
"Olimpiade Olahraga Siswa Nasional akan dilaksanakan sebentar lagi. Bapak mau kamu siapkan anak-anak yang berpotensi. Bisa, kan?"
Pak Rafli, guru olahraga sekolah berkata begitu saat Sari dipanggil untuk menghadap ke mejanya. Sari mendengarkan dengan seksama sebab ini adalah momen penting yang juga dialami kakak kelasnya. Sekbid 6 adalah seksi bidang yang bertanggung jawab di bidang oleh raga.
"Siap, bisa, Pak." Sari yang ditunjuk menjadi ketua sekbid enam untuk tahun ini dan tahun ke depan jelas mengangguk menyanggupi.
"Bagus." Pak Rafli mengangguk puas. "Bapak akan siapkan untuk seleksinya nanti. Kamu harus siapkan anak-anak yang baik dan mengawasi latihan mereka dalam waktu tertentu. Paham?"
"Paham, Pak."
"Baiklah." Pak Rafli menatap Sari lurus-lurus. "Jangan bekerja sendiri. Minta bantuan anggota sekbid enam yang lain dan ketua ekskul yang bersangkutan. Paham?"
Sari mengangguk lagi. "Paham, Pak."
"Bagus." Pak Rafli kembali memuji dengan senyuman bangga. "Sekarang, kamu boleh kembali ke kelas kamu."
"Baik, Pak." Sari mengangguk sekali lagi. "Terimakasih."
"Iya."
Kemudian, Sari kembali ke kelasnya dalam langkah cepat-cepat. Kalau sudah ada tugas, bukan tipikal Sari untuk menunda-nundanya. Sari harus bisa menyelesaikannya secepat mungkin.
Ketika sampai di jelas, Sari tentu mendatangi kursi Luhan. Lelaki itu tengah memainkan ponselnya saat Sari mengetuk meja untuk mendapatkan perhatiannya.
"Han."
"Weis, tumben banget nyapa duluan." Luhan berkata begitu setelah mematikan layar ponselnya dan menatap Sari dengan sebuah senyuman lebar yang kelihatan bahagia. "Kenapa, Sayang?"
__ADS_1
Sari memutarkan bola matanya dengan jengah. Dia menahan diri untuk tak langsung mencaci maki. Sari menatap Luhan lurus-lurus, tanda dia ingin serius kali ini. "Lo masih hafal kan di OSIS lo itu anggota sekbid berapa?"
"Oh, tentu." Luhan mengangguk yakin.
Wajah Sari mulai cerah, namun tak semudah itu untuknya percaya perkataan Luhan. "Lo anggota sekbid berapa emangnya?"
"Ya, pokoknya Ketuanya itu lo." Luhan menjawab dengan cepat. Dia ingat ada di sekbid yang diketuai oleh Sari karena baru satu bulan sejak pengumuman lengsernya angkatan kelas dua belas tahun ini. Luhan tersenyum makin lebar, niatnya untuk menenangkan Sari karena dia lupa ada di sekbid berapa. "Ya, kan?"
"Senang banget kayaknya lo satu sekbid sama gue." Sari mencibir dengan nada kesal. "Pake senyum-senyum lebar gitu sampai hafal sekbid diri sendiri berapa aja kagak."
Luhan tertawa renyah. Menatap Sari sambil mendongak dari tempat duduknya dengan lembut dan bahagia. "Jelas gue seneng, dong. Satu lingkungan sama orang yang disuka, siapa yang nggak bahagia?"
"Ck." Jujur, Sari agak salah tingkah karena ditatap sedemikian rupa oleh Luhan. Namun, bukan Sari jika dia tidak bisa mengendalikan raut wajahnya agar selalu datar dan tanpa emosi. "Pokoknya, bulan ini kita lumayan sibuk."
Kening Luhan mengerut bingung.
Membuat Luhan segera mengerti dan membentuk mulutnya menjadi huruf O. "Ooh."
"Pulang sekolah ini." Sari berkata sambil menunjuk wajah Luhan dengan penuh peringatan yang serius. "Lo jangan dulu pulang."
Luhan langsung hormat sambil menegakkan tubuhnya seperti seorang prajurit yang menghadapi seorang jendral. "Siap, Bosque. Mau bermalam di sini selama bareng lo aja gue nggak masalah, Sayang."
"Mau gue tabok?" Mata Sari langsung melotot tajam.
"Nggak!" Luhan segera menyilangkan tangannya sebagai tameng pelindung diri dari amukan Sari.
Sebelum benar-benar pergi, Sari menjitak kepala Luhan yang sebenarnya tak begitu terasa sakit bagi Luhan. Luhan menatap kepergian Sari dengan tatapan sedih.
__ADS_1
"Ampun dah, garang banget." Luhan berkata sambil mengusap-usap bagian kepalanya yang barusan terkena jitakan Sari.
Lethan berdecak setelah sedari tadi hanya mendengarkan dengan diam. "Gitu-gitu lo demen, Sob."
"Iya, hati emang aneh." Luhan meringis miris sambil menyentuh hatinya yang sepertinya mau menangis. "Nggak bisa ketebak ke mana akan berlabuh. Mau segalak atau sejutek apapun Sari, jantung gue tetep berdetak merasakan cinta yang membara."
Lethan menatap Luhan dengan pandangan penuh hujatan. "Kalau nggak berdetak ya lo qoid, Bege."
"Maksud gue berdetak lebih kencang dari biasanya gitu. Lo pernah ngerasain nggak sih?" tanya Luhan jadi kesal sendiri. Memang, nggak ada satu pun teman yang bisa mengerti perasaan Luhan.
"Tiap hari jantung gue detaknya gitu-gitu aja, kok." Lingga ikutan nimbrung seperti biasa, secara tiba-tiba, tanpa undangan atau apa-apa.
Luhan menoleh pada Lingga dengan raut wajah kesal. "Ck. Ck. Ck. Kalau lo deket Putri atau ngomong sama Putri gitu. Lo ngerasa ada yang beda nggak sama jantung lo? Tapi bikin seneng-seneng ketagihan gitu."
Lingga turut memandangi Luhan dengan tatapan kalah kesalnya. "Mana ada begituan. Ck."
"Ah." Luhan baru mengerti kenapa respon Lingga seperti itu. "Oh, gue inget sekarang. Lo mana ada pernah deket atau ngomong sama Putri. Putri tau lo hidup dan sekolah di sini aja kayaknya nggak."
"Nggak usah diperjelas, Nyed." Lingga menukas kasar. Dia menyesal telah ikutan ngobrol dengan orang yang tak bisa normal-normal saja seperti Luhan.
Di tempat duduknya, Luhan meledek dengan wajah pura-pura sedih. "U cup cup cup, kasian banget dedekku."
"Lo jahat banget sih ke temen gue." Langit langsung memeluk Lingga saat dirasa teman sebangkunya itu mau menangis karena ledekan Luhan.
Memang, sudah tradisi kalau bawa-bawa Putri dan nasib menyedihkannya, Lingga bisa galau berat sampai nangis-nangis leher kayak cewek.
"Maaf, maaf." Luhan menyatukan keduanya tangannya dengan menyesal, namun wajahnya sama sekali tidak berkata sesuai. Malah cengengesan dengan puasnya. "He he he he he he."
__ADS_1
***