
Ily diberi perintah untuk basahi bunga matahari di depan kamarnya sore ini dengan air bersih. Sebenarnya Ily sudah tak memperhatikan lagi taman bunga di depan kamarnya karena sibuk dengan tugas serta pekerjaan. Beruntung ibu mengingatkannya, jadi kini Ily akan merawatnya. Jika bisa, mungkin variannya akan Ily tambahkan.
Seperti mawar dan bugenvil. Atau lavender dan anggrek. Apapun itu asal bunga.
Air dalam ember yang Ily bawa telah habis dimakan bunga matahari di depannya. Ily meletakkan gayungnya di dalam ember, lalu memilih untuk duduk di teras depan kamarnya dulu, seraya mendongak ke atas.
Langit menampakkan biru yang pucat, seperti akan memberikan kesempatan untuk awan menangis, membasahi bumi. Namun, itu tak menghentikan Ily untuk terus menatapnya. Rasanya, dia bebas dan damai saat menatap langit. Seolah dinaungi, dilindungi dan aman karena langit ada untuk menjaga bumi dari benda di luar angkasa.
Indahnya langit, Ily tak akan pernah menyangka jika melihatnya, dia bisa merasa setenang ini. Jika tahu dari awal, setiap hari, pasti Ily akan memandanginya. Meski itu hanya dua sampai tiga menit.
Dulu, Ily lebih sering menunduk dan menatap ke depan masalahnya, tanpa menyadari bahwa yang di atas masih ada, masih hadir untuk turut serta membantu meringankan kehidupan Ily.
Kini, Ily merasa ringan. Beban berat dalam hatinya seolah telah terangkat setelah menjelaskan apa yang dia rasakan pada Raihan, juga pada keluarganya.
Sehingga Ily tak lagi punya kewajiban apapun.
Ily tersenyum, memejamkan matanya dan menikmati angin membelai lembut wajahnya.
Srek! Srek! Ck! A! Dug! Aduh!
Suara itu membuat Ily membuka matanya dengan awas. Ia menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, namun tak kunjung menemukan sumber suara yang tadi didengarkan. Karena itu, ada sesuatu yang membuat Ily ketakutan.
Refleks, Ily mengangkat gayung yang dia pakai untuk menyiram sebelumnya untuk digunakan sebagai tameng serta senjata untuk melawan seandainya ada sesuatu yang dapat mengancam nyawanya.
Jantungnya semakin berdebar kala melihat sesuatu berwarna hitam muncul di atas pagar tembok rumahnya. Tepat di antara rambatan tumbuhan serta bunga matahari.
Ily sudah hampir menjerit ketakutan, jika saja sesuatu yang berwarna hitam itu tak bergerak hingga menampilkan seraut wajah dengan ringisan kesakitan. Ternyata sesuatu yang hitam itu adalah rambut seseorang.
"Ily ...."
"Yohan?" Ily memasang wajah tak percaya. "Sedang apa kamu di sana?"
"Sebentar ... em ... ergh ... ah!" Yohan belum menjelaskan apa-apa, belum menjawab pertanyaan Ily, justru berjuang untuk memanjat lebih tinggi dan melompat begitu saja untuk sampai dapat berdiri di depan Ily kemudian.
Bentuk Yohan sekarang sudah tak beraturan. Maksudnya, sangat berantakan. Mulai dari rambutnya yang seolah telah tertimpa angin ****** beliung, wajah penuh lebam dan goresan yang meski kecil-kecil, tapi eksistensinya banyak sekali, hampir penuhi wajahnya, baju serba hitam yang sudah sobek hingga menampilkan sedikit bagian perut sampingnya, ada luka terbuka yang berdarah di lututnya hingga jeans yang dia pakai robek di bagian itu serta kaki tanpa alas kaki yang merah di mana-mana, mungkin terkena batu atau material lainnya yang sempat diinjak.
Melihat semua itu, Ily tak bisa untuk tak menjerit atau setidaknya meluapkan rasa kagetnya lewat suara kencang.
"Jangan teriak dulu," tahan Yohan segera, menempelkan jari telunjuknya di depan bibir Ily saat melihat Ily membuka mulutnya dengan wajah super panik. "Aku baik-baik saja sekarang."
__ADS_1
"Tapi, Yohan ...." Ily tak bisa cari kata-kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan Yohan sekarang. "Kamu luka! Kamu abis ngapain, sih?!"
"Ssshhhh," peringat Yohan tak mau ada keributan sebab dia khawatir akan ada yang mendengarnya dan membuat keributan selanjutnya. Wajah Yohan berubah menjadi memelas. "Bisa tolong diam dulu?"
Ily refleks merapatkan bibirnya. Meski khawatir dan dibuat kebingungan, ia menghormati apa mau Yohan sekarang.
"Kalau boleh ... aku mau menginap beberapa hari di rumahmu," kata Yohan agak tak enak. Ily lagi-lagi masih bingung dan tak bisa mencerna ucapan Yohan baik-baik. "Kalau boleh, sih. Aku tak akan memaksa. Saat ini situasiku sedang darurat. Ka--"
"Ily? Oh rupanya masih di sini. Dari tadi ibu cariin tau...."
Suara ibu menginterupsi perkataan Yohan, membuat Ily dan Yohan menoleh bersamaan ke arahnya. Perkataan ibu pun terinterupsi karena matanya melihat ada Yohan di sana.
"... Yohan!"
Ibu melihat keadaan Yohan kini dengan mata khawatir, kemudian segera mengambil tangan pemuda itu untuk ia bawa masuk ke rumah.
"Aduh, ini kamu abis ngapain, sih? Kok banyak luka-luka gini? Ily, ambil handuk sama bikin air anget. Bawa P3K juga di dapur," kata ibu memberi perintah pada Ily, sementara ia membawa Yohan untuk duduk di sofa ruang keluarga.
Yohan mendesah tak enak saat duduk. Badannya sakit sekali, mungkin bekas pukulan malam kemarin masih ada. Ibu jelas menangkapnya, langsung saja menyingkap baju Yohan yang memang sudah tak berbentuk lagi untuk dibuat terkejut karena ada luka-luka lebam yang tak jarang, menghiasi punggungnya.
"Yohan, ini kenapa lagi? Aduh, kok bisa sampai begini?" tanya ibu tak mengerti. Matanya menatap khawatir dan benar-benar dalam, namun Yohan tak kuasa untuk menatapnya.
Yohan menggigit bibir, memilih untuk diam dahulu sambil berpikir.
Keberadaan Yohan di sini adalah untuk bersembunyi. Setidaknya tiga hari, sampai keadaan benar-benar sudah bersih kembali dari masalah.
Semoga saja keluarga Ily bisa terima.
"Aku ada masalah, Bu," kata Yohan pelan. "Kalau waktunya tiba, aku akan jelaskan semuanya, Bu. Tapi ... boleh tidak aku tinggal di sini untuk beberapa hari?"
Ibu menatapnya tak percaya. Awalnya, Yohan kira sorot mata yang ditunjukkan ibu adalah sebentuk penolakan kuat, namun ibu justru tersenyum setelahnya. Sesuatu yang jelas membuat Yohan terperangah karena ibu Ily bisa sebaik itu.
"Kenapa nggak boleh? Kamar Ily luas, kok."
Yohan tersenyum lega. Menghela napas panjang dengan perasaan yang mulai tenang. "Terimakasih, Ibu."
"Sama-sama," balas Ibu dengan senyum lebar. Wajahnya kini lebih tenang, berbeda dari tadi yang panik tak ketolongan.
"Ini, Bu, air angetnya," lapor Ily seraya membawa satu panci air yang sudah ia rebus sebelum. Uap panas dari panci itu sampai mengepul saat Ily meletakkannya di atas meja, tepat di samping Yohan yang duduk.
__ADS_1
Mata Ily memandang Yohan dengan tatapan terpana. Yohan kini setengah telanjur tanpa ada sehelai kain pun menutup tubuh bagian atasnya.
Yohan menatap Ily dengan polos, kemudian tersenyum miring saat tahu apa arti tatapan Ily padanya.
"Oke, makasih," kata ibu, memecah fokus Ily hingga pipinya jadi merah karena malu telah sadari apa yang dilihatnya itu salah, "Kotak P3K-nya mana?"
Ily menepuk keningnya dan di saat-saat ini, Yohan sempat-sempatnya tertawa hanya untuk membuatnya kesakitan detik berikutnya. Segera, Ily kembali melangkah menuju dapur untuk mengambil benda berangkutan.
"Udah sakit, masih aja bisa ketawa," tegur ibu sambil berdecak meledek.
Yohan menipiskan bibirnya, malu.
Tak lama, Ily datang dengan kotak P3K di pelukannya. Ketika tiba di dekat Ibunya dan Yohan, Ily ikut duduk dan meletakkan kota P3K itu di depan ibu. Ily menatap Yohan dari bawah dengan pandangan sedih.
Ibu membuka kotak P3K-nya, kemudian mengambil kapas dan memberinya alkohol. "Mau bantu nggak, Ly?"
"Mau, mau!" seru Ily semangat.
"Hm, pasti modus, ya?" goda ibu sempat-sempatnya.
Ily cemberut. "Nggak, bu!"
Yohan mengulum senyum geli. Dia hanya mampu menundukkan kepalanya karena malu. Ily benar-benar ada di hadapannya, jaraknya amat sempit dan kini tangannya menotol-notolkan kapas beralkohol pada luka-luka gores di wajahnya.
Sementara ibu sibuk mengompres punggung lebam Ily dengan handuk yang telah dicelupkan pada air hangat sebelumnya. Dia bahkan tak pernah diperlakukan seperti ini oleh ibunya sendiri.
Yohan selalu bekerja sendiri, hidup mandiri. Meski ia terluka, ia harus sembuh sendiri. Meski ia sakit, ia harus menangis sendiri. Rasanya, hidup amat sepi, menyiksa hati.
Namun, Ibu dan Ily sampai repot-repot seperti ini padahal Yohan sama sekali tak merasa pernah melakukan sesuatu yang berarti pada mereka.
Atas semua ini, Yohan ingin menangis.
Meski hidupnya amat kelam, gelap dan penuh rasa sakit, masih ada yang peduli padanya.
Yohan terharu.
***
**kaget ya up tiba-tiba
__ADS_1
gapapa biar cepet tamat hahaha
jangan lupa like dan komen**^^