Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 52


__ADS_3

Ten menggeram. "Serius lo bakal begini?"


"Terus gue harus gimana?"


Buagh!


Ten tak bisa menahan kepalan tangannya untuk tak menonjok pelipis Theo, membuat laki-laki yang duduk itu langsung terjengkang ke samping dengan kursi yang turut terguling. Di bawa sana, Theo meringis. Kepalanya pening saat dia mau berdiri.


Yang menonton mereka langsung berseru heboh, beberapa langsung berlari untuk melaporkan situasi di kantin ini pada orang yang lebih tua. Jika mau tau mereka siapa, itu Lili dan Gema.


"Itu buat lo yang--"


Ten tak diberi kesempatan untuk menyelesaikan perkataannya ketika tahu-tahu Theo menyerangnya. Membuatnya terbaring di bawah Theo yang langsung memukul wajahnya habis-habisan.


Lucas yang melihat itu langsung beraksi, dia menahan tangan Theo sampai urat-urat tangannya kelihatannya. Dari segi apapun, Theo selalu unggul dibanding mereka berdua.


"Yo, udah Yo," kata Lucas memberi peringatan. "Udah, woi, anjuir!"


Napas Theo memburu. Tak tangan tangan kanan karena ditahan Lucas, maka ada tangan kiri untuk memukul Ten lebih lanjut. Namun, sayang, Ten lebih dulu menahan tangan kirinya dan bangkit untuk setelahnya memukul peurt Theo beruntun.


Theo menipiskan bibirnya, menahan sakit. Namun, matanya menatap nyalangnya pada Ten dan Lucas bergantian dengan penuh peringatan.


"Kemarin Regan marah, Yo," kata Lucas dengan senyum pedih. "Lo tau kita diapain?"

__ADS_1


Ketika Lucas membuka perut yang penuh memar, disusul pada kenyataan wajah Ten yang ditilik lebih lanjut terdapat luka-luka gores kecil, Theo tak bisa mengucapkan apa-apa lagi.


"HEI KALIAN BERTIGA, BERHENTI! SEBAIKNYA IKUT SAYA KALAU TIDAK MAU DIPENJARA!"


Suara Pak Dodo menginterupsi, membuat Theo yang sudah membeku terpaksa mengikuti langkahnya.


***


Setelah diberi ceramahan, Theo dan Ten pergi ke UKS untuk mendapatkan pertolongan atas luka yang mereka dapatkan hasil dari pertengkaran. Lucas sendiri yang tidak terluka apa-apa diperintahkan untuk langsung ke kelasnya saja.


Di ruang BP, Ten menjelaskan dengan rinci, tentu saja dengan masalah yang dia ciptakan sendiri. Guru yang menangani masalah mereka akhirnya percaya dan Theo serta Ten berjanji untuk tak mengulanginya lagi sehingga tak perlu diadakan pengeluaran surat pemanggilan orang tua.


Mereka berdua memang telah berbaikan di ruang BP, namun pada kenyataannya tidak ketika mereka sampai di UKS. Theo dan Ten sama-sama diam seperti orang yang menyimpan banyak dendam dan ketidaksukaan pada masing-masing.


Ketika telah diberi pengobatan untuk memarnya, Theo dan Ten boleh pergi ke kelas masing-masing.


Tanpa berpamitan atau berbasa-basi lagi, keduanya berpisah.


Theo paham bahwa ini artinya, tali mereka telah berputus sejak setiap langkah Theo ambil semakin jauh dari Ten. Baiklah, baru saja teman satu tahun lebih bersama dengan hobi yang sama, Theo membuatnya hilang.


***


Apa Theo egois?

__ADS_1


Dia tak mau membuat orang-orang terluka lagi karenanya, jadi Theo memberitahu supaya Lili pulang terpisah dengannya. Lagipula, ini motor Theo dan dia tak punya kewajiban untuk mengantar Lili selalu.


Iya, kan?


Theo terus-menerus menyakinkan dirinya begitu, namun kenapa hatinya terasa janggal?


Theo masih merasa ada yang mengganjal bahkan setelah di sampai di depan gerbang Lili. Tak lama, perempuan berkacamata bulat itu juga turun dari ojol yang dinaikinya barusan.


Wajah Lili tak tampak semarah atau sekesal yang Theo kira, namun jelas wajahnya tak secerah biasanya.


Theo menunggu Lili membuka gerbang rumahnya, namun justru perempuan itu melangkah mendekatinya, menatapnya lurus-lurus.


"Lo ada masalah lagi, Yo?"


Pertanyaan itu seperti sebuah mentega yang meleleh di hati Theo. Lama sekali dia tak menerima pertanyaan itu. Theo ingin terharu dan menceritakan segalanya, namun otaknya berkata tidak pada hatinya.


"Nggak."


"Terus kenapa bisa berantem gitu sama Ten? Bukannya kalian sahabatan?"


Sahabatan? Theo tertawa hambar. "Lo nggak perlu tau atau ikut campur lagi sama masalah gue. Kisah hidup gue. Gue pikir lo udah tau semuanya dan seharusnya lo nggak ada kepentingan lagi sama gue."


"Habis manis, sepah dibuang."

__ADS_1


__ADS_2