mana dan pada akhirnya Lili berhenti bertanya. Tiba-tiba saja dia merasakan motor Theo tak seimbang.
Kejadian selanjutnya bagaikan mimpi. Lili memejamkan matanya kuat-kuat. Bahkan mengeratkan cengkeramannya pada bahu Theo hingga buku-buku jarinya terasa lemas.
Tubuh Lili seperti melayang, kemudian dia terjatuh di atas sesuatu yang keras. Tak berhenti di sana, tubuh Lili berguling-guling di atas sebuah tangga. Lama sekali dia berguling-guling hingga mau mati saja rasanya.
__ADS_1
Seluruh kepala Lili pening sekali waktu tubuhnya telah berhenti berguling-guling. Sakit badannya terasa secara keseluruhannya. Hingga akhirnya Lili tak merasa apa-apa lagi, kegelapan melahapnya.
Kejadian itu sungguh mengerikan bagi Lili. Mau ke mana pun dia membawa pikirannya untuk senang, semuanya selalu berakhir dengan air mata yang menetes.
Bahwa tangannya tetap begini. Bahwa dia telah sakit. Bahwa dia tetap berbaring di bangsal rumah sakit. Bahwa dia tak bisa menulis lagi hingga mau mati saja rasanya.
Pada akhirnya, hanya kegelapan yang Lili temukan.
Apa tidak ada jalan lagi untuk Lili kembali bangkit?
"Ayah ...." Suatu hari, akhirnya Lili mengeluarkan suaranya yang normal. Tak serak ataupun penuh putus asa dan kemarahan.
Yohan yang sedang menemaninya kala itu (Ily dan Luhan ada di rumah untuk menyiapkan kebutuhan yang lainnya) segera tersenyum, menoleh pada putrinya dan tersenyum hangat. "Iya, Li?"
"Aku mau jalan-jalan keluar." Lili waktu itu untuk pertama kalinya mengeluarkan keinginannya.
Yohan merasa lega dan bangga, karenanya senyumnya tercipta lebar. "Mau ditemenin?"
"Aku sendiri aja, Yah." Lili segera menggerakkan tubuhnya untuk berusaha bangkit. Beberapa kali perempuan itu meringis kesakitan karena beberapa memar di sekujur tubuhnya.
Hal itu membuat Yohan turut membantunya bangkit untuk kemudian berdiri dengan normal. Meski berat rasanya melihat Lili, apalagi katanya putrinya itu mau jalan-jalan keluar sendirian, Yohan berusaha tersenyum mendukungnya.
Apapun asal Lili bisa sembuh dan tersenyum, akan Yohan lakukan.
Lili tersenyum pada Yohan ketika telah benar-benar berdiri.. "Makasih, Yah ...."
Yohan hanya mengangguk, kemudian membiarkan Lili keluar dari kamar rawatnya. Melihat punggungnya menghilang, Yohan tak bisa menahan tangisnya lagi.
Di koridor rumah sakit, Lili berjalan lunglai. Sebenarnya dia tak ada tenaga dan ingin sekali seseorang menemaninya, namun Lili ingin bangkit sendiri. Jika terus bersama orang lain, Lili tak akan pernah bisa mandiri.
Lili melewati kamar Theo. Theo ada di dalam sana bersama Laura. Lili melihat Theo. Theo turut melihatnya, matanya membulat terkejut dan ada sesuatu yang tak bisa Lili artikan dari tatapan laki-laki itu.
Namun, Lili tak tersenyum sedikit pun dan berlalu pergi dengan wajah dingin.
Hati Theo yang sudah hancur berkeping-keping itu seperti diinjak-injak dan dibuang ke tempat yang paling tak berguna di muka bumi saat melihat berlalunya Lili tanpa peduli lagi padanya.
Seperti ... Lili tak pernah mengenalnya lagi.
__ADS_1
***