Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 95


__ADS_3

Theo tiba-tiba tersentak.


Matanya membuka, kemudian mengerjap-ngerjap cepat. Kepalanya agak pening, pikirannya agak pusing. Hingga beberapa saat kemudian dia tersadar ada Laura di sampingnya yang segera menatapnya dengan mata penuh kaca-kaca.


"Terimakasih sudah bangun, Theo."


Setelah memanggil dokter dan mengecek keadaan Theo, Laura membersihkan tangan Theo dengan sayang. Theo tak bersuara sejak dia bangun. Kini, sudah tiga jam berlalu dan Laura sabar saja menunggu.


Kata dokter, Theo bisa saja mengalami trauma berat dan normal untuknya begitu. Yang harus Laura lakukan adalah selalu tersenyum dan berada di sampingnya. Tidak mengajaknya mengobrol ataupun membuatnya teringat Tamrin.


Sementara Theo sibuk dengan pikirannya. Dia mengingat-ingat apa yang telah terjadi baru-baru ini.


Setelah yang buruk-buruk ia ingat, akhirnya Theo teringat pada sesuatu yang paling penting.


"Ibu ...." Theo bersuara susah payah. Tenggorokannya terasa sakit dan perih. Membuat Laura menatapnya penuh khawatir. Namun, Theo memaksa untuk mengeluarkan suara lagi. "Titi di mana?"


"Titi ada. Dia selamat. Ayah mengurungnya di kamar bawah tanah." Laura menjelaskan singkat dengan senyum menenangkan. "Sekarang Titi lagi tidur."


"Syukurlah." Theo terbarukan kecil. "Aw."


"Kamu nggak apa?" Laura mengelus punggung tangan Theo dengan lembut. Matanya terus menatap khawatir.

__ADS_1


"Nggak apa-apa." Theo tersenyum kecil.


Dan saat itulah Laura menangis. Mengeluarkan air mata yang mungkin tak akan pernah habis sebanyak apapun ia mengeluarkannya. Seperti saat Theo menangis, Laura tak mengeluarkan suara apapun.


Theo menoleh pada Laura, menatapnya dengan sendu.


"Maafin Ibu, Theo." Laura menunduk sambil menghirup punggung tangan Theo sungguh-sungguh. "Maafin Ibu."


"Nggak apa-apa, Bu. Nggak apa-apa. Theo memang sudah takdirnya begini. Theo begini bukan karena Ibu." Theo segera menenangkan.


Dengan begitu, Laura sedikit tenang.


"Nanti kalau udah sembuh, pulang ke rumah Ibu, ya." Laura menatap Theo penuh paksaan. "Sama Titi."


"Kamu lapar nggak?" tanya Laura kemudian.


"Nggak, Bu." Theo menggeleng pelan. "Belum."


"Kalau ada apa-apa, bilang ya." Laura berkata lemah seraya menghapus air matanya. Kalau dia menangis, pasti Theo merasa khawatir. "Kamu udah nggak sadar sampai dua hari, lho. Ibu khawatir. Untungnya kamu sadar lagi."


"Soalnya aku mimpi indah, Bu." Theo tersenyum seraya menatap Laura. "Kayaknya betah banget, jadi nggak bangun-bangun. Maaf, Bu."

__ADS_1


"Nggak apa-apa." Laura turut tersenyum. Dia jarang sekali melihat Theo tersenyum. Karenanya, saat kini melihatnya tersenyum lagi, Laura bersyukur. Laura menatap Theo dengan bangga. "Itu artinya kamu anak yang baik, Theo."


"Tapi ...." Theo teringat sesuatu meski senang karena Laura mengatakan bahwa dirinya anak yang baik. "Kata Ayah temenku, aku orang yang berbahaya, orang yang nggak baik. Ayah juga bilang aku berbahaya."


"Tuhan nggak akan kasih mimpi indah ke orang berbahaya, Theo." Laura merapikan rambut Theo di keningnya dengan tatapan sayang yang lembut dan hangat. "Jangan dengarkan mereka. Hiduplah di jalanmu. Jangan biarkan mereka menghalangi kamu."


Theo mengalihkan pandangannya. Membuat Laura yakin bahwa anaknya itu tengah mengalami hal yang sulit.


"Dengar Ibu." Laura mengambil dagu Theo dengan lembut untuk membuatnya menatap matanya sendiri yang penuh keyakinan. "Kamu anak yang baik dan membanggakan."


Theo tersenyum lagi.


Ada pelangi yang tercipta di dada Theo.


***


**hai hai hai


gimana kabarnya kalian?


bagaimana setelah kalian baca part sampai sini? sejauh ini? apakah ceritanya seru ... Atau justru boring banget sampai bikin kalian pengen tidur?

__ADS_1


beri aku komentar supaya aku bisa berkembang, ya


terimakasih**


__ADS_2