
"Ngapain, sih?" Ily bertanya dengan nada memelas dan wajah yang sudah terlihat amat lelah.
Baru dua jam ia istirahat setelah sampai di rumahnya, Elvan dan Eza datang dan sepertinya memiliki niat untuk merusuh di rumahnya yang sepi dan damai ini. Ayah dan ibunya sedang berada di luar sekarang.
"Gue bilang besok aja. Nggak ngerti banget sih," kesal Ily dengan nada tegas dan tajam.
Tangan Elvan terangkat. "Tenang dulu, Ly, tenang. Kedatangan kita di sini bukan buat ngajak lo keluar, kok. Gue sama Eza pengertian sama, jadi..."
"...kita bakal makan-makan di dalam rumah lo!" sambung Eza, berseru semangat seraya mengangkat tangannya yang menjinjing satu kantong plastik besar. "Gue udah siapin samyang, sosis, nugget, otak-otak Singapur, apel, anggur, susu kotak dan soda kesukaan!"
"Tak lupa juga ada keripik kentang yang dikemas dalam wadah bulu tangkis alias pringless!" balas Elvan dengan semangat membara.
Ily memutar bola matanya. "Nggak mau!"
Sepertinya hati Ily sudah tak bisa berubah lagi. Sudah sangat hancur sejak ia menerima panggilan dari Korea itu. Mungkin, paling lama, besok Ily akan kembali seperti biasanya setelah susah payah untuk melupakan segalanya.
Hendak saja Ily akan menutup pintu rumahnya, Elvan menahannya dengan wajah memelas.
"Kenapa sih lo? Kok nggak luluh?"
"Heh, gue bukan cewek murahan, ya!" seru Ily marah.
Elvan meringis, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan menatap Eza dengan frustasi. "Gimana, dong?"
"Eh, Ly," kata Eza setelah mendapat sebuah ide, ketika menoleh pada seseorang yang sedari tadi diam dan sosoknya terhalangi oleh pintu dari Ily.
Ily menatapnya garang. "Apa?"
__ADS_1
"Lo nggak tau kita bawa siapa?"
"Lo jangan bawa orang sembarangan, dong, ah," kata Ily kelewat emosi sampai berkata-kata tak sopan pada calon tamu di rumahnya. Dengan wajah kesal, ia berjalan ke luar dan menemukan sosok yang membuatnya terkejut bukan main. Alisnya menukik tajam. "Lah, lo ngapain di sini?"
Raihan tertawa canggung sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Pengen ikutan lo pada, mau makan-makan, kan?"
Ily memejamkan matanya frustasi. Kemudian menoleh pada Elvan dan Eza bergantian. Matanya menyiratkan sesuatu dan Eza menangkapnya. Karenanya, Eza segera menoleh pada Raihan dengan wajah tak enak.
"Han, boleh ke sana sebentar, nggak? Ily mau ngomong dulu sama gue sama Elvan," kata Eza memohon ijin.
Raihan tersenyum, sebenarnya merasa sakit hati dan terluka. "Boleh. Yaudah, gue ke depan dulu. Kalian bertiga ngomong aja dulu. Lama juga nggak apa-apa."
Laki-laki berbaju biru itu kemudian berbalik dan berjalan ke arah gerbang keluar rumah Ily. Ily menatapnya dengan pandangan bingung. Terasa aneh karena Raihan tiba-tiba bersikap sopan dan penurut.
Namun, Ily tak mempermasalahkan lebih panjang tentang perubahan sikap Raihan itu, justru lebih fokus untuk memarahi dua laki-laki lain yang sering membuat amarahnya muncul lebih lama.
"Punya dong, ege," jawab Elvan ikut jengkel, telunjuknya menunjuk keningnya dengan mata melotot. "Nih, otak, nih."
Sementara Eza hanya mampu menipiskan bibirnya, berusaha menguatkan mentalnya untuk kena semprot Ily yang menyayat hati.
"Kalau punya dipake, dong. Ajak Raihan segala, emangnya dia udah temenan sama kita tiga tahun lebih? Mana bisa dia masuk rumah gue, pasti ayah ibu gue marah kalau tau. Lo berdua kenapa nggak mikir sampai situ, sih?" Ily ternyata frustasi, tampak akan menangis hingga Elvan segera mendekat, namun Ily langsung mundur menjauhinya. "Sekarang gimana? Masa lo usir dia gitu aja?"
"Gampang, Ly," tukas Eza cepat. Wajahnya berubah penuh penyesalan. "Kita yang salah. Kita mundur aja bertiga. Maaf udah ganggu waktu lo. Ayo, Van."
Mata Elvan membelalak kaget, menatap Eza dengan pandangan tak percaya. "What? Lo gila, ya? Kita kan niatnya buat hibur Ily, kok lo malah nyerah, sih?"
"Apa?" Ily bertanya dengan terkejut. Menatap Elvan dan Eza dengan pandangan bingung. "Lo berdua mau hibur gue?"
__ADS_1
Eza menepuk keningnya dengan frustasi dan hanya bisa merutuki Elvan dalam hati berkat kecerobohannya dalam berkata-kata, sementara Elvan langsung membungkam mulutnya dengan wajah tak berdosa, Elvan keceplosan.
"Ya, lo kan lagi sedih, Ly," balas Eza takut-takut. Menatap Elvan berkali-kali untuk minta pertolongan, namun sahabatnya itu terlalu dungu untuk mengerti kodenya. "Gini, Ly. Kita nggak ada niatan ngejek lo, kok. Kita mau hibur lo. Tadi di kelas lo kayaknya abis nangis."
Ily mendengus, melipat keduanya tangannya di depan dada sambil memalingkan wajahnya yang mulai akan menangis. Hal itu membuat Elvan dan Eza berharap-harap cemas sampai bingung sekali kau berbuat apa.
Pada akhirnya, setelah angin berhembus berkali-kali, Ily melangkah mendekat sambil menggigit bibirnya. Kemudian, merentangkan tangannya dan memeluk Elvan serta Eza dengan tangis yang pecah.
"Lo berdua tau gue lagi sedih dari mana, sih?" tanya Ily terharu, dengan air mata membanjiri wajahnya. Rasanya Ily kembali teringat dengan penyebab kesedihannya dan menumpahkan kembali sekarang. "Gue emang lagi sedih sekarang."
Tangis Ily mulai bersuara, membuat Elvan dan Eza kehabisan kata-kata dan upaya. Namun, mereka mengangkat tangannya, memeluk Ily lebih erat seraya menepuk-nepuk punggungnya agar perempuan itu merasa baik.
Ily terseguk-seguk, mengelap air matanya dengan kasar dan melepas pelukan itu dengan cepat setelah merasa malu dan terkesan berlebihan. Setelah pelukan singkat itu terlepas, Ily langsung memasang wajah berseri, lengkap dengan senyuman lebar.
Elvan dan Eza menatap wajah Ily yang berubah sedrastis itu dengan harap-harap cemas. Takutnya Ily mengidap bipolar atau kepribadian ganda.
"Yaudah, ayo masuk!" sambut Ily seraya membuka pintu rumahnya lebih lebar. "Ajak Raihan juga. Kalau ayah sama ibu marah, lo berdua harus tanggung jawab, ya!"
Elvan mengacungkan jempolnya dengan senyuman lebar. "Siap, bosku!"
"WOI, RAIHAN, AYO MASUK!" seru Eza pada Raihan yang sedari tadi berada di luar gerbang sana. Eza tertawa bahagia, kemudian masuk ke dalam rumah Ily setelah Raihan mengikuti di belakangnya.
"Kok bisa gitu?" tanya Raihan penasaran.
"Biasalah, cewek emang makhluk yang paling sulit dimengerti. Tadi marah, sekarang ramah," balas Eza, merasa masih belum paham juga dengan pribadi Ily.
Raihan tertawa karenanya. Kemudian, mengagumi isi rumah perempuan yang dulu ia kagumi.
__ADS_1
***