Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 119


__ADS_3

"Selamat atas pembukaan bukunya, Liliana Kim." Seorang yang datang saat novelnya dilaunching berkata begitu dengan senyum lembut yang membuat Lili senang.


"Terimakasih." Lili membalasnya saat orang tersebut menyodorkan bukunya. Lili menandatanganinya dengan senang hati.


"Bukumu itu sangat menginspirasi, lho." Orang tersebut tersenyum. "Saya jadi semangat mengejar mimpi saya. Kalau boleh saya tau, memangnya isi novelnya benar-benar terjadi?"


"Iya. Saya menuliskannya atas kejadian nyata. Itu semua nggak ada yang karangan saya." Lili mengiyakan pertanyaannya. "Theo juga nama aslinya. Dia bilang nggak mau disamarkan. Biar orang-orang tahu kalau ceritanya benar-benar dia alami. Saya harap kamu puas membacanya."


"Saya sangat puas, Mbak Lili!" seru orang tersebut. "Saya jadi ingin bertemu dengan Theo, Mbak. Aslinya bagaimana, ya?"


"Kalau takdir, pasti bertemu."


"Baiklah." Orang tersebut tersenyum. "Terimakasih. Saya pamit kalau begitu."


Lili balas tersenyum lagi pada orang yang terakhir yang harus dia kasih layanan.


Hari ini sangat melelahkan. Namun jelas, lelah yang sangat membahagiakan. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Lili memiliki sebuah buku karyanya dan melakukan launching dengan banyak orang mengikuti.


Lili sangat berterimakasih pada Theo. Jelas, dia adalah sumber utama dalam novel yang dia ciptakan kali ini. Meski harus melewati beberapa tahun yang tak bisa dibilang singkat, Lili berhasil membuat sebuah novel yang dicetak dan mendapati cetak ulang ke-3 pada dua bulan setelah novelnya keluar.


Lili belum memberitahunya pada Theo tentang hal ini. Setelah SMA, dia kehilangan kontak dan Lili tak tahu rumahnya ada di mana sekarang. Lili lupa.


Ah, iya, ada Lucas.


Kalau kalian belum tahu, Lucas dan Imel sampai sekarang pacaran. Jika persahabatan antara Teho, Lucas dan Ten masih terjalin, bukan tidak mungkin Lucas memiliki kontak Theo.


Baru saja dia akan pulang karena acara penandatanganan bukunya alias launching yang sebenarnya agak telat karena Lili agak sibuk belakangan ini dengan jadwal shootingnya, sepatu tinggi Lili tersangkut lekukan paving blok dan hampir saja jatuh jika seseorang tak menahannya.


Waktu dia melihat siapa yang menangkapnya, Lili melihat wajah Theo. Wajah laki-laki itu tak berubah banyak. Masih tampan dan bahkan masih cocok untuk jadi anak SMA seperti beberapa tahun yang lalu.


Theo tersenyum waktu itu. Kemudian membantu Lili untuk bangun.


Lili berdeham canggung saat telah berdiri normal kembali. Dia merapikan bajunya. Merapikan rambutnya. Kemudian menatap Theo.


"Ma-makasih."


Rasanya memang secanggung itu. Serius.


"Sama-sama." Theo mengangguk. Kemudian menipiskan bibirnya. "Gimana kabarnya?"


Lili menaikkan alisnya. Kemudian segera tersadar baru saja Theo bertanya apa. "Baik. Kalau ... kamu gimana kabarnya?"


Belakangan ini aksen Lili berubah. Dia tak biasa lagu menggunakan gue-lo karena dianggap kasar di dunianya yang kini ia masukki. Lili berubah jadi dewasa. Dia canggung jika harus berkata begitu pada Theo yang sudah sangat lama tak bertemu dengannya lagi sejak kelulusan SMA.


"Baik," balas Theo dengan senyuman lebar. "Mau ngobrol di suatu tempat?"


Lili tersenyum. Kemudian mengangguk.


***


"Aku sering liat kamu di TV," kata Theo mengawali perbicangan mereka saat telah menemukan sebuah restoran sapi. Mereka makan sesuatu dan rasanya tak terlalu canggung. "Masakan kamu kayaknya enak banget. Aku juga pengen cobain."


Lili tersenyum lebar sampai matanya menyipit membentuk bulan sabit. "Kapan-kapan, deh."


"Oh. Oke."

__ADS_1


"Omong-omong, kenapa deh jadi banting stir ke dunia masak-masak?" tanya Theo tiba-tiba penasaran.


Lili mengangkat bahunya dengan santai. "Nggak tau juga, sih. Udah takdir juga."


"Oh, gitu ya." Sepertinya Lili enggan untuk bercerita lebih jelas dan lebih panjang.


Ah, belum apa-apa Theo sudah sedih duluan.


Keduanya jadi diam. Karena ini, Theo tertawa dalam hati dengan miris karena Lili sepertinya bahkan tak tertarik dengan dunia yang sedang Theo hidupi kini.


Maksudnya, bukannya Lili bertanya bagaimana kuliah atau pekerjaan Theo? Padahal hari ini Theo baru saja lulus kuliah dan harusnya menjadi salah satu hari terpenting yang dia punya dalam hidupnya.


Waktu Theo berpikir begitu, Lili tiba-tiba menatapnya lurus-lurus dengan wajah serius. Theo pikir Lili akan bertanya seperti apa yang ada dipikiran Theo.


"Oh, ya." Lili mengeluarkan sebuah buku yang lumayan tebal dan bercover yang didominasi warna hitam. Judulnya 'Theo' dan membuat Theo otomatis tersenyum lebih lebar. "Bukunya udah keluar. Kirim nomor rekening kamu, deh. Nanti aku transfer."


Theo sebenarnya sudah tahu bahwa buku itu telah terbit. Akhirnya, setelah penantiannya yang panjang. Setelah Theo selalu mengunjungi toko buku karena takut diam-diam Lili mengeluarkan novelnya tempat sepengatahuan Theo. Setelah mengecek media sosial Lili beberapa kali, akhirnya Theo mengetahuinya.


Bahwa novel yang berisi kisah tentang dirinya sudah dicetak. Sudah beredar. Sudah terkenal.


Jelas, Lili kini adalah seorang chef muda yang kerap kali memainkan film atau menjadi model. Lili lumayan sering diundang di sebuah acara masak-memasak dan bukan tak mungkin dirinya akan sangat dikenal sampai novelnya dicetak ulang dalam waktu dekat setelah keluar. Lili sangat gemilang dengan karirnya dan bersinar dengan kecantikannya.


Selama ini, Theo masih memerhatikan kehidupan Lili.


Masih menyimpan perasaan pada Lili.


Kening Lili mengerut saat Theo tak kunjung menjawab perkataannya. "Kenapa? Aku kan udah janji akan bagi royalti yang aku dapat sama kamu. Kamu nggak mau?"


Theo segera tersadar. Dia mengerjap-ngerjap sebentar untuk setelahnya berdeham agak gugup. "Aku nggak mau transfer uang dari kamu."


Apa ada kesempatan untuknya?


Ya, Theo tak akan mengetahuinya jika tak berkata sekarang.


"Aku mau transfer hati dari kamu."


***


"Wah, terus-terus? Bapak diterima nggak? Terus Mbak-nya bilang apa?"


"Pasti ditolak tuh, soalnya Bapak masih me-la-jang sampai sekarang!"


"Bapak umur berapa, sih? Dua tujuh?"


"Kasian banget."


Theo tertawa atas balasan dari murid-muridnya—Theo kini sudah berhasil mencapai cita-citanya, menjadi seseorang guru olahraga di salah satu SMA Negeri di Jakarta—setelah dia menceritakan tentang kisah cintanya karena ada yang bertanya mengapa Theo masih belum menikah juga. Padahal wajah udah oke, karir lumayan, dan baik hati.


Akhirnya, Theo menceritakan semuanya. Tentang masa SMA-nya, saat dirinya menyukai satu orang sampai sekarang dan tak pernah bisa dia lupakan.


Theo tersenyum kecil. "Tebak, dong! Dia jawab apa, coba?"


"Yah, Bapak kalau mau kasih tau ya kasih tau aja, jangan pake kuis!"


"Pak, UTS kan masih lama!"

__ADS_1


"Pasti ditolak, kan?"


"Pasti Mbak-nya jawabannya gini, maaf kalau aku transfer hati, nanti aku mati. Jadi, nggak mau."


Berkat itu, Theo jadi melorot. Meski sering kali tersenyum dan ramah dalam mengajar, Theo bisa menjadi sangat tegas dan galak dalam waktu singkat.


Sekarang, contohnya.


"Udah! Sekarang kalian lakukan pemanasan! Terus lari dua puluh kali di lapangan!"


"Yaaaaaaa, Pak!"


"Pak, nggak bisa gini, dong!"


"Paaaaaaaak! Kok jadi begini? Katanya sekarang kita bebas aja mau ngapain soalnya kan ini sesi perkenalan aja karena tahun ajaran malu."


Theo melotot pada satu anak muridnya itu. "Banyak omongnya ya kamu! Kalau ada yang ngeluh lagi, Bapak tambah jadi tiga puluh putaran!"


***


"Aku mau transfer hati dari kamu."


Wajah Lili langsung menegang saat mendengar Theo mengatakan itu. Meski memang terlalu gombal dan nadanya seperti bercanda, wajah Theo sama sekali tak begitu. Wajahnya serius dan tatapan sangat dewasa.


Lili yakin pada apa yang Theo maksud.


Theo menunggu dengan gelisah. Takut, namun dia harus berani. Ketika Theo hendak mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah dan berbalut bulu-bulu halus dari sakunya, Lili mengangkat tangan kanannya dengan segera.


Membuat Theo batal mengeluarkan cincin tersebut dan menatap Lili dengan wajah tercengang.


Di tangan Lili yang lentik dengan memiliki kuku-kuku yang dipoles indah sampai berkilau dan membuat Theo takjub, ada sebuah cincin di jari manisnya. Wajah Lili tersenyum, masih sangat cantik, meski senyumannya itu berarti sebuah kesedihan dan perasaan tidak enak untuk Theo.


Theo membuang napas putus asa.


"Aku pikir kita jadi teman yang sangat dekat aja. Aku memang pernah cemburu saat kamu sama Sherin, sangat dekat, tapi aku pikir perasaan itu hanya sebatas perasaan teman pada teman dekatnya. Kamu harus tau, kamu teman laki-laki pertamaku dan jelas aku senang memilikimu sebagai sahabat dekat. Jika harus menjelaskan dan menegaskan lagi, aku dan kamu ....


"..... Kita hanya bisa sebatas teman. Ya, teman dekat. Aku mana mungkin lupain kamu. Kamu menempati salah satu bagian yang spesial di hati aku, tenang aja. Terimakasih udah mau temenan sama aku bahkan sampai saat ini, terimakasih telah jadi inspirasi buku-ku yang pertama dan terakhir. Terimakasih. ... Dan ... perlu kamu ketahui, aku akan menikah tiga bulan lagi, Theo." Lili berkata lembut.


Meski begitu, bagi Theo, suara lembut Lili bagai Sambaran petir di siang hari bolong yang kemudian disusul tsunami luar bisa yang meluluhlantakkan hati Theo.


Lili yang melihat perubahan drastis wajah Theo, memilih tersenyum menenangkan untuk Theo. Matanya menatap lembut dan Theo ingin sekali waktu bisa membeku saat ini saat balas menatapnya.


"Tempatnya di gedung Mawar. Tanggal 25 Agustus. Kamu boleh datang ... boleh juga nggak."


***


Teruntuk orang-orang yang tak bisa disebutkan secara spesifik, Theo ingin mengucapkan terimakasih karena seperti ending di novel yang berjudul namanya sendiri, Theo mendapatkan akhir yang bahagia. Dia bahagia bisa sampai seperti ini. Mencapai cita-citanya, ada teman-teman yang setia, keluarga yang bahagia dan murid-murid yang pintar dalam jalannya masing-masing.


bersambung ke WABBL - The Last Chapter



**jangan sedih ya, guys


yup, ini akhir sebelum akhir sebenarnya dari WABBL** :))

__ADS_1


__ADS_2