Dari Korea

Dari Korea
LSF - 17


__ADS_3

Waktu Luhan baru selesai dari toilet, dia baru sadar meninggalkan ponselnya begitu saja di atas meja. Ya jelas karena panggilan alam yang tak bisa di tunda-tunda lagi.


Ponselnya yang tergeletak begitu saja jelas jadi perhatian Lethan. Teman satu meja Luhan itu langsung mengambilnya dan melihat-lihat isinya.


Ketika Luhan telah duduk, Lethan langsung bertanya dengan nada jahil penuh maksud. "Disayang siapa, ****?"


Telinga Lingga yang sensitif membuatnya langsung menoleh pada Luhan dengan tatapan terkejut. "Apa nih? Cewek baru lagi? Seriusan lo?"


"Kayak nggak pernah liat Luhan ganti pacar dalam semalem aja lo." Langit menimpali dengan cepat seraya menepuk-nepuk pundak Lingga dengan santai. "Biasa aja, dong. Santai. Heran gue kenapa setiap Luhan ada cewek baru lo kagetnya berlebihan."


"Ya, gue masih nggak percaya aja, Bro." Lingga membalas dengan nada membara. Matanya melotot mengapa Luhan yang hanya bisa memasang wajah pasrah dengan heran. "Itu hati atau rumah kontrakan, cepet banget ganti pemiliknya atau yang menghuninya."


Luhan berdecak meremehkan. "Lo nggak tau gairah cinta sih."


"Gairah lo tuh yang berlebihan." Lingga membalas tak kalah meremehkan.


"Serah." Luhan memutar bola matanya, menyerah saja untuk berdebat. "Disa ini temennya Dara. Anak baru. Masuk vokal grup juga jadi gue makin mudah aja deketinnya."


Lethan mengerjap-ngerjapkan matanya dengan tak percaya. "Buset dah, lo udah suka aja?"


"Kenapa nggak? Dia cantik, Bro." Luhan membalas dengan senyuman lebar, dia teringat kembali pada wajah Disa dan beragam kelucuan tingkahnya yang seolah bisa Luhan rasakan hanya dengan chat-an dengannya. "Berkilau, fresh, pokoknya beautiful banget-banget-banget."


"Kemarin kakak kelas, sekolah adek kelas." Lethan menukas tak suka, kemudian berdecak seraya menatap Luhan dengan mata penuh arti. "Gaya lo, Han."


Luhan mengangkat kedua bahunya, tak acuh. "Yang penting seneng, kan."


"Liat lo makin menjadi-jadi tiap harinya bikin gue pengen bawa lo ke juru ceramah. Biar pikiran lo tercerahkan, Han." Lingga lagi-lagi berkata tak suka, jelas membuat Luhan turut tak menyukainya.


Luhan menatap Lingga dengan malas dan tak acuh. "B a c o t."


***


Meski Luhan bilang begitu pada Lingga, nyatanya perkataan Lingga itu terngiang-ngiang di kepala Luhan. Sampai malam tiba, perkataan Lingga itu tak kunjung hilang di benak Luhan.


Hingga akhirnya Luhan bertanah saat makan malam untuk mencari titik rerang serat jakan keluar dalam gelap dan buntu pikirannya.


"Bu, emangnya punya kenalan cewek yang banyak itu harus banget dibawa ke juru ceramah biar pikirannya tercerahkan, ya?" Luhan bertanya pada Ily lebih dulu. Soalnya Yohan—Ayahnya—kayaknya lebih tertarik untuk makan saja tanpa ada obrolan.


Kakak perempuannya, Lili, sudah menikah dan tak tinggal di rumah ini lagi. Jelas lah ya. Jadi, suasana yang awnya sangat hening dan Luhan yang tiba-tiba memecahnya dengan bertanya seperti beberapa saat yang lalu membuat Ily agak terkejut.


Selain terkejut karena itu, Ily juga terkejut karena Luhan bertanya seperti itu.


"Hm? Siapa yang hilang begitu?" Ily mengerutkan keningnya.


"Ada. Temen Luhan." Luhan me jawab singkat.


"Ha ha ha, aneh." Ily tertawa kecil. Dia menatap Luhan dengan penuh arti pada detik berikutnya. "Tapi kalau kamu sama temen cewek itu melakukan hal yang dikatakan agama dan bangsa, jelas butuh juru ceramah agar pikirannya kembali lurus."


Lihan mengangguk-angguk. "Oh ... gitu, ya."


"Iya."


Suasana makan malam kembali hening. Hanya sendok yang beradu dengan piring dan suara kunyahan yang terdengar di rumah ini di malam yang sepi dan dingin ini.


Tak terasa, hidangan makan malam keluarga Luhan sudah mulai menipis. Sebelum Luhan benar-benar pergi karena makanan di piringnya telah habis, Yohan tiba-tiba berdeham.


Membuat perhatian baik Luhan maupun Ily teralihkan padanya.


Luhan ditatap Yohan dengan sorot mata penasaran. "Sekolah kamu baik-baik aja, kan?"


Ah, Luhan lega karena Yohan tak menanyakan hal yang aneh seperti dugaannya sebelumnya.


"Tentu, Yah." Luhan menjawab dengan percaya diri dan tegas. Ada senyum lebar yang tercipta di wajahnya. "Sekolah Luhan baik-baik aja. Malah makin baik karena mau dibangun kolam renang lagi buat para atlet."


Yohan memutar bola matanya. Bahkan, setelah berumur hampir setengah abad, Yohan masih tampan dan wajahnya playfull. "Maksud Ayah bukan sekolahnya."


"Terus apa dong, Yah?" tanya Luhan tak mengerti. "Kan ayah tadi nanya tentang sekolah Luhan baik-baik aja, kan?" Waktu Yohan mau membalasnya, Luhan segera menambahkan dengan kedua tangan terangkat di samping bahu yang juga terangkat satu kali. "Otomatis jawabannya harusnya tentang kondisi sekolah, kan?"


Yohan menepuk keningnya dengan pelan seraya membuang napas panjang jalan. "Hadeuh. Lawak banget kamu. Keturunan siapa, sih?"


"Ya, kalau bukan keturunan Ayah sama Ibu, masa aku keturunan Naruto?" tanya Luhan polos.


"Ha ha ha." Kontan membuat Ily tertawa terpingkal-pingkal sampai menepuk lengan Yohan yang ada di sampingnya.


Yohan turut tertawa kecil. "Maksud Ayah itu ... kamu di sekolah baik-baik aja, kan? Nggak nakal, kan?"


"Oh gitu, Yah. Maksud dari pertanyaannya."Luhan menekankan bibirnya dalam satu garis lurus. Dia bimbang sedikit. Luhan menatap Yohan dengan pandangan meyakinkan. "Hm ... di sekolah, jelas aku baik-baik aja. Banyak temen. Seru pokoknya. Nilai aku juga baik-baik aja, masih ranking dua. Buku catatan kedisiplinan aku juga masih bersih, artinya aku nggak nakal."


Yohan tersenyum puas."Baguslah."


"Iya. He he." Luhan mengangguk-angguk seraya turut tersenyum lebar.


"Jangan sampai salah gaul ya, Han." Yohan mulai membesar nasihat. "Bahaya soalnya."


"Iya, iya." Luhan mengangguk mengerti. Daripada Ily, Luhan lebih suka saat Yohan yang memberinya nasihat. Soalnya lebih singkat, padat dan jelas. Tidak seperti Ily yang pastinya membawa a, b, c, d sampai z untuk memberi Luhan nasihat. "Luhan yakin Luhan udah gaul sama anak-anak yang bener, Yah. Meski, ya, ... nggak sepintar aku, he he."


"Jangan suka meremehkan orang begitu." Ily berkata, memperingati Luhan dengan mata lembutnya. "Nggak baik."


"Siap, Bu." Luhan tertawa kecil, merasa bersalah dan menyesal dengan cara yang lucu khasynya. "Maafin Luhan ya, he he he."

__ADS_1


Ily hanya tersenyum. Maklum saja pada anaknya yang masih menginjak masa remaja, masa pertumbuhan di mana dia bisa berbuat salah, meminta maaf dan memperbaiki sesekali.


"Ya ...." Yohan berdeham, membuat perhatian dua orang lainnya di meja makan itu teralihkan padanya. Seperti sebelumnya, Yohan menatap Luhan lurus-lurus.. "Pokoknya, inget tiga pesan Ayah."


"Jangan nakal, jangan narkoba dan jangan main liar-liaran sama wanita," jawab Luhan dengan lancar.


Jelas sekali, Luhan sudah mendengar itu setidaknya 25819163 kali selama hidupnya sampai saat ini.


Yohan tersenyum bangga. "Bagus kalau kamu mengerti."


***


Selama kumpul, Luhan hanya memerhatikan Disa.


Jadi, setiap seminggu sekali ekskul vocal group itu mengadakan kumpul. Entah untuk menyambut kedatangan anggota baru ataupun saat ada event yang harus dipersiapkan jauh-jauh hari.


Hari ini mereka latihan untuk hari guru di mana ada beberapa lagu yang harus dihafal bagi yang belum hafal dan berlatih bersama menggunakan suara satu, dua dan tiga.


Selama itu, seperti yang bisa ditebak, dari pada fokus pada lagu dan latihannya, fokus Luhan jelas terus tertuju pada seseorang berambut lurus sebahu di barisan depan sana.


Disa juga sesekali menoleh padanya untuk tak beberapa saat setelahnya memalingkan wajahnya lagi karena malu. Luhan menangkap itu dan dia menahan senyum sepanjang waktu.


Sampai akhirnya waktu pulang tiba. Luhan menunggu Disa di pintu keluar ruangan seni dan tersenyum dengan lebar saat melihat perempuan itu berjalan bersama teman-temannya yang lain, mendekatinya.


"Hai, Disa." Luhan langsung menyapa dan mendapatkan perhatian dari Disa.


"Oh, Hai, Kak." Disa membalas sekenanya. Ia dan Luhan sudah sepakat untuk pulang bersama hari ini, jadi dia menjelaskan pada teman-temannya untuk duluan.


Setelah digoda dengan beberapa kata oleh teman-temannya itu—yang membuat Disa malu, namun ia menahannya karena ada Luhan—Disa menoleh pada Luhan dan menatapnya dengan senyum kecil, agak malu dan kikuk.


Kelihatannya dari tangannya yang tak berhenti saling bertautan dan mata yang tak bisa fokus, seringnya lari ke mana-mana seperti dikejar-kejar polisi.


"Gimana? Mau langsung aja?" tanya Luhan akhirnya. Sebab dari tadi, keduanya malah berdiam diri saling berhadapan. Agak tidak jelas kelihatannya.


Disa mengangguk. "Iya."


Luhan tersenyum dan langsung melangkah memimpin jalannya mereka berdua. Selama berjalan, Disa hanya mengikuti dari belakang. Tidak Luhan temukan di sampingnya dan itu membuat Luhan makin menganggap bahwa Disa adalah pribadi yang pemalu.


Namun, itu tak apa. Nanti juga, secara perlahan, Disa akan memberanikan diri.


Tak lama kemudian, Luhan sampai di motornya. Seperti biasanya saat akan mengantarkan seorang teman perempuan, Luhan mengambil salah satu dari dua helm yang selalu dia bawa. Kemudian, Luhan menyerahkannya pada Disa.


"Nih."


Disa menerimanya. Nggak, setelah helm itu berada di pegangannya, perempuan itu terdiam. Tidak langsung memakainya seperti yang Luhan duga, hingga membuat Luhan mengerutkan keningnya.


"Kenapa?"


"Boleh." Luhan menjawab cepat. Membuat Disa berkali-kali lipat lebih gugup dari sebelumnya karena dia tak bisa dengan orang seterbuka dan seramah Luhan. Bahkan kini, Luhan tersenyum lebar seolah telah mengenal Disa sangat lama. "Tanyain aja, dong. Santai aja."


"Kok bisa Kakak langsung kayak kenal aku dari lama padahal aku baru tau Kakak kemarin dan agak gimana gitu ... canggung-canggung malu-malu aneh-aneh gitu." Disa menjelaskan dengan suara canggung dan kaku. Matanya menatap Luhan agak ragu, agak tak enak. "Kakak nggak ngerasain yang sama?"


Luhan segera menggeleng. "Nggak."


"Wah, hebat!" seru Dia takjub.


"He he he." Luhan menyebarkan tawa renyahnya hingga membuat senyum Disa terbit. Kelihatan sangat cantik dan membuat jantung Luhan berdebar lebih kencang dari sebelumnya.


"Aku anaknya memang begini, Sa." Luhan menjelaskan lebih lanjut tapa diminta. "Gampang akrab sama orang-orang. Nggak ada malu lah kalau tentang menjalin tali silaturahmi. Katanya, kalau kenal banyak orang, bisa bikin umur kita panjang."


Disa mengangguk dengan senyum yang masih tercipta di wajahnya. Sepertinya senyuman akan permanen sampai besok-besok dan besoknya lagi. "Oh, iya. Aku pernah denger soal itu."


Waktu Luhan mau membalas, tiba-tiba datang tiga curut yang menghancurkan suasana yang tercipta antara Luhan dan Disa yang penuh bbunga-bunga berwarna merah muda.


Ya, tiga curut itu ... siapa lagi kalau bukan Langit, Lingga dan Lethan?!?!?!?!


"Wiiiiih, sudah nyangkut juga ikan yang baru!" Pasti bisa menebak kan siapa yang pertama kali berseru untuk meledek Luhan? Iya, jelas sekali suara kurang ajar itu adalah milik Lingga si mulut julid.


Kesalnya lagi, Lingga bilang begitu sambil melirik Luhan dengan ekor matanya. Jadi, nggak langsung lihat Luhannya, gitu. Seolah-olah nggak ada Luhan di tempatnya kini berdiri. Makin nyebelin buat Luhan jadinya.


Kalau nggak ada Disa, ya sudah pasti Luhan akan langsung war fisik dengan Lingga.


"Kail pancingnya pake pelet santet kali, ya?" Langit, seperti bisa, langsung menyahut dengan kata-kata tanpa saringan.


Lingga mengangguk-angguk dengan heboh dan mata membara penuh semangat. "Hebat banget dah alat pancingnya, jadi pengen pinjem!"


"Ikannya kayak emas." Lethan. Yang biasanya kalem jadi ikut-ikutan. Membuat Disa turut menoleh karena suaranya berisik. Lethan menatap Disa dengan mata berbinar. "Gede, cantik dan kayaknya gurih deh kalau digoreng."


Kening Disa mengerut. Dia tak mengenal siapa tiga laki-laki yang kini mendekati tiga motor yang terparkir di samping motor Luhan. Luhan sendiri menatap Langit, Lingga dan Lethan dengan penuh arti, yang kira-kira bisa diartikan, "Berhenti, Nyed."


"Bakso." Langit langsung menggerakkan mulutnya tanpa suara yang jelas-jelas bisa Luhan tangkap apa kata yang dimaksudnya.


Luhan membuang napas kasar.


Waktu dia melihat Lethan, mata Lethan langsung membulat seolah ingin mengatakan sesuatu. Tak lama, mulutnya bergerak tanpa suara, jelas-jelas membentuk sebuah kata, "Roti."


"Es cincau." Lingga menambahkan dengan semangat saat Luhan beralih menatapnya.


Luhan tersenyum dengan terpaksa sampai giginya yang menahan amarah itu terlihat. Luhan membuang napasnya sambil memejamkan matanya beberapa saat, kemudian dia menatap tiga temannya itu dengan tatapan yang kira-kira berarti, "Iya, iya, iya. Sana lo tiga curut pulang buruan!"

__ADS_1


"Yes!" Tiga kucrut itu langsung kegirangan dan memakai helm masing-masing secara kompak


"Yo dah, cabut aja." Lingga memberi komando dan pergi dari hadapan Luhan dan diikuti oleh Langit serta Lethan setelah berseru, "Kita mancing!"


"Wuuuuuhuuuuuyy!" seru Langit heboh sendiri.


Kemudian, suasana kembali tenang ketika tiga teman Luhan itu sudah benar-benar hilang dari area parkiran. Luhan segera menatap Disa kembali dengan senyum kecil.


Luhan tertawa singkat, saat melihat wajah kebingungan Disa. "Kaget, ya?"


"Lumayan." Disa mengangguk kecil.


"Ya, pokoknya nih ya. Kalau sekolah di sini harus siap mental." Luhan mulai memakai helm-nya saat berbicara dengan nada pelan seperti menggosip. "Anak-anaknya, otak-otak anak-anaknya geser semua."


"Wah, serius?" tanya Disa merasa tertarik. Dia kira sekolah ini sangat disiplin dan bergengsi, karenanya Ayahnya percaya hingga Disa dipindahkan ke sekolah ini dari sekolah lamanya.


"Iya, dong," balas Luhan cepat. "Contohnya tiga orang tadi."


"Kakak kenal mereka?" tanya Disa penasaran.


"Untungnya nggak." Luhan tertawa renyah, sangat ringan dan ceria. "Amit-amit kali aku kenal sama orang-orang gila kayak mereka."


Disa tersenyum kecil. "Di kelas ku anak-anaknya pada kalem."


"Baguslah." Luhan menukas dengan nada bersyukur. "Pantes kamu juga kalem. Elegan. Aku jadi makin suka."


Disa tersentak. Takut telinganya salah dengar. "Eh?"


"Kaget lagi, ya?" tanya Luhan geli, merasa terhibur karena rupanya Disa jauh-jauh lebih polos dan lucu dari dugaannya."


"... I-iya," balas Disa dengan salah tingkah. Perempuan itu jadi menunduk kepalanya sambil memeluk helm dengan malu-malu. "Soalnya aku belum pernah denger seseorang bilang suka sama aku kayak Kakak."


Luhan membulatkan matanya. "Hah? Kok bisa?"


"Kan wajahku seram, Kak." Disa mendongak lagi, menatap Luhan dengan wajah sedih.


"Ya ampun, seram dari mana, sih?" Luhan bertanya dengan tak percaya. Tanpa permisi, dia mendekatkan dirinya yang sedang memakai helm di kepalanya dan mencubit pipi Disa dengan kedua tangannya dan digerak-gerakkan seperti sedang mencubit adonan donat. "Imut, cantik, lucu kayak begini juga. Ck ck ck."


Disa jelas kaget. Dari kecil, dia benci saat seseorang memainkan pipi tembamnya. Namun, sepertinya, sore ini, Disa mendapatkan pengecualian untuk itu.


***


"Di sini, Kak."


Disa berkata begitu sambil menepuk bahu Luhan saat telah sampai di depan sebuah gerbang rumah yang berwarna hitam.


"Oh, oke."


Luhan mendengarnya dan segera menghentikan laju motornya. Tak lama, Disa sudah turun dari motor Luhan dan melepas helm dari kepalanya. Luhan terpesonanya saat bagaimana rambut lurus Disa tak acak-acakan setelah helm di kepalanya dilepas.


"Sip." Disa tersenyum dan menyodorkan helm di tangannya pada detik berikutnya. "Ini, Kak. Makasih."


Luhan menerima helm dari tanagn tangan Disa dan menyimpannya. "Oke."


Sesaat, Luhan mengagumi rumah Dia yang bertingkat sampai kelihatan mewahnya bahkan dari balik gerbang rumah yang tinggi ini. Pasti Disa ini anak orang kaya. Luhan bahkan lupa karena dia sangat terpesona pada rumah besar yang belum pernah dia temui sebelumnya, sampai akhirnya Disa bersuara.


"Mau ketemu Ayahku nggak? Ayah selalu ada di rumah kalau udah lewat jam tiga sore." Disa tersenyum ringan, menawarkan hal itu seperti dia menawarkan apakah Luhan ingin minum teh di rumahnya.


"Eh, Ayah kamu?" tanya Luhan kaget.


"Iya." Disa mengangguk. Kemudian, wajah santainya berubah kaget.


Benar. Luhan kan belum tau apapun tentang dan Disa langsung mengajaknya untuk berkenalan dengan Ayahnya. Aduh, Disa bodoh sekali.


Disa meringis, agak tak enak. Kemudian, pada detik selanjutnya dia menjelaskan. "Soalnya tiap kali ngomongin pacaran ... ya intinya tentang seseorang yang aku suka atau yang suka aku, Ayah selalu ngebet pengen ketemu. Atau aku harus laporan gitu."


Luhan menipiskan bibirnya. Dia tak tahu Disa punya Ayah seunik itu. Jadi, Luhan hanya bisa tersenyum tak enak. "Waduh ... Ayah kamu posesif juga, ya."


"Iya. He he. Maaf ya kalau Kakak nggak nyaman." Disa merasa tak enak. Dia menaut-nautkan tangannya lagi karena gugup.


"Eh, nggak apa kali. Wajar lah orang tua posesif, soalnya sayang banget kan sama anaknya." Luhan segera menjelaskan dengan nada yang sama merasa tak enaknya. "Tapi, kalau ketemu Ayah kamu hari ini ... kayaknya nggak bisa, deh. Soalnya aku harus cepet-cepet pulang. Ada banyak tugas yang harus dikumpulin besok."


"Oh, ya udah kalau gitu. Nggak apa-apa." Disa menukas santai dan cepat. "Kakak pulang aja."


"Iya." Luhan mengangguk sekali lagi. "Soal ketemu Ayah kamu, aku janjian besok, deh. Aku pasti ketemu Ayah kamu. Oke?"


Disa balas mengangguk. Dia tersenyum penuh penantian. "Iya."


"Kalau nggak mau ketemu juga nggak apa-apa, kok, Kak." Disa segera menambahkan.


"Ey, mana bisa gitu." Luhan menukas cepat, terdengar sangat percaya diri dan membuat Disa yakin bahwa Luhan itu memiliki sesuatu yang tidak bisa Disamakan remehkan. Disa tersenyum dan jantungnya kini berdetak lebih-lebih kencang dari biasanya saat melihat Luhan. "Aku harus ketemu dong. Kamu juga harus laporan soalnya ada orang yang suka sama kamu."


Disa menipiskan bibirnya, tak berani lah menatap Luhan dan hanya bisa menunduk sambil menggesek-gesekkan ujung sepatunya yang satu dengan yang kali."Ya udah kalau begitu."


"Iya." Luhan membalas singkat. Kemudian melambaikan tangannya. "Aku pulang ya, dadah!"


Melihat kepergian Luhan, Disa hanya mampu balas melambai karena sudah kelewat senang sekaligus malu untuk bicara lagi. Pipi dan telinganya memerah, sementara kakinya sudah bergetar dan terasa seperti jeli.


***

__ADS_1


**wah, hari ini aku kepikiran buat bikin Dari Korea 5 hahaha lancar banget nih


menurut kalian gimana**?


__ADS_2