Dari Korea

Dari Korea
Dari Korea 2 59


__ADS_3

Yohan tertidur di meja makan waktu Ily pulang.


Dengan mata menyendu, Ily tertawa hambar. Menghampiri Yohan untuk duduk di sampingnya, memerhatikan wajah damainya yang sedang menelusuri alam mimpi. "Padahal aku bilang kamu buat jaga rumah, tapi malah tidur."


Ily tersenyum, namun hatinya terasa sesak. Harusnya ia tak semarah itu tadi pada Yohan sebelum mendengarkan penjelasannya lebih lanjut. Cookies yang dibuat Yohan masih ada, masih pada posisinya saat terakhir kali Ily melihatnya.


Karena itu, Ily merasa sangat tersentuh. Sebab Yohan mau membuatkannya makanan, menunggunya seharian sampai tertidur tanpa sadar begini. Ily mengulas senyum lebar, kemudian menggerakkan tangannya untuk menyentuh rambut Yohan.


Awalnya Ily berniat untuk membernarkan letak rambutnya supaya tak menusuk kelopak mata, namun justru mata hitam itu lebih dulu terbuka bahkan sebelum Ily menyentuh satu helai rambut Yohan.


"Ah." Dengan gerakan canggung, Ily kembali menarik tangannya untuk ia letakkan di atas meja, saling menaut dengan salah tingkah. "Maaf karena membuat kamu terbangun."


Yohan mengerang samar, mengangkat kepalanya dan mengerjapkan matanya saat melihat Ily di depannya. Tak mau berilusi, Yohan menyentuh pipi Ily untuk membuktikan bahwa di depannya ini benar-benar bukan halusinasinya.


Air mata Ily menetes begitu saja saat pipinya merasakan betapa dingin dan bergetarnya tangan Yohan.


Dengan merasakan pipi hangat itu dengan jelas, Yohan menarik tangannya dengan perasaan lega. Air mata menumpuk dengan haru di kelopak matanya. "Kamu kembali, Ly."


Ily memaksakan senyumnya. "Maaf, Yohan. Maaf ... aku pergi, tadi."


"Tak apa, Ly." Yohan menggeleng paham. "Itu wajar."


Mereka hanya saling menatap. Untuk waktu yang lama, saling menyalurkan isi hati bahwa mereka sudah berbaikan dengan keadaan yang sebelumnya rumit. Bagi mereka, sunyi cukup untuk gambarkan bagaimana hati keduanya saling bertaut.


"Jangan nangis," kata Yohan kemudian, setelah pegal dengan keheningan yang tercipta. Tangan kasarnya menghapus jejak air mata di pipi lembut Ily. "Aku ikut sakit."


Ily tersenyum. "Gara-gara kamu aku nangis."


Yohan menarik tangannya dengan wajah terluka. Dengan penuh penyesalan dan sarat kesedihan sorot matanya terpancar. "Maaf."

__ADS_1


"Nakal, sih!" seru Ily seraya meninju dada Yohan sekuat tenaga. Yohan yang langsung bereaksi berlebihan dengan mengerang keras dan menyentuh dadanya seperti terkena serangan jantung membuat tawa Ily mengudarakan tawa geli. Ily paham sekali Yohan bercanda sekarang ini. "Kenapa sih nggak langsung cerita aja?"


Yohan berhenti berakting kesakitan saat mendengar pertanyaan dengan nada serius dari Ily. "Aku belum cerita karena ceritanya belum selesai, Ly. Aku belum menemukan jalan keluarnya ... mungkin saja ... mungkin saja besok aku harus pulang lagi. Ayah dan ibuku menunggu di sana."


"Apa? Kamu ... kamu mau pulang lagi ke Korea?"


Dengan senyum pahit, Yohan mengangguk. "Iya, Ly. Mungkin ... mungkin besok."


Ily membuang napas tak kuasa, air matanya kembali berdetak dengan hebat. Tak membiarkan dirinya untuk bernapas bebas, kini dada Ily sesak. Ia sudah lima tahun menanti dan kini harus ditinggal kembali dalam waktu yang bahkan belum ciptakan kenangan berarti.


"Ly ... jangan nangis," pinta Yohan pedih, ingin sekali memeluk perempuan di depannya ini supaya ia tenang, namun ponsel milik Ily yang berdering panjang membuat gerakannya terinterupsi.


Begitupula dengan tangis Ily. Dengan air mata dan isak tangis yang masih berjalan, Ily mengambil ponselnya yang sejak tadi dibiarkan tergeletak di atas meja untuk melihat nama ibu Yohan sebagai orang yang ingin melakukan panggilan suara dengannya.


Kening Ily mengerut, ia menoleh pada Yohan dengan wajah bingung. "Ibu kamu, Yohan."


"Mungin ibu akan menyuruhku pulang." Yohan tersenyum tipis. Ily membalasnya dengan dengusan kesal karena tak melihat Yohan akan sesedih dirinya jika mereka berpisah.


"Ily," sapa Ibu Yohan dengan khawatir. "Kamu tau di mana Yohan?"


Ily mengangguk tanpa sadar. "Iya, ini Yohan di sebelah aku, Bu."


"Oh, syukurlah. Ada yang mau ibu sampaikan ke Yohan. Boleh dialihkan dulu nggak ke Yohan?" Ibu Yohan meminta Ily untuk memberikan ponselnya pada Yohan.


"Oh, boleh, Bu. Yohan, nih." Ily segera menyerahkan ponselnya dan Yohan yang langsung laki-laki itu terima dengan wajah datar andalannya.


"Iya, Bu, kenapa?"


"Kamu masih sehat, kan? Baik-baik aja, kan?" Ibu langsung bertanya khawatir dan Yohan bisa bayangkan bagaimana ekspresi wajahnya sekarang.

__ADS_1


"Iya, Bu. Yohan baik-baik aja. Ada Ily Sama keluarganya yang jagain Yohan."


Tanpa aba-aba, telinga Ily terasa panas. Yohan meliriknya, namun Ily pura-pura tak mendengar dengan memainkan jari-jarinya seperti biasa.


"Oh, baguslah. Ibu ada kabar, tapi kamu harus kuat, ya, Yohan." Ibu menarik napas, kemudian memberitahukan sebuah fakta yang membuat dunia Yohan limbung seketika.


Fokusnya pecah, pandangannya menjadi kosong dan tangannya seperti tak bertenaga lagi sehingga waktu ia mengembalikannya pada Ily, jika Ily tak sigap mengambilnya, sudah pasti ponselnya akan jatuh ke lantai yang keras.


Ily tak mengerti, namun tak bersuara lebih dulu saat Yohan kini memegang kepalanya yang terasa berat sambil menumpu pada meja makan. Yohan menunduk, dan di sana air matanya berjatuhan deras.


Masih tak mau memaksa Yohan untuk bercerita, Ily hanya mampu mengusap pelan punggung Yohan serta menepuk-nepuknya dalam ritme yang sama pada waktu berikutnya.


Ily tak pernah mau memaksa orang untuk bercerita keluhnya, biar orang itu saja yang sadar dan inisiatif untuk mengeluarkan unek-uneknya dengan perasaan lapang. Hal itu juga berlaku pada Yohan, hingga akhirnya laki-laki itu mengangkat kepalanya setelah menarik napas dalam-dalam dengan wajah basah penuh air mata.


Tangan Ily terangkat, kini gilirannya untuk menghapus jejak air mata Yohan. Ily menampilkan senyum terbaiknya, berharap Yohan merasa baikkan karenanya.


"Ly," kata Yohan, hendak memberitahukan sesuatu. "Aku benar-benar harus pulang besok. Ibuku barusan bilang, aku harus ke Korea untuk melihat pemakaman ayahku."


Seperti ada petir yang menggelegar dalam hati Ily. Matanya membulat sempurna, ada jeda sebentar sebelum kemudian, dengan penuh air mata, perlahan ia membawa Yohan dalam sebuah pelukan erat.


"Ya ampun ..., Yohan ..., aku turut berduka cita. Kamu harus sabar, Yohan," tenang Ily seraya mengeratkan pelukannya pada Yohan. "Jangan terlalu sedih, ada aku."


Yohan memejamkan matanya di antara lekukan leher Ily, mengangkat tangannya untuk membalas pelukan Ily. Hatinya sudah benar-benar terkoyak setelah mendengar kabar kematian ayahnya, namun itu semua bisa disembuhkan kembali oleh kehadiran Ily.


Bahwa gadis itu akan selalu berada di hatinya.


Setidaknya, Yohan tidak menangis sendirian. Ada seseorang disampingnya.


***

__ADS_1


**apa yang kalian rasakan setelah membaca cerita ini sejauh ini?


aku minta maaf jika ada kata-kata yang salah tulis, tapi aku harap kalian bisa mengertikannya dengan baik**^^


__ADS_2