
Sampai di rumahnya, Lili segera masuk dan menyuruh Theo untuk duduk di sofa ruang tamu dulu.
Ily sedang bermain dengan Luhan di ruang tengah saat Lili melewatinya.
"Udah pulang, Li?" sapa Ily.
"Iya!" seru Lili karena dia melangkah terburu-buru ke kamarnya untuk menaruh tas dan mengambil buku catatannya.
Ketika melewati ruang tengah lagi, Ily menatap Lili bingung.
"Mau ke mana?" Biasanya anak pertamanya itu tak keluar kamar sampai makan malam dimulai setelah pulang sekolah.
"Riset," balas Lili. Jelas saja membuat Ily heran, namun tak berkata banyak karena dia harus mengajak Luhan bermain lagi.
Lili sampai kembali di hadapan Theo ketika Theo mengirim pesan pada Ten bahwa ia akan telat menjemput Titi. Theo langsung mendongak dan menyimpan ponselnya kembali.
Theo berdeham. "Lo mau tau dari mana dulu?"
"Dengerin gue dulu. Anggap cerita lo Itu bukan aib, oke?" Lili menatap Theo lurus-lurus. "Anggap gue ini guru BK yang bakal menyimpan cerita lo Sampai akhir hayat. Oke?"
"Lo bilang gitu sementara lo jadiin cerita gue buat dijadiin cerita lo yang pastinya bakal beredar dan dibaca banyak orang."
"Oh," tukas Lili dengan senyum senang. "Tanpa sengaja, lo doain gue bisa menerbitkan buku. Makasih, ya, hehehe."
Theo mendengus remeh. "Aneh lo."
"Yaudah," kata Lili secara bersiap menulis. "Boleh gue tau ke mana lo waktu Titi dititip ke gue?"
__ADS_1
Theo langsung menjawab. Bahkan dia pergi ke rumah Ayahnya untuk berlatih. Setiap hari Minggu, dia diharuskan ke sana untuk menjadi penerus Ayah.
"Gue penasaran sama sesuatu," cetus Lili setelahnya. "Biasanya lo titip Titi ke mana?"
"Panti asuhan."
"Terus kenapa kemarin lo titip ke gue?"
"Titi yang mau begitu. Dia maksa, bahkan hampir nangis."
Lili menutup mulutnya dengan wajah terkejut. "Gue nggak nyangka gue seberarti itu buat Titi. Hahaha, senang banget."
"Gara-gara itu, sekarang gue harus ngomong sama Ibu lo."
"Ngomong sama Ibu--heh, ngapain?!" Lili langsung berpikir yang tidak-tidak.
"Ada." Lili menjawab cepat. "Eh, tapi lo mau ngapain?"
"Gue mau ngomong."
"Ngomong apa?"
"Titi mau di sini waktu gue sekolah."
Lili langsung speechless.
Theo menipiskan bibirnya. "Titi terus merengek buat ke rumah lo. Dia nggak betah di panti asuhan."
__ADS_1
"Orang tua lo ... gimana?"
"Mereka sama sekali nggak sayang sama anak-anaknya. Gue sama Titi dibiarkan buat hidup gimana aja, yang penting mereka ngasih uang dan kata mereka, kewajiban mereka selesai," jelas Theo pahit. Membuat Lili yang mendengarnya hampir menangis. "Gue nggak bisa biarin Titi sendirian di rumah atau titip ke tetangga karena mereka juga berpergian waktu gue sekolah. Gue nggak mau Titi salah pergaulan atau kurang kasih sayang, makanya gue titip Titi ke panti asuhan Ten yang udah gue kenal Ibu-ibu yang ngurusnya."
Lili membuka mulutnya dengan wajah bodoh. "Ten anak panti?"
"Iya."
"Lah, gue kira anaknya Pak Toto, *****. Abisnya tiap hari Ten dianterin pulang sama Pak Toto."
"Lo ngikutin Ten juga?" Theo jadi khawatir.
"Kan dia temen lo. Secara tidak sengaja, dia juga diikuti sama gue."
"Jangan gegabah. Gue sama kayak Ten. Bahaya."
"Iya, iya." Lili mengangguk tak acuh. Behind saja Theo berkata dirinya bahaya, namun sampai sekarang Lili tak merasa berada dalam bahaya sama sekali. "Oke, sekarang, boleh lo cerita tentang ... perceraian orang tua lo?"
Wajah Theo langsung mengeruh. Lili tahu dirinya mungkin agak kelewat batas, namun bagaimana lagi? Semuanya untuk kesuksesan menulisnya dan Lili sudah sepakat untuk berbagi hasil juga dengan Theo.
Seharusnya ... ini wajar, kan?
"Sebelum itu," kata Theo terdengar amat keberatan. "Boleh gue ngomong dulu sama Ibu lo tentang keinginan Titi?"
"Oh, tentu." Lili langsung mengiyakan dan segera bangkit untuk memanggil Ibunya.
Theo menunduk. Menarik napas dalam-dalam. Setelah bicara dengan Ibu Lili, dia harus bersiap untuk mengenang lembaran hitam dalam buku kehidupannya.
__ADS_1
***