Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 12


__ADS_3

Hari ini kegiatan istirahat Lili kembali diisi oleh serangkaian kegiatan menguntit Theo. Dari mulai saat laki-laki itu keluar kelas, ke kantin, ke ruang guru untuk menyerahkan tugas perbaikan sampai tiba di sini.


Di atap gedung lab yang sudah sangat tak terawat karena jarang digunakan. Kata-katanya atap ini mau direnovasi, namun sampai sekarang belum juga terjadi.


Lili tak memikirkan hal itu, sekarang adalah mengapa Theo ke sini sendirian. Lili hari ini sudah memantapkan skill menguntitnya. Dia bahkan membuka sepatu agar langkahnya tidak bersuara. Lili juga memakai masker hitam dan mengurai rambutnya yang biasanya terikat seperti ekor kuda.


Tak sampai di sana, Lili memakai jaket milik tukang kebun sekolah supaya tampak tak seperti Lili di kelas Theo. Berkat semua itu, Theo tak menyadarinya sampai kini.


Sampai laki-laki itu bertemu dengan laki-laki lain saat Lili mengintipnya di balik celah pintu ke atap yang sedikit terbuka. Mata Lili menyipit.


Apa Theo bertemu dengan pengedar narkoba?


"Berapa?" Suara Theo terdengar samar, seperti biasa nadanya dingin.


Laki-laki di depannya memberi satu kresek yang langsung diterima Theo setelah Theo memberinya sebuah amplop. Setelahnya, laki-laki yang ditemui Theo itu meloncat ke bawah dan hilang dari pandangan.


Mata Lili membulat terkejut, jantungnya berdebar kencang seperti saat ia sedang melihat harimau di kebun binatang. "Beneran ketemuan pengedar itu? Oh my God, Theo, lo narkoba rupanya ...."


Awalnya, Lili kira Theo itu cuma nakal di sekolah saja, tidak benar-benar merupakan Bad Boy seperti yang diyakini Gema.


Lili terlalu terkejut dengan fakta yang dia dapatkan sampai tak menyadari bahwa kehadirannya sudah didapati Theo.


"Lo ngapain di sini?" tanya Theo tajam. Menatap Lili yang dengan pakaian super anehnya dengan pandangan menahan marah. "Lo ngikutin gue lagi?"


Lili mengerjap pelan-pelan, bersamaan dengan sepatunya yang lepas dari jinjingan tangan, mulut Lili terbuka dengan panik. "The-Theooooo?"


Kening Theo mengerut dalam. "Lo denger barusan gue ngapain?"


"Ha? Ha? Ah, nggak, nggak! Gue nggak tau lo ngapain barusan!" seru Lili gegalapan, kelihatan sekali perempuan itu berbohong. "Emangnya lo ngapain?"


Theo mendekat, membuat punggung Lili menyentuh tembok saat berusaha mundur untuk menghindari tatapan tajam yang dapat merobek hatinya itu. Lili panik, wajahnya sudah berkeringat dingin.


"E, e, e, tunggu, lo mau ngapain, Theo?"


"Kalau ada masalah, lo abis," ancam Theo serius.


Tanpa berkata-kata lagi, Theo meninggalkan Lili yang kakinya langsung lemas dan tidak kuat lagi menahan tubuhnya hingga perlahan tubuh Lili terduduk secara lemahnya.


Napas Lili terputus-putus. Tangannya memegangi dada yang sudah bekerja seperti bagaimana Lili habis menaiki rollercoaster. "Gila sih, gila sih. Theo bener Bad Boy, woi! Dia tadi beli sabu-sabu! Ya ampun, gue dapet jackpot Ini mah!"


Bukannya takut lagi, Lili jutsru tersenyum penuh kemenangan untuk setelahnya tertawa bahagia.

__ADS_1


Di dunia ini, hanya penulis yang bisa melihat keadaan dengan pandangan berbeda dari biasanya. Tekad mereka untuk mendapatkan hasil riset memuaskan tak akan pernah berhenti hanya karena takut akan konsekuensinya selanjutnya yang akan mereka terima.


Jika kamu berteman dengan penulis, nikmatilah sensasi dunia yang dua ciptakan dengan berbeda.


***


Menyerah bukan salah satu kata yang ada dalam kamu Lili.


Tanpa Gema, karena perempuan itu harus fokus berlatih membuat essai untuk lomba, Lili kembali mengintili Theo pada waktu istirahat kedua. Setelah kepergok oleh Lili, Theo lebih sering menatapnya penuh peringatan dan ancaman, namun tentu saja Lili tak peduli itu.


Pokoknya, Lili harus punya informasi lain tentang Theo.


Setelah keluar kelas, Theo beranjak ke toilet. Otomatis, Lili melakukan penyamaran seperti biasa di depan tempat sampah. Lili mencoba untuk merilekskan dirinya, untuk tak takut dan untuk bertekad kuat.


Tak lama, Theo keluar dan ketika Lili turut berbalik, Theo menangkap keberadaannya. Lili melotot terkejut, langsung bersembunyi di balik tembok saat merasa Theo akan menghampirinya.


"Kak Theo!" terdengar suara seruan anak perempuan. "Kak ... anu ... ini buat Kakak."


Tak lama, Lili melihat seorang anak perempuan yang diduga adik kelasnya berlari dengan telinga memerah dan terus menunduk. Lili mengerutkan keningnya. "Abis ngasih apa ke Theo?"


Pertanyaan Lili langsung terjawab saat melihat satu batang cokelat di genggaman Theo yang tahu-tahu sudah berada di depan hadapan. Lili menarik napas terkejut.


Satu informasi baru, meski Bad Boy dan terkenal nakal, Theo ada yang berani ngasih cokelat. Lili akan mencatat itu dalam hatinya untuk dituangkan nanti dalam bentuk tulisan.


"Lo ngapain di sini?" tanya Theo tanpa basa-basi. "Suka juga sama gue? Mau ngasih cokelat juga?"


Mata Lili mengerjap-ngerjap dengan pandangan tak percaya. Kemudian, dia tertawa hambar. Theo merasa terhina atas tawa itu, tatapannya menajam dan seolah bisa membunuh Lili di tempat.


"Waw, atas dasar apa gerangan bertanya begitu pada hamba? Suka? Hahahahaha. Ente itu bukan tipe gue, ya. Jangan ge-er napa, jadi geli gue."


Theo memutar bola matanya dengan jengah. "Lo ngikutin gue. Dari Senin, sampai sekarang."


"Waduh? Kok tau--eh, eh, eh, apa yang lo maksud dengan ngikutin? Maaf-maaf ya, lagian sekolah ini bukan punya lo, gue bebas ke mana-mana dan kalau sama kayak lo itu cuma kebetulan." Lili menjelaskan dengan mata yang tak bisa membalas tatapan Theo saking gugupnya. "Ge-er banget sih jadi orang. Lo baperan juga ternyata."


Theo menatap Lili penuh curiga. "Tadi nggak kapok apa?"


Lili menipiskan bibirnya saat tahu-tahu Theo berjalan mendekat, sampai wajah mereka hanya berjarak lima sentimeter. Lili gugup, dia mundur dan mundur hingga akhirnya mentok pada pilar koridor.


Wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang nyata. "Theo ... lo mau ngapain?"


Theo tersenyum. Senyumnya bagaikan iblis di mata Kiki hingga akhirnya Lili memejamkan matanya karena takut. Theo mendengus melihatnya. "Kalau lo takut sebaiknya berhenti. Bahaya kalau gue sampai marah ke lo."

__ADS_1


Mata Lili terbuka lagi saat mendengar suara Theo yang menjauh. Lili membuang napas lega.


"Sekarang, bilang kenapa lo sampai ngikutin gue. Ada yang nyuruh?" tanya Theo memulai interogasinya. Awalnya dia tak begitu mempermasalahkan tentang Lili yang mengikutinya sejak Senin, lalu esoknya dan kini. Namun, ketika Lili telah mengetahui perbuatannya tadi di atap, lalu sekarang masih mengikutinya, Theo mulai menaruh perhatian. "Lo dibayar berapa?"


Lili inginnya tutup mulut.


"Kalau lo nggak jawab, besok lo tinggal nama. Gampang bagi gue buat bikin itu benar-benar terjadi."


"Apa? Gue tinggal nama?"


Theo mengangguk santai. "Gue culik lo sore ini, gue pot--"


"Oke!" seru Lili terpaksa. "Gue ... gue jadiin lo sebagai riset buat Bas Boy di cerita gue, buat buku gue."


Kening Theo mengerut samar. "Lo bikin halu lagi?"


Di kelasnya, Lili selalu bilang bahwa dia akan mempunyai buku dengan namanya ditulis di sampul depan atas kebiasaan-kebiasaan anehnya. Kebiasaan aneh itu seperti mewawancarai, melakukan eksperimen sampai melakukan simulasi pada guru tentang reaksinya jika dijahili.


Maka dari itu, tak jarang Lili dijuluki tukang halu karena sampai kini, perempuan itu tidak membuktikan ucapannya, tidak menerbitkan buku atas namanya.


"Iya gue mau ngahalu lagi," balas Lili percaya diri.


"Kalau begitu, gue nggak mau jadi objek halu lo." Theo langsung berbalik, hendak melangkah pergi, namun Lili menahan tangannya dengan wajah memelas.


Dengan gerakan cepat, Lili ada di hadapan Theo. Menyatukan kedua tangannya, memohon dengan sangat. "Please, Theo. Jangan begini. Gue cuma mau cerita hidup lo, terus gue ubah jadi sebuah novel. Gitu doang. Gue nggak bakal kasih tau siapa-siapa."


"Gue nggak mau."


Lili menarik napas frustasi. "Gue bakal bagi hasil, deh. Gue bakal kasih lo uang!"


"Nggak."


"Theo, gue nggak bakalan kasih tau orang-orang bahwa cerita gue itu inspirasinya dari lo. Gue nggak bakal nyebar kehidupan lo. Lihat? Sampai sekarang nggak ada yang tahu lo tadi di atap beli 'ehem'," jelas Lili dengan nada putus asa. "Please, bolehin gue buat meriset lo."


Theo menatap Lili datar. "Gue nggak sudi."


Lili balas menatap Theo dengan kesal. Tangannya mengepal kuat-kuat. "Tapi gue nggak akan pernah menyerah. Liat aja."


Tanpa menunggu balasan Theo, Lili meninggalkan Theo yang menatap punggungnya dengan datar.


Kemudian, senyum kecil Theo terbit. "Itu anak kucing harusnya tau batasan."

__ADS_1


Sekarang, sepertinya Theo punya mainan baru.


***


__ADS_2