
"Jadi, Disa nggak mau dihubungin lagi sama lo. Intinya, putus hubungan aja. Dia berterimakasih ke lo karena udah suka sama dia." Lethan menjelaskan seraya menatap layar ponselnya yang menampilkan chat antara dirinya dan Dara semalam tentang Disa pada Luhan. "Itu kata Dara semalem. Tiba-tiba itu anak ngasih tau aja setelah dari kemarin-kemarin gue tanya-tanya dengan desakan karena gue risi liat lo ngelamunin Disa mulu."
"Oh." Luhan menyunggingkan senyum tipis di wajahnya.
"Cuma 'oh', hah?" tanya Lethan tak habis pikir.
"Terus gue harus ngomong apa lagi?" Luhan bertahan dengan wajah bingung. "Setidaknya gue lega aja karena gue bisa bebas. Gue bisa mancing lagi dengan tenang."
"Mancing mania, mantappppp!" Lingga langsung berseru dengan nada meledek
"Si Gelo." Luhan menahan emosinya sambil berdecak.
"Oh ya, gue udah ada rencana untuk segmen pertama channels YouTube Lalilule." Lingga mengambil topik yang berbeda dengan cepat, tanpa memikirkan bahwa Luhan masih dendam kesumat padanya.
"Apaan, tuh?" tanya Lethan tertarik.
"Gimana kalau kita perkenalan dulu? Jadi, setiap orang nih. Pertama pasti Langit dulu soalnya dia mewakili suku kata pertama dari nama channel kita yakni, La." Lingga menjalankan dengan mata lancar. Ya, gimana nggak lancar, Lingga memikirkannya semalam penuh, coi. "Nah, lo perkenalkan diri lo. Mulai dari nama, hobi, tanggal lahir, kesukaan-kesukaan, dan fakta-fakta unik lainnya. Nah, lanjut gue. Terus Luhan. Terus lo."
"Faedahnya apa, ****?" tanya Lethan kecewa. Dari semuanya, Luhan paling anti dengan public speaking atau speaking in front of camera. Gimana ya, teknisnya, Lethan itu lebih demen kerja di belakang kamera "Gue pengennya pamerin skill fotografi gue."
__ADS_1
"Ya, supaya orang-orang kenal aja. Kan enak kalau udah kenal, tinggal minta nomor, chat-an terus asek-asek dah." Lingga membalas dengan perasaan senang. "Buat pamer-pameran, bisa segmen selanjutnya. Gimana?"
"Yoi, lah." Langit langsung setuju.
"Jadi, besok langsung cus, kawan-kawan?" tanya Lingga memastikan.
"Ada konsumsinya nggak?" tanya Langit tanpa berpikir panjang.
"Celengan **** Luhan kan ada." Lingga membalas santai, tak menyadari bahwa Luhan menatapnya dengan tatapan menuju kebencian. "Masih banyak kayaknya. Terakhir kali gue liat sih, masih ada sepuluh lagi."
Langit mengacungkan dua jempolnya dengan senyuman lebar. "Siap, siap."
***
Belum lagi rumah Luhan itu yang paling sepi kalau sore-sore. Beda sama rumah Lingga yang memang besar dan nyaman, tapi berisik karena banyak orangnya. Lingga punya dua kakak perempuan dan satu adik laki-laki yang super berisik dan pecicilan. Rumah Langit sendiri bisa dibilang sepi karena hanya dia yang tinggal di sana. Namun mereka tak setuju untuk mengambil latar belakang video rekaman yang hanya putih dan hitam. Kalau bicara soal Lethan, jangan ditanya lagi, rumah laki-laki itu penuh laki-laki yang workholic dengan studio masing-masing di kamar milik sendiri. Rumah Lethan tak pernah sunyi. Ada tiga kakak laki-laki yang menggunakan rumah sebagai tempat bisnis.
Jadi, rumah Luhan yang paling oke. Ibunya Luhan juga baik karena memberi makan berupa brownies favorit.
Sayangnya, rumah Luhan ini terlalu gelap.
__ADS_1
"Halo, guys." Langit yang pertama take. Dengan terpaksa karena digunakan sebagai percobaan saja. "Kenalin, gue Langit Aldebaran."
Setelah begitu, Langit mengambil kameranya dan mengecek hasilnya. Meski telah dibuka gordennya, langit sore yang agak mendung membuang cahaya kurang bagus di videonya. Kalau diedit pun sepertinya kurang bagus.
Lingga berdecak. Menatap ketiga temannya dengan kecewa. "Wah. Ini terlalu susah, sih. Nggak akan bener kalau di-take di sini."
"Gimana kalau di luar aja?" tanya Luhan memberi saran.
Dan ketiga orang lainnya langsung menggeleng. Tiga orang itu bukan orang pemberani seperti kelihatannya. Luhan berdecak, kemudian berpikir lagi. Tiga orang lainnya melakukan hal yang sama kemudian.
"Kita coba di kelas. Yoi, nggak?" Lingga menawarkan solusi baru.
"Kalau di kelas ya berisik, dong, bege." Langit menukas cepat.
"Nggak." Lingga membantah tak kalah cepat dengan wajah yang penuh tekad. "Kalau pulang sekolah."
Mendengar ide yang lumayan oke, ketiga orang lainnya mengangguk-angguk setuju.
"Oh, oke sip."
__ADS_1
***