Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 71


__ADS_3

Katanya, dia pengen jadi guru.


Katanya, dia pengen anak-anak kayak dia nggak salah pilih jalan dan gagal jadi bibit unggul bangsa.


Katanya, dia juga pernah berniat mau bunuh diri.


Katanya, dia nggak bisa tinggalin adiknya gitu aja.


Sungguh seorang Bad Boy yang memotivasi, bukan?


Katanya, ceritanya cukup sampai di sini. Apa menurut kalian nggak terlalu singkat?


Ya, siapa yang tau hidup kita selanjutnya akan bagaimana?


Lili menulis itu dengan air mata mengalir deras. Dia baru saja mengatakan bahwa Theo itu anak baik-baik dan tak seharusnya Yohan berkata yang tak baik pada Theo, namun Yohan tetap menolak untuk Lili tetap berteman dengannya.


Mau bagaimana lagi? Lili yang tak mau jadi anak durhaka lebih mendominasi daripada Lili yang ingin menemani seseorang yang rapuh seperti Theo.


Lili membuang napas frustasi. Dia sangat merasa bersalah pada Theo. Bagaimana besok dia harus mengatakannya pada Theo?


Apakah harus bohong?


Hm, kedengarannya lebih bagus.


***


"Gimana sekolahnya? Seru?"


Imel berkata begitu saat panggilan teleponnya dijawab Lucas. Jam baru menunjukkan pukul delapan malam dan artinya laki-laki itu selesai mengikuti kelas di rumahnya. Beberapa hari ini Lucas juga mengambil langkah homeschooling untuk pendidikannya.


Selama itu, Imel selalu menyemangatinya. Setidaknya, dengan begini, Imel juga merasa punya teman homeschooling secara tidak langsung.


"Seru gimana, anjuir?" tanya Lucas sarkas. "Yang namanya belajar itu nggak ada sama sekali yang seru. Semuanya bikin pusing."


"Nggak harus seru, sih." Imel tertawa kecil. "Apa lo ngerti sama yang diajarin guru homeschooling lo?"


"Nggak. Sama. Sekali." Lucas menkawab dengan penuh penekanan. "Lebih ngerti kalau gue diterangin sama Ten."


"Ten?" tanya Imel heran. Keningnya mengerut samar. "Siapa tuh? Sepuluh? Aplikasi? Atau semacam google?"


"Ck," decak Lucas agak jengah. "Dia temen gue."


"Temen?" tanya Imel heran


"Yoi." Lucas menjawab cepat. "Dari kecil dari ikut SD dia ikut OSN Matematika dan selalu juara. SMP juga gitu. Sekarang dia SMA juga sama pinter ya. Iri gue."


"Woah, hebat. Lo bisa temenan sama yang pinter." Imel bertepuk tangan dalam hati. "Nggak nyangka gue."


"Lo makin ke sini makin tengil ya, Mel." Lucas berkata sebal. "Apa gue santet online lo biar lebih halus dikit?"


"Gue kayak gini karena kepaparin sama lo kali." Imel membela diri. "Bayangin tiap hari gue harus ketemu sama orang bar-bar kayak lo?"


"Gue nggak bar-bar, ya," jelas Lucas tegas


"Iya-in deh, biar cepet," balas Imel cepat.

__ADS_1


"Eh. Dibilangin ngeyel."


"Wle."


Lucas terdiam sejenak. Mungkin lelah juga karena dibercandain sama Imel terus. "Eh, Mel, temenin gue makan kuy!" seru Lucas tiba-tiba.


"Lah, barusan gue udah makan." Imel bersuara agak menyesal. Padahal dalam hatinya ingin sekali ikut.


"Te. Me. Nin." Lucas mengeja kata yang diucapkannya dengan penuh penekanan tiap suka katanya. "Lo bisa bedain nggak sih, antara ngajak makan bareng sama temenin makan?"


"Slow, Bosque." Imel mengerjap dengan malu. "Iya. Gue paham, gue paham."


"Terus?" tanya Lucas tak sabaran. "Iya atau nggak, nih. Gue udah ada di mobil soalnya."


"Ya, ajuir, kok cepet amat?" Imel langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri lemari bajunya. "Gue belum siap-siap, nih."


"Tenang, gue orangnya sabaran buat nunggu."


"Oh, baguslah." Imel tersenyum lega, mengambil sepasang baju dan mulai bercermin untuk membernarkan tatanan rambutnya. "Gue ada tempat enak, nih. Pengen ikut makan juga."


"Oh, boleh." Lucas menukas cepat. "Tapi bayar sendiri, ya."


"Iya, iya." Imel membuang napas kecul. "Parno amat gue minta traktir."


"Mel." Lucas memanggil penggalan namanya dengan nada serius.


"Iya? Kenapa?""


"Gue kira lo anaknya anti keluar malem."


"Nggak usah cantik-cantik. Kita bukan datengin acara resmi, kok."


"Hhh, iya, bawel."


Tak lama kemudian, setelah mengganti baju bekas shootingnya tadi siang dengan baju tidur yang nyaman, Imel keluar rumahnya.


"Mau ke mana?" tanya Ibu ketika Imel melewati ruang tengah.


"Mau nganter temen makan. Di depan, kok, nggak jauh-jauh." Imel menjelaskan cepat. "Di nasgor Bang Amin."


"Oh, hati-hati kalau gitu."


"Sip."


Beruntung Lucas belum datang waktu Imel sudah memakai sandalnya. Imel keluar dari gerbang rumah, kemudian hendak mengirim pesan pada Lucas saat dia melihat sebuah mobil mendekati jalanan depan rumahnya.


Imel segera memasukkan ponselnya kembali ke saku baju tidurnya. Ia tersenyum saat Lucas keluar dengan setelan anak muda yang mau keluar bareng pacarnya.


Entah Lucas yang sehari-harinya memang berpakaian setampan itu atau Imel yang terlalu mengaguminya.


"Lah? Pake baju tidur doang?" tanya Lucas heran, ketika Imel berjalan mendekat.


"Kenapa emangnya? Kan mau tidur juga." Imel membalas tak kalah heran.


"Kan ini dingin." Lucas berkata dengan nada sedikit khawatir. "Awas lo masuk angin."

__ADS_1


"Besok kan kita libur juga shootingnya," kata Imel tak begitu peduli. "Ayo, deh, kita pergi ke nasi goreng Bang Amin."


"Eh," tahan Lucas. Langsung berhenti melangkah saat Imel dengan semangatnya menarik lengan Lucas.


"Kenapa?" tanya Imel heran.


"Kita mau makan di mana?" tanya Lucas heran. "Itu gue bawa mobil."


"Ck. Deket, kok. Dua puluh langkah nyampe, deh. Nggak perlu pake mobil segala." Imel menjelaskan cepat. Membuat Lucas mengangguk saja, setuju mengikuti langkah riang Imel.


"Gue sama Lili suka makan di sana. Enak, pokoknya," kata Imel memberitahu.


"Lili?"


"Oh. Lili itu temen gue," jelas Imel, lupa. "Tetangga gue. Dia sahabat gue dari kecil pokoknya. Sayang banget, beberapa waktu ini kita jauh karena gue sibuk."


"Anaknya orang Korea, kan?"


Imel mengerjap terkejut, menatap Lucas lurus-lurus. "Kok tau?"


"Satu sekolah sama gue," jawab Lucas. "Temen deketnya temen gue."


"Ooh," tukas Imel paham. "Dunia ini sempit, ya."


"Rumahnya sebelahan sama lo?" Tanya Lucas penasaran.


"Iya." Imel mengangguk kecil. "Oh, itu nasi gorengnya masih buka. Ayo!"


***


"Yo," kata Lili saat bertemu dengan Theo di depan gerbang rumah. Theo baru saja menyerahkan Titi dan Lili baru saja selesai memakai sepatunya.


Theo sedang memakai helm-nya saat Lili bicara. Tanpa menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengunci tali helm, Theo menatap Lili. "Kenapa?"


"Gue gagal menyakini Ayah kalau lo Itu anak baik-baik," jelas Lili merasa sangat bersalah. Dia tak mau berbohong. Itu dosa. "Kalau kayak gini, kita bakal jauh-jauhan?"


"Emangnya lo mau deket-deketan sama gue?" tanya Theo tanpa disaring lebih dulu. Wajahnya datar, menatap lurus-lurus mata cokelat Lili. "Lo suka sama gue? Jadinya nggak mau jauh-jauh?"


"Ih!" Lili refleks menepuk lengan Theo dan sedikit membuat Theo kaget. "Kata siapa gue suka?!"


Theo hanya memandang Lili dengan penuh tuntutan meminta penjelasan.


"Bukan kayak gitu, Theo." Lili hampir frustasi saat menjelaskannya. "Gue pikir kita bisa temenan aja, gitu. Gue udah ngerasa deket sama lo, gitu. Kalau kita tiba-tiba harus jauh-jauhan rasanya aneh banget. Iya, nggak? Lo ngerasa gitu juga nggak?"


Theo tersenyum tipis. "Lo emang hobi ya deketin bahaya?"


"Lo bahaya dari mana, sih." Lili berkata frustasi. "Aduh, bisa gila gue."


"Ya, pokoknya dengerin Ayah lo aja." Theo mengalihkan fokus pada motornya untuk dinyalakan setelahnya. "Kita jadi temen sekelas doang aja kalau lo ngebet."


Setelah diberi kata-kata itu, Theo pergi dengan motornya. Lili dibuat tak bisa berkata-kata berkatnya.


Lili tertawa hambar seraya mengeluarkan ponselnya dari saku rok. "Gue? Ngebet? Haha, lucu."


Setelah memesan ojol dan hanya tinggal menunggunya, Lili terpikir sesuatu. "Tapi iya sih, gue keliatan ngebet banget. Tapi salah lo juga, Yo. Gue gini gara-gara lo tau. Emangnya kalau gue suka, kenapa? Haram? Kenapa mukanya tuh kelihatan songong banget? Dih, dasar sok ganteng!"

__ADS_1


__ADS_2