Dari Korea

Dari Korea
LSF - 15


__ADS_3

Lidah Reisya mendadak kelu.


Luhan mengambil kedua tangan Resiya dan menggenggamnya dengan lembut. "Kalau kamu bilang pacaran itu memang seremeh itu, buat aku nggak." Luhan tersenyum teduh. "Pacaran lebih dari itu. Jadi ... sekarang kamu cerita. Apa-apa yang bikin kamu sampai nangis begini. Aku yakin nggak akan bisa tidur nyenyak sebelum kamu cerita. Serius."


Reisya menunduk, menangis.


"Pelan-pelan aja." Kini tanagn Luhan beralih menyentuh pundak Reisya, menepuk-nepuknya dengan pelan. "Aku nggak akan menghakimi kamu. Aku akan dengerin dengan objektif. Oke?"


Reisya membuang napas panjang. Kemudian, dia mendongak. Sebelum membuka mulutnya, Luhan lebih dulu membungkam mulut Reisya dengan tangannya yang kini bergerak mengusap air mata yang jatuh di pipinya.


Reisya merasa de ja vu. Dia tersenyum tipis. Bahkan setelah semua perlakuannya yang tidak baik, Luhan masih bersikap seperhatian ini.


"Aku curi uang dari Kakak." Reisya mengaku saat hatinya telah siap. Semula Luhan terkejut, namun laki-laki tak langsung menyuarakan reaksinya. "Aku nggak tau lagi harus gimana buat baikin uang kamu. Aku nggak ada tabungan. Aku nggak ada pekerjaan. Aku juga nggak berani buat bekerja karena aku ... takut."


Luhan hanya mendengarkan.


"Aku pernah kerja di sebuah cafe. Di sana aku ... nggak nyaman. Capek. Tatapan orang-orang yang benci. Dimarahin karena nggak becus." Resiya mendesis sambil menatap Luhan lurus-lurus."Aku kesel. Aku kesel jadi miskin, Han. Aku nggak punya apa-apa sekarang. Kakak aku itu pelit banget."


Luhan tersenyum senang. "Nah, kalau udah cerita kan enak ke akunya juga."


"Makasih, ya." Reisya turut tersenyum. "Aku juga jadi lega."


"Emang udah tugas aku kali sebagai pacar."


"Aku nggak pernah nyangka pacaran bakal seseru ini. Dulu, aku pikir pacaran cuma buang-buang waktu dan bagi-bagi fokus aja."


"Sekarang kamu udah tau dan senyum aja. Oke?" Luhan menarik dagu Reisya dan saat itu Reisya tersenyum lebih lebar hingga matanya menyipit dan membuat Luhan liar biasa bahagia. "Nah, gitu. Jadi cantik. Aku makin sayang jadinya."


Reisya tak bisa mengungkapkannya dalam kata-kata, namun hatinya terasa hangat dan ringan.


"Sekarang, ayo kita cus."


Kening Reisya mengerut saat Luhan mengajaknya. "Ke mana?"


"Ke rumah kamu." Luhan menjawab cepat dan tegas. "Kamu harus minta maaf ke Kakak kamu."


Ketika melihat wajah Reisya berubah murung, Luhan segera mencengkeram kedua bahu Reisya dan menatapnya lurus-lurus dengan lembut. "Mau gimana pun, tindakan kamu itu salah banget dan aku nggak bisa terima uang ini. Jadi, sekarang, kamu balikin uangnya sambil minta maaf ke Kakak kamu."


Luhan mengambil tangan Reisya dan membuka telapak tangannya, menaruh sebuah amplop di atasnya. Mata Reisya membulat saat menerimanya. "Tapi, Luhan! Nanti Kakak aku marah besar dan pastinya aku diusir dari rumah!"


"Lebih parah kalau kamu pura-pura nggak tau dan uang Kakak kamu hilang gitu aja." Luhan membalas cepat dan bijak. "Bayangin kalau kamu yang mengalaminya."


Reisya tak bisa berkata-kata lagi. Jika dia ada di posisi kakaknya, maka sudah pasti diaakan membuat dirinya sendiri.


"Lagipula, nggak ada saudara yang nggak sayang sama saudaranya. Nggak mungkin kamu sampai diusir dari rumah cuma karena ngambil uang tanpa permisi padahal kamu mengembalikannya di hari yang sama dan meminta maaf." Luhan menenangkan.


Reisya menggigit bibirnya kuat-kuat. Mencengkram amplop di tangannya sampai agak kusut. "Luhan ... aku takut."


"Ada aku." Luhan menarik tangan Reisya dengan hangat. "Ada aku, Sya. Don't worry."


***


Sebenarnya sejak kemarin-kemarin, Reisya sudah punya niat tentang mengambil uang kakaknya untuk digunakan biaya lomba tari tradisionalnya.

__ADS_1


Karena Luhan memberinya uang, perlahan niat itu pudar dari benak Reisya.


Namun, ketika menyadari bahwa dia tak akan bisa menggantinya karena tak mendapatkan kejuaraan dan sekolah hanya memberi kompensasi setengahnya, mau tak mau Reisya merealisasikan niatnya setelah beberapa hari merenungkannya.


Dia tak mau punya hutang lebih lama lagi pada Luhan dan sudah pasti dia ingin segera mengakhiri hubungannya dengan Luhan secepat mungkin.


Kemudian, hari ini, ketika Reisya sudah mengembalikan uangnya pada Luhan, Luhan justru membuatnya harus mengakui kesalahannya pada sang kakak. Pada akhirnya, mau tak mau, Reisya melakukannya karena bagaimanapun apa yang dilakukannya ini salah.


Ketika selesai makan malam, Reisya menjelaskan bahwa minggu kemarin ia ikutan lomba tari tradisional yang membutuhkan banyak biaya dan akhirnya tak meraih juara pertama. Dia hanya mendapatkan kompensasi yang kecil dari sekolah dan punya utang pada temannya. Lalu, secara terpaksa Reisya mengambil uang Raksya untuk mengganti utangnya.


"Maaf, Kak."


"Ya ... hm ... Kakak nggak akan marah." Raksya berkata begitu setelah terdiam lama karena terkejut, waktu Reisya mengakui kesalahannya.


Reisya sangat terkejut, tentu saja. Dia kira Raksya akan marah besar atau bahkan menendangnya dari rumah karena tak berguna dan malah mencuri. Ternyata, Raksya tersenyum dan memaafkannya semudah itu.


"Kakak juga salah kayaknya didik kamu." Raksya tersenyum dan menepuk-nepuk kepala Reisya dengan sayang. "Harusnya kakak lebih perhatian. Tapi, jelas, mulai saat ini kamu harus lebih pilih-pilih dalam mengeluarkan uang. Gunakan untuk kebutuhan, bukan keinginan. Ngerti?"


Reisya tersenyum senang. Ternyata, mengakui kesalahan, minta maaf dan berniat untuk memperbaiki diri tak sedikit dan sehina seperti yang dia pikirkan sebelumnya.


"Ngerti, Kak!"


***


"Kayaknya selanjutnya kita temenan aja, ya." Reisya memutuskan begitu saat Luhan mengajaknya untuk pulang bersama. "Kamu tau kan, aku bentar lagi mau lulus dari SMA ini. Aku juga harus siapin untuk SBM kalau-kalau nggak keterima lewat SNM. Nilai UN aku juga harus besar dong supaya menjadi keunggulan aku tersendiri. Aku sama Kak Raksya juga udah rundingin, aku bakal langsung lanjutin kuliah setelah lulus. Mau di manapun tempatnya, asal aku kerja keras."


Reisya juga telah menceritakan bagaimana hubungannya dengan Raksya yang mulai membaik dan menghangat. Luhan jelas senang dan turut bahagia karenanya. Namun, dia sama sekali tak senang saat pada akhirnya Reisya mengatakan ingin pisah dari Luhan sebagai sepasang kekasih.


Tanpa menunggu jawaban Luhan lagi, Reisya pergi begitu saja dengan langkah tegas yang tak bisa Luhan interupsi lagi. Pada akhirnya, yang datang pasti akan pergi lagi. Luhan menunduk.


Ada yang hampa dalam hatinya kini.


Jadi, tempatnya Reisya memutuskan Luhan barusan adakah di parkiran. Tepat saat Luhan naik ke atas motornya, begitupula dengan Langit, Lingga, dan Lethan yang juga duduk di motor masing-masing.


Tiga teman Luhan itu jelas melihat Luhan dan senyum puas tercipta di wajah masing-masing saat melihat wajah Luhan yang mulai galau.


"Yah, putus lagi." Langit jelas menjadi orang pertama yang meledek Luhan dengan tawa puas dan keras-keras. "Ha ha ha."


"Doi mau fokus UN, Sat." Luhan membalas dengan sewot, membela dirinya sendiri agar tak terlihat menyedihkan. "Jangan ngeledek juga dong, dasar Jomlo!"


"Jomlo-jomlo gini, gue bermartabat, Bro." Langit menyombongkan diri. Entah apa yang membuatnya bermartabat di mata Luhan, Lingga juga Lethan, tapi Langit belum pernah pacaran sejak lahir.


"Wei, Wei, mau pada buka channel YouTube nggak?" Lingga tiba-tiba bertanya begitu sebelum Luhan menyahuti perkataan Langit.


"Hm?"


"What?"


"Hah?"


Luhan, Langit dan Lethan jelas-jelas kebingungan.


"Ya, isinya apa aja dah. Game, nyanyi, tips-tips, atau apa lah." Lingga menjelaskan dengan singkat. "Biar ada pemasukan gue. Gue mau melancarkan skill editing gue."

__ADS_1


Luhan berpikir sebentar. Kemudian mengacungkan jempolnya. "Yowes, oke lah."


"Yo dah, sip." Langit turut menyetujui.


"Ayo aja lah," timpal Lethan beberapa saat kemudian.


Lingga mengangguk, kemudian mengeluarkan ponselnya. Setelahnya, laki-laki yang hobi mengambil, mengedit dan menciptakan skenario sebuah video itu larut dalam ponsel di tangannya. Entah sedang apa.


"Nah, gue udah bikin akunnya, nih." Lingga menjentrikkan jarinya tak beberapa lama kemudian. Wajahnya tampak sangat serius.


"Buset, cepet banget." Lethan kicep.


Lingga memasangkan wajah songong dengan senyum sepaket dengan wajahnya itu. "Jangan salah. Gue Lingga Arkansario. Jadi, namanya mau apa, nih?"


"Luhan Ganteng aja." Luhan memberi saran dengan refleks.


"Ck." Lingga memutar bola matanya dengan jijik.


"Lewat." Langit ikutan menilai.


"Durian Ganteng." Kini, giliran Lethan yang memberi saran.


Lingga langsung menatapnya dengan tatapan menusuk, tak suka dan merasa terganggu. "Maksud lo apa, Bambang?"


"Gue suka durian soalnya. Muehehehe." Lethan tertawa polos alias tanpa dosa.


"Nggak bisa apa nggak pake ganteng-ganteng gitu? Alay jir dengernya." Lingga bergedik. "Jijik geli-geli gimana gitu."


Langit menjentrikkan jarinya, membuatnya menjadi pusat perhatian tiga orang lainnya. Wajahnya sangat serius dan bangga saat mengatakan, "L aja dah."


"Terlalu singkat." Lingga langsung menggeleng-gelengkan kepalanya, menolak mentah-mentah.


Langit memutar bola matanya, kesal karena ide yang menurutnya cemerlang itu ditolak secepat itu.


"Lalilule." Lethan lagi-lagi menyuarakan hasil otaknya bekerja.


"Apaan tuh? Kayak bahasa alien." Luhan mengeluh tak mengerti.


"Itu nama kita-kita kalau disatuin, Mas." Langit menjelaskan dengan tenang seraya menunjuk secara berurutan pada tiga temannya, setelah menunjuk pada dirinya sendiri. "Langit, Lingga, Luhan, Lethan. Nggak ada kreatif-kreatifnya amat dalam berpikir. Otak lo tuh harus diasah dengan rutin, Than."


Lingga kini tak langsung menolak, membuat Luhan menoleh padanya dengan pandangan bertanya. "Oh, lo mau gitu aja, Ga?"


"Hm ... apa ya?" Lingga masih berpikir keras. Kemudian mencetuskan idenya sendiri, "Your Babe?"


"Alay!" seru Luhan cepat.


"Najis!" timpal Langit pedas.


"Jijique!" Lethan bergedik ngeri. "Lebih baik Lalilule. Lebih ada artinya. Jelas-jelas, ya, nggak?"


Langit dan Luhan kompak mengangguk.


***

__ADS_1


__ADS_2