
"Baiklah. Latihan hari ini segitu dulu." Luhan berkata begitu pada anak-anak cabang renang yang sudah berkumpul di depannya. Kebanyakan kelas sepuluh di antara mereka. "Kita latihannya selang dua hari. Jangan maksain, tapi jangan malas-malasan juga, oke?"
"Oke, Kak!"
"Sekarang, kalian pulang ke rumah masing-masing. Jangan keluyuran dulu. Langsung istirahat. Paham?" Luhan tersenyum lembut.
"Paham, Kak." Anak-anak kelas sepuluh itu mengangguk, saat Luhan berdiri, anak-anak itu turut berdiri dan berseru, "Kakak, terimakasih!"
Luhan jadi tersanjung. Padahal dia hanya mengarahkan dan mengawasi saja. Tidak lebih, bahkan kurang karena dia malah fokus ke Sari.
Kemudian Luhan berjalan ke arah kumpulan anak kelas sebelas yang mengikuti cabang renang.
"Menurut gue, kalian udah cukup lah buat ikut seleksi. Semangat, Bro." Luhan berkata begitu dengan nada sopan, dia juga takut terkesan otoriter dan menggurui. "Kalian juga semangat, Sis. Bisa latihan mandiri kan kalian?"
"Tentu." Salah satu dari mereka menjawab dengan ramah. Memang, anak dengan prestasi pasti akhlaknya bagus. "Duluan ya, Bro."
Luhan mengacungkan jempolnya. "Oke."
__ADS_1
Ketika anak-anak renang sudah membubarkan diri semuanya, barulah Luhan keluar dari area kolam renang itu. Ke mana lagi tujuan Luhan selain tempat latihan taekwondo di mana Sari berada?
Ketika menemukan Sari di sana, Luhan langsung berseru. "Sa—ri." Namun, seruannya menekan secara drastis saat melihat sosok Deon yang berada di depan Sari. Mereka mengintili dengan akrab dan membuat wajah Sari ceria. "Ck, buset." Luhan diam-diam penasaran mengapa Deon bisa berpengaruh sebegitunya bagi Sari. "Itu cowok nempel-nempel mulu. Asem banget."
Luhan langsung mendekati Sari dan merangkul perempuan itu tanpa permisi dengan wajah bangga dan penuh percaya diri. "Hai, Sayang." Luhan menyapa dengan senyuman lebar.
Kening Sari mengerut. Apalagi kening Deon. "Lah, kalian pacaran?" tanya Deon bingung.
"Pacaran dari Hongkong." Sari membalas pedas. Kemudian menyingkirkan lengan Luhan dari bahunya untuk kemudian menyodorkan jam tangan Melik Luhan. "Lama banget lo. Nih."
Luhan menerimanya dengan senyuman senang. "Makasih, princess."
"Eh?" Luhan segera menyusul dua orang itu dan menatap Sari dengan bingung. "Kok bareng-bareng?"
"Kita tetanggaan." Sari menjawab cepat dan nadanya terdengar sangat kesal. "Salah emangnya kalau bareng?"
"What?" Luhan bertanya dengan sangat terkejut.
__ADS_1
Sari menatap Luhan makin tak suka. Seperti Luhan sangat mengganggunya kali ini. "Kayaknya kuping lo banyak kotorannya ya?"
"Nggak lah! Kuping gue bersih! Nih, kalau mau liat!" Luhan malah menyodorkannya telinganya untuk dekat-dekat dengan wajah Sari.
"Ih, jorok!" Sari langsung mendorong wajah Luhan jauh-jauh dari hadapannya.
Luhan mendengus kesal. "Ck. Dari pada itu, emangnya kalian serius bakal pulang bareng?"
Kali ini Deon mengangguk, kemudian menjawab, "Iya, gue bawa motor hari ini. Bukan kemarin udah dapet SIM juga. Jadi aman."
"Oh, udah tujuh belas tahun lo?" tanya Luhan dengan nada meremehkan, padahal dalam hatinya ia iri sekali. Luhan harus menunggu dua bulan lagi untuknya mendapat SIM dan cukup umur untuk mengantarkan Sari.
"Yoi." Deon membalas bangga.
Sepertinya Sari juga akan lebih memilih Deon dari pada dengannya yang bahkan masih mengendarai motor dengan ilegal, tanpa SIM yang resmi.
"Yaudah deh, hati-hati." Luhan mengalah hanya untuk kali ini. Dia tersenyum pura-pura baik-baik saja dan berbalik pergi setelah berkata, "Gue duluan ya."
__ADS_1
***