
"Belum beres juga?"
Datang-datang, Theo bertanya begitu dan membuat Lili mendengus tak suka. Jam istirahat kedua baru saja selesai dan Lili sama sekali belum menunjukkan selesai mengerjap tugasnya maupun milik Theo.
"Ya lo pikir gue anaknya dukun apa? Gue nggak bisa langsung selesain ini. Otak gue juga rata-rata. Lebih masuk akal lagi kalau lo nyuruh Bima, secara dia ranking satunya Matematika." Lili berdecak kesal, menatap Theo yang badannya berbau bakso dan jus jeruk. Membuat Lili jadi lapar saja.
"Kalau ada guru masuk itu masalah lo."
Tidak ada manusia yang lebih kejam dari Theodoric Efrad. Lili bisa pastikan itu sekarang.
"Kalau nggak bantu, mending diem, deh," kata Lili terlampau kesal.
"Emangnya lo perlu dibantu?" Tanpa diduga, Theo bertanya.
"Seriusan kalau gue bilang apa yang gue butuhin, lo bisa menuhin?" tanya Lili ragu-ragu.
"Selama bukan bikin pesawat terbang." Theo menggedikkan bahunya tak acuh.
Lili mulai tersenyum. "Bekal gue udah abis. Perutnya masih bunyi. Boleh minta beliin sesuatu nggak? Roti--"
"Dit!" seru Theo, memotong perkataan Lili dengan memanggil seorang laki-laki yang duduk dua meja di depannya.
Laki-laki berkacamaca bulat yang bernama Adit itu segera berbalik dan menatap Theo. "I-iya, Theo?"
Sorot tajam dan tak terbantah Theo bahkan membuat Lili merinding di tempatnya. Bayangkan jika kamu berada di posisi Adit.
"Sini," pinta Theo.
"Iya?" Dengan cepat, Adit sudah berada di hadapan Theo dan Lili. Gestur laki-laki itu membungkuk, sudah seperti pembantu saja dan Lili menatapnya dengan ringisan kasihan.
__ADS_1
Hukum rimba juga berlaku di kelasnya, ah, tidak, sekolahnya.
"Beliin gue sesuatu," kata Theo untuk Adit, kemudian menoleh pada Lili. "Lo mau dibeliin apa?"
"Eh?" Mata Lili membulat dan mengerjap-ngerjap tak percaya. "Kok jadi nyuruh Adit? Nggak, ah, nggak mau. Gue nggak mau nyuruh temen sendiri apalagi dengan cara memaksa kayak lo."
Theo membuang napas jengah.
"Nggak apa-apa, Li." Adit langsung bersuara saat melihat raut wajah Theo. Adit menatap Lili dengan lembut. "Lo mau dibeliin apa? Gue juga sekalian beli air minum, haus juga. Hehehe."
Hati Lili jadi tersentuh. "Beneran nggak apa-apa?"
"Mana uangnya?" Adit langsung meminta. "Ayo, bilang. Lo mau gue beliin apa?"
"Roti sama teh botol." Lili menyerahkan selembar uang berwarna ungu pada Adit yang segera mengangguk.
Setelahnya, sosok Adit telah menghilangkan di belokan pintu keluar kelas.
Lili menatap Theo dengan mata menyipit. "Lo pake guna-guna, ya?"
"Maksud lo?" Kening Theo mengerut tajam.
"Kok bisa Adit jadi super penurut gitu?"
"Karena dia pinter." Theo menukas cepat. Wajahnya memancarkan kesombongan yang nyata, merasa sangat berkuasa karena semua orang tunduk padanya.
Lili juga pernah mendengar desas-desus mengenai pukulan Theo yang katanya bisa membuat seseorang langsung pingsan, namun Lili tak merasa takut karena itu. Theo sayang pada adiknya, artinya dia masih punya sisi lembut.
Melihat Theo, Lili selalu menganggapnya pribadi yang perhatian dan hangat setelah melihat perlakuan Theo pada Titi.
__ADS_1
"Kenapa dia pinter?" Lili masih tak mengerti.
"Dia tau pada siapa harus tunduk. Dia tau gimana harus bersikap pada yang paling kuat." Theo menatap Lili tajam. "Dia tahu diri. Nggak kayak lo."
"Kita sama-sama--"
"Kita beda," potong Theo cepat, matanya menyiratkan sorot ketidaksukaan yang nyata. "Jangan sampai lo melewati batas. Bahaya."
Lili justru semakin tertarik. "Emangnya seberapa bahaya lo sampai--"
"Bahaya yang nggak pernah bisa dibayangkan orang cupu yang suka halu sama buku-buku fiksi kayak lo."
"Waw." Lili merasa hatinya baru saja robek atas kata-kata tajam dan pedas Theo. "Lo nggak tau bagaimana arti buku-buku fiksi itu dan halu buat gue. Lo nggak usah menghina begitu."
Theo tertawa hambar. "Apa gue kedengaran sedang menghina?"
"Iya."
"Berarti mental lo lemah."
Usai berkata pongah begitu, Theo bangkit untuk keluar kelas. Entah ke mana tujuannya, tapi Lili dibuat hampir menangis atas kata-kata Theo barusan.
Theo baru saja menginjak-injak mimpinya.
Tahu bagaimana rasanya? Lebih pahit dari racun dunia dan lebih sakit dari tertembak tepat di jantung.
Bukannya jatuh, Lili justru terpacu untuk terus berada di jalannya dan membuktikan bahwa si cupu tukang halu dengan buku-buku fiksinya ini juga punya nilai yang tinggi dari aura yang dimiliki Theo untuk membuat seseorang tunduk dalam perintahnya.
***
__ADS_1