
Acara berjalan lancar.
Di mulai jam tujuh, satu jam setelah ayah datang dan bersiap diri. Tamu-tamu undangan sudah berdatangan dan perayaan berlangsung secara sederhana dengan hidangan-hidangan serta perbincangan ringan. Atmosfer rumah keluarga Ily sangat hangat dan ceria.
Yohan beserta Ibunya pun ikut datang. Ibu Yohan bergabung bersama Ibu Ily Dan berbincang di ruang tengah, sementara Yohan menemani Ily yang sedang belajar di kamarnya. Tidak, mereka tidak berdua di kamar itu.
Ada Elvan yang santai berbaring di ranjang dengan komik di tangannya dan keripik kentang di perutnya. Ily jelas sudah protes, marah dan kesal, namun sulit untuk membuat Elvan beranjak dari sana, jadi Ily menyerah dan membiarkannya saja.
Tidak lengkap kalau Elvan tidak ditemani Eza. Cowok itu tiba-tiba datang karena ditelepon Elvan setelah latihan futsal. Jelas, kedatangan adalah untuk makan dan menjahili Ily. Namun Ily tak bisa mengusirnya, Ibunya telah menerima Eza dengan tangan hangat.
Sekarang Eza sedang mengemil kue kering bersama minuman bersoda yang ia minum seolah-olah itu adalah alkohol. Ily hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat itu.
"Umur nggak ada yang tahu, jadi gue diem aja kalian berdua." Ily berkata seperti itu sebelum akhirnya fokus membaca materi yang tadi ia pelajari di sekolah.
Sekarang sudah hampir jam sepuluh malam dan Ily telah kenyang, jadi Ibu membiarkan berada di kamar sementara rumahnya telah diisi oleh banyak orang yang merayakan ulang tahun ayahnya. Mereka berisik, jelas saja, namun di kamar ini, semuanya teredam hingga Yohan pun nyaman.
Sebenarnya Ily tak ingin Yohan memasuki kamarnya, namun laki-laki Korea ini memaksa ingin bersama Ily daripada bergabung bersama orang-orang yang lebih tua darinya sebab Ibunya bergabung dengan teman-teman Ibu Ily.
Kamar Ily bukan kamar estetis seperti kamar anak jaman now, hanya sebuah kamar berantakan yang lumayan luas dengan jendela besar yang menampilkan pemandangan luar biasa indah, apalagi pada malam ini yang berbintang.
Yohan duduk menghadap jendela itu, menikmati langitnya. Begitu indah, ia merasa hangat, jarang sekali dia bisa seperti ini.
"Lo pulang jam berapa?" tanya Elvan, sebenarnya pada Yohan, namun justru Eza yang menjawab dengan gaya konyol, berperan seolah-olah sedang mabuk.
"Gue mau nginep di sini, enak. Banyak makanan. Di rumah mana ada kue sama sprite, yang ada ceramah emak sama jeweran kuping dari babeh. Akutu capek digituin mulu," curhat Eza dengan wajah sedih. Ily sampai tak tahu itu hanya bercanda atau justru serius sebab wajah Eza mengandung keduanya.
Matanya sedih, namun bibirnya tersenyum. Namun, Ily tak memikirkannya lebih banyak.
"Jam sepuluh kalian bertiga harus keluar dari kamar gue, gue mau tidur. Nggak ada tapi-tapian," cetus Ily tegas.
"Gue mau di sini," rengek Eza dengan suara bayi. Ingin sekali Ily mengabadikannya dan menyebarnya supaya satu sekolah tahu betapa bobroknya kapten futsal mereka yang selalu dipuja-puja ini.
"Gue juga," rengek Elvan ikut-ikutan, dengan gaya yang hampir mirip dan membuat Yohan ikut menoleh.
Ily kira Yohan akan mengomentari kelakuan Elvan dan Eza dengan jijik, namun laki-laki itu justru menyeringai dengan jahil.
"Boleh aku ikut menginap?"
"Apa?!" Ily tak kuasa untuk tak memelototkan matanya. "Ka-kamu bilang apa?"
"Najis aku-kamu," ledek Elvan pedas, merasa jengkel. "Udahlah lo pulang aja, ngapain ikut-ikutan," katanya pada Yohan.
"Nggak! Pokoknya nggak boleh! Nggak ada yang boleh nginep di sini!" seru Ily mutlak. Sebenarnya merasa tertarik saat Elvan meledek gaya bicara Yohan. "Yohan, lo pulang aja, rumah lo deket juga!"
Agak aneh sebenarnya bicara seperti itu pada Yohan, namun entah mengapa Ily tak suka saat Elvan dan Eza mendengar gaya bahasa Yohan yang halus. Ily berharap Yohan mengerti bahwa kini dia harus mempraktikkan apa yang Ily ajarkan kemarin.
Bahwa sekaranglah saatnya dia berbahasa gaul.
__ADS_1
"Ily," kata Yohan dengan hela napas berat. "Lo jahat."
Elvan dan Eza sontak tertawa. Entah apa alasannya. Namun, yang jelas Ily tersenyum bangga mendengarnya. Senang rasanya melihat Yohan bisa belajar dengan baik dan menunjukkan hasil memuaskan. Jadi, seperti ini rasanya menjadi guru yang melihat anak didiknya berhasil atas ajarannya.
"Gue hanya ingin menginap satu malam. Nggak boleh banget, ya?" tanya Yohan dengan gaya agak kaku, meski begitu dia berhasil.
Elvan yang masih tertawa menyahuti, "nggak usah ikut-ikutan gue bilang. Emangnya lo siapanya, sih?"
"Gue tetangganya, gue temannya, gue teman sebangkunya," jawab Yohan datar, lancar dan tegas. "Lo siapa?"
"He eleh, gitu aja sombong lo. Gue sepupunya, anjir," balas Elvan agak emosi. Kini bangkit dari rebahannya menjadi duduk.
"Gue soulmate-nya, anjir," sambung Eza ikut-ikutan.
"Udah elah, jangan rebutin gue," relai Ily merasa agak tak nyaman karena sepertinya tiga laki-laki ini akan segera berperang kata-kata. "Intinya, kalian bertiga harus pulang dan gue harus tidur. Deal?"
"Nggak, sebelum lo bilang ke cowok ini kalau lo nggak mau temenan sama dia lagi," kata Elvan tiba-tiba.
"Hah? Gimana? Kok gitu?" Ily bertanya beruntun dengan wajah terkejut.
"Dia nggak pantes buat lo, Ly. Percaya sama gue," balas Elvan serius lagi, seperti saat pulang di minimarket tadi.
Yohan menyeringai, lantas membalas sama sengitnya, "gue selalu ada buat Ily. Memberinya traktir, memberinya tumpangan untuk berangkat dan pulang sekolah. Gue teman yang baik buat dia."
Elvan berdecak, ikut menyeringai tanda menikmati. "Gue juga bisa kalau kayak gitu. Gue bisa kasih dia boncengan juga. Dua minggu kemarin gue sibuk karena ada anak-anak tanding Basket dan butuh gue. Sekarang gue free dan akan terus menemani Ily."
Ily menjambak rambutnya frustasi. "Kok kalian malah bertengkar sih?"
"Bukan gue yang duluan, Ly," kata Yohan membela diri.
Elvan tertawa sinis. "Jangan harap buat deket Ily lagi, sat."
"Elvan! Lo kenapa sih?" tanya Ily amat frustasi.
"Lo sepupunya, Ly. Siapa juga yang mau sepupunya deket sama yang nggak jelas asal-usulnya," jelas Eza membantu menjawab pertanyaan Ily. Ia hafal betul pada tabiat Elvan dan apa sikapnya pada Ily. Sejak pertama kali melihat Yohan, Elvan sudah tampak tak menyukainya.
Lama-lama, kecurigaan itu membesar dan kian membuat Elvan khawatir. Sebenarnya Eza tak terlalu peduli, namun ia merasa harus ikut campur jika ini menyangkut kebahagiaan Ily. Perempuan itu tak boleh menangis.
Temannya itu tak boleh sakit hati.
Ily tertawa hambar. Tak mengerti lagi dengan jalan pikiran Elvan yang sampai-sampai menilai Yohan seperti itu. "Yohan anak baik, Van."
"Lo nggak tahu. Kita nggak tahu," balas Elvan santai. "Lihat, dia aja diem. Orang normal pasti menyangkal habis-habisan, kan?"
Ily langsung menoleh pada Yohan. Laki-laki itu sedari tadi diam, baru Ily sadari. Kecurigaannya tiba-tiba muncul, namun segalanya berhamburan saat Yohan melukis senyum tipis yang tampak polos.
"Aku tidak seperti yang kamu pikirkan, Ly." kata-katanya membuat Ily kelihatan kata-kata. "Terserah kamu akan percaya atau tidak, Ilyssa. Kuharap kita masih bisa berteman."
__ADS_1
"Cuih, najis," kata Elvan sarkas. "Mulut buaya."
"Ly, lo jangan lemah gitu dong aduh," kata Eza khawatir saat melihat Ily yang kini terdiam. Seolah-olah dia luluh dan membenarkan apa yang Yohan katakan.
"Pokoknya besok gue jemput, Ly. Lo harus sama gue," ancam Elvan, namun dengan nada santai. "Gue tunggu besok pagi. Bye!"
Melihat Elvan yang keluar begitu saja, Eza ikut berdiri dan mengambil botol minuman bersoda yang masih sisa setengahnya beserta sampah kue kering yang telah ia makan. Namun, sebelum benar-benar pergi, ia menatap Yohan dengan tegas.
"Lo juga keluar. Najis kalau cewek sama cowok satu kamar malem-malem cuma berdua." Kemudian Eza menoleh pada Ily, tatapannya berubah lembut. "Malem, Ly. Bye."
Sepi langsung mencekik ketika dua ricuh pada hidup Ily pergi keluar dari kamarnya. Ily segera sadar, menoleh pada Yohan setelah melihat jam di ponselnya yang telah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam.
Lima menit lagi.
"Kamu nggak pulang?" tanya Ily pada Yohan dengan suara pelan, sebenarnya dia bingung harus berkata seperti apa setelah perdebatannya tadi dengan Elvan.
"Aku nggak boleh nginap di sini?"
Mata Ily membulat. Ia segera menghampiri Yohan dan menarik tangannya dengan paksa untuk keluar dari kamarnya. "Kamu tidak boleh seperti ini, Yohan. Rumahmu, kamarmu harus digunakan untukmu, jangan ingin di rumahku, di kamarku."
Yohan hanya tertawa geli saat diseret sampai keluar rumah. Ketika akhirnya keluar, Ily dan Yohan berdiri berhadapan.
"Paham, kamu?" tanya Ily sambil menunjuk wajah Yohan, persis seperti Ibu yang memarahi anaknya yang nakal.
Yohan mengangguk polos.
"Oke, bagus," tukas Ily senang.
"Tapi, besok bolehkah aku nginap?" tanya Yohan tiba-tiba bersikap jahil dan tersenyum miring. Ily tak mengerti kenapa tetangganya ini tiba-tiba bersikap seperti ini.
"Yohan," kata Ily dengan nada memperingatkan. "Jangan."
"Kalau besok-besoknya? Boleh?"
"No!"
"Besok-besok-besoknya lagi?"
"No!"
"Besok-besok-besok-besoknya?"
"JANGAN YOHAN! JANGAN PERNAH NGINAP DI KAMARKU!"
Ily baru menyadari bahwa orang Korea yang biasanya terlihat santai dan kalem ternyata punya jiwa liar yang sulit dijinakkan.
***
__ADS_1