
Ujian Nasional telah berlalu.
Ily melaksanakannya dengan lancar. Pikirannya tak kacau dan dirinya tak berpikir masalah lain selain mencari jawaban yang paling telat, kini hanya tersisa harap dan doa serta berserah diri pada takdir yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta. Yohan sama sepertinya, justru laki-laki itu tampak lebih santai seolah pernah melakukannya berulang kali saat kenyataannya Yohan baru mengalaminya kali ini, tahun ini.
Berbeda dengan Ily dan Yohan, Eza justru sibuk mencari bocoran soal pada satu hari sebelum Ujian Nasional dilaksanakan. Memang bodoh, namun entah bagaimana laki-laki itu tampak santai ketika UN selesai. Elvan beda lagi, laki-laki itu terlihat stress dan tertekan. Bahkan ketika hari terakhir UN telah berakhir, dalam video-call grup yang berisi Ily, Yohan, Eza dan Elvan, Elvan terlihat sangat depresi hingga menyeletuk sesuatu yang membuat Ily tertawa.
Entah sejak kapan keempatnya bisa selengket ini, namun sesuatu yang baik memang selalu datang tanpa bisa disadari.
"Gue pengen gantung diri, tapi nggak ada duit buat beli tambang," keluh Elvan dengan wajah cemberut.
"Najis, njir," komen Eza yang melihat wajah cemberut itu. "Pake rapia kan bisa."
"Bener, tuh," kata Ily ikut menyemangati niat Elvan yang pastinya hanya bualan semata.
"Lebih ampuh paket racun tikus," saran Yohan dengan kekehan geli.
Elvan berdecak melihat reaksi ketiga temannya ini. Wajahnya berubah tajam dan serius. Ily, Yohan dan Eza sudah ancang-ancang jika Elvan akan meledak-ledak marah saat ini.
"Kita putus!" seru Elvan dengan wajah yang lagi-lagi disedih-sedihkan. "Aku kan lagi sedih, masa dibikin sedih lagi. Semangatin, dong! Yohan, katanya kamu suka traktir Ily. Kok aku nggak?"
Ily tertawa ngakak. Eza lagi-lagi mengumpat dan Yohan yang dijadikan saran Elvan, hanya mampu mengela napas dengan sabar. Yohan menahan diri agar tak mengumpat keras seperti Eza atas kelakuan najis Elvan.
"Maaf, ya, gue hanya memberi traktir pada Ily, yang sudah berjanji untuk menjadi teman gue selamanya," jelas Yohan serius.
Elvan melotot kelewat semangat. "Yaudah, gue juga mau jadi temen lo selamanya!"
"Oh, jadi ini yang bikin Ily mau temenan sama Yohan. Ada udah dibalik batu, rupanya, guys!" seru Eza mengompori suasana.
"Nggak gitu, Yohan," kata Ily memelas, membela diri sebisa mungkin. "Aku tulus temenan sama kamu. Kalau karena traktiran, aku mana peduli sama kamu sekarang. Kamu makan belum?"
Yohan terkekeh geli. "Belum."
"Najis, Ly, modusnya kecium banget," tukas Eza sambil berdecak.
"Dasar ular," tambah Elvan jijik.
"Yaudah, kita mau makan apa, nih?" tanya Ily tanpa peduli cacian dan kalian dari Elvan serta Eza. Ia menatap Yohan di layarnya dengan senyum lebar. "Yohan, kamu tau masakan Padang?"
"Ha? Apa itu?" tanya Yohan tertarik. "Aku akan mencobanya. Aku akan traktir kalian."
"Yeay!"
Ily bersyukur dapat mengenal seseorang seperti Yohan. Elvan dan Eza ikut senang karena keduanya juga belum makan.
"Kumpul di mana, nih?"
"Rumah Ily?" saran Yohan.
"Boleh." Ily menyetujui.
"Otw!" seru Eza riang.
"Mangkat!" sambung Elvan tak kalah semangat.
Pasti menyenangkan bisa berkumpul langsung setelah melewati Ujian Nasional yang bagai jembatan curam yang dibawahnya terdapat duri-duri panas. Saling mengeluarkan keluh, mengobati bosan dan memudarkan stres.
Itu gunanya teman.
***
"Udah seneng-senengnya?"
Suara ramah Ibu menyapa ketika Ily melepas sepatunya setelah membuka pintu. Ily baru saja pulang dari acaranya bersama Elvan, Eza dan Yohan. Senyum Ily langsung mengembangkan dan menghampiri ayah ibunya yang sedang menonton TV di sofa. Ily duduk di antara keduanya.
"Udah, dong! Rame banget sih tadi. Ada Elvan sama Eza yang nggak absen buat debat. Yohan diem aja, tapi sekalinya bicara bikin Ily serangan jantung." Ily curhat begitu saja. "Masa Eza ajarin Yohan cara modus? Yohan terus ngasih Ily kata-kata rayuan alay dari Eza. Nggak tau dari kapan mereka jadi bisa akrab gitu. Aneh."
Ayah tertawa. "Wajarlah, cowok emang gampang akrab, karena nggak saling jaim. Ayah juga dulu waktu muda gitu. Sama kenek angkot juga ayah akrab kayak sama kakek sendiri."
"Jangan suka jealous gitu. Mereka nggak mungkin lebih dari teman," tambah Ibu mencoba menenangkan Ily.
"Ish, Ily bukannya jealous," bantah Ily langsung. "Cuma nggak nyangka aja. Padahal dulu mereka tuh kayak kucing sama anjing kalau ketemu. Eh, sekarang lengket banget kayak lem tikus."
"Yaudah sih, bagus aja," balas Ibu santai.
"Iya, sih," kata Ily mengiyakan.
"Yohan tuh anaknya emang gimana, sih? Ayah belum pernah ngobrol," kata ayah penasaran.
"Ganteng, Yah," jawab Ibu tanpa ragu. "Keturunan Korea tuh emang beda. Kulitnya tuh mulus banget kayak porselen. Anaknya juga tinggi, wangi, intinya idaman dah buat dijadiin mantu."
Mata Ily melotot. "Ibu lupa sama Shawn Mendes?"
"Siapa tuh?" tanya ibu polos.
Ily memutar bola mata. Kemudian beralih pada ayahnya dengan mata memelas. "Ayah.... nggak berpikir yang sama seperti ibu, kan?"
"Ibumu udah ngode tuh," kata ayah dengan senyum geli. "Ayah sih pengen ketemu dulu, baru mutusin. Lagian kamu baru mau lulus SMA, belum waktunya buat mikirin nikah-nikahan."
Ibu berdecak. "Tapi, Yah, perempuan itu jangan mau nikah tua. Setidaknya dua tahun lagi Ily udah punya gandengan."
Ayah mengangguk-angguk. "Iya, ayah setuju. Tapi kembali lagi ke Ily, ayah nggak mau maksa kamu, nak."
Ily tersenyum lebar, kemudian memeluk ayahnya dari samping dengan erat. "Sayang ayah, deh!"
"Ke ibu?" tanya Ibu yang iri melihat Ily memeluk ayah.
"Sayang juga!" seru Ily ceria, benar-benar terlihat seperti anak kecil yang baru masuk TK.
Ayah tertawa, kemudian merentangkan tangannya untuk meraih ibu dalam pelukan. Ily diapit di antara ayah ibu. Mereka benar-benar mendefinisikan bagaimana keluarga yang sebenarnya. Ily memejamkan matanya, merasa nyaman dan berharap momen bahagia ini tak akan pernah berakhir.
"Ayah liat aja Yohan langsung nanti," kata Ily dalam pelukannya. "Jadi bisa mutusin gimana ke depannya."
__ADS_1
"Hm?" Kening ayah mengerut bingung. "Jadi, kamu mau dinikahi sama Yohan?"
"Pasti. Mata Ily udah beda waktu liat Yohan, ibu udah sadar dari awal," jawab ibu tanpa diminta.
Ily menjerit tertahan di dada ayahnya. Bahkan tangannya *** kuat baju bahan ayah. Menggambarkan betapa malunya dia sekarang.
"Ily suka Yohan, tapi malu ngakuinnya," kata Ily dengan wajah yang sudah seperti kepiting rebus.
Ibu tertawa, melihat anaknya menjadi seperti itu saat jatuh cinta. "Kenapa malu, hm? Dulu aja ibu yang duluan ngaku suka sama ayah."
"Hah? Serius, Bu?" tanya Ily tertarik, langsung melepaskan pelukan dan menatap ibu dengan penuh minat. "Kok bisa?"
"Ayahmu, nak," kata ayah tiba-tiba, membuat Ily menoleh padanya dengan pandangan bingung, "ayahmu ini pemalu. Tak bisa mengaku saat hati sudah tak bisa dibantah. Pada akhirnya, ibumu memberanikan diri. Karenanya, sekarang kami bersama. Lalu, tercipta kamu, pelengkap bahagianya ayah dan ibu."
Ily tersenyum malu-malu. "Kalau Ily jadi ibu, akankah Yohan punya perasaan yang sama seperti ayah?"
"Sekarang kebalik. Yohan adalah ibu, sementara kamu adalah ayahmu. Percaya, deh," kata ibu dengan senyum menenangkan.
Ily menutup wajahnya dengan kedua tangan, tak kuat menahan malu meski pada kenyataannya itu adalah orang tuanya. Ily benar-benar tak bisa terbuka hatinya pada siapapun dengan nyaman.
"Kamu kenapa sih?" Ayah bertanya dengan bingung. "Kok tutup muka gitu?"
"Ily malu, Yah, aduh," kata Ily pelan. "Takutnya sekarang Ily kegeeran Dan kenyataannya Yohan nggak suka Ily. Ily kan nggak cantik, tapi Yohan kan ganteng."
Ayah berdecak kesal. "Kamu cantik, nak. Percaya ayah, deh."
"Iya, kamu cantik, sayang," tambah Ibu ikut menenangkan dan mengelus lembut rambut Ily. "Percaya ibu, deh. Keturunannya ibu nggak pernah jelek."
"Keturunan ayah juga, kali!" seru ayah protes kecil.
"Iya, iya," balas Ily dengan kekeh kecil. Hatinya benar-benar terasa hangat dengan dukungan kedua orang tuanya. Lagi, ia memeluk ayah ibunya dengan erat. "Ily sayang ayah ibu. Makasih udah jadi orang tua terbaik bagi Ily."
Ayah dan ibu membalas pelukannya sama erat. "Sama-sama, nak."
Ily mengangguk dalam pelukan keluarga bahagia itu. "Ah, iya, besok Ily mau persiapan ulang tahun sekolah buat Minggu depan. Kayaknya pulangnya bakal larut. Ijin, ya."
"Nanti ayah jemput aja," balas ayah langsung. "Bilang kalau mau pulang."
"Oke! Makasih, ayah!"
***
Sudah menjadi tradisi bahwa satu minggu setelah Ujian Nasional, sekolah akan berulang tahun dan mengadakan festival kecil yang mana setiap kelasnya mengadakan kreasi yang dapat menguntungkan semua pihak.
Dengan kebebasan berkreasi, seluruh siswa diharapkan dapat menjadi kompak dan lebih kreatif dalam festival ini. Waktu yang cukup singkat disediakan tentunya untuk melatih seorang siswa untuk berpikir kritis.
Ily sudah melewati dua tahun dengan menyiapkan kreasi. Kelas sepuluh ia hanya membuka cafe sederhana dengan foto booth yang latarnya estetis. Kelas sebelah kelasnya membuat sebuah hotel di mana pengunjung akan merasakan bagaimana menjadi sultan. Keduanya cukup kreatif menurut Ily. Tidak seperti kelas ujung yang hanya menghias kelas dan membuat pameran jadi-jadian yang isinya lukisan absurd karya anak kelas yang lumayan nakal. Ataupun tak semewah kelas unggulan yang menyiapkan diskotik dengan budget luar biasa tinggi sebab menyediakan makanan khusus tamu VIP.
Kemudian kini, tahun terakhirnya, Ily berharap bisa membuat sesuatu yang unik dan menyenangkan. Kelasnya sudah berdiskusi, sebenarnya diskusi secara langsung menyampaikan pendapat, namun masing-masing orang menuliskan tempat impian di secarik kertas dan mengumpulkannya di ketua kelas, Bima.
Laki-laki itu secara tegas dan serius berdiri di depan papan tulis dan mulai membuka gulungan kertas untuk disuarakan dan dicatat oleh Guna, sekretaris kelas, di papan tulis.
"Tempat arisan," kata Bima, membaca kertas pertama dan itu membuat beberapa murid kelas tertawa.
"Gue yakin yang nulis cewek nih, pasti," tukas Alfin dengan nada percaya diri.
"Bacot lo ah," balas Maira sebal.
"Ketauan dah siapa yang nulis," kata Gua yang duduk di belakang Maira, cewek agak rempong dengan kuku yang selalu dicat hitam meski setiap kali guru BK selalu menegurnya.
"Udah, udah," lerai Bima, tanpa lama ia menyuarakan banyak kertas dan isinya macam-macam. "Diskotik," katanya, "toko bunga, tukang cukur rambut, gym, kolam renang, TK, Akmil, pasar tradisional, butik, rumah hantu, rumah hantu, salon, foto studio, pameran musik, bioskop..."
Ily mendengarkan dengan seksama. Tak ada yang diskusi tadi, memang, jadi jawabannya sangat beragam dan hampir tak dapat menghasilkan keputusan yang disuarakan banyak orang. Terlalu banyak pendapat yang tak bisa disatukan.
Hingga kertas terakhir, tak ada hasil yang memuaskan. Semuanya melihat papan tulis dan hanya terdapat keputusan dengan dua suara di sana. Sisanya hanya satu suara.
"Ya, seperti yang bisa kita liat," kata Bima mulai memutuskan. "Kita bakal bikin rumah hantu. Nah, kita putusin mulai sekarang pembagian seksinya."
Ily mendesah, kecewa dengan keputusan aneh ini. Yang lainnya tak jauh sama. Baru menyadari Yohan sedari tadi hanya diam, Ily mencolek bahunya hingga laki-laki Korea itu menoleh padanya.
"Kamu menulis apa?" tanya Ily langsung.
Yohan menarik tersenyum kecil. "TK."
Ily menahan tawa, hingga kini wajahnya terlihat lucu dengan mulut yang ditutup satu tangan. Matanya melotot dan mengerjap lucu, membuat Yohan merasa gemas sekaligus malu karena ditertawakan.
"Aku ingin kembali menjadi anak kecil. Tak ada masalah, tak ada stress ataupun keresahan anak SMA. Yang ada hanya bermain, bersenang-senang. Kita dapat tertawa tanpa beban. Aku ingin seperti itu." Yohan berdeham dengan wajah yang dibuat sekeren mungkin. "Karenanya aku memilih Taman Kanak-kanak."
"Lucu sekali kamu," kata Ily sambil tertawa kecil. "Tapi aku setuju, sih."
"Nah, kan," balas Yohan merasa besar kepala. "Kamu sendiri menulis apa?"
"Aku suka bunga," balas Ily, "karenanya--"
"Kamu menulis toko bunga." Yohan memotong dengan senyum yang memperlihatkan gigi putihnya. "Terlalu simple. Aku bisa menebaknya."
"Oke, kita udah bagi, nih. Ada yang mau protes?" suara Bima membuat Ily dan Yohan mengalihkan pandangan padanya, menaruh perhatian pada papan tulis yang telah tercatat pembagian seksi. "Judulnya 'Hantu Besok Pensiun'. Konsep kita adalah menjadi banyak macam hantu, menakut-nakuti pengunjung dan memberi pesan kita sebagai murid yang sebentar lagi lulus. Gue serahin tentang dandanan kalian, tapi tentang dekor, konsumen, dokumentasi dan pengarahan pengunjung, kita lakukan sama-sama. Oke?"
Semua anak di kelas mengangguk, tampak setuju dan mulai semangat karena ini merupakan tantangan yang baru. Begitu pula dengan Ily. Ia menjadi seksi dekorasi dan menjadi hantu. Sepertinya ia perlu belajar make-up untuk hantu. Sementara Yohan, tampak tak ambil pusing meski dirinya menjadi seksi acara yang terbilang sangat sibuk dan bertanggung jawab atas kelancaran acara nanti.
Yohan menoleh pada Ily dengan wajah polos. "Bantu aku, ya?"
"Hm? Bantu apa?" tanya Ily tak paham.
"Menuntaskan tugasku. Aku belum berpengalaman tentang festival ulang tahun sekolah ini."
"Ashiap!" seru Ily dengan cengiran lebar sambil mengacungkan jempolnya di depan wajah Yohan. Kemudian matanya membulat lucu saat teringat sesuatu. "Ah, ya. Yohan, kata ayahku, dia mau ketemu sama kamu."
"Ayahmu?"
"Iya."
__ADS_1
"Untuk apa?"
Ily **** senyum, menahan malu. Kemudian berdeham keras untuk memasang wajah datar, menyadarkan diri agar tak terlalu percaya diri. "Katanya dia ingin tau kamu anaknya seperti apa."
"Oke. Baiklah. Pulang sekolah ini, langsung ... cus?" Yohan berkata tak yakin dan itu membuat Ily mengenyit bingung.
"Belajar dari mana kamu kata-kata seperti itu?"
Yohan memasang cengiran polos. "Eza."
"Ah, sudah kuduga."
***
"Rasanya sudah lama, ya," kata Yohan menyambut Ily Yang baru keluar dari gerbang rumahnya. Yohan yang memakai hoodie abu-abu dengan Converse sudah duduk di atas motornya.
"Apa?" Ily bertanya seraya mendekat.
"Kita tak boncengan."
Ily hanya tertawa. Seolah sudah terbiasa, ia naik ke atas motor Yohan dan Yohan langsung melajukannya menuju cafe tempat yang telah disepakati sebelumnya.
Dalam perjalanan, Ily merasa perkataan Yohan ada benarnya. Rasanya sudah lama mereka tak berboncengan seperti ini. Seperti ada rindu dalam hati Ily yang telah terselesaikan.
Tak sampai sepuluh menit, tanpa percakapan, mereka telah menempuh jarak sampai kini berada di kursi dekat jendela. Elvan dan Eza belum datang hingga Ily memesan es tea lemon, sementara Yohan memesan green tea yang membuat Ily melongo dibuatnya.
"Kamu suka green tea, ya?" Tanya Ily sambil menahan tawa.
"Memangnya kenapa? Apa ada larangan untuk meminum green tea?"
"Nggak sih, tapi lucu aja. Jarang sekali laki-laki suka green tea." Ily menjelaskan. "Elvan bilang green tea itu rasanya seperti pacar Arab dan Eza bilang green rasanya seperti kotoran sapi. Padahal, warnanya saja yang sama."
Yohan mendelik. "Mereka tak tau seni dan rasa sesungguhnya dari green tea."
"Menurutku green tea rasanya seperti air bekas mencuci beras," tukas Ily tanpa berpikir panjang.
Mata Yohan berubah tajam, benci dan kesal. Tak menyangka jika Ily akan mencerca minuman favoritnya sampai sebegitunya. Pada akhirnya, Yohan mendelik kecil sambil meminum green tea-nya dengan wajah keren.
"Wajar kita punya perbedaan tentang apa yang kita suka." Yohan tersenyum kecil. "Tak perlu dijadikan masalah."
"WEO!"
"YO, WHAT'S UP, MAN?!"
"Inginku segera menghilang dari sini," kata Ily sambil meringis ketika mendapati kedatangan Elvan dan Eza yang langsung berteriak hingga beberapa pengunjungnya menatapnya dengan bingung.
"What's up, Za," balas Yohan pada Eza yang mengulurkan tangannya untuk dijabat ala-ala.
Ily sedikit mendelik melihatnya, kemudian mendengus saat Elvan menempati kursi di sebelahnya yang kosong. Laki-laki itu langsung menyambar menu dan mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan.
"Beli ini, ini, ini," kata Elvan setelah satu pelayan mendekat padanya dan bersiap mencatat apa yang akan dipesan. "Empat. Samain semuanya."
Yohan, Eza dan Ily hanya diam ketika pelayan itu pergi dan meminta mereka untuk menunggu hidangan. Elvan menatap tiga temannya dengan bingung setelah memesan sedemikian rupa.
"Apa, sih?" Elvan jadi risih sendiri.
"Lo mau traktir?" tanya Eza mewakili Yohan dan Ily.
"Kok jadi gue? Kan dia yang mau traktir," balas Elvan sambil menunjuk Yohan dengan santai.
"Terus kenapa lo yang persen, ege," kata Eza kesal, berlagak mencakar wajah Elvan dengan kedua tangannya. "Gue kan nggak mau persen yang lo pesen."
"Ck, ah, udah terlanjur," kata Elvan santai.
Ily memutar bolanya dengan sebal. "Lo tuh di mana-mana emang nyebelin, ya."
"Gue iri liat lo berdua." Elvan mengaku tiba-tiba, menatap Yohan dan Ily bergantian. Kemudian menatap Eza dengan prihatin. "Padahal gue sama Eza lengket banget sama Ily. Sekarang Ily kayaknya banyak main sama temen barunya. Gue liat mereka suka ke Alfamart bareng, pulang bareng, berangkat bareng, ke kantin bareng."
Yohan tersenyum, merasa menang. "Memang sih, kita sudah berteman sedekat itu."
Ily terbatuk-batuk. "Jangan begitu, Yohan," katanya memperingatkan karena kini Yohan selalu mengatakan hal-hal yang membuatnya amat terkejut.
"Baiklah," kata Yohan menurut.
Sementara itu, Eza menghela napas, mengakui perkataan Elvan sepenuhnya. "Gue udah dilupain, kayaknya."
"Ish, kok kalian gitu?" tanya Ily tak mengerti. "Gue nggak pernah lupain kalian berdua meski kelakuan kalian itu udah nggak masuk di akal. Gue sabar, apalagi saat kalian berdua ngasih kado aneh di ultah gue. Gue pasti bakal buang kalau lupain kalian. Semua kado-kado itu gue kumpulin. Masih lengkap sampai sekarang."
Elvan dan Eza saling bertatapan. Kemudian tertawa bersamaan sebab mendapatkan air yang sama dari pernyataan yang diberikan Ily.
"Gue kan udah bilang batu-batu bata itu buat lo bikin rumah," jelas Elvan tanpa diminta.
"Iya, gue paham," balas Ily sabar. "Tapi kado yang dikasih Eza? Itu artinya apa?"
Eza tertawa. "Ah, iya. Gue selalu ngasih barang-barang yang rusak, ya."
"Iya, anjir. Itu nyampah banget di halaman belakang gue," kata Ily kesal.
"Itu artinya gue ingin lo memperbaikinya." Eza menjelaskan. "Dengan Lo memperbaikinya, itu artinya lo punya keahlian. Mulai dari menjahit, karena memperbaiki boneka yang udah gue sobek-sobek. Kreatif, karena mungkin lo bikin sesuatu dari botol bekas minuman soda. Bisa berbisnis, karena mungkin lo bikin gelang dari sebelah tali sepatu yang gue kasih. Gue pengen lo bisa semuanya, punya banyak keterampilan."
Atas penuturan yang tak pernah Ily duga, ia terdiam lama. Tak pernah ia sadari, bahwa arti kado yang menurutnya hanya setumpuk sampah itu amat berarti.
Sampai akhirnya pesanan datang, mereka sibuk pada makanan. Karena satu kesamaan dari mereka berempat, suka akan makanan dan tak membiarkan apapun merusak waktu makannya.
"Ah, enak," kata Eza saat makanannya telah habis.
"Ah, enak," kata Elvan ikut-ikutan.
"Ah, enak," sambung Ily tak mau kalah.
Yohan **** senyum, ia meminum green tea-nya seteguk sebelum akhirnya melakukan hal yang sama, "ah, enak."
__ADS_1
Pada sesuatu yang tak jelas itu, keempatnya tertawa.