
Juli, satu tahun yang lalu...
Lili berjalan malu-malu.
Hari ini hari pertama dia MPLS di SMA Aksara Nusa. Alasan mengapa Lili masuk ke sana karena SMA itu banyak menghasilkan siswa-siswi yang terampil dalam merangkai kata-kata.
Lili merapikan rambutnya yang dikepang dua, membuatnya tampak cupu sekali. Namun, apa boleh buat? Lili diperintahkan untuk begitu oleh salah satu seniornya. Bukan hanya diperintahkan untuk mengepang dua rambutnya sama besar, sama rata dan sama panjang, Lili juga diperintahkan untuk memakai tas dari kantung plastik bekas.
Sumpah, walau orang-orang lain pun penampilannya tak jauh beda dengan Lili, namun rasanya malu sekali.
Lili belum punya kenalan di sini.
Semua teman-teman di SMP-nya tak begitu banyak yang punya minat ke SMA Aksara Nusa karena pernah ada rumor bahwa ada siswa yang hamil dan menghamili sampai bunuh diri.
Namun, itu dulu. Begitu pikir Lili.
Sekarang, pastinya SMA ini sudah berubah. Lagipula itu beberapa tahun yang lalu. Iya, kan?
Iya ini aja biar cepet.
Kemudian Lili ke lapangan, berbaris dengan yang lainnya. Setelah menunggu beberapa lama, barusan anak kelas sepuluh itu dibagi ke dalam beberapa kelas yang disebut gugus. Lili masuk gugus C dan kini gilirannya masuk ke kelas dengan dipandu oleh seorang senior perempuan.
Lili inginnya laki-laki yang tampan, namun ia belum menemukannya.
"Masuk! Masuk!" seru senior itu. Entah siapa namanya, tapi wajahnya tampak garang hingga Lili menamainya Garong saja. "Cepetan! Dihitung nih, satu! Dua! Tiga!"
Seruan galaknya membuat anak-anak yang satu gugus dengan Lili buru-buru melangkah. Sampai Lili yang memang agak pelan langkahnya, tertubruk oleh seseorang dari belakang.
"Aduh!" seru Lili ketika dirinya hampir saja jatuh jika tak langsung menyeimbangkan badannya.
"Eh, sorry!" balas suara dari belakang.
"Oh, nggak apa-apa." Lili menoleh ke belakang dan mendapatkan wajah seorang perempuan yang tersenyum menyesal. Rambut sebahu perempuan itu didatangi puluhan jepit.
Pasti itu titah dari senior.
"Makasih," balas perempuan itu. "Eh, satu bangku, yuk. Paling belakang, tuh."
Mereka berkomunikasi dengan cara berbisik-bisik.
"Oke," tukas Lili setuju.
Keduanya akhirnya duduk satu bangku, paling belakang. Lili baru melepaskan kantong plastik yang dijadikan sebagai tasnya saat perempuan yang duduk satu meja dengannya mengulurkan tangannya.
"Gema," katanya memberitahu nama.
Lili menjabat tangan Gema dengan senyum lebar. "Lili."
Akhirnya Lili punya teman pertamanya.
"Orang Korea?" tanya Gema penuh selidik ketika memerhatikan Lili.
"Lah? Kok bisa tau?" Lili membenarkan letak kaca mata bulatnya dengan heran.
"Keliatan tuh kulit lo paling putih." Gema mendorong kecil bahu Lili. "Sirik gue."
"Hehe." Lili menunduk malu-malu. "Ayah gue orang Korea soalnya."
"Heh, yang belakang, jangan ngobrol!"
Suara itu sama-sama membuat Lili maupun Gema terkejut. Mata kedua perempuan itu membulat sempurna secara bersamaan. Bahkan menoleh ke depan pun mereka bersamaan.
Si Garong baru saja berseru pada mereka. Tatapannya seolah bisa membakar Lili dan Gema di tempat.
"******." Lili mengumpat pelan ketika melihat seorang senior mulai berjalan ke arahnya.
__ADS_1
"Sikat, Jae!" suara Garong terdengar memprovokasi.
"Ngomongin apa, Dek?" tanyanya tajam. Badge nama yang terjahit di dadanya membentuk dua kata; Nakasutra Jaelo.
Laki-laki berambut agak cokelat dan bertubuh tegap. Tak kurus dan tak juga gendut. Yang jelas, tampan dan punya lesung pipi saat dirinya tersenyum segaris karena kesalahan Lili yang mengobrol saat senior sedang berkoar-koar.
Eh?
Kenapa bisa ada seseorang yang terlihat seperti malaikat di sekolah ini?
Di sini lah Lili melihat seorang senuor yang lebih sering dipanggil Jae dan jatuh cinta pada pandangan pertama.
Bagaimana wajah tampannya bisa sangat terlihat tidak nyata, bagaimana mata hitamnya menatap Lili sedemikian rupa, bagaimana pesonanya seolah mengalihkan Lili ke dalam dunia lain.
"Nggak, Kak." Gema menjawab mewakili Lili yang masih Ter melihat eksistensi Jae.
"Serius? Kok tadi keliatan paling seru. Ayo lanjut dong ngobrolnya." Jae mengejek dengan wajah tajam. "Apa mau di depan ngobrolnya biar lebih cakep?"
Buset deh, muka malaikat, kata-kata sama aja iblisnya kayak senior yang lain. Lili meremas ujung bajunya karena gugup.
"Nggak, Kak." Gema lagi-lagi bersuara. Beruntung sekali karena Lili mengenalnya. "Maaf."
"Maaf, maaf, ciuh." Si Garong yang sedari tadi memerhatikan dari depan langsung memberi perintah. "Cepet lo berdua ke depan. Kenalin diri kalian dan ceritain rahasia gelap kalian."
"Hah?!" Gema dan Lili berseru bersamaan.
"Nggak mau?" Garing melotot.
Tak mau jadi bulan-bulanan lagi, akhirnya Lili dan Gema bangkit dari duduknya dan berjalan seraya menunduk untuk berdiri di depan seluruh teman-teman.
"Silahkan perkenalkan diri lo!" seru Garing tegas.
"Dari lo dulu aja," kata Jae seraya menunjuk Lili dan Jae tak tahu bahwa perlakuannya membuat jantung Lili berdegup kencang tak karuan.
Lili mengangguk kecil, menelan ludahnya dengan susah untuk untuk setelahnya bersuara, "Nama saya Liliana Kim--"
"Liliana Kim." Lili memperjelas. Sepertinya Jae belum pernah bertemu orang Korea. Lihat saja bagaimana lekatnya tatapannya meneliti Lili.
"Bukan asli Indonesia?" Jae bertanya penasaran.
"Campur Korea, Kak." Lili menjawab gugup tanpa bisa mempertahankan matanya untuk selalu menatap mata Jae. "Ibu Indonesia, Ayah Korea.
"Ooh." Jae mengangguk-angguk paham. "Sekarang sebutin rahasia gelap lo."
"Harus banget, Kak?" Lili enggan.
"Iyalah," balas Jae cepat. "Biar seru. Iya nggak?"
"Iya!" seru anak-anak gugus C.
Sial.
"A-aku pernah pulang ke rumah tanpa izin ke guru gara-gara kebelet pipis waktu SD." Lili memejamkan matanya, mengakui rahasia gelapnya sejak kecil.
"Hahahahaha."
Semuanya langsung tertawa. Lili pernah mengangkat wajahnya yang entah sudah semerah apa, hanya untuk menangkap Jae yang tertawa.
Aneh, Lili justru senang jika harus dipermalukan seperti ini karena Jae tertawa.
Cklk.
Suara pintu yang terbuka membuat semua orang menolehkan kepalanya pada sang pelaku pembuka pintu. Termasuk Lili. Seketika, tawa dari ruangan gugus C itu lenyap tak bersisa.
Ada seorang laki-laki yang berpenampilan sama seperti peserta MPLS yang lain di sana.
__ADS_1
"Ini gugus C?" tanyanya dengan nada santai.
"Berani banget telat." Jae langsung bersuara. "Harus dihukum apa, nih?"
Laki-laki itu tampak malas meladeni, jadi dia hanya diam saja. Tak seperti Lili yang dikepang dua atau Gema yang memakai banyak jepit rambut, laki-laki itu memakai kaos kaki beda warna dan sepatu merah dengan celana biru selutut.
Wajahnya yang tampan seperti patung dan fitur wajah yang mirip tokok komik membuat orang-orang tak melihatnya aneh. Semuanya terkalahkan karena dia terlihat tampan dalam situasi apapun.
"Yaudah, sini," kata Garong memberi arahan. "Perkenalkan diri lo dan ceritakan apa rahasia gelap lo."
Langkah laki-laki itu terlihat malas, namun tetap menurut. Akhirnya neridri di samping Lili. Dia menatap seluruh orang di sana dengan datar. "Nama gue Theodoric Efrad. Rahasia gelap gue ...."
Iya, dia Theo, temen-temen.
"Rahasia gelap gue ...." Theo tampak enggan membeberkan rahasia gelapnya, sama seperti Lili.
Semua orang menunggu.
Namun, Theo tak kunjung melanjutkan perkataannya. Lili gemas, langsung menyikut pinggang Theo.
Theo menoleh padanya. Lili malah melotot, menyiratkan untuk Theo cepat-cepat berbicara lagi.
Theo memutar bola matanya. "Boleh gue minta pertanyaan yang lain?"
Jae tertawa. "Gimana, men temen?"
"Nggak bisa, dong!"
"Harus adil!"
"Semuanya kasih tau rahasia gelap."
"Nah, bisa dengar?" Jae menatap Theo dengan satu alis terangkat, menantang. "Nggak bisa ganti pertanyaan.
"Gue pernah tawuran." Theo menyuarakannya dalam satu tarikan napas pasrah.
"Wooooo."
"Wau."
"Extrim, Bosku."
"Bukannya tawuran itu ilegal, ya?"
Semuanya memberi reaksi yang sama. Terkejut, takut, takjub sekaligus agak jijik, mungkin. Membuat Theo tak nyaman, namun dia hanya mampu mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Lili saja tercengang. Rupanya, dari awal Theo sudah terbuka dengan keburukan kelakukannya jika dipaksa. Na--
Oke, oke, fokus.
Sekarang Lili bukan mengenang Theo, tapi Jae. Fokus.
Hari berikutnya, Lili benar-benar sadar dirinya menyukai Jae lebih dari suka dirinya pada Gema. Lili juga mencari media sosialnya dan teman-teman dekatnya. Dari dulu, Jae sudah menyukai dunia perfilman. Kakak kelasnya itu suka mengabadikan banyak momen dengan kamera mirror less-nya, kemudian mengeditnya dengan apik.
Hari-hari selanjutnya hanya Lili jalani sebagai pengagum rahasia Jae, menjalin cinta dalam diam untuk laki-laki itu dan hanya mampu menatapnya dari kejauhan, melihatnya di kerumunan dan berdoa kala sepi sudah menyergap.
Lili tak begitu agresif pada perasaannya. Lili hanya cukup merasakannya. Untuk mengungkapkan ataupun mencoba untuk memiliki, Lili tak pernah berani.
Lili pernah beberapa kali jatuh cinta, namun tidak berakhir dengan sebuah pengungkapan sebab Lili menguburnya dalam-dalam di hati.
Selama ini, Lili senangnya begitu.
Namun, Lili tak pernah mengira bahwa cintanya yang dikira tak akan pernah diberi kesempatan menunjukkan eksistensinya, kini bisa dilihat Jae.
Jae melihatnya sebagai Lili, mengenalnya sebagai adik kelas yang membantu projek lombanya dengan menjadikannya sebagai cameo.
__ADS_1
Sekarang, waktunya Lili untuk unjuk kebolehannya.