
Video perkenalan milik channel Lalilule sudah di-upload.
Mereka berempat (taulah ya siapa aja) menonton dengan seksama, waktu selesai, Sari yang duduk di belakang juga tak sengaja menonton dan langsung memberi tanggapan.
"Ngakak gue." Begitu kata Dari.
"Ngakaknya ngeledek ya lo?" tanya Luhan tak suka, dia langsung berbalik dan menatap Sari dengan mata disipitkan.
Sari menggeleng cepat dengan wajah merasa bersalah. "Nggak, dong. Masa temen-temen sekreatif lo pada gue ledek. Tentu gue sangat mengapresiasi. Tapi kenapa kalian harus pake background papan tulis yang masih ada tulisannya, 'Yang piket jangan dulu pulang atau gue botakin kayak Luhan!!!!'. Malu-maluin banget, sih."
Luhan langsung tersenyum manis. "Btw. Itu tulisan lo, Beb."
"Iya, makanya kenapa nggak dihapus dulu?" tanya Sari heran.
"Ya kan kita nggak nyadar." Luhan menjawab sekenanya.
Sari hanya berdecak tak habis pikir. Tulisan Segede itu nggak ada yang nyadar? Kalau bukan rabun jauh ... apa lagi, ya?
"Tinggal di-edit kan, Bro? Gampang kan?" tanya Luhan pada Langit, kemudian.
"Yoi." Langit mengangguk santai. Ini pekerjaan menarik yang mudah saja baginya. "Pake green screen. Lo pada mau pake background apa?"
"Gue pengen ada di gunung Everest, dong!" seru Luhan langsung semangat. Meski semangatnya itu membuat Sari keheranan. "Imipian gue tuh pengen muncak ke sana. Pasti seru banget dan sangat menantang!"
"Kalau gue background-nya kebun durian aja, soalnya gue demen sama mereka. He he he he he." Lethan menimpali dengan semangat yang tak kalah dari semangat Luhan, bahkan kini Lethan sudah senyum-senyum sendiri sebab tak ada yang lebih indah dan enak di dunia ini selain durian.
"Gue pelangi aja, deh. Soalnya mereka indah. Kayak dia." Lingga tak mau kalah untuk bersuara dan tersenyum lebar penuh harapan pada Langit.
__ADS_1
"Lo pada pikir video perkenalan kita itu pintu ke mana saja? Kok mau gitu ya kalian beda-beda background-nya. Bukan background biasa lagi." Langit menukas emosi, menatap Lingga, Luhan dan Lethan bergantian dengan sorot mata tajam. "Lo pada otaknya udah geser pasti."
"Iya, sih." Sari turut bersuara. Sebagal ketua kelas yang baik, tentu ia akan mendukung keinginan positif anggota kelasnya. "Gue juga setuju. Kalau backgroundnya mau spanduk nama channel YouTube kalian sih oke-oke aja."
"Wah!" seru Luhan dengan mata berbinar, seolah baru saja menemukan air di padang pasir yang tandus.
"Woah!" takjub Lingga seakan baru saja melihat pelangi di siang bolong.
"Wuuah!" Lethan berseru heboh seolah baru saja dia melihat durian terbang dengan sayap indah membentang lebar.
Berkat itu, Sari dan Langit jadi berpandangan dengan heran.
"Eh, kenapa lagi mereka?" tanya Sari pada Langit.
Langit mengangkat kedua bahunya. "Tau."
Lethan menunjuk-nunjuk Luhan dengan semangat. "Setuju!"
"Mancing mania mantap, tuh! Langsung kerjakan, Lang!" seru Lingga kemudian, menatap Langit dengan penuh tekad sementara Langit dan Sari hanya bisa dibuat cengo saja atas kelakuan tiga orang gila itu.
***
"Nggak kelihatan deketin cewek lagi tuh cowok." Clara bicara begitu cuek saat melihat Luhan makan dengan tiga temannya di meja kantin sana tanpa kehadiran seorang cewek yang biasanya duduk di sebelah Luhan.
Salah satu teman Clara berdecak, kemudian tertawa hambar sambil menatap Clara dengan kening berkerut tak mengerti. "Ya, emangnya lo mau dia deketin cewek lagi? Lo aja belum bisa move on sama dia."
"Bukan gitu juga lah!" seru Clara cepat. Tak terima dituduh yang aneh-aneh begitu. "Aneh aja. Heran gue. Dari gue ke kakak kelas yang ekskul tari itu cepet banget nyantolnya. Dari kakak kelas itu ke adek kelas yang katanya anak pensiunan TNI itu juga cepat banget lengketnya."
__ADS_1
"Cepet lengket ya cepet lepas juga."
"Tetep aja. Aneh." Clara terus bicara sesuai pendiriannya, kening berkerut saat memikirkan sesuatu. "Apa dia udah tobat, Mil?"
Milka yang ditanya begitu oleh Clara kontan memutar bola matanya.
"Kalau udah tobat kenapa? Kalau belum tobat kenapa?" tanya temannya itu dengan agak dongkol. Dari awal, dia tam terima Clara pacaran sama cowok yang sudah terkenal playboy seangkatan. Buktinya kini Clara disakiti. Kalau bukan karena Langit—tetangganya, yang menjadi sumber informasi tentang Luhan—maka sudah pasti Clara masih berhubungan dengan Luhan. "Lo kok masih bisa gitu mikirin dia? Sadar, Clara, sadar. Dia itu sangat-sangat buaya dan berbahaya. Nggak pantes dapet cewek sebaik lo. Oke?"
"Hng ... oke." Clara akhirnya mengangguk. Dia tersenyum seulas tipis. "Gue juga nggak suka cowok kayak Luhan. Najis banget gue. Ihhh. Bomat, lah, bomat, nggak ngurusin!"
Sementara itu, di mejanya, Luhan yang selesai meminum jus jeruk kegemarannya merasa ada yang aneh. Luhan menatap Langit yang kebetulan duduk paling dekat dengannya dengan kening berkerut.
"Lang, Lang, kok kuping gue panas, ya?" tanya Luhan penasaran dan kebingungan.
"Artinya ada yang ngomongin, tuh." Langit membalas seraya membagi fokus dengan bakso di hadapannya.
"Cius?"
"Yoi."
Luhan bergumam, berpikir keras. "Kira-kira siapa ya yang berani buat ngomongin gue?"
"Siapa lagi, dong?" tanya Langit pernah keyakinan.
"Siapa emangnya?" balas Luhan masuh kebingungan.
"Haters." Langit menjawab yakin. "Kan baru-baru ini kita selangkah lebih dekat sama yang namanya YouTuber squad terkenal!"
__ADS_1
***