Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 62


__ADS_3

Tak biasanya Theo terjaga semalaman hanya karena memikirkan cita-citanya.


Theo merasa lebih berarti dan senang saat Regan mengatakan bahwa dia berpotensi menjadi seorang pembalap. Setidaknya, ada bagian dari diri Theo yang bernilai karenanya. Namun, Theo tak punya keinginan untuk menjadi seorang pembalap.


Theo tak siap meninggalkan Titi.


Mempertimbangkan jika dia memilih jalan untuk menjadi pembalap, banyak sekali yang harus dia korbankan, akhirnya Theo menolak bulat-bulat. Theo memang sedikit menginginkannya, namun bidang itu tidak sesuai keinginan hatinya.


Malam ini, Theo merenungkannya.


Setidaknya, jika dia punya cita-cita atau tujuan, terlepas dari tekanan Ayahnya untuk menjadi sesuai keinginannya, Theo bisa memperjuangkannya atau menentang Ayah.


Tapi, jalan yang mana yang harus Theo pilih?


Dia tak punya panutan atau idola. Dia juga belum menemukan keahlian khususnya selain balapan. Dia pula tak pernah suka pada satu bidang secara spesifik. Sepanjang hidupnya, Theo tak tahu arah tujuan hidupnya. Bahkan untuk menempuh sekolah, dia menuruti jalan kakaknya.


Sementara kes piano, itu karena keinginan Ibunya yang sama sekali tak Theo minati.


Lalu, apa?


Sudah berjam-jam Theo memikirkannya, namun tak ada satu pun jawaban yang dia dapatkan.


Lucas sudah punya tujuan dan barusan ia memutuskan untuk lebih fokus lagi untuk mengejar cita-citanya. Ten juga pastinya tak jauh dari Matematika karena itu memang bidang keahliannya.


Theo merasa terbelakang.


Dia harus apa? Dia harus bagaimana?


Apa bertanya pada rumput bergoyang saja cukup?

__ADS_1


Haha, jangan bodoh Theo. Untuk apa ada guru BK jika tidak digunakan untuk berkonsultasi tentang masa depan?


***


"Dari kemarin keliatan bete. Kenapa?"


Suara Imel membuat lamunan Lucas buyar. Sesuai istirahat lima belas menit baru saja dimulai. Dari pada mengisi perut, Lucas memilih untuk duduk di sofa saja. Namun, ia tak sadar bahwa sesi istirahatnya dipakai untuk melakukan dengan wajah yang dilihat Imel sebagai sebuah ekspresi bete.


Imel duduk di sebelahnya. Sebagai pendatang baru yang tak punya latar akting sama sekali, Lucas mengakui keahliannya..


Cara bekerja Imel sangat totalitas. Jarang sekali melakukan kesalahan, sekalipun untuk adegan yang menurut Lucas perlu pendalaman emosi yang lebih-lebih.


"Ya, pikirin aja gue nggak bakal sekolah lagi setelah ini," kata Lucas menjawab.


Kening Imel mengerut. "Sekolah kan bisa di rumah."


"Gue nggak suka karena itu sama aja nggak sekolah."


Lucas menatap Imel dengan pandangan tak percaya. "Lo nggak tau?"


Imel berdecak, mencubit kecil lengan Lucas karena kebiasaan laki-laki yang suka bercanda. Lucas meringis kecil, tertawa setelahnya.


"Main cubit-cubit aja, dicubit balik pasti nggak mau," kata Lucas meledek.


Imel menipiskan bibir. "Serius sekali aja, bisa nggak sih?"


"Oh, lo mau diseriusin? Boleh," balas Lucas. Selanjutnya menatap Imel lurus-lurus, dengan sorot serius yang justru membuat Imel salah tingkah karena mereka Lucas terlalu memperhatikannya.


"Apa sih," kesal Imel jadi terdengar marah. "Gue cuma nanya pendapat lo tentang sekolah aja. Tinggal jawab aja, nggak usah pake liatin sampel segitunya."

__ADS_1


Lucas tersenyum lebar. "Blushing lo lucu, haha."


"Ish, Lucassss!"


Lucas makin tertawa.


Imel menutup wajahnya, malu.


"Ya," Lucas membuang napas panjang, terdengar sangat menyentuh dan menyedihkan. "Sekolah itu tempat kita kumpul sama temen, ke kantin bareng, ngobrol bareng, jail bareng, bolos bareng, modus bareng sampai boker bareng."


Mata Imel membulat atas sebuah alasan. Dia menatap Lucas dengan tatapan tak percaya. "Li pernah boker bareng? Iwh."


"Ya, nggak bener-bener barengan satu closet gitu lah," balas Lucas memberi kejelasan. "Kita beda kamar mandi, sebelahan gitu, tapi ngobrol terus jadi kerasa banget bareng-barengnya."


"Oh, begitu." Imel baru paham.


"Barusan lo mikir jorok ya?"


"Idih, nggak!"


"Ih, cantik-cantik mikirnya jorok, ih," ledek Lucas semakin menjadi-jadi.


Pipi Imel semakin merah. "Lo juga!"


"Apa?" Lucas tertawa geli. Melihat Imel salah tingkah sungguh lucu. "Gue apa?"


"Lo juga ganteng-ganteng bokernya bareng!" seru Imel, sebelum akhirnya berbalik pergi dan berlari menjauhi Lucas.


Lucas melihat punggungnya yang semakin detik berlalu semakin jauh pula jaraknya. Lucas tersenyum lebar.

__ADS_1


"Kok lucu, anjuir?"


***


__ADS_2