Dari Korea

Dari Korea
LSF - 7


__ADS_3

"Namanya nama burung, Than."


Luhan bilang begitu waktu Lethan bertanya siapa nama perempuan yang menabraknya kemarin di depan ruangan seni. Jawabannya jelas membuat Lethan emosi, namun karena ada es teh manis di meja kantin, dia jadi bisa meredakan emosinya setelah menegurnya satu kali.


"Jangan bercanda, Han." Lethan membalas bosan. "Lo mau gue post aib-aib lo di IG?"


"Silahkan." Luhan tak takut dengan ancaman Lethan. Dia mengulas sebuah senyuman santai. "Gue kasih tau ke orangnya ada om-om pake kaca mata yang naksir dia."


Kening Lethan mengerut saat dia bisa menyimpulkan satu fakta dari perkataan Luhan. "Dia kelas sepuluh?"


"Yoi."


"Ya *****, gue kira seangkatan." Lethan membuang napas kecewa. "Ah, nggak seru."


Kini gikiran kening Luhan yang mengerut. "Nggak seru kayak gimana maksud lo?"


"Ya ... Pokoknya gue lebih seneng kalau ceweknya seangkatan sama gue. Jadi ... bisa lumayan sama lah pemikirannya." Lethan menjelaskan dengan ogah-ogahan. Dia benar-benar kecewa karena dia pikir perempuan itu adalah belahan hatinya yang telah lama hilang. "Kalau sama adek kelas kan takut pikirannya itu masih anak-anak, masih di bawah gue gitu."


"Lah, pacaran ya pacaran aja. Sama siapa aja asal udah suka. Nggak peduli sama pikirannya kayak anak kecil atau dia masih kelas sepuluh." Luhan memberi masukan sebagai laki-laki yang lebih berpengalaman. "Lagian beda satu tahun doang anjuir. Banyak di luar sana yang beda ceweknya itu sampai sepuluh tahun di bawah dia. Aman-aman aja tuh."


"Ya, itu elo." Lethan menatap Luhan dengan pandangan meremehkan. "Gue beda, dong. Selera calon fotografer handal ya yang berkelas."


Luhan balas menatap Lethan dengan bosan. "Iya-in aja lah biar cepet."


Ketika Lethan tak membalasnya lagi, Luhan jadi heran. Rupanya Lethan tengah menatap sesuatu di belakangnya. Ketika Luhan menolehkan kepalanya dan menatap ke arah yang sama, Luhan menyunggingkan sebuah senyuman miris.


Lethan yang katanya tak suka dengan adik kelas karena dia pikir pemikiran adik kelas akan masih kanak-kanak dan tak bisa nyambung dengannya, sekarang laki-laki itu menatap terus-terusan pada adik kelas yang kemarin nabrak dia tanpa berkedip.


Beda dengan Lethan yang masih baru-baru ini suka seseorang, Lingga sudah dari dulu menyukai Putri dan hanya bisa menyukai perempuan itu selama diam karena Putri sudah punya pacar dari kelas sepuluh dan belum putus-putus sampai sekarang. Pacarnya atlet silat dan Lingga mundur saja dengan damai kalau mau merebut Putri secara paksa dari pacarnya yang perkasa.


Berbeda lagi dengan Lethan dan Lingga yang sama-sama punya orang yang disuka, Langit sama sekali tak tertarik untuk melirik cewek. Bahkan setelah Luhan banyak memberinya kenalan ciwi-ciwi yang dia punya, tak ada satu pun yang nyangkut di hati Langit.


Entah bagaimana seleranya. Namun, tak ada yang bisa mengalahkan bakso di hidup Langit. Mau hari apapun, kau kapanpun, mau bagaimana pun, Langit harus makan bakso.


Kalau tidak, dia bisa sakau. Luhan bersama Lethan dan Lingga pernah melihatnya. Nanti kita ceritakan secara detail di episode tertentu.


Luhan pernah berpikir satu kali. Apa tipe perempuan Langit itu kayak bakso?


"Temen-temen gue kenapa dah pada ngenes gini takdirnya." Luhan mengatakannya dengan wajah sedih, untuk setelahnya membuang napas kecil dan menyeruput jus jeruknya yang tinggal satu seruput lagi.


***


"Mau ikut ke ruangan seni nggak?" Luhan bertanya ketika selesai bersih-bersih di lab bersama Langit dan Lingga juga.


Ketika ditanya begitu, otomatis wajah Lethan tampak kebingungan. Lethan tak ikut ekskul kesenian soalnya. "Ngapain?"


"Liat burung."


"Mabok lo." Lethan menapar kecil pipi Luhan biar sadar.


"Burung apaan, anjuir?" tanya Langit ikutan heran.


Luhan menatap Langit dengan mata menyipit penuh tuduhan. "Mikir jorok dah lo."


"Ya mau gimana lagi? Di sekolah ini nggak ada burung." Langit menjawab tanpa malu-malu. "Jadi, burung mana yang lo maksud, wahai anak keturunan Korea?"


"Yang mana lagi?" Luhan balas bertanya dengan kedua alis terangkat. "Gebetan Lethan, dong."


"Geb-gebetan gue?" Entah kenapa, Lethan jadi agak gagap. Mungkin efek karena dia tak pernah punya gebetan. Cintanya pada kamera dan fotografi lebih kuat. Ekspresi wajahnya yang seperti habis memakan lemon masam membuat Langit, Lingga dan Luhan menahan kengerian.


"Ck ck ck. Kalau latah bisa nggak itu muka dimake-up-in dulu? Jelek banget keliatannya." Luhan mengata-ngatai tanpa tega. Membuat Lethan merasa sangat terluka harga dirinya. "Untung doi nggak liat. Kalau liat, langsung ilfeel, dah."


"Bener tuh!" seru Lingga setuju.


"Bagusan pantat gue, deh. Kalau mau dibandingkan sama muka lo barusan, Than!" Langit menyuarakan pendapatnya yang tak kalah pedas dari samyang.


"Kocak dah!" Luhan menambahkan.


"Untung gue sabar." Lethan tersenyum sambil menepuk-nepuk dadanya dengan wajah tabah.


"Jadi, mau nggak?" tanya Luhan, membawa pertanyaan pertama yang dikeluarkan pada Lethan. "Gue juga mau jemput bebeb."


Mendengar satu kata, Lingga menatap Luhan dengan tajam. "Bebeb mana lagi?"


"Lupa lo sama cewek yang kemarin?" tanya Langit bosan. Kadang, otak Lingga itu perlu diasah agar tidak pikunan.


"Oh iya, bener." Lingga teringat, kemudian menatap Luhan dengan alis dibalik-balik kan. "Ikan baru, Han?"


"Yoi." Luhan mengangguk. Dia tersenyum senang dengan lebar saat membayangkan wajah Reisya. "Cantik bener, deh."

__ADS_1


"Semua aja lo bilang cantik." Lingga membalas datar.


"Emang menurut lo nggak cantik?" tanya Luhan dengan nada menantang.


"Nggak." Lingga menjawab tegas


"Dih. Cantik begitu lo bilang nggak cantik? Mata lo rabun jauh apa rabun katarak?" tanya Luhan penuh ledekan. Penuh rasa tak suka juga karena Lingga menjelek-jelekkan Reisya yang jelas-jelas cantiknya setara dengan artis-artis muda Indonesia.


"Menurut gue, satu-satunya wanita cantik di dunia ini cuma Putri seorang."


"Dasar bucin!" seru Langit mencibir.


"Kualat lo Ibu sendiri nggak dibilang cantik." Lethan turut mencibir Lingga.


"Ck. Sa ae lo." Lingga hanya tertawa karena secara tidak langsung, dia juga meremehkan kecantikan ibunya dengan mengatakan satu-satunya perempuan yang cantik di dunia ini hanyalah Putri seorang. "Omong-omong soal Ibu, doi nelpon sekarang. Gue harus cepet-cepet pulang kayaknya. So, bye! Gue duluan!"


"Gue juga! Pamit, dadah!" Langit ikutan karena dia mau main game sampai malam. Dia melambaikan tangannya dengan asal sebelum melangkah dengan tangan merangkul bahu Lingga.


Luhan mengangguk atas kepergian dua temannya itu. Kemudian, dia menatap Lethan yang masih setia berdiri di sampingnya. "Lo nggak ikutan balik?"


"Nggak."


"Kenapa?" Luhan bertanya heran. Kemudian menatap Lethan dengan penuh arti. "Mau ikut gue ke ruangan seni?"


"Ya, menurut lo apa ada lagi alasan buat gue nggak pulang?" Lethan jadi agak malu sendiri. Kemudian, dia buru-buru melangkah menuju ruangan seni, mendahului Luhan setelah berkata, "Ayo dah."


"Wih. Mulai jantan ya lo, Than." Luhan tertawa bangga dan menyusul langsung Lethan.


"Emangnya selama ini gue nggak jantan? Selama burung masih ada ya gue jantan, dong." Lethan membalas agak sewot. "Aneh lo."


"Menurut gue, seseorang bisa dikatakan jantan itu saat udah berani nyamperin betina setelah dia punya rasa suka." Luhan menyuarakan pendapatnya yang terdengar sangat aneh alias tanpa dasar. "Ya, kayak gue sama lo sekarang. Kita sama-sama mau nyamperin betina."


"Kayak ayam aja, jir. Pake jantan sama betina segala."


"Ya nggak masalah dong, selama artinya sama aja, begi."


"Iya, iya." Lethan mengangguk-angguk, lelah juga jika harus terus berdebat. Apalagi apa yang didebatkan itu sangat tidak berfaedah. "Jadi, namanya siapa?"


"Gue udah bilang waktu di kantin." Luhan tersenyum penuh arti. "Namanya nama burung."


"Iya, burung apa?" Lethan bertanya seraya menahan emosi.


"Tebak, dong." Luhan makin senang membuat Lethan kesal. "Coba pikirkan nama-nama burung."


"Ck. Lo pikir ada cewek yang namanya Elang?" tanya Luhan jadi kesal sendiri.


"Ya selama nama itu nama burung harusnya masuk akal dong buat gue sebutin?" balas Lethan turut emosi.


"Ya nggak harus Elang juga dong, Pangsit. Aduh, gue jadi emosi duluan nih, Than." Luhan mandul napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya perlahan. Setelahnya, ia menatap Lethan dengan lebih sabar. "Emangnya, IQ lo berapa sih, Anjuir?"


Lethan memutar bola matanya dengan jengah. "Nggak tau lah, hasil tesnya juga dibagiin nanti waktu kita kelas dua belas."


"Hadeuuuuuuuuuuuhhhhhhhhh." Luhan menjambak rambutnya sendiri sambil menatap Lethan dengan kesabaran yang kini telah habis. Luhan membuang napasnya dengan keras-keras. "Oke. Lupain itu. Namanya Dara. Burung Dara. Puas lo?"


Lethan tersenyum kecil. "Oh."


"Cuma 'oh'?" Lethan tak tahu bagaimana usaha Luhan untuk mendapatkan nama itu. Luhan harus sabar dan memutar otak untuk mendapatkan nama itu. Mendapatkan reaksi yang sesingkat itu dan terdengar sangat menyebalkan, jelas membuat Luhan es mo si.


"Dia kelas berapa?" Lethan tanpa merasa bersalah, bertanya begitu.


Luhan memaafkan saja karena Lethan adalah teman saja mejanya selama ini. "IPS 1."


"Yahhhhh." Lethan terdengar mengeluh.


"Kenapa lagi?"


"Nggak cocok lah. Gue IPA."


"Ya emangnya harus selalu samaan? Lo maunya gimana sih?" tanya Luhan tak habis pikir. "Kalau nggak suka ya jangan suka. Lo bilang nggak cocok sama ini-nya lah, nggak cocok sama itu-nya lah. Kalau begitu terus, jodoh lo makin jauh."


Lethan tak tahu harus menjawab apa.


"Gue mau mastiin sekali lagi." Luhan menatap Lethan dengan serius. "Lo suka sama Dara nggak?"


"Suka lah." Lethan menjawabnya tanpa berpikir panjang. "Kalau nggak ngapain juga gue ada di sini?"


"Yaudah, pepet aja!" seru Luhan dengan semangat membara. Dia melihat Dara dan teman-temannya di depan pintu ruangan seni di depan sana. "Noh anaknya baru keluar."


"Oke." Lethan langsung paham. "Han, thanks ya."

__ADS_1


"Es jeruk aja besok." Luhan tersenyum penuh arti.


Lethan menatap Luhan dengan jijik. "Dasar matre."


"Matre-matre gini lo masih temenan juga sama gue dari MPLS sampai sekarang." Luhan membalas perkataan Lethan meski Lethan sendiri sudah melangkah jauh bersama Dara di depan sana.


Kemudia, Luhan melongok pada ruangan seni. Di sana ada beberapa anak tari yang sedang latihan, namun Luhan tak menemukan sosok yang dia cari. "Permisi. Apakah ada Reisya?"


"Hai." Reisya tiba-tiba muncul dari ruangan ganti. Senyumnya mereybegitu melihat Luhan. "Masuk aja."


"Oke."


Luhan duduk di sebuah kursi. Melihat Reisya yang latihan tari tradisional bersama dengan timnya. Beberapa kali mereka latihan. Luhan terpesona dengan bagaimana kelihaian Reisya dalam menggerak-gerakkan anggota tubuhnya.


Sampai ketika Luhan selesai melihat Reisya latihan untuk terakhir kalinya, mereka pulang bersama. Berjalan beriringan ke parkiran.


"Maaf ya kalau gue bau." Reisya berkata begitu sambil memakai jaketnya karena udara dingin. "Males kalau mandi di sini. Lebih nyaman di rumah."


"Nggak apa-apa lah." Luhan membalas santai. "Nggak bau, kok."


"Baguslah kalau gitu."


Luhan tersenyum tipis. "Suka banget ya sama tari tradisional?"


Bertanya tentang kesukaan seseorang selalu menjadi awal untuk menjalin hubungan lebih dekat.


"Menari bikin hidup gue lebih bermakna. Gue berkeringat, menarikan gerakan indah, membuat seni dan bernilai. Gue merasa telah turut menyumbang untuk dunia." Reisya tampak bahagia saat membicarakannya. "Gue bangga bisa menari."


"Dari kecil sukanya?"


Reisya mengangguk dengan wajah sedih yang tak diangkat oleh Luhan. "Iya. Soalnya nyokap juga jago menari."


"Wah, pasti cantik juga kayak lo." Luhan menyahut semangat. Senyumnya tercipta dengan lebar dan wajahnya cerah. "Jadi pengen ketemu."


Reisya tertawa kecil, menatap Luhan dengan mata sedih. "Sayangnya, nggak bisa."


Aduh. Luhan pasti salah bicara. Nada suara Reisya terdengar lebih dingin dari sebelum-sebelumnya. Luhan menunduk dan bersuara dengan lemah, "Maaf ... Gue nggak tau."


"Iya, nggak apa-apa." Reisya membalas cepat. Dia mengeratkan jaketnya dengan gerakan pelan.


Luhan jadi canggung untuk memulai kembali perbincangan.


"Lo keturunan mana?" tanya Reisya tiba-tiba, tanpa diduga oleh Luhan.


"Hm? Maksudnya?" Luhan balas bertanya karena bingung.


Reisya menatap Luhan dengan sorot serius dan penuh perhitungan. "Setelah gue perhatiin baik-baik. Muka lo nggak kayak Indonesia asli."


"Oh, Ayah gue orang Korea tulen." Luhan tersenyum lebar sampai matanya tampak menyipit. "Ibu gue anak Jakarta asli."


"Oh, pantes."


Luhan menaikkan alisnya dengan wajah nakal. "Ganteng nggak?"


"Hah?" Mendadak, telinga Reisya kehilangan fungsinya.


"Gue. Ganteng nggak?" tanya Luhan dengan senyum yang lebih-lebih lebar dari sebelumnya.


Reisya menyipitkan matanya. Menelisik setiap jengkal wajah Luhan dengan penuh pertimbangan. "Ya ... 80 dari 100, lah."


"Oke, deh." Luhan lumayan puas.


"Kalau gue?" Reisya tiba-tiba bertanya begitu. Dia juga ingin tahu penilaian Luhan terhadapnya.


"Hm?"


"Menurut lo, gue gimana?"


"Nggak usah ditanya lagi lah kalau itu." Luhan langsung mengacungkan dua jempolnya. "100 dari 100. Sempurna dah pokoknya."


"Bohong nggak?"


"Liat mata gue." Luhan merendahkan tingginya, membuat Reisya leluasa menatap matanya yang beriris lebih cokelat dari orang-orang kebanyakan. Jantung Reisya seperti dipompa hingga berdetak tak seperti normalnya. Luhan menatap mata hitam Reisya lurus-lurus. "Ada kebohongan nggak?"


Sore itu menjadi indah bagi Reisya. Angin yang lembut membelai rambut Luhan, membuatnya tampak lebih tampan. Waktu seperti dihentikan ketika mereka bertatapan. Hingga akhirnya Reisya memalingkan wajahnya karena takut jantungnya yang berdetak kencang ini akan terdengar oleh Luhan.


Malu dong, sis.


"Gue nggak tau gimana mata yang bohong atau gimana mata yang jujur." Reisya berkata agak kikuk. Kemudian mengangguk-angguk. "Tapi, gue rasa lo emang mengatakan sesuatu yang jujur."

__ADS_1


Luhan tersenyum puas. "Bagus kalau gitu."


***


__ADS_2