Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 24


__ADS_3

"Bukan begitu, Theo. Fokus, dong!"


Theo terus dimarahi Ayahnya karena tidak bisa mengolah kata-kata dalam komputer untuk sesuai dengan apa yang Ayahnya inginkan.


"Kalau kamu masih mau menjadi anak Ayah, setidaknya nilai PPKn kamu harus 90! Bukan setengahnya kayak Minggu kemarin!"


Theo ingin menutup telinganya. Menutup segala kata-kata kasar yang selalu Ayahnya lontarkan ketika pada hari Minggu ia dites oleh Ayahnya. Ayah ingin menciptakan Theo yang seperti dirinya.


Yang berkuasa di ranah politik, yang punya pemikiran luas dan dikenal banyak orang sebagai seseorang yang punya kekuatan berbeda dari yang lainnya.


Ayah ingin Theo turut masuk dalam dunia politik yang sama sekali tak membuat Theo tertarik.


"Kamu harus fokus, Theo! Hei!"


Duak!


Ayah memecahkan vas bunga yang ada di meja. Theo sedari tadi membuat kesalahan. Theo sama sekali tak mengerti bahasa Inggris dan karenanya ia salah terus dalam mengklik arahan selanjutnya.


"Kami belajar nggak, sih?!" tanya Ayah muak. "Apa kamu ikut bimbel aja?!"


"Terus kalau aku ikut bimbel, Titi--"


"Makanya jangan ****!" potong Ayah cepat, sangat muak dengan pelayanan Theo yang selalu sama tiap kali Ayah ingin mendaftarkan Theo ke bimbel. "Dapetin ranking satu dan semuanya bakal mudah buat kamu, buat Ayah, buat Titi juga!"

__ADS_1


Theo menunduk. Kalaupun ia mendapatkan nilai bagus, bukan berarti ia bisa lepas dari Ayah.


Justru, jika ia mendapatkan nilai tinggi, kemungkinan besar Ayah semakin menekannya dan membuat waktunya untuk Titi tersita sangat banyak. Theo tak mau itu terjadi.


Karenanya, ia mengulur-ulur waktu untuk menjadi bodoh dan ketika ia telah mampu, Theo akan kabur bersama Titi.


Berjam-jam Theo berkaitan di depan monitor, berjam-jam itu pula Ayah mengeluarkan sumpah serapah padanya dengan nada marah. Ketika sore tiba, Ayah membawa Theo secara paksa ke sebuah ruangan khusus di rumahnya.


Di sana, Theo mendapatkan hukuman. Dia diberi cambukan secara bertubi-tubi hingga akhirnya tak berdaya lagi.


***


Lili menggendong Titi dengan senyuman lebar. Di berjalan ke halte dan menunggu bus di sana.


"Ngga terlalu jauh, kok. Rumah Kak Lili cuma naik bus satu kali. Terus masuk perumahan, jalan dikit, nyampe deh," jelas Lili dengan senyum lebar.


"Wah, Titi jadi nggak sabar!" seru Titii semangat.


"Sama, Kakak juga!"


Lili berjalan agak cepat ke arah pintu masuknya saat bus tujuannya telah tiba.


"Ayo naik, udah nyampe bus kita!" seru Lili riang.

__ADS_1


"Yeay!" balas Titi tak kalah semangat.


Ketika telah berada di dalam bus, Lili melihat sebuah kursi yang kosong dan matanya membulat ketika melihat siapa yang ada di sebelah kursi kosong tersebut. Orang itu balas menatapnya, namun dengan aneh karena Lili menggendong seorang anak kecil yang sudah seperti anaknya saja.


Jantung Lili secara otomatis berdetak cepat.


***


h a i i i i i i


halo, Apa kabar kalian semuanya?


sebelumnya aku nggak muncul-muncul karena sengaja biar kalian hanyut dalam ceritanya he he he he he he he


so, Bagaimana sejauh ini?


aku pernah bilang kalau WABBL aku mulai produksi bukan Mei, tapi nyatanya tangan aku gatal dan memutuskan untuk posting bulan ini


semoga WABBL memuaskan kalian semuanya, ya


btw, cerita ini akan sangat panjang dan kemungkinan besar setara dengan panjang cerita Dari Korea 1 dan 2


ya, ini baru 1/4 dari keseluruhan cerita^^

__ADS_1


happy reading!!!!!!


__ADS_2