Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 92


__ADS_3

Perkataan itu membuat Tamrin lagi-lagi tercengang. Dia awalnya tak mengira dari mana Laura mengetahui tentang itu, namun ketika melihat Theo di samping Laura, Tamrin paham dari mana Laura tahu fakta itu.


Setelah terdiam agak lama, Tamrin menyunggingkan senyum bangga.


"Iya. Terus kenapa?" tanya Tamrin santai. "Apa kamu tidak malu karena punya anak yang membuat bunting anak seorang? Apa dia anak kucing yang tidak izin dulu saat akan menghamili seseorang?"


"Meski begitu, dia pasti akan bertanggung jawab." Laura menukas penuh keyakinan. "Kamu Ayahnya. Pasti mengerti tentang Leo karena kamu sering bermain dengannya."


Sebuah fakta tentang keluarganya, Leo lebih akrab dan senang bermain bersama Ayah. Sementara Theo selalu dengan Ibunya. Lahirnya Titi kemudian juga lebih dekat dengan Laura.


"Justru aku tidak mengerti." Tamrin menautkan alisnya, berpikir keras. "Dia belajar dari siapa tentang perkawinan di luar nikah? Apa itu pengaruh dari akting Ibunya?"


"Mau bagaimana pun, seharusnya kamu tidak membunuh anak sendiri dan memanipulasinya sebagai kasus bunuh diri!" seru Laura tak habis pikir.


Bukannya mengakui kesalahannya, Tamrin justru membawa-bawa namanya untuk disalahkan.


"Kamu bahkan tidak begitu peduli padanya, maksudku pada anak pertama kita, Leo. Kenapa sekarang tiba-tiba peduli?" tanya Tamrin merasa terganggu. Dengan nada sarkas, dia bertanya, "Habis shooting film azab?"


"Apakah itu tugas seorang Ayah?" Laura meninggikan suaranya dengan urat leher yang mulai kelihatan saking emosinya. "Apakah begitu?! Apakah tidur dengan perempuan lain tidak cukup untukmu?"


"Ibu ...." Theo tak tahan lagi melihat pertengkaran ini. Waktu di masa lalu, kejadian ini juga pernah ia saksikan. Berakhir dengan terbenturnya kepala Laura ke dinding karena emosi Tamrin.


Theo khawatir hal buruk itu akan terulang lagi.


"Tenang Theo, Ibu bisa hadapi Ayah." Laura kembali menenangkan Theo sebisa mungkin. Laura sudah mengantisipasi semuanya.


Kemudian, Laura kembali menatap Tamrin, melanjutkan meluapkan apa-apa yang selama ini dia pendam. "Apakah harus untukmu menghancurkan masa depan anak-anak juga?"


Tanpa membiarkan Tamrin buka suara lagi, Laura menjerit kuat-kuat. "Cukup! Cukup aku saja yang tersakiti!"


"Dasar perempuan dungu! Aku sudah bilang dia kolegaku!" seru Tamrin kelewat emosi. Dia mulai berjalan cepat mendekati Laura. "Sekarang lebih baik kamu pulang!"


Tamrin mencengkram bahu Laura kuat-kuat sehingga membuat Laura syok dan mendorong mantan istrinya itu hingga menjauh dari dekatnya. Setelah Laura ambruk kesakitan, Tamrin mengambil Theo dan mencekik leher Theo dengan lengannya.


"Ayah!" seru Theo kesakitan. "Lepas!"


"A, a, a, a!" Napas Theo jadi tersengal-sengal karena bukannya melepas cekikannya, Tamrin justru lebih erat menekan lingkaran tangannya di leher Theo. "Uhuk! Uhuk!"


"Tamrin! Lepaskan dia!" seru Laura dengan wajah kalut. Dia segera memencet tombol dari alat yang sedari tadi berada di saku celananya dan dengan begitu, dua orang polisi lengkap dengan senjata api datang.


Hal itu langsung membuat Tamrin mundur dengan cepat dan mengambil pisau untuk setelahnya ia arahkan pada leher Theo. Laura membulatkan matanya melihat itu.


"Tamrin, jangan gila! Lepasin Theo!" seru Laura dengan suara seraknya yang menyayat hati.


"Angkat tangan dan serahkan anak itu. Atau peluru ini akan melesat ke kaki Anda." Salah satu dari dua polisi itu berbicara tegas.


"Berhenti! Jangan berani melangkah atau saya akan melukai leher anak ini." Tamrin punya sandra, jadi dia bisa mengancam dengan wajah bengisnya.


"Tamrin! Itu anakmu, dasar brengsek!" Laura kembali berseru. "Pak Polisi, tolong selamatkan anak saya, Pak."


"Aku tidak main-main." Martin menyeringai lebar. "Kalau kalian berani mau, satu langkah saja, anak ini akan mati."


Theo mengerjapkan matanya. Tak tahan dengan sesak ini. Tenaganya seperti disedot habis-habisan. Mau melawan pun dia tak bisa. Ternyata berhadapan dengan pisau yang menggores kecil kulit lehernya sangat menakutkan.


Theo tak bisa asal bergerak atau bicara.


"Anda ditangkap atas pelaku pembunuhan, penganiayaan dan percobaan pembunuhan anak!" tegas Pak Polisi seraya menunjukkan surat perintah penangkapan. "Lepaskan anak itu sekarang."


"Tidak." Tamrin memilih keras kepala.


Dor!


Dan dua Pak Polisi dengan cekatan menebang kaki Tamein sehingga laki-laki berseragam rapi itu ambruk seketika dengan geraman kesakitan. Sebelum jatuh, Tamrin sempat-sempatnya menggerakkan bentar tajam itu ke leher Theo.

__ADS_1


Sebuah tindakan yang membuat Laura tercengang di tempatnya.


"Argh!" Theo mengerang kesakitan. Kemudian ambruk bersamaan dengan Tamrin yang langsung diborgol polisi. Tamrin berusaha untuk lepas, namun kalah jumlah dan tenaga.


"Aish, sial." Tamrin sempat-sempatnya mengumpat.


"THEO!" Laura berseru dan segera berlari untuk menghampiri Theo. Dengan banji air mata, dia mengambil kepala Theo untuk ditidurkan di pahanya. Ketika itu, tangan Laura langsung berlumuran darah. Dengan gemetar, tangan kanannya menutup kulit leher Theo sementara tangan kirinya menyentuh kecil alis-alis dan rambut-rambut di kening Theo.


"Theo, tetap sadar, nak. Ibu di sini. Ibu di sini, Theo. Ibu di sini ...."


***


Sebenarnya Laura tak pernah menginginkan untuk berpisah dengan anak-anaknya hari itu.


Namun, karena dia mengetahui Leo justru memilih bunuh diri (Laura tak pernah tau Leo dibunuh ayahnya sendiri sampai Theo memberitahu) karena penceraiannya, Laura tak pernah bisa menganggap dirinya sebagai Ibu yang baik lagi.


Lebih balik dia menghilang saja daripada harus menjadi Ibu yang buruk dan tak berguna. Selain itu, sejak dia memergoki suaminya meminum sesuatu, Laura merasa ada yang aneh dengan Tamrin.


Sejak menggunakan kekerasan untuknya, mengacaukan rumah dan membuat Laura tertekan, Laura bulat-bulat memutuskan untuk meninggalkan rumah.


Jika dia turut mengambil Theo dan Titi, ia takut Tamrin akan merebutnya atau mengancam nyawa mereka. Karena itu, Laura memilih untuk meninggalkan Theo dan Titi. Begitupula dengan Tamrin. Mereka berdua sama-sama punya akses bebas dan berjanji untuk tidak membawa pulang kedua anak itu.


Tamrin memang sudah berubah. Menjadi seseorang yang tidak bisa Laura kenali lagi. Bahkan Laura sudah memiliki firasat bahwa Tamrin sudah buta pada anak-anaknya sendiri.


Dan itu terbukti benar.


Saat ditangkap dan ditahan tadi, Tamrin mengamuk habis-habisan. Dia menginginkan Theo, dia ingin lepas dan mengaku tidak bersalah. Katanya, tadi dia hanya main-main.


Tamrin seperti seorang psikopat di mata Laura. Laura ketakutan, namun ia tak peduli lagi.


Berkat Theo cerita Theo dan fakta-fakta baru yang dibawanya, Laura memiliki keberanian untuk melawan Tamrin. Dengan bantuan yang berwenang, Laura menyusun rencana untuk mengambil Theo dan Titi agar selalu di sisinya, selamanya. Laura tak mau menyia-nyiakan waktu lagi dengan memaki dirinya yang tak berguna, Laura ingin berubah.


Laura ingin menjadi Ibu yang lebih-lebih baik lagi. Laura tak mau menahan diri lagi.


Tak ada batas kasih sayang dari Ibu pada anak-anaknya. Laura meyakini itu dan itulah yang dia rasakan.


Bertapa rindunya ia, pada anak-anaknya yang menjadi jarang dia lihat. Setiap hari, Laura selalu memikirkan mereka. Memikirkan kenangan-kenangan indah dalam kesendirian yang menyiksa.


Sebab setelah penceraian dan perpisahan dengan anak-anaknya, Laura menyibukkan diri untuk berkarir dan itu semua ia lakukan untuk melupakan anak-anaknya berserta sakit yang tertoreh di hatinya.


Namun, ternyata Laura tidak bisa.


Setiap kali ia mengunjungi rumah itu, setidaknya satu bulan sekali, Laura merasakan rindu yang membuncah, kebahagiaan yang menguar dan keinginan untuk tetap tinggal yang mengakar.


Jelas Laura menahan diri untuk tak terjebak dengan kesenangan itu lagi. Dia takut. Laura takut akan mengulang kepedihan yang sama.


Menciptakan jarak yang jauh mungkin adalah solusi terbaik untuknya dan anak-anaknya.


Maka ketika akhirnya Theo mendatanginya secara inisiatif (yang mana sangat mengejutkan karena saat dikunjungi pun Theo tampak tak bahagia sama sekali), Laura merasakan haru dan sedih secara bersamaan.


Kebahagiannya saat melihat Theo harus ditutup oleh rasa sedih karena Theo membawa masalah yang tak pernah Laura ketahui selama ini.


Masalah yang membuat segalanya menjadi jelas.


Bahwa Tamrin adalah sumber kekacauan dalam hidupnya.


Harusnya Laura bisa bahagia dengan Theo dan Titi sekarang. Sebab Tamrin sudah ditahan dan tak punya akses untuk mengganggunya lagi, bersama anak-anak.


Titi ditemukan di kamar bawah tanah rumah Tamrin dalam keadaan pingsan karena kekurangan makan dan minum. Anak bungsunya itu terbaring lemah di ruangan sebuah rumah sakit dengan infus di tangannya. Matanya terpejam damai dan napasnya teratur.


Setidaknya, Laura bisa lega akan keadaan Titi. Meski sangat sakit rasanya melihatnya begitu.


Keadaan Theo jauh berbeda dengan Titi.

__ADS_1


Anak laki-lakinya itu belum sadar juga setelah satu hari berlalu.


Laura menangis dengan putus asa di samping bangsal Theo sepanjang waktu. Ketika tak sengaja tertidur sejenak, ia teringat percakapannya dengan Theo semalam sebelum ia dan Theo pergi ke rumah Tamrin.


Theo berbaring di tempat tidurnya. Tak bisa tidur. Badannya masih hangat. Laura memutuskan untuk mengajaknya mengobrol.


"Selama ini ... kamu gimana sama Titi?" tanya Laura agak canggung.


Theo terdiam sebentar sebelum akhirnya menjawab dengan nada pelan. "Baik-baik aja."


"Beneran? Nggak kesusahan, kan?"


"Lagian Ayah sama Ibu kasih uang yang cukup setiap harinya. Hidup aku sama Titi baik-baik aja." Theo nenjawab datar.


Cuma kurang kasih sayang aja, batin Theo menambahkan.


"Sekolah kamu gimana?" tanya Laura kemudian.


Senang rasanya diperhatikan, namun Theo menjawabnya dengan nada sedih, "Ibu bakal kecewa kalau tau nilai-nilai aku gimana."


"Ibu nggak akan kecewa." Laura segera menggeleng dan tersenyum meyakinkan. "Ibu nggak pernah kecewa sama nilai-nilai kamu. Apa Ibu pernah begitu?"


Ya, dari kecil Laura tak pernah sekalipun kecewa dan memarahi nilai Theo yang kerap kali kecil. Beda dengan Leo yang hampir di setiap pelajarnya dapat nilai hampir sempurna.


"Nilai-nilai aku selalu kena remedial, Bu." Theo menyuarakannya tetap dengan kesedihan. Lagipula, mana ada anak yang tega mengecewakan orang tuanya? "Setiap ulangan."


"Hah? Kok bisa? Serius kamu nggak pernah nggak diremedial?" tanya Laura, terkejut luar biasa tanpa bisa tahan.


"Ibu kecewa sekarang." Theo berspekulasi sedih.


"Nggak, Theo. Nggak. Ibu nggak kecewa." Laura segera menentang perkataan Theo. "Ibu heran aja. Waktu kamu SD atau SMP, nilai kamu normal-normal aja. Bahkan nggak pernah kena remedial, iya kan?"


"Pelajaran SMA itu susah, Bu."


"Nggak ada temen yang bantu ajarin emangnya? Nggak ada guru yang perhatian emangnya?" tanya Laura heran. "Kalau remedial terus, kok kamu bisa naik?"


"Aku bisa aja nggak naik kelas tahun ini." Theo menjelaskan dengan sedih. Sayang sekali baru bertemu lagi, ia malah mengecewakan Laura. "Ini kesempatan terakhir aku."


"Kalau soal ada temen atau guru, niat aku memang untuk terus jadi bodoh." Theo menambahkan.


"Kenapa begitu, nak?"


"Kalau aku pintar, Ayah pasti makin menaruh kepercayaan ke aku buat jadi penerusnya. Aku nggak mau." Theo tersenyum tipis. "Aku punya hidup dan cita-cita sendiri."


"Jadi penasaran." Laura menciptakan senyuman lebar. "Cita-cita Theo itu apa, sih?"


"Cita-cita aku jadi guru olahraga, Bu."


"Wah, bagus tuh." Laura kelihatan senang, membuat Theo tenang. "Alasan Theo kenapa mau jadi guru olahraga apa? Ada panutan yang di sekolah?"


"Nggak, Bu." Theo tertawa kecil. "Soalnya dari nilai-nilai pelajaran yang lain, nilai pelajaran olahraga selalu yang paling besar."


Laura hanya tertawa saat itu. Kemudian menyelimuti Theo dan mencium keningnya agar cepat tidur.


Kini, Laura kembali lagi dihadapan pada Theo yang tengah tertidur tanpa tahu kapan dia akan terbangun.


"Theo, ayo bangun, nak." Laura merapikan rambut-rambut Theo. "Ayo, kamu harus sekolah. Perbaiki nilai kamu. Kejar cita-citamu. Jadi guru olahraga yang berprestasi."


"Ibu akan terus di sini ... Ibu nggak akan pergi lagi ... Ibu berjanji." Laura beralih mengambil tangan Theo dan menyentuhkannya pada keningnya sendiri, berharap dengan sangat. "Ibu mohon Theo, ayo buka matamu."


Sayangnya, hanya keheningan yang menyahuti.


***

__ADS_1


__ADS_2