Dari Korea

Dari Korea
Dari Korea 2 54


__ADS_3

Yohan masuk ke kamar Ily saat Ily baru saja berbaring dan mematikan lampu tidur di sampingnya. Jantung Ily berdegup kencang, ia berusaha untuk menutup matanya saat ini. Tak mau dilihat Yohan karena malu sekali.


Membayangkan mereka akan tidur bersebelahan.


Suara Yohan yang bergerak dan seperti membuka laci lemari kecil di samping tempat tidurnya membuat Ily mengernyit, kemudian tak tahan untuk tak bersuara.


"Yohan, kamu lagi ngapain?"


Yohan terperangah di tempatnya. Kemudian meringis dan tersenyum takut-takut meski ia yakin Ily tak mampu melihatnya sebab penerangan yang minim. "Kamu ada obat, Ly?"


"Hah? Obat apa?" Saking khawatir akan sesuatu, Ily sampai bangun dari tidur.


Hal itu semakin membuat Yohan tak enak. "Maaf aku mengganggumu."


"Nggak apa-apa, Yohan. Kamu butuh obat apa?"


"Obat apa saja."


"Aku tak punya obat-obatan seperti itu. Mungkin harus beli dulu. Kamu butuh obat apa?"


"Obat ... tidur."


Ily menatap Yohan tak percaya. "Kamu selalu minum itu?"


"Jelas. Aku tak bisa tidur tanpanya."


Decakan Ily semakin membuat Yohan sedih karena sepertinya ia tak akan bisa tidur malam ini. "Aku nggak punya obat seperti itu, Yohan. Sejak kapan kamu begini? Obat tidur itu nggak baik, tau."


"Jika terpaksa, aku bisa apa?" Yohan membalas dengan putus asa. "Semenjak ayah menekankanku ... aku menjadi susah tidur. Setiap saat selalu berpikir untuk memuaskannya, memehuni harapannya, menghindari amukannya dan mencoba yang terbaik untuk menjadi yang utama."


Ily menatap Yohan prihatin. Pasti Yohan mengalami tahun-tahun yang berat lima tahun ini.


"Kenapa sekarang nggak mencoba untuk tidur tanpa obat? Sini," ajak Ily seraya menepuk-nepuk tempat yang ia kosongkan untuk Yohan berbaring.


"Kamu nggak takut?" Yohan sempat-sempatnya bercanda saat akhirnya dia duduk di atas ranjang Ily, menciptakan jarak yang sempit antara kedua wajahnya hingga Ily harus mundur supaya dapat bernapas dengan normal.


"Sembarangan," tukas Ily gegalapan. Kemudian perempuan itu cepat-cepat berbaring lagi, menghindari saat berhadapan dengan Yohan. "Udahlah, sekarang tidur aja."


Yohan tertawa kecil, kemudian ikut berbaring dan menutupi tubuhnya dengan selimut yang tersedia. Rasanya empuk, nyaman, meski agak sempit. Tak jauh beda dengan tempat Yohan tidur sebelumnya. Suasananya sepi, hening dan gelap.


Meski begitu, dibandingkan dengan tidur di Korea, di rumahnya yang sebenarnya, Yohan lebih merasa nyaman dan aman ketika tidur di sini. Sepi, gelap, hening, yang membuat Yohan dapat mengela napas lega tanpa harus berpikir untuk bangun pagi-pagi hanya untuk belajar dan ditekan habis-habisan.


Sekali lagi, Yohan ingin hentikan waktu saat ini. Supaya semua yang tengah dirasakannya jadi keabadian.


"Aku kaget banget waktu kamu tiba-tiba muncul di pagar rumahku, Yohan," ungkap Ily tiba-tiba, dengan suara pelan yang membuat Yohan sedikit kaget. "Aku hanya sedang memandang langit biru setelah menyiram bunga, lalu tiba-tiba muncul rambut dan setelahnya ada wajah kamu. Penampilan kamu waktu itu benar-benar membuat aku terkejut ... dan takut."


"Maaf karena muncul tiba-tiba. Situasiku benar-benar darurat." Yohan hanya mampu meringis.


Di sampingnya, Ily menggeleng pelan. "Tak apa, Yohan. Mungkin ... ini takdir."

__ADS_1


Yohan tersenyum tipis. "Aku pernah minta ijin untuk menginap di kamar kamu, Ly. Ingat tidak?"


"Ah, iya, waktu itu ayahku ulang tahun," balas Ily semangat karena ingat.


"Sekarang benar-benar terjadi," tukas Yohan ceria. "Benar-benar takdir, ya?"


"Senang mendengarnya begitu," kata Ily dengan senyum lebar.


"Aku juga."


Malam itu menjadi malam yang tak pernah Ily duga akan terjadi. Bahwa di kamarnya akan ada seseorang yang tidur bersebalahan dengannya, mengobrol dengannya tentang sesuatu yang berarti.


Rasanya ... seperti mimpi.


"Ly."


"Hm?"


"Katanya kamu menolak lamaran seseorang, ya?"


Mata Ily membulat terkejut. "Kok kamu tau?"


"Ayah baru saja cerita."


"Oh." Ily menipiskan bibirnya. "Memang benar. Dia temanku sejak SD. Aku memang pernah suka sama dia, tapi hanya sebatas itu dan nggak ada kemauan untuk sampai menikah gitu, Han."


"Ah, iya, aku mengerti."


"Nggak, kok, Ly. Justru aku semakin termotivasi."


"Hah? Termotivasi?"


"Untuk lakukan hal yang sama."


Panas yang luar biasa otomatis menyerah kepala Ily. Pipinya, telinganya dan wajahnya menjadi amat merah kini. Ily memejamkan matanya, tak sanggup untuk membalas karena ia paham bahwa suaranya akan seperti hewan pengerat karena gugup.


Tawa Yohan yang renyah terdengar kemudian. Membuat mata Ily kembali terbuka dan perasaan waspada.


"Aku sudah melakukan perjanjian dengan ayahmu, Ly. Perjanjian itu juga sampai ke telinga ibu kamu. Karenanya aku bisa nyaman memanggil kedua orang tamu dengan ayah dan ibu," jelas Yohan tiba-tiba.  Sempat membuat Ily mengernyit karena mengira Yohan akan terus membahas mengenai lamaran. "Kamu tidak bertanya tentang bagaimana aku bisa akrab memanggil kedua orang tua kamu seperti kamu sendiri. Aku barusan menjawabnya."


"Ah ... oh, iya," balas Ily masih juga salah tingkah.


Hening yang hakiki sepertinya sedang melingkupi. Keduanya tak memejamkan matanya, namun juga tak bersuara untuk salurkan rasa.


"Aku senang bisa kembali, Ly. Bisa melihatmu lagi dan merasakan betapa bahagianya punya keluarga," cerita Yohan kemudian, setelah sebelumnya berpikir panjang untuk mengeluarkannya atau tidak. "Jika kamu mau bertanya bagaimana hidup di Korea selama lima tahun terakhir, maka aku akan dengan lancar dan lantang mengatakan hidupku di sama seperti di neraka."


Napas Ily tercekat. Dirinya terperangah bahwa Yohan bisa dengan mudah berkata begitu.


"Yohan ... hidup adalah anugerah, kamu nggak boleh mengatakannya seperti itu," kata Ily memberi penerangan.

__ADS_1


"Tapi, Ly, kenyataannya memang begitu. Ayahku memaksaku untuk bangun pagi sekali, lalu membaca buku, belajar, memecahkan masalah, ikut bekerja dan rapat perusahaan. Aku tak dibiarkan untuk bermain atau bergaul dengan teman-teman, hingga aku kesal dan malah mengatakan kepadamu hal-hal yang menyakiti hati."


Ily menipiskan bibirnya, teringat pada saat telepon pertama dari Yohan yang dia terima dan justru ia salah artikan.


"Aku minta maaf karena itu."


"Aku juga," tukas Ily tanpa malu. "Aku justru mengatakan bahwa kamu bukan temanku lagi. Mulai waktu itu, aku berpikir untuk melupakanmu."


"Jahatnya...."


"Habisnya kamu berubah, Yohan."


Yohan mengela napas kecil. "Iya, maaf. Saat itu aku belum dewasa seperti sekarang. Ayahku juga nggak memberi kesempatan aku untuk telepon kamu lagi, Ly. Setiap saat, dia selalu mengawasi ku seperti aku ini tahanannya. Aku terkekang."


Mendengar kebenarannya, Ily terdiam lama. Dia paham betul bagaimana rasanya terkekang; tak bisa buat apa-apa; terbatas; terkurung dan tentu saja ... kesepian. Sebab Ily pernah merasakannya.


Bagaimana dia dirudung, dijauhi anak-anak, dikata-katai, dimaki-maki, hanya karena Ily punya tubuh yang lebih mungil dari yang lainnya. Semuanya membatasi diri dari Ily, seperti Ily adalah kuman bagi mereka.


Ily terkekang oleh kata-kata mereka hingga tak berani lagi untuk mengajak orang-orang menemaninya sepi hidupnya. Elvan dan Eza sudah cukup baginya.


"Apa sekarang ... kamu masih terkekang?" tanya Ily kemudian.


Terdengar helaan napas berat di sana. "Mungkin. Aku akan pulang dalam tiga hari ke depan."


"Kamu akan pulang lagi, Yohan?" Ily bertanya terkejut, bahkan sampai bangkit dari tidurnya, hanya untuk menatap Yohan yang balas menatapnya dengan sedih di antara remang-remang cahaya.


"Kamu lupa ya, Ly?" Yohan membalas dengan berat hati. "Aku dari Korea. Asalku dari Korea."


Ily mengela napas kecewa, kemudian berbaring lagi dengan perasaan putus asa. "Tak bisa kah kamu tinggal di sini saja? Selamanya di rumahku pun tak apa."


"Aku nggak bisa terus sembunyi dari masalah, Ly," balas Yohan, teguh pendirian. "Aku akan kembali dan selesaikan semuanya. Aku janji ... aku janji akan kembali lagi padamu, Ly."


"Berapa lama lagi aku harus menunggu?"


"Aku juga nggak yakin."


"Yah."


"Tapi, Ly, aku janji. Aku janji, Ly. Aku janji."


Ily tertawa hambar. "Janji dengan ayahku."


"Janji dengan kamu juga, Ly," tukas Yohan cepat. Nada suaranya memang tegas dan penuh keyakinan, namun Ily tak dapat melihat wajahnya kini hingga ada sedikit ragu dalam hatinya. "Aku janji akan kembali."


"Maksudnya janji kamu dengan ayahku sejak dulu itu tentang apa?" Ily menjelaskan perkataannya yang disalah artikan oleh Yohan. "Beritahu aku."


"Ah, yang perjanjian itu." Yohan mengangguk paham. "Itu tentang perjanjian aku untuk menikah dengan kamu, Ly."


Berkat jawaban Yohan itu, Ily tak bisa tidur semalaman. Jantungnya terus berpacu cepat hingga membuat matanya terus terjaga. Sementara di sebelahnya, seseorang yang katanya tak bisa tidur tanpa obat tidur, sudah menunjukkan bahwa dia telah terlelap dan berkecimpung dalam mimpi indahnya.

__ADS_1


Karena ketika Ily mengintip, wajah Yohan mengembangkan seulas senyum dalam tidurnya.


Serius, itu membuat Ily dua kali lipat untuk sulit tertidur. Untungnya, besok Ily tak ada kewajiban bekerja dengan kemungkinan akan tertidur saat jam kerjanya itu.


__ADS_2