
Dia berlari melewati halaman dengan kaki tanpa alasan kakinya.
"LILI!" Ily berusaha untuk terus meraih tangan Lili. Lili hampir saja membuka gerbang rumahnya saat tiba-tiba Ily tersandung batu di halaman dan terjatuh. "LILI! AW!"
Ketika Lili berbalik dengan mata memerha dan naps terengah-engah, Ily sudah bersimpuh karena terjatuh. Ibunya itu meringis kesakitan dan tak kuasa untuk berdiri lagi.
Ily mendongak di sana, menatap putrinya dengan penuh kesedihan.
"Ck." Lili mau tak mau balik lagi. Dia menahan air matanya. Kemudian embantu Ily untuk bangkit. Lututnya terluka dan mengeluarkan darah segar yang kelihatan sakit.
Lili menawarkan tubuh Ily ke dalam rumah. Mendudukkannya di sofa ruang tamu, sementara Lili berjalan ke dapur untuk mengambil kotak obat.
Tanpa mengatakan apa-apa, Lili membersihkan luka sobek di lutut Ily. Menotol-notolkan alkohol dan memberinya plester luka sebagian langkah terakhir. Sepanjang dirinya diobati, Ily hanya menatap Lili lurus-lurus.
Ada banyak kata yang bimbang untuk ia sampaikan atau tidak pada Lili.
Lili menutup kotak obatnya telah selesai. Kemudian dia menatap Ily lurus-lurus. Namun, ia tak mengatakan apa-apa. Seolah menunggu Ily untuk bicara.
Namun, sampai lima menit rasanya sudah berlalu, Ily tak kunjung bersuara seperti yang Lili harapkan.
Ketika Lili akhirnya memilih menyerah dan bangkit berdiri untuk meninggalkan Ily, tiba-tiba Ily mengeluarkan suaranya pada langkah ketiga yang Lili ambil untuk pergi.
"Maafin Ibu, ya." Ily menunduk sambil menutup wajahnya yang amat frustasi. "Semua ini keinginan Ayah."
***
"Ayah kenapa bisa sejahat ini? Apa Ayah nggak inget siapa yang pertama kali kasih Lili buku? Apa Ayah lupa kalau cita-cita aku itu menjadi penulis dan Ayah sangat-sangat mendukungnya? Ayah kenapa jadi begini?"
Meski sedih, Yohan harus terus bekerja.
Melihat anaknya sangat sedih hingga mengganggu ketenangannya dengan sederet celotehan, membuatnya emosi. "Kamu nggak bisa ya hargain Ayah sedikit aja? Sekarang Ayah lagi nggak mau denger keluhan kamu."
Dikata-katai dengan nada tegas dan tajam serta agak tinggi itu membuat Lili tercengang tak percaya. Hatinya seperti dirobek sampai berceceran. "Ayah ...."
__ADS_1
"Ayah capek." Yohan mengerutkan keningnya dengan tajam dan sorot mata yang biasanya lembut penuh pengertian itu berubah menjadi tajam dan seperti tak bisa Lili kenali lagi. "Lebih baik kamu diam kalau tidak mau Ayah semakin jahat sama kamu."
Berkat itu, Lili bangkit dan meninggalkan Yohan. Ily yang melihatnya hanya diam saja dengan wajah sedih. Harusnya ia tak membocorkan bahwa semuanya ide Yohan.
Lili pasti sangat kecewa.
Itu sepertinya terbukti benar karena hari-hari selanjutnya, Lili mengunci diri di kamar. Tak mau keluar sama sekali jika tak begitu mendesak. Bahkan ia menghindari Yohan ketika berpapasan.
"Lili, sarapan, Li." Ily mengetuk pintu kamar Lili dengan khawatir.
"Lili puasa! Mau tidur! Capek!" seru Lili dari dalam.
Ily membuang napas lelah, kemudian berbalik pergi.
Hari berikutnya ....
"Li, makan siang, Li." Ily kembali mengetuk-ngetuk pintu kamar Lili.
"Lili puasa, Bu! Mau tiduran aja!" balas Lili keras tanpa berniat membuka pintu kamarnya.
"Li, kalau kamu nggak makan obat, kamu lama sembuhnya." Ily masih berusaha membujuk Lili untuk keluar dari kamarnya. "Bukannya mau cepet-cepet ketemu sama temen-temen?"
Lili tak membalas lagi. Berhari-hari ini Lili memang agak pendiam dan jarang sekali bersuara. Ketika Ily akhirnya berbalik pergi, Yohan mengambil alih perannya untuk membujuk Lili setelah hari-hari berlalu dengan cepat.
"Lili." Yohan mengetuk pintu kamar Lili satu kali. Suaranya yang berat membuat Lili langsung bangkit dari rebahannya dan siap siaga. "Ini Ayah."
Lili tak menjawab. Dia menunggu. Lili menunggu Ayahnya pergi dan berharap itu terjadi secepatnya.
"Lili, bukan pintunya sayang. Ayah mau bicara." Yohan berita lagi. Masih setia mengetuk-ngetuk pelan pintu kamar Lili.
"Liliana Kim."
Dari kecil, jika orang tuanya sudah menyebutkan nama lengkap Lili, maka artinya Lili membuat mereka sangat marah. Jadi, itulah yang Lili lakukan. Itu yang membuat orang tuanya tak marah lagi. Yang membuat Ayahnya tak marah lagi.
__ADS_1
Dengan menuruti apa yang dikatakannya.
Lili membuka pintu kamarnya dengan terpaksa. Wajahnya jutek dan matanya menatap Yohan dengan tak suka.
Yohan merasa lega karena Lili menuruti keinginannya, namun tidak senang saat melihat mimik wajahnya yang jauh berbeda dari Lili yang biasanya. Yang selalu terlihat cantik dan lucu.
"Kamu marah ya sama Ayah?" tanya Yohan seraya membuang napas panjang. Laki-laki itu berjalan pelan, kemudian duduk di tempat tidur Lili.
"Ya, gitu, deh." Lili berjalan cepat ke arah kursi meja belajarnya. Mengambil sebuah balpen untuk dimain-mainkan. "Aku mau cepet-cepet tidur, Yah."
Yohan tahu Lili menginginkannya dirinya untuk cepat-cepat pergi, namun ia tak mau. Yohan berdeham kecil, membuat Lili menoleh padanya dengan pandangan heran.
"Kamu belum makan seharian ini. Belum minum obat juga." Yohan berkata lembut. Matanya menatap penuh perhatian pada Lili. "Gimana kamu bisa sembuh kalau begini terus?"
"Gimana aku bisa lanjutin hidup kalau Ayah hilangin semua oksigen buat Lili!" seru Lili kesal. Menyuarakan apa yang membuatnya seperti ini.
"Maksud Ayah bukan begitu, Li." Yohan berdecak kecil, tidak sangat frustasi. Yohan menatap Lili lurus-lurus. "Ayah sayang sama kamu. Ayah tau apa yang terbaik buat kamu. Kalau Ayah harus jujur, pendapatan penulis itu nggak menentu."
Air mata Lili perlahan-lahan mulai turun. Berlomba-lomba membasahi pipinya. Lili tak pernah suka jika cita-citanya dijelek-jelekkan begitu. Dia tak menyangka bahwa seseorang yang tega untuk berkata buruk tentang penulis adalah Ayahnya sendiri.
Meski sakit, Yohan tetap meneruskan perkataannya dengan tegas, "Ayah lebih setuju kamu cari cita-cita yang lain."
Lili semakin menangis kejer.
"Begini, Li." Yohan jadi semakin frustasi. "Kadang, hidup itu akan diberi rintangan dan cobaan untuk kita memilih jalan yang baru."
Lili menatap Yohan dengan mata membulat tak percaya. Ia mengusap air mata di pipinya dengan kasar. "Ayah mana ngerti soal dunia Lili."
"Buat apa terus berjalan di jalanan penuh duri saat kamu bisa memilih jalanan yang baru dan masih sepi?" tanya Yohan, tetap memperjuangkan pendiriannya. "Kalau kamu menyukai cedera kamu sekarang, itu teguran. Bahwa jalan yang kamu tempuh itu salah."
"Ayah, Lili mau jadi penulis." Lili memelas dengan putus asa. "Apapun rintangannya. Lili nggak akan nyerah."
"Kamu tau?" Yohan mendekatkan diri dan berjongkok di depan Lili untuk secara perlahan dan lembut menggenggam tangan Lili. Menggenggam satu tangan Lili yang sehat. Lili masih terus menangis karenanya, dia tak punya tenaga lebih lagi untuk melepaskan tangannya dari genggaman Yohan.
__ADS_1
Yohan menatap Lili dengan sendu. "Ayah udah punya firasat buruk soal semua ini. Sekarang baru saja terjadi. Lebih baik kamu cari aman daripada memaksakan langkah lagi."