
Sumber petunjuk jalan hidup kita."
"Iya." Mila mengoleskan eye liner pada garis kelopak mata Lili yang tertutup. "Tanpa mereka kita nggak bakal ada. Buat apa jadi membangkang dan memaksakan kehendak hanya buat bikin kita jadi durhaka dan berdosa?"
"Masuk akun dakwah dah lo," komentar Lili geli.
Mila tertawa. "Btw, kulit lo pori-porinya kecil bener. Bagus. Gampang deh gue lukis-lukisnya."
"Jangan lukis aneh-aneh, lho," peringat Lili jadi agak khawatir.
"Ck. Ya, nggak bakal, dong." Mila berdecak dengan mata meyakinkan. Mila memasang kaca mata bulat milik Lili lagi. "Gue jamin Theo bakal kagum lagi liat lo sekarang. Nah, udah selesai. Coba sekarang lo balik badan, liat ke Theo."
Terdengar seperti candaan saja untuk Lili dan hanya sebatas omong kosong, namun Lili menurutinya. Dua berbalik ke kebelakang, hanya untuk melihat penampilan Theo dengan mata membulat di wajah yang penuh kekaguman.
Theo ... terlihat seperti pangeran yang muncul di negeri dongeng.
Laki-laki memakai baju dari plastik hitam yang memang tak begitu bagus-bagus amat. Masih terlihat rongsokan lah, jika Lili harus berkomentar kasar.
Namun wajahnya adalah masalah lain. Biasanya rambut depan Theo itu akan jatuh begitu saja, bahkan biasanya terlihat acak-acakan seperti tak pernah disisir. Sekarang, rambut Theo itu dibentuk. Mungkin asisten Mila membawa pomade untuk membentuk rambut Theo hingga kening bersihnya terekspos sempurna.
Dengan tatapan tajam dan bibir membentuk senyum tipis, Theo luar biasa mempesona.
"Wadaw, kayaknya kemampuan make-up melonjak drastis, ya," puji teman nomor satu saat melihat Lili.
Dibalik kekaguman Lili melihat Theo, sebenarnya penampilan Lili juga tak kalah mempesona.
Dengan rambut dikepang seperti tokoh Elsa dalam film animasi Frozen dan mahkota batang kayu rusa, Lili tampak seperti tokoh dalam kartun betulan. Apalagi setelah Mila menambahkan shadow berwarna pastel pada kelopak mata Lili, melukis ujung matanya serupa langit berwarna pastel dengan bintang-bintang hitam dan memoles bibir Lili dengan pink pudar, wajah Lili jadi seperti Barbie.
Tinggal rambutnya dicat pirang saja, Lili benar-benar akan disebut Elsa.
Theo sampai tak bisa berkata-kata dibuatnya, sampai dia berdeham dan mengalihkan pandangannya.
Mila tertawa saat mendapat pujian itu. "Gara-gara sering latihan aja, sih."
"Mantul, deh!"
"Lo juga makin jago aja nata rambut. Kayak idol Korea beneran tuh Theo," puji Mila kemudian.
__ADS_1
"Yah, cuma benerin gaya rambut doang."
"Woi!" seru Gema yang tiba-tiba muncul di ambang pintu kelas. Wajahnya yang mulanya panik jadi lebih tenang setelah melihat Lili dan Theo sudah selesai memakai baju. "Untuk peserta fashion show harap bersiap-siap! Kalian ditunggu di sisi lapangan. Nanti dipanggil satu-satu sesuai nomor urutan peserta."
Lili langsung menoleh pada Mila. "Kita nonton berapa?"
"Lima." Mila tersenyum lebar seraya menunjukkan kertas yang berisi nomor peserta untuk lomba fashion show kelasnya.
"Baguslah," balas Lili turut senang.
"Ayo," ajak Gema kemudian. "Yang lain udah pada baris."
"Iya," tukas Lili. Kemudian dia mulai berjalan.
"Hati-hati, Li," peringat Mila seraya menjaga baju yang dipakai Lili untuk tetap terlihat baik-baik saja.
Theo menyusul di belakangnya kemudian. Gema dan Mila turut berjalan di kedua sisi Lili. Sepanjang koridor yang mereka lewati, jelas sekali Lili dan The menjadi pusat perhatian. Pasalnya, keduanya benar-benar seperti akan shooting film adaptasi komik fantasi.
Benar-benar tampak tak nyata.
"Bener," tukas Mila setuju.
"Ya mau gimana lagi?" tanya Lili dengan wajah sedih. "Kalau dilepas lama-lama gue jadi pusing. Soalnya lo pada nanti burem, tau."
"Tapi nggak apa-ap. Tetep cantik, kok." Mila menepuk kecil lengan Lili. Kemudian beralih pada Theo yang sedari tadi hanya diam mendengarkan. "Cantik, kan, Yo?"
Pertanyaan itu lagi.
Lili jadi malu. Dia berdeham berkali-kali dan mengalihkan pandangannya asal tidak bertemu dengan Theo.
"Iya, cantik," jawab Theo tanpa berpikir panjang.
Mila tertawa puas, sementara Gema melotot terkejut. Matanya menatap Lili penuh tuntutan. "Li? Kok bisa? Ada apa, nih?"
"Ck. Apaan, sih, Gem." Lili jadi kikuk sendiri. "Nggak ada apa-apa, kok."
"Itu barusan Theo bilang lo cantik. Dan Lo bilang nggak ada apa-apa? Salah denger gue?" Gema tampak tak puas. Dengan berani, dia menatap Theo. "Yo, lo pacaran sama Lili?"
__ADS_1
Si Anjuir. Umpat Lili dalam hati.
"Ohok!" Theo langsung tersedak dan terbatuk-batuk. Mila langsung panik, segera meminta air minum pada asistennya dan menyerahkannya pada Theo.
Theo mengambilnya dan meminumnya dengan segera.
"Aduh, Gema. Kalau mau tanya tuh saring-saring dulu napa. Ini model kita jadi salting," kata Mila, niatnya untuk menengahi.
Namun, berkat kata-katanya Theo jadi makin nggak nyaman. Theo menarik napas berkali-kali untuk meredakan gugupnya. Tiga perempuan di depannya menatapnya dengan heran.
Apa saat ini Theo benar-benar sedang salah tingkah?
Tak ada yang sempat bertanya padanya karena peserta nomor satu telah dipanggil untuk fashion show di tengah lapangan sana. Gugup langsung menyerang semua orang.
"Li, Yo, pokoknya lakuin kayak latihan kemarin, oke? Jangan lupa buat senyum dan bikin chemistry yang bagus. Gue tanya-tanya ke anak OSIS kemarin. Kriteria penilaiannya termasuk ekspresi dan penguasaan karpet merah," jelas Mila menyemangati. "Jangan keliatan kaku pokoknya. Anggap semua yang liat itu monyet. Oke?"
Lili mengangguk-angguk cepat. Sementara Theo mengangguk satu kali saja.
"Coba senyum." Mila memberi perintah.
Lili dan Theo kompak senyum.
"Ih, gemes banget!" seru Mila senang. "Mau gue fotoin nggak? Serius, kalian cocok dan rupawan banget! Iri gue, ya, nggak, Gem?"
Gema mengangguk-angguk semangat. Tentu dia mendukung sahabatnya untuk bisa bersanding dengan Theo lebih dari sahabat atau teman sekelas. "Mantul buanget!"
Lili tersenyum kikuk. "Boleh deh, foto aja."
Mila mengacungkan jempol. Kemudian mengambil ponselnya di saku rok dan mulai memotret Lili dan Theo. "Coba Theo-nya geser dikit biar deketan."
Theo tak membantah. Dia mendekatkan diri pada Lili hingga sedikit menyentuh lengan Lili dan menciptakan sengatan beribu volt untuk jantung Lili berdegup kencang. Lebay memang, tapi itu yang dirasakan Lili.
"Say cheese!" seru Mila ceria.
Keduanya tersenyum lebar saat mengatakan cheese dan satu foto terabadikan.
"Selanjutnya peserta nomor lima! Kelas XI IPA 3, mari kita sambut!"
__ADS_1