
Ily melihat ratusan foto yang ia ambil bersama Elvan dan Eza saat bertamasya seharian ini sambil tiduran di atas ranjangnya yang empuk bagaikan tinggal di surga. Biarlah Ily berlebihan, sekarang ini dia sedang sangat dilanda bahagia hingga rasanya bisa dibagikan ke jutaan orang dan bahagia itu seperti tak akan pernah bisa habis.
Mereka bertiga, teman yang sudah lama sekali tak bertemu, mengunjungi banyak teman. Pertama-tama, mereka tentu saja pergi ke mini market untuk perbekalan di perjalanan.
Ada saat-saat mereka ribut juga.
"Soda itu nggak baik, Za," kata Ily tak setuju saat ada empat botol soda yang diambil Eza ke dalam tas belanjaannya.
"Tapi enak, Ly," balas Eza seraya cemberut dengan mata memohon. "Boleh dong, ya?"
"Boleh dong, Ly," tambah Elvan ikut-ikutan memasang wajah sok lucu sehingga Ily tak punya pilihan lain untuk mengiyakan sebelum ia muntah karena sebal dengan dua laki-laki dewasa yang bertingkah seperti anak kecil itu.
Kemudian, mereka berlanjut berkendara ke pantai. Menggelar tikar dan menikmati semburan ombak laut langkah dengan angin sejuknya.
Dari rumahnya, Ily menyiapkan sandwich dan cookies yang mana buatan Yohan waktu itu. Lengkap dengan ciki ber-MSG, piknik ini sudah sangat membahagiakan. Tiga teman itu bercerita panjang, kadang berdebat seperti:
"Lo bohong soal Ayla pasti," simpul Elvan waktu Ily selesai bercerita masa lalu Eza yang dulunya menyangkut perempuan bernama Ayla. Nama itu adalah nama perempuan terakhir yang Eza cerita pada Ily hingga Ily curiga ada sesuatu dengan Eza dan itu juga dirasakan Elvan. "Lo sekarang jadi homo, ya?"
__ADS_1
Namanya juga Elvan, bukan dia kalau tidak blak-blakan. Ily turut menunggu jawaban Eza karena setelah mendengar pertanyaan dari Elvan, wajah laki-laki itu menjadi super super serius.
Elvan dan Ily jadi was-was, harap-harap cemas akan kebenarannya.
Akhirnya, Eza membuang napas panjang, kemudian menatap wajah kedua temannya dengan sedih. "Lo pada ngatain gue buat begitu, ya? Sadis banget. Kalau gue beneran gitu gimana?"
Elvan berdecak jijik. "Ya, maaf-maaf kalau lo belok, tali pertemanan kita pegat langsung."
Ily mengangguk setuju.
"Ci eleh," ledek Ily meremehkan. "Sekarang udah ada?"
Eza menggeleng lemah. Kemudian jadi semangat saat melihat Elvan dan menudingnya tanpa berpikir panjang. "Lagian, Elvan juga pasti belum punya tuh."
Elvan yang dituduh tiba-tiba langsung berdecak tak suka, namun tak membalas karena perkataan Eza itu benar adanya.
"Di antara kita bertiga, siapanya yang duluan nikah?" Ily tiba-tiba bertanya begitu.
__ADS_1
"Lo pastinya!" seru Eza cepat. Membuat Ily membulatkan matanya terkejut.
"Lah, kok jadi gue?"
"Lo ada Yohan, Ly. Gue tau udah liat matanya waktu liat lo. Udah nggak ada bercanda lagi, itu anak emang benar-benar cinta sama lo," jelas Elvan setengah kesal karena sepupunya ini rupanya tak begitu peka padahal sudah berumur kepala dua.
Berkat ucapan Elvan, pipi Ily bersemu dan jadi bulan-bulanan Elvan serta Eza.
Mereka menghabiskan waktu sampai matahari ada di atas kepala di pantai, untuk kemudian pergi ke mall untuk makan. Mereka banyak bercanda dan tak lupa mengabadikan momen dengan Selfi bareng.
Tak mau melewatkan kesempatan, tiga teman itu masuk ke Timezone dan bermain-main seperti anak TK. Ily lebih sering memainkan basket dengan Eza, sementara Elvan lebih memilih untuk lomba balap motor dengan anak kecil random.
Keseruan mereka tak berhenti di sana, ketiganya memutuskan untuk pergi ke toko souvernir sebagai kado pernikahan untuk Raihan nanti. Kecuali Ily--sebab dia sudah memilih dan kewajibannya juga untuk mengirim satu box pizza sebagai kado pernikahan Raihan--Elvan dan Eza sibuk memilih barang-barang untuk dibeli.
Hari beranjak sore dan makan di restoran seafood menjadi penutup hari menyenangkan mereka.
Ily masih tersenyum saat melihat foto demi foto yang mengabadikan momen bahagia antara dirinya, Elvan dan Eza. Kemudian, ada sebuah permintaan video call dari Eza, disusul bergabungnya Elvan, tiga teman itu lagi-lagi menghabiskan waktu malam sampai lupa untuk tidur saking bahagianya.
__ADS_1