Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 64


__ADS_3

Hari-hari berikutnya, Lili benar-benar tak mengganggu Theo.


Lili dan Theo sudah seperti orang yang tidak mengenal satu sama lain dengan dekat seperti beberapa minggu sebelumnya. Mereka berdua seperti dahulu. Hanya sebatas dua orang yang satu kelas. Tidak lebih.


Lili sudah bercerita pada Gema juga tentang mengapa ia menjauhi dan mengabaikan Theo. Theo sendiri tampaknya nyaman dengan ketidakhadiran Lili dalam mengurusi hidupnya lagi.


Meski begitu, ada yang berubah secara signifikan dari Theo. Jika biasanya laki-laki itu selalu tidur di setiap pembelajaran berlangsung, hari ini Theo memerhatikannya dengan seksama guru tersebut. Anak-anak di kelas, termasuk Lili, guru-guru yang mengabsen dan Theo langsung menyahut, sangat-sangat terkejut dengan perubahan Theo.


Bukan hanya guru dan teman-teman di kelasnya saja sebenarnya yang terkejut, Ten sebagai sahabat terdekat Theo pun terkejut karena ketiba-tibaan sahabatnya itu untuk mengajarinya matematika.


"Tumben banget, Yo, kesurupan setan apa?" Ten bertanya begitu saking masih terkejutnya karena setelah makan, Theo tiba-tiba bilang ingin diajarkan Matematika olehnya.


"Bacot, lo." Theo mendengus keras, tak suka diremehkan seperti ini.


"Kasar ya, Abang nggak suka." Ten menatap Theo tajam.


Theo mendelik, mengabaikan perkataan Ten. Kemudian berpikir. "Pulang sekolah hari ini, di rumah Lucas deh, yoi, nggak?"


"Gue sih yoi." Ten mengusap dagunya dengan laga berpikir. Menatap Theo dengan tak yakin. "Lucasnya ada waktu nggak? Dia kan lagi fokus jadi selebriti."


"Oh, bener. Yaudah, di perpus aja dah ayo." Theo segera memutuskan dengan cara lain dan bangkit berdiri dari kursi kantin.


Ten menatap bangkit Theo dengan mata membulat tak percaya. "Sekarang banget, Yo?"


"Tahun depan," tukas Theo kesal.


"Oh, masih lama." Ten mengangguk ringan. "Bagus, deh."


"Lo mau bogem?" tanya Theo, tak bisa menahan kepalan tangannya untuk tak unjuk diri.


Ten tersenyum penuh arti. "Beliin roti melon, dong."


"Iya, iya, pulangnya gue beliin," balas Theo sudah teramat jengah.


"Pengen sekarang."


"Itu nasi sama kuah bakso nggak cukup bikin lo kenyang apa?"

__ADS_1


"Kenyang sih, tapi kurang. Muehehehe."


***


"Tidur yang nyenyak, ya," kata Theo lembut pada Titi yang telah memejamkan matanya dengan napas tertarik. Theo menarik selimut untuk menutupi leher Titi, kemudian mengecup ringan keningnya. "Kakak sayang Titi."


Theo mengulas senyum tipis, kemudian benar-benar pergi setelah memastikan sekali lagi jendela kamar Titi sudah terkunci dengan baik. Theo menutup pintu kamar Titi, kemudian berjalan untuk ke kamarnya sendiri.


Sebelum itu, Theo memandangi sebuah pintu kamar yang sudah lama tak terjamahi. Sebuah pintu kamar yang pemiliknya telah pergi untuk waktu yang tak bisa ditentukan lagi. Sudah menjadi milik Sang Pencipta lagi.


Dada Theo menjadi sesak kala mengingatnya kembali.


Meski begitu, rindu yang tak tertahan selalu menyesakki dada Theo. Tak bisa dipungkiri, meski Theo membenci kakaknya karena langsung pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal dengan baik, Theo tetap menginginkan kehadirannya kembali.


Jika bisa waktu diulang kembali, maka Theo memilih untuk tidak pergi les piano hanya untuk menemukan kakaknya tergeletak di kamar mandi setelah dia pulang kembali di sore hari.


Mengingat hari itu, air mata Theo luruh tanpa diminta. Tanpa suara, laki-laki itu menangis. Tubuhnya luruh di depan pintu kamar tanpa pemilik itu.


Diselimuti dingin dan sepi, Theo menghabiskan malam dengan menangis penuh penyesalan sekaligus kebencian. Dia benci ditinggal. Dia benci kakaknya. Dia benci semuanya.


Setelah beberapa saat berlalu, ketika Theo sadar bahwa menangis hanya membuang waktu dan tak akan membuat segalanya kembali membaik, dia memutuskan untuk bangkit. Theo mengusap air matanya dengan kasar dan membuat pintu kamar kakaknya.


Bagaimana wajah tanpa ekspresi kakaknya yang sudah ditinggal kehidupan. Bagaimana tangan pucatnya yang terlihat dicekah pintu kamar mandi yang terbuka sedikit. Bagaimana tubuh beku kakaknya. Bagaimana diambil kakaknya saat Theo berteriak bertanya-tanya dengan air mata mulai membanjiri wajahnya.


Theo memejamkan matanya. Menahan diri untuk tak hanyut lebih dalam.


Theo membuang napasnya dengan berat. Dia melangkah ke arah meja belajar. Entah apa yang mendorongnya untuk membuka lacinya sekarang. Namun, dari dulu Leo selalu bilang kalau semua harta karunnya ada di laci meja.


Theo selalu mengejek karena sebuah harta karun tak akan bisa lagi disebut harta karun jika seseorang telah mengetahui keberadaannya.


Di dalam laci itu, sekarang, Theo melihat sebuah kotak, kertas kado, pita dan sepucuk surat terletak di paling atas. Di bawahnya hanya buku sketsa bertumpuk-tumpuk yang sudah Theo ketahui isinya.


Leo selalu memamerkan hasil gambarannya. Karena itu, Theo ke sini saat ini untuk mengenang tulisannya. Namun, dia tak menyangka jika dia akan menemukan sesuatu selain buku sket milik kakaknya.


Kotak itu kecil, sebagian dari enam sisinya telah dipasang kertas kado berwarna hitam dengan dekorasi bintang, bulan serta komet. Sebuah kado yang seperti tak sempat terselesaikan, sebuah kado yang seperti tak akan pernah sempat terkirimkan dan sebuah kado yang seperti tak akan pernah menjadi sebuah kado sebab sudah tertinggal.


Oleh waktu, oleh manusia dan oleh cairan pembersih lantai.

__ADS_1


Air mata Theo menitik lagi.


"Harusnya kakak kasih dulu kadonya, baru mati," bisik Theo dengan suara amat parah, seperti akan hilang.


Dada Theo terasa sesak sekali. Dia menepuk-nepuk dadanya dengan kiat ketika membuka kotak itu dan menemukan sebuah penghapus pensil berwarna hitam di dalamnya. Bukan sebuah barang yang mahal, namun sangat berarti bagi Theo.


Beralih dari kado kecil itu, Theo memberanikan diri untuk mengambil sebuah kertas yang dilipat berupa sebuah surat. Benar saja, ketika Theo mengambilnya, deretan kata hasil tulisan tangan Leo terlihat.


Theo segera membacanya. Napasnya tertahan, tersekat dan dadanya makin sesak saja ketika membacanya.


Halo adikku Theo


Selamat ulang tahun, ya. Ini penghapus buat kamu. Kalau salah itu, jangan dihapus pake ludah, jorok. Jangan ngeluh terus kalau penghapus kamu suka ilang karena dipinjam temen-temen, bilang aja ke Abang, pasti dibeliin lagi


Belajar yang rajin pokoknya, ya


Jangan kayak Abang hehehe


Udah kelas dua SMP aja sekarang. Gimana rasanya jadi anak SMP? Seru? Banyak temen? Cewek-ceweknya pada cantik nggak? Apa kamu udah punya pacar?


Ya, gimanapun, sesusah apapun, kamu harus cerita ke Abang kalau ada apa-apa. Abang bakal bantu. Pokoknya jangan pernah sedih atau menderita sendirian.


Apa gunanya saudara kalau begitu?


Oke, nggak?


Oke-in aja biar cepet, ya


Theo menundukkan kepalanya. Tangannya mengepal kuat-kuat, sampai membuat kertas surat itu kusut dan hampir sobek.


"Theo nggak ngerti," desis Theo dengan mata memerah dan berkaca-kaca. "Kenapa Abang bilang gitu kalau Abang sendiri mati gitu aja?"


Theo merapatkan bibirnya kuat-kuat. Merobek surat dari kakaknya dengan emosi, sampai hancur berkeping-keping dan tak bisa disatukan lagi. Theo benar-benar benci kakaknya.


"Abang ninggalin Theo sama Titi. Berarti Abang nggak sayang sama kita. Theo ... Theo ... ergh!"


Theo tak bisa lagi meneruskan kata-katanya karena lidahnya terlalu kelu dan air matanya terlalu deras membanjiri wajahnya. Mengaburkan pandangannya. Theo menangis sejadinya, memukul-mukul meja, mengacak-acak bed cover kasur tidur kakaknya dan menggeram tertahan di keheningan malam.

__ADS_1


***


__ADS_2